Tumben

Tumben, belakangan ini lebih bisa bersyukur atas banyak hal yang ada. Mulai dari nana sampai nina, nananinanananinananininanannanina. Ternyata tidak harus dengan kebahagiaan yang luar biasa seseorang dapat bersyukur. Semingguan ini sibuknya luar biasa, dikecewakan luar biasa, merasa melakukan hal yang sia-sia, mondar-mandir kaya orang gila, tapi? waooowww!!!!
Trimakasih semuanya đŸ™‚

Iklan

Terlalu Pendiam

Sepertinya bukan pemalu, bukan pula pengkhianat. Hanya sebuah momen yang seakan kehabisan waktu untuk mengungkapkan yang ada dalam sebuah kata, tulisan. Banyak detik terpakai untuk ini itu, dari yang penting sampai penting sekali, bahkan yang mendesak sampai yang seharusnya tidak perlu didesak. banyak menit hura-hura yang jika sekarang ini dipikir ulang, jawabnya hanya sebuah kekeh senyum kelucuan. Ya, berulang kali seperti itu. Dasar hidup, selalu aneh dan kadang nyleneh.
Sudah cukup lama menjadi seorang pendiam. Eh, tapi bukan berarti pendiam juga di sisi lain. Buktinya sekarang ada sesuatu yang dihasilkan dari sisi lain itu. Ada yang dikerjakan di sisi lain. Maka bukan berarti pendiam itu nol.
Setelah sekian lama terdiam, diam, mendiam…banyak sebenarnya yang menanti ingin diungkapkan, diteriakkan, dibagikan, dan di di di kan. Tak tahu harus mulai dari mana, tapi yang pasti akan diakhiri dengan “waow”.

Sekarang tiba waktunya!

serba “embuh”

Akhirnya, sampailah pada sebuah akhir yang akhirnya membuat pengakhiran yang tak kunjung berakhir itu semakain berlarut-larut. Tiba pada sebuah akhir yang membuat seorang gadis kecil merasa bingung mau melakukan apa lagi untuk dapat diterima oleh teman sepermainannya. Sungguh sebuah kebingungan yang cukup sulit diakhiri. Gadis kecil itu sampai-sampai tak mau bercerita dari satu, dua, tiga atau satu demi satu apa yang ingin dia omongkan. Si gadis kecil nrocos dengan bibir tipisnya mengumbar semua kata yang terlintas tanpa pikir panjang. Dia tahu ini kurang baik dan pasti teman-teman yang sering main petak umpet bareng dia dan pastinya juga malah tambah gak suka sama dia. Tapi hanya itu yang dia rasa bisa dia lakukan. Ya, sampai akhirpun hanya serba “embuh” yang ada dalam pikiran gadis kecil itu. Kasian. Padahal sebenarnya semua sedarhana. Gadis kecil itu hanya ingin semuanya selesai cepat dan semua mau turut dalam pemainnya. Dengan semua selesai, maka sebuah permen rasa buah akan dia dapat. Ya, ampun…hanya permen? hanya demi sebuah permen?

UPACARA KEMATIANKU

Sampailah aku pada sebuah halaman

Halaman yang sama luas dengan halaman lain

Halaman yang sama warna dengan halaman lain

Namun, halaman ini tak sama dengan halaman lain

Halaman ini berbeda,

Halaman yang memberi keindahan bagi pemiliknya

Pada halaman ini…

Aku merasa ini upacara kematianku
Aku mengenal halaman ini

Aku melihat ke semua sisi
Aku mengenal semua pelayatku

Aku mengenal dia
Aku mengenal mereka

Aku mengenal kamu

Namun satu…
Aku tak habis pikir

Ini hariku…upacara kematianku

Tapi kenapa?
Kenapa bukan aku yang ada di pikiran mereka?
Bukan aku yang ada pada pidato kisah hidup di upacara ini?
Ataukah aku salah hadir?

Di suatu sudut diantara pelayat…
Aku hanya bisa merasakan sedikit sesak

dan kecewa!!!

G.A.L.A.U

Galau ==> kata yang cukup fenomenal akhir-akhir ini. Cukup fenomenal tapi aku belum pernah menulis seseuatu yang ada galau-galaunya. Jadi, saat ini…detik ini juga saya putuskan untuk menuliskan sesuatu yang ada galau-galaunya.

APA SIH GALAU ITU?

đŸ˜€

jagalah…jangan lawan!

*sebenarnya dia rapuh

 

ini cerita mengenai sesuatu yang rapuh namun setiap kali selalu ingin memperlihatkan pada semuanya…kuat!!! Hahahahaaaaaa, dalam hati hanya bisa menertawakan kebodohannya. Sebenarnya sangat lemah, dalam hati. Tapi kenapa ya? kenapa jadi sok kuat? mungkin tak mau terlihat rapuh. Kata yang lain, sebenarnya membutuhkan obat. Obat yang amat sangat pait. Kata yang lainnya lagi…biarkan, terlalu amburadul pikirannya, kehilangan.

tingkahnya….alamaaaaaaaakkkkk…aduhai nian…bikin eneg…pengen ngeremes!!!
Arrrrrrgggggghhhhhhhh đŸ˜€

jerat samar

semua berjalan seolah biasa

namun ini tak biasa

rasanya wajar

namun ini tak wajar

aku bukan dia

dia bukan aku

aku seakan dikejar

namun aku tak menawar

 

ketika duri tak manjaga mawar

saat itulah kehancuran

ketika pagar makan tanaman

saat itulah penghianatan

 

kini aku terjerat samar!!!