Tumben

Tumben, belakangan ini lebih bisa bersyukur atas banyak hal yang ada. Mulai dari nana sampai nina, nananinanananinananininanannanina. Ternyata tidak harus dengan kebahagiaan yang luar biasa seseorang dapat bersyukur. Semingguan ini sibuknya luar biasa, dikecewakan luar biasa, merasa melakukan hal yang sia-sia, mondar-mandir kaya orang gila, tapi? waooowww!!!!
Trimakasih semuanya πŸ™‚

Terlalu Pendiam

Sepertinya bukan pemalu, bukan pula pengkhianat. Hanya sebuah momen yang seakan kehabisan waktu untuk mengungkapkan yang ada dalam sebuah kata, tulisan. Banyak detik terpakai untuk ini itu, dari yang penting sampai penting sekali, bahkan yang mendesak sampai yang seharusnya tidak perlu didesak. banyak menit hura-hura yang jika sekarang ini dipikir ulang, jawabnya hanya sebuah kekeh senyum kelucuan. Ya, berulang kali seperti itu. Dasar hidup, selalu aneh dan kadang nyleneh.
Sudah cukup lama menjadi seorang pendiam. Eh, tapi bukan berarti pendiam juga di sisi lain. Buktinya sekarang ada sesuatu yang dihasilkan dari sisi lain itu. Ada yang dikerjakan di sisi lain. Maka bukan berarti pendiam itu nol.
Setelah sekian lama terdiam, diam, mendiam…banyak sebenarnya yang menanti ingin diungkapkan, diteriakkan, dibagikan, dan di di di kan. Tak tahu harus mulai dari mana, tapi yang pasti akan diakhiri dengan “waow”.

Sekarang tiba waktunya!

KESANGARAN SEMESTER TUA

Sudah terlalu lama blog ini sepi pemasukan. Mumpung ingat, mumpung niat, dan mumpung agak sedikit penat, maka kini saatnya pemasukkan dimulai. Akan kucurahkan sedikit penatku untuk Anda para pembaca. Semoga ada yang suka dan tidak ada yang berduka.

Begini ceritanya . . . Semester ini semester akhir. Lebih tepatnya semester tingkat (dewa) tua. Seakan hanya ada dua mata kuliah bagiku. PPL Jurnalistik dan Pengelolaan Media. Keduanya berhubungan dengan Jurnalistik. Mencari materi untuk artikel maupun berita, membuat majalah, membuat majalah, dan membuat majalah. Sungguh menyita waktu. Amat sangat menyita waktuku.

Sabtu Minggu tetap di Jogja Tercinta. Ya, kadang-kadang sampe mengorbankan Sabtu-Mingguku untuk majalah kelompok yang gak kalah tercintanya. Rasanya seperti sekolah seminggu gak ada liburnya. Udah kaya mau ngalahin jadwal sekolah anak SD. Haha πŸ˜€

Terlebih di April-Mei ini. Bahkan kira-kira sampe awal Juni. Seolah hidupku untuk UNISI Radio*lebay. Aku PPL di UNISI bareng Vero, Galang, Petrus, Ayu. Masuknya sih gak tiap hari, cukup dua kali seminggu . . . tapi alamak, asyik banget tugasnya. Suruh liputan di SMA sana, seminar sini, wawancara sana, Wawan cari sini. Loh?

Emang sih pengalaman gak dapet dibeli, tapi ya . . . Eh, gak jadi. Enak banget kok PPL di UNISI. Bisa kenal Mas Rifky yang Ehem, Pak Ari yang wow, dan pastinya pak Agus yang hhhhmmmmm . . . super sekali, hehe. Banyak pengalaman, banyak kenangan, banyak cerita, banyak candaan, banyak kunjungn, banyak perjalanan, dan masih banyak banyak-banyak yang lain.

Sekarang ini, Senin 23 April 2012. PPLku belum genap 1 bulan terlewati. Masih banyak tugas-tugas liputan sepertinya, eh pastinya. Besok, Selasa 24 April 2012 jatahku berangkat ke UNISI bareng Petrus. Enak nih Galang (yang udah dapet tas), Vero (udah dapet pulpen), sama Ayu (yang udah dapet senyumannya Pak Agus) bisa santai-santai sambil nunggu jadwal masuk mereka.

Ssssst . . . sssstttt . . . SssssSsssttt . . .Β  Stop!!! Sampai jumpa πŸ™‚

sindrom hari raya

Malam lebaran bulan di atas kuburan,,,halah, puisi yang amat sangat terkenal di perkuliahan PAP bersama bapak Raaahhh…man….tooo πŸ™‚ hehe. Kali ini memamg malam lebaran, tapi lain cerita dengan puisi yang amat sangar terkenal itu. Begini ceritanya! Ini malam lebaran memang malam lebaran yang amat sangat terdahsyat, selain karena sempat dibingungkan oleh banyak manusia karena diundur-undur, di malam lebaran kali ini aku sadar ternyata setiap malam lebaran tubuhku mesti error alias ra beres. Kata si mbak *bukan pembantu saya loh,,,inilah sindrom hari raya.

Katanya:

1. Sindrom hari raya yaitu sindrom yang adanya di hari raya, lebaran.

2. Dari bertahun-tahun yang lalu, setiap malam lebaran pasti saya tersiksa seperti ini 😦 *lah kok OL?*

3. Β Wah, kebiasaan ngapusi pas cilik terbawa sampai sekarang. *yang tahu maksudnya hanya orang-orang tertentu yang benar-benar beriman dan benar-benar dilindungi oleh Allah SWT πŸ˜›

4. Wah panas tenan, Ol wae yuukkk…wis tak siapke,,, *ini yang paling mengharukan πŸ™‚

Ehmmmmm,,,asiiikkk,,, πŸ™‚ ternyata tubuhku unik. Yang baca dilarang sirik ya, trima tubuhmu dengan baik, halah πŸ˜€

 

 

Waaaaahh,,,,ini dia penghambat alias penggangguku,,,aku kan lagi asyik menyadari keunikanku,,,eh diganggu,,,sudahi saja, cepet istirahat. Tidak cukup itu, ada sms juga, kayanya sih sms nyasar “Gembel! Sindromu aneh, rasah dipamerke!” aahhh, salah satu contoh kesyirikan,piiiisssss bagi yang ngrasa πŸ™‚

Cukup sekian siraman rohani di malam lebaran kali ini. Untuk penutup curhatan saya ini, akan saya kumandangkan selarik puisi yang amat sangat dahsyat,,,selamat menikmati!

MALAM LEBARAN,,,BULAN DI ATAS,,,KUBURAN !!!! hahahaha πŸ˜€ *ngawur

*mendung hilang tanpa bintang*

Hidup memang aneh, namun tak perlu bingung dengan hidup. Semua sudah tertulis dan tergaris. Semua yang terjadi adalah tepat tanpa tawaran dan elakan. halah, malah serius…!!!

Saat itu ada mendung, tapi juga tampak bintang.

Walau mendung tapi tetap merasa indah.
lha dalah,,, saiki wis ora mendung, tapi bintange ra ketok.

piye jal?????

Yo ra piye-piye. Ben ngene iki wae, rasah ribut! Rasah ngributi!

“aku arogan”, katanya

tiba di suatu hari yang entah kenapa,,,tiba-tiba semua berubah. Bukan perubahan yang menjadikan indah, namun kelabu. Yaaaa…meskipun bulan sedang purnama, namun langit tampak hitam kelam.

semua tak tahu pasti apa yang sedang terjadi. Mungkin seperti ini jika dituliskan: “ksdfhsgytfgrhshhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhjfdkhb fgncbmnshfkfopeieyfrbndmdnxnmv,loihdbnvfserdvsbnfkdjfhfyhfhffgfhfnmfk,ckdosgdbdndbdgdbdbdgdgnsmslccojcndyhdffvbs nxdhytdsreyujfrnfnvfvjmvmnnvcn”

Ada namun tak terbaca, ada namun tak termengerti.
terlalu sulit tuk diartikan, dan begitu sulit tuk dimaknai.
Namun, pasti ada makna dibaliknya.

“MEMBIARKAN YANG ADA TETAP ADA DAN MENGALIR”