Sosiolinguistik

  1. Pengarang                   : P. W. J. Nababan
  2. Penerbit                       : Gramedia
  3. Tahun terbit               : 1984
  4. Kota terbit                   : Jakarta
  5. Jumlah halaman       : 83 lembar

BAB 1

PENDAHULUAN

Sosiolinguistik adalah studi atau pembahasan dari bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat. Sosiolinguistik mempelajari dan membahasa aspek-aspek kemasyarakatan bahasa, khususnya perbedaan (variasi) yang terdapat dalam bahsa yang berkaiatan dengan faktor-faktor kemasyarakatan (sosial).

Masalah utama dari sosiolinguistik adalah mengkaji bahasa dalam konteks sosial dan kebudayaan, menghubungka faktor-faktor kebahasaan, ciri-ciri, dan ragam bahasa dengan situasi serta faktor sosial dan budaya, serta mengkaji fungsi sosial dn penggunaan bahasa dalam masyarakat.

Topik-topik umum dalam pembahasan sosiolinguistik ialah: (a)bahasa, dialek, idiolek, dan ragam bahasa; (b) repertoar bahasa; (c) masyarakat bahasa; (d) kedwibahasaan dan kegandabahasaan; (e) fungsi kemasyarakatan bahsa dan profil sosiolinguistik; (f) penggunaan bahasa (etnografi berbahsa); (g) sikap bahasa; (h) perencanaan bahasa; (i) interaksi sosiolinguistik; dan (j) bahasa dan kebudayaan.

Metode yang digunakan adalah perpaduan dari sosiologi dan linguistik. Metode linguistik digunakan untuk memerikan (deskripsi) bentuk bahasa serta unsur yang ditemukan, yang kemudian digambarkan dengan notasi/tanda-tanda fonetik/fonemik. Cara mengumpulkan data dari lapangan (masyarakat) kebanyakan diambil dari ilmu sosiologi, khususnya yang berhubungan dengan pengamatan (observasi) dan pengumpulan data dengan kuesioner dan wawancara.

Sumbangan utama sosiolinguistik kepada pengajaran bahasa ialah: (a) penekanan kebermaknaan bahasa dalam pengajaran bahasa; (b) pengertian yang lebih mendalam tentang ragam bahasa; (c) tujuan pengajaran bahasa yang bersumber pada penggunaan bahasa dalam masyarakat; (d) bentuk bahasa yang diajarkan disesuaikan dengan bentuk bahasa yang ada dalam masyarakat.

Keadaan sosiolinguistik di Indonesia sangat kompleks. Terdapat banyak bahasa dan dialek, namun Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu. Kebanyakan orang Indonesia belajar bahasa daerah sebagai bahasa pertamanya. Bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua yang dipelajari di bangku sekolah.

 

 

BAB 2

VARIASI DALAM BAHASA

Variasi bahasa adalah ragam bahasa. Dimensi variasi bahasa ada 4, yaitu dialek (daerah/letak geografis), sosiolek (kelompok sosial), fungsiolek (situasi berbahasa/tingkat formalitas), dan kronolek (perkembangan waktu). Cabang linguistik yang mengkaji bahasa yang berbeda (membandingkan) disebut linguistik historis/diakronik (dimensi waktu/sejarah) dan linguistik kontrastif (cara dan sukar mudahnya belajar bahasa dengan latar belakang bahasa lain).

1. Kajian Variasi dalam Linguistik umum

Variasi bahasa dapat dibedakan berdasarkan sumber perbedaan itu, yaitu variasi internal dan eksternal. Variasi internal adalah varisai bahasa yang disebabkan oleh faktor dalam bahasa itu sendiri, khususnya unsur yang mendahukui dan /atau mengikuti unsur yang diperhatikan itu. Sedangkan varisai eksternal merupakan variasi yang sehubungan dengan daerah asal penutur, kelompok sosial, situasi berbahasa, dan zaman penggunaan bahasa itu. Variasi internal memiliki cirri alamiah. Cirri variasi seperti ini dikaji dalam linguistik umum.

2. Kajian Historis-Komparatif

Yang dikaji dalam lapangan historis-komparatif dan linguistik kontrastif adalah materi yang sama, tetapi dengan tujuan dan metode berbeda. Materi kajian berupa perbedaan bahasa. Tujuan dalam kajian komparatif adalah penentuan pola kekerabatan atau struktur “silsilah” dari bahasa. Dengan begini data juga kita peroleh pembagian bahasa di dunia ini ke dalam apa yang disebut rumpun bahasa.

3. Kajian Dialektologi

Dialektologi adalah ilmu yang mengkaji tentang perbedaan-perbedaan bahasa sebagai manifestasi dari variasi dalam suatu bahasa yang sama. Dalam pemetaan variasi dialek dari bahasa dipergunakan konsep isoglos, yaitu garis yang menghubungkan dua tempat yang menunjukkan ciri atau unsur yang sama, atau garis yang memisah dua tempat yang menunjukkan ciri/unsur yang berbeda.

4. Kajian Sosiolinguistik

Sosiolinguistik mencakup pengkajian sosiolek dan fungsiolek. Bahan kajian sosiolinguistik adalah “penggunaan bahasa” oleh penutur-penutur tertentu dalam keadaan yang sewajarnya untuk tujuan tertentu.

5. Aspek Morfologi dan Sintaksis dari Ragam Fungsiolek

Bahasa mempunyai banyak ragam. Ragam bahasa menunjukkan perbedaan struktural dalam unsur-unsurnya. Perbedaan struktural itu adalah berbentuk ucapan, intonasi, morfologi, identitas kata, dan sintaksis. Di sini perhatian difokuskan pada perbedaan morfologi dan sintaksis dari ragam fungsiolek. Funsiolek dibagi menjadi lima tingkatan:

  • Ragam beku (frozen): ragam bahasa paling resmi yang digunakan dalam situasi khidmat dan upacara resmi (dokumen bersejarah, undang-undang dasar, dsb)
    • Ragam resmi (formal): ragam bahasa yang dipakai dalam pidato resmi dan rapat dinas.
  • Ragam usaha (consultative): ragam bahasa yang sesuai pembicaraan di sekolah, perusahaan, dan rapat usaha. Raga mini berada pada tingkat paling operasional.
    • Ragam santai (casual): ragam bahasa santai antarteman dalam berbincang-bincang.
    • Ragam akrab (intimate): ragam bahasa antaranggota yang akrab dalam keluarga.

 

Dalam rangka pengkajian sosiolinguistik, yang relevan bagi kita ialah korelasi perbedaan buni (fonologi), bentuk kata (morfologi), dan bentuk atau susunan kalimat (sintaksis) dengan faktor-faktor sosial. Ragam bahasa tidak hanya mencakup fungsiolek, tapi juga sosiolek dan dialek. Maka dalam pembahasan ragam bahasa ini perlu juga diperhatikan perbedaan kebahasaan antara lapisan masyarakat serta kelompok masyarakat, dan perbedaan kebahasaan antardaerah.

 

BAB 3

KEDWIBAHASAAN

Berdwibahasa (bilingual) adalah berbahasa dengan memakai lebih adri satu bahasa, umpamanya bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Orang yang dapat mengguanakan dua bahasa disebut dwibahasawan.

1. Bilingualisme (kebiasaan) dan Bilingualitas (kemampuan)

Bilingualiame ialah kebiasaan menggunakan dua bahasa dalam interaksi dengan orang lain. Bilingualitas adalah kemampuan untuk berdwibahasa. Jadi, orang yang “berdwibahasa” mencakup pengertian kebiasaan memakai dua bahasa, atau kemampuan memakai dua bahasa. Jikalau kita memperhatikan hubungan logika antara bilingualisme dan bilingualitas, kita dapat mengerti bahwa tidak semua yang mempunyai bilingualitas mempraktekkan bilingualisme dalam kehidupan sehari-hari.

2. Kedwibahasaan Masyarakat dan Perorangan

Istilah kedwibahasaan dapat dipakai perorangan maupun masyarakat. Dalam kedwibahasaan suatu masyarakat terdapat dua keadaan teorotis yang ekstrim. Pertama, keadaan dimana semua anggota masyarakat itu tahu dua bahasa dan menggunakan kedua bahasa setiap hari dalam pekerjaan dan interaksi sosial. Kedua, bila ada dua bahasa dalam masyarakat, tapi tiap orang hanya tahu satu bahasa dan dengan begitu masyarakat terdiri atas dua jaringan komunikasi.

Dengan adanya bilingualisme masyarakat di suatu tempat belum selalu berarti akan terdapat di situ bilingualitas. Perubahan keadaan kedwibahasaan masyarakt (transisi) disebut kedwibahasaan yang labil.

3. Alih Kode dan Campur Kode

Alih kode yaitu peralihan penggunaan bahasa dalam situasi bahasa tertentu agar semua pelaku bahasa dapat berkomunikasi dengan baik. Konsep alih kode mencakup juga kejadian dimana kita beralih dari satu ragam fungsiolek (umpamanya ragam santai) ke ragam lain (umpamanya ragam formal), atau dari satu dialek ke dialek lain, dsb.

Campur kode adalah suatu keadaan berbahasa yang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa tanpa ada sesuatu  dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa itu. Misalnya penggunaan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa daerah. Ciri yang menonjol dalam campur kode adalah kesantaian atau situasi informal.

4. Profil Bilingualitas

Jika kemampuan dan tindak laku dalam kedua bahasa terpisah atau bekerja sendiri, maka disebut sebagai bilingualitas sejajar. Sedangkan bilingualitas majemuk adalah jika kemampuan dan kebiasaan orang dalam bahasa utama berpengaruh atas penggunaan bahasa kedua.

5. Interferensi

Interferensi adalah pengacauan dalam penggunaan dua bahasa. Interferensi perlakuan adalah interferensi yang  terdapat dalam tindak laku bahasa perorangan. Interferensi perlakuan yang terjadi sewaktu orang masih belajar suatu bahasa kedua/asing disebut inteferansi perkembanan. Sedangkan interferensi yang terjadi alam bentuk perubahan unsur, bunyi, atau struktur suatu bahasa dari bahasa lain disebut interferensi sistemik.

6. Pola-pola Bilingualisme

Dalam masyarakat yang berganda bahasa akan terdapat berbagai macam pola kedwibahasaan, yang terdiri dari unsur-unsur berikut: bahasa yang dipakai, bidang kebahasaan, dan teman berbahasa. Jadi, pola kedwibahasaan itu menjawab pertanyaan: bahasa apa yang dipakai orang, untuk bidang kebahasaan apa, dan kepada siapa?

 

BAB 4

FUNGSI-FUNGSI BAHASA

Secara umum bahasa berfungsi untuk komunikasi. Namun berikut ini akan dibahas macam-macam fungsi bahasa secara terperinci.

  1. Fungsi Kebudayaan

Fungsi bahasa dalam kebudayaan sebagai:

  • sarana perkembangan kebudayaan

Bahasa adalah bagian dari kebudayaan, dan bahasalah yang memungkinkan pengembangan kebudayan.

  • jalur penerus kebudayaan

Seseorang belajar dan mengetahui kebudayaannya kebanyakan mealui bahasa. Artinya kita hidup dalam masyarakat melalui dan dengan bantuan bahasa.

  • inventaris ciri-ciri kebudayaan

yang dimaksud dengan bahasa sebagai inventaris kebudayaan adalah segala sesuatu yang ada dalam suatu kebudayaan mempunyai nama dalam bahasa kebudayaan itu.

 

  1. Fungsi Kemasyarakatan

Fungsi kemasyarakatan bahasa menunjukkan peranan khusus sesuatu bahasa dalam kehidupan masyarakat. Klasifikasi bahasa berdasarkan fungsi kemasyarakatan dibagi:

  • Berdasarkan ruang lingkup
  1. bahasa nasional

Bahasa nasional dirumuskan oleh Halim berfungsi sebagai lambing kebanggaan kebangsaan, lambing identitas bangsa, alat pnyatuan berbagai suku bangsa, dan alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya.

  1. bahasa kelompok

Bahasa kelompok adalah bahasa yang digunakan oleh kelompok yang lebih kecil dari suatu bangsa. Di Indonesia disebut sebagai bahasa daerah atau logat daerah.

  • Berdasarkan bidang pemakaian
  1. bahasa resmi: bahasa yang dipakai untuk keentingan resmi kenegaraan. Di Indonesia adalah bahasa Indonesia.
    1. Bahasa pendidikan: bahasa yang dipakai sebagai pengantar dalam pendidikan.
    2. Bahasa agama, bahasa dagang, dsb

 

  1. Fungsi Perorangan

Untuk bahasa anak-anak kecil terdiri dari enam fungsi:

  • Fungsi instrumental: unkapan bahasa, termasuk bahasa bayiuntuk meminta sesuatu.
  • Menyuruh: ungkapan untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu.
  • Interaksi: unkapan yang menciptakan suatu iklim untuk hubungan pribadi.
  • Kepribadian: ungkapan yang menyatakan atau mengakhiri partisipasi.
    • Pemecahan masalah: ungkapan yang meminta atau menyatakan jawab keada suatu masalah atau persoalan.
    • Khayal: unkapan yang mengajak pendengar untuk berpura-pura atau simulasi suatu keadaan seperti yang dilakukan anak jika bermain rumah-rumahan.
    • Informasi (usia lebih dari tiga tahun): memberitahukan suatu hal. Fungsi informative inilah yang didapat jikalau ilmu disajikan di sekolah-sekolah sebagai suatu produk dan bukan sebagi proses.

 

  1. Fungsi Pendidikan

Fungsi ini lebih banyak didasarkan pada tujuan penggunaan bahasa dalam pendidikan dan pengajaran. Fungsi pendidikan bahasa dapat dibagi manjadi 4 subfungsi:

  • Fungsi integratif: memberi penekanan pada penggunaan bahasa sebagai alat yang membuat anak didik ingin dan sanggup menjadi anggota suatu masyarakat.
  • Fungsi instrumental: penggunaan bahasa untuk tujuan mendapatkeuntungan material, memperoleh pekerjaan, meraih ilmu, dsb.
  • Fungsi kultural: penggunaan bahasa sebagai jalur mengenal dan menghargai suatu sistem nilai dan cara hidup, atau kebudayaan suatu masyarakat.
  • Fungsi penalaran: memberikan lebih banyak tekanan pada penggunaan bahasa sebagai alat berfikir dan mengerti serta menciptakan kosep, dengan pendek untuk bernalar. Fungsi penalaran bahasa Indonesia terlaksana bukan hanya karena ada latihan bernalar, tapi karena bahasa Indonesia dipakai dalam mata pelajaran lain.

 

BAB 5

BAHASA DAN KEBUDAYAAN

  1. Bahasa

Semua manusia mempunyai bahasa. Bahasa kita digambarkan terdiri atas tiga subsistem, yaitu: subsistem fonologi (mencakup unsur bunyi serta struktur), tata bahasa: memerikan hubungan antar usur bermakna (morfem, kata, frase, klausa), kosa kata: daftar dari unsur bermakna. Fungsi dasar bahasa adalah untuk komunikasi, yaitu alat pergaulan yang memungkinkan terjadinya interaksi sosial (kekerabatan).

 

  1. Kebudayaan

Semua sistem komunikasi disebut kebudayaan, yaitu keseluruhan sistem komunikasi yang mengikat dan memungkinkan bekerjanya suatu himpunan manusia yang disebut masyarakat. Kebudayaan merupakan:

  • pengatur dan pengikat masyarakat,
  • hal yang diperoleh manusia melalui belajar,
  • pola kebiasaan dan perilaku manusia,
  • sistem komunikasi yang dipakai masyarakat untuk memperoleh kerjasama.

 

  1. Hubungan Bahasa dan Kebudayaan

Bahasa merupakan bagian terpenting dari kebudayaan. Bahasa terlibat dalam semua aspek kebudayaan. Kebudayaan manusia tidak akan terjadi tanpa bahasa. Jadi bahasa adalah pokok bagi kebudayaan dan masyarakat manusia. Hubungan lain dari bahasa dengan kebudayaan adalah bahasa mempunyai makna hanya dalam kebudayaan yang menjadi wadahnya. Bahasa merupakan kunci bagi kebudayaan. Maka untuk mempelajari suatu kebudayaan harus mempelajari bahasanya terlebih dahulu. Bentuk dan struktur bahasa seseorang mempengaruhi cara berpikir (kebudayaan) seseorang.

 

  1. Tata cara berbahasa

Sebagai subsistem kebudayaan, maka tindak laku (tindak cara) berbahasa pun mengikuti norma-norma kebudayaan induknya. Tata cara berbahasa mengatur:

  • Apa yang sebainya kita katakana pada waktu dan keadaan tertentu.
  • Ragam bahasa apa yang sewajarnya kita akai dalam situasi sosiolinguistik tertentu.
  • Kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran berbicara kita dan menyela perbincangan orang lain.
    • Kapan kita harus diam, jangan berbicara.

 

 

BAB 6

PERENCANAAN BAHASA

 

Salah satu gejala modern tentan bahasa ialah bahwa orang lebih sadar akan adanya bahasa di masyarakat, bahwa bahasa-bahasa itu berhubungan satu sama lain, serta bahwa bahasa-bahasa itu mempunyai fungsi dan prestise yang berbeda. Orang juga sadar bahwa kepribadian kelompok manusia erat hubungannya dengan bangsa. Penggarapan bentuk-bentuk bahasa dalam masyarakat disebut perencanaan bahasa.

 

  1. Penentuan Bahasa

Yang paling utama dalam perencanaan bahasa adalah penentuan bahasa apa yang akan dipakai dalam masyarakat (negara) itu serta fungsi apa yang akan dipenuhi. Dalam pemilihan bahasa resmi, khususnya bahasa nasional, sering sekali timbul pertikaian diantara Negara yang berganda bahasa. Akhirnya akan menggunakan bahasa bekas penjajahnya.

 

  1. Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Bahasa baru yang diserahi fungsi kemasyarakatan yang barua kan memerlukan penggarapan-penggarapantertentu agar bahasa itu dapat memenuhi fungsi kemasyaraktan yang diharapkan dari bahasa itu. Salah satu yang diperlukan adalah pembakuan (standardisasi), agar ada kesamaan penggunaannya oleh semua pemakainya. Langkah selanjutnya adalah penyebaran, artinya mengumumkan dan membuat orang memakainya atau mempelajarinya. Ini dapat dilakukan secara formal (sekolah, buku) dan informal (koran, majalah). Di Indonesia masih dalam taraf ini dan lambat laun kita harapkan semua dapat mengikuti EYD.

 

  1. Kesimpulan

Perencanaan bahasa tidak selalu terencana, namun ada usaha perorangan maupun kelompok manusia yang secara sadar/tidak sadar mempengaruhi bentuk fungsi sesuatu bahasa. Tujuan sementara perencanaan bahasa adalah pembakuan, modernisasi, dan grafisasi. Penggunaan ketiga aspek perencanaan bahasa ini dalam pendidikan dan pengajaran : (1) sebagai alat penyebar ilmu pada masyarakat luas, dan (2) sebagai bahan pelajaran yang perlu dimasukkan dalam kurikulum.

 

BAB 7

PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN BAHASA

  1. Bahasa dan pendidikan

Disini, pendidikan merupakan jalur mewariskan dan mewarisi suatu kebudayaan. Tujuan pendidikan tidak cukup sebatas pewarisan, tapi pendidikan juga harus kreatif dan inovatif. Dasar operasional khusus kreativitas ialah “penangguhan penilaian atau penyimpulan” dan memberikan cukup waktu untuk lebih dahulu memikirkan, mendiskusikan segala data dan aspek suatu masalah. Inovasi pendidikan dibuat dan dimungkinkan dengan menggunakan bahasa dalam fungsi-fungsi kepribadian yang bukan hanya informatif, tapi juga mementingkan funsi interaksi, pemecahan persoalan, dan khayalan.

 

  1. Hipotesis Bernstein

Hipotesis ini disebut “hipotesis kerugian” yang didasarkan atas perbedaan variasi bahasa golongan buruh (rendah) dan golongan menengah. Teori ini mengatakan bahwa anak golongan menengah memakai variasi bahasa yang berbentuk lengkap di rumah, sedangkan anak golongan buruh dibesarkan dalam lingkungan variasi bahasa yang terbatas atau tidak berbentuk lengkap. Di sekolah, bahasa yang digunakan mirip dengan bahasa lengkap (golongan menengah), maka golongan buruhlah yang harus dirugikan untuk mempelajari bahasa baru (lengkap).

Hasil hipotesis ini dihubungkan dengan pengetahuan bahwa bahasa lah alat utama pendidikan. Banyak ahli mengatakan ketidakberhasilan pendidikan adalah ketidakberhasilan kebahasaan.

 

  1. Tujuan Belajar Bahasa

Tujuan balajar bahasa dapat digolongkan ke dalam empat golongan utama:

  1. penalaran,

Tujuan penalaran menyagkut kesanggupan berpikir dan pengungkapan nilai serta sikap sosial budaya, pendeknya identitas dan kepribadian seseorang.

  1. instrumental,

Tujuan instrumental menyangkut penggunaan bahasa yang dipelajari untuk tujuan-tujuan material dan konkret, umpamanya supaya tahu memakai alat-alat, memperbaiki kerusakkan mesin, mempelajari suatu ilmu, dan sebagainya.

  1. integratif,

Tujuan integratif menyangkut keinginan seseorang menjadi anggota sesuatu mesyarakat yang menggunakan bahasa itu sebagai bahasa pergaulan sehari-hari dengan cara menguasai bahasa itu seperti penutur aslinya.

  1. Kebudayaan

Tujuan kebudayaan terdapat pada orang yang secara ilmiah ingi engetahui, atau memperdalam pengetahuannya, tenyang suatu kebudayaan atau masyarakat. Ini didasarkan atas asumsi bahwa bahasa adalah suatu inventaris dari unsur kebudayaan masyarakat, sehingga menguasai bahasa akan membantu pendalaman tentang kebudayaan atau kehidupan mesyarakat yang memakai bahasa tersebut.

 

  1. Makna Bahasa

Makna diungkapkan dengan unsur kebahasaan (morfem, kata, farse, klausa) yang dapat dimodifikasi dengan struktur dan fonologi. Di zaman komunikasi massa sekarang ini semakin terasa perlunya dimasukkan dalam pelajaran bahasa disekolah pengertian yang lebih dalam tentang makna bahasa.

 

  1. Bahasa dalam Interaksi Belajar-Mengajar

Bahasa merupakan alat utama untuk berinteraksi antara guru dan murid. Oleh karena itu, jelas bahwa akan berguna sekali jika kita sadar akan pola penggunaan bahasa dalam interaksi belajar mengajar, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas belajar-mengajar itu.

 

  1. Kesimpulan

Bahasa adalah bagian dari kebudayaan dan berfungsi sebagai inventaris unsur-unsur kebudayaan. Bahasa juga berfungsi sebagai jalur dan alat pembudayaan orang dan sebagai alat penerus dan pengembang kebudayaan. Faktor dalam masyarakat menentukan variasi bahasa yang digunakan orang  sehingga pengetahuan akan pola berbahasa orabg dan kelompok dapat berguna dalam pengkajian masyarakat itu.

Tata Bahasa Indonesia PENGGOLONGAN KATA

Prof. Drs. M. Ramlan

 

BAB I

PENDAHULUAN

Penggolongan kata menyederhanakan pemerian struktur bahasa dan merupakan tahapan yang tidak boleh dilalui dalam penyusunan tata bahasa suatu bahasa. Setiap pembicaraan mengenai tata bahasa tentu melibatkan pembicaraan tentang penggolongan kata. Ttanpa penggolongan kata, struktur frase, klausa, dan kalimat tidak mungkin dapat dijelaskan. Oleh karena itu, pembicaraan tentang penggolongan kata akan sangat bermanfaat dan akan merupakan sumbangan penting bagi tata bahasa dan juga bagi pengajaran bahasa Indonesia.

 

BAB II

KATA

Salah satu sifat tata bahasa tradisional ialah analisisnya berdasarkan arti. Sifat ini tercermin juga pada penentuan kata. Secara tradisional kata dijelaskan sebagai kumpulan huruf yang mengandung arti. Jadi setiap kata tentu mengandung arti.

 

BAB III

PENGGOLONGAN KATA SECARA TRADISIONAL

  1. Penggolongan Kata oleh C. A. Mees (1957)
  • Kata benda atau nomen substantivum

Kata benda ialah kata yang menyebut nama substansi atau perwujudan. Kata benda dibedakan menjadi kata benda konkret dan kata benda abstrak, yaitu bisa berupa kata dasar atau kata turunan.

  • Kata keadaan atau nomen adjectivum

Fungsi kata keadaan:

  • Fungsi predikat, yaitu apabila menduduki fungsi predikat.
  • Fungsi atributif, yaitu apabila terikat pada kata benda.
  • Fungsi substantif, yaitu apabila kata keadaan disubstantifkan oleh kata sandang dan mengganti substantif yang bersangkutan.

 

  • Kata ganti atau pronominal

Kata ganti adalah kata yang menunjuk, menyatakan, atau menanyakan tentang sebuah substansi. Macam-macam kata golongan:

  • Kata ganti persona, yaitu kata yang mengganti nama persona.

–          kata ganti persona pertama, misalnya aku, saya, kami.

–          kata ganti persona kedua, misalnya engkau, kamu, tuan.

–          kata ganti persona ketiga, misalnya ia, dia, mereka.

  • Kata ganti mendiri ialah kata ganti yang mengganti diri persona itu sendiri, yaitu kata diri dan diri sendiri.
  • Kata ganti penunjuk ialah kata yang menunjuk tempat sesuatu substansi, yaitu kata ini dan itu.
  • Kata ganti relatif ialah kata yang menyatakan perhubungan antara sebuah sustansi dengan kalimat yang menjelaskan, yaitu kata yang.
  • Kata ganti penanya, yaitu yang menyatakan pertanyaan mengenai nama substansi, misalnya kata apa, siapa, dan mana.
  • Kata ganti tak tentu, yaitu kata yang menyatakan suatu substansi yang tak tentu, misalnya kata apa, siapa-siapa, anu, sesuatu.
  • Kata kerja transitif, yaitu kata kerja yang membutuhkan substantif supaya sempurna artinya.
  • Kata kerja intransitif, yaitu kata kerja yang sudah sempurna artinya, maka tidak dapat dibubuhi substantif sebagai pelengkap.
  1. Kata kerja atau verbum

Selain itu ada kata kerja kopula, yaitu kata kerja yang bertindak sebagai kopula, misalnya kata adalah, jadi, menjadi.

  1. Kata Bilangan atau numeri
  • Induk kata bilangan, misalnya kata satu, dua, seratus, lima ribu.
  • Kata bilangan tak tentu, misalnya kata beberapa, segala.
  • Kata bilangan kumpulan, misalnya kata ketiga, berlima.
  • Kata bilangan tingkat, misalnya kata kesatu, kedua, ketiga.
  • Kata bilangan pecahan, misalnya kata dua pertiga, seperdua.
    1. Kata sandang atau articulus

Menurut fungsi dan pemakaiannya dibedakan menjadi: (1) kata sandang tentu, yaitu kata yang; (2) kata sandang persona, yaitu kata si dan sang; (3) kata sandang tak tentu, yaitu kata seorang, sebuah, sesuatu.

    1. Kata depan atau praepositio

Kata depan dipakai untuk menjelaskan pertalian kata-kata. Kata depan yang tulen adalah di, ke, dari. Di samping itu terdapat kata depan yang lain, yaitu pada, akan, dengan, serta, antara, untuk, dan sebagainya.

    1. Kata keterangan atau adverbium

adalah kata yang menerangkan 1. kata kerja dalam segala fungsinya, 2. kata keadaan dalam segala fungsinya, 3. kata keterangan, 4. kata bilangan, 5. predikat kalimat, dan 6. menegaskan subjek dan predikat kalimat.

  • Kata keterangan waktu: dahulu, kemarin, hari ini, selamanya.
  • Kata keterangan modal, dibedakan menjadi:

–          kepastian, misalnya memang, niscaya, pasti, dan lain-lain.

–          Pengakuan, misalnya kata ya, benar, betul, sebenarnya.

–          Kesangsian, misalnya kata agaknya, barangkali.

–          Keinginan, misalnya kata moga-moga, mudah-mudahan.

–          Ajakan, misalnya kata baik, mari, hendaknya.

–          Kewajiban, misalnya kata harus, perlu, wajib.

–          Larangan, ialah kata jangan.

–          Ingkaran, ialah kata bukan, bukannya, tidak.

–          Keheranan, ialah kata mustahil, mana boleh.

  • Kata keterangan tempat dan jurusan, misalnya kata di sini, dari situ, ke sana, dari mana, dan sebagainya.
  • Kata keterangan kaifat atau kualitatif, misalnya perlahan-lahan, dengan gembira, kuat-kuat, selebar-lebarnya, dan sebagainya.
  • Kata keterangan derajat dan permana, misalnya kata amat, hampir.
  • Kata tekanan, ialah kah, gerangan, pula, pun, lah.
    1. Kata sambung atau conjungtio

ialah kata yang menghubungkan kata-kata, bagian-bagian kalimat, dan kalimat. Yang termasuk kata sambung misalnya kata apabila, bilamana, lagi pula, dan, agar, karena, dan sebagainya.

    1. Kata seru atau interjection

Kata seru ialah kata yang menirukan bunyi manusia. Yang termasuk golongan kata seru misalnya ya, wah, ah, hai, o, oh, cis, dan sebagianya.

 

  1. Penggolongan Kata oleh Tardjan Hadidjaja (1959)
    1. Kata benda

Kata benda adalah kata yang menyatakan benda. Menurut keadaannya, dibedakan menjadi (1) kata benda konkret, yaitu menyatakan benda yang benar-benar atau atau benda khayal. Misalnya orang, burung, buku pelajaran, hantu, bidadari, dan sebagainya; dan (2) kata benda abstrak, yaitu menyatakan nama benda yang adanya hanya dapat dipahami oleh pikiran, misalnya ilham, angan-angan, perguruan, perdagangan, perjanjian, perdamaian, pertandingan, kerajinan, dan sebagainya.

Menurut artinya, digolongan menjadi: (1) kata beda nama jenis, misalnya rumah, daun, pohon, dunia, matahari, dan sebagainya; (2). kata benda nama diri, misalnya Mei, Surono, Gunung Merapi, Sungai Barito; (3) kata benda nama zat, misalnya batu, pasir, besi, mas, garam; (4) kata benda nama kumpulan, misalnya berkas, rumpun, onggok, gugusan.

    1. Kata kerja

Berdasarkan hubungan antara pokok dan sebutannya, kata kerja dibedakan menjadi: 1. kata kerja bentuk tindak, yaitu apabila pokok kalimat melakukan perbuatan, misalnya duduk, lari, hilir mudik, berjual bei, mempercepat; dan 2. kata kerja bentuk tanggap, yaitu apabila pokok kalimat menanggapi, diperlakukan, atau dikenai perbuatan, misalnya dipukul, dilalui,  terhampiri, kelihatan, dan sebagainya.

    1. Kata ganti

Kata ganti adalah kata yang menjadi pengganti nama orang atau benda.

  • Kata ganti orang

–          orang pertama, misalnya aku, kami, hamba;

–          orang kedua, misalnya engkau, kamu, tuan;

–          orang ketiga, misalnya ia, dia, mereka.

Masing-masing dapat dibedakan atas tunggal dan jamak.

  • Kata ganti pemilik

–          kesatu, ialah ku, kami, kita; (tunggal dan jamak)

–          kedua, ialah mu, kamu; ( tunggal dan jamak)

–          ketiga, ialah nya, mereka. (tunggal dan jamak)

  • Kata ganti penanya, misalnya apa, siapa, mana, yang mana.
  • Kata ganti tak tentu, misalnya barang sesuatu, barang siapa.
  • Kata ganti penujuk, ialah ini dan itu.
  • Kata penghubung, ialah kata yang.
  • Bilangan pokok, yang dibedakan menjadi: 1. bilangan pokok tertentu, misalnya satu, dua, dan sebaginya; 2. bilangan pokok tak tentu, misalnya semua, segala, sekalian.
  • Bilangan tingkat, dibedakan menjadi: 1. bilangan tingkat tentu, misalnya kesatu, kedua; dan 2. bilangan tak tentu, ialah kesekian.
  • Kata bilangan pecahan, misalnya sepertiga, tiga perlima.
    1. Kata bilangan
    1. Kata sifat

Kata sifat ialah kata yang menyatakan sifat atau keadaan benda. Misalnya kering, kering kerontang, berlumuran darah, menguning, dan sebagainya.

    1. Kata tambahan

Kata tambahan adalah kata yang berfungsi sebagai keterangan pada kata yang bukan kata benda. Kata tambahan dibedakan menjadi:

  • Kata tambahan penunjuk waktu, misalnya pagi-pagi, sedang, kini.
  • Kata tambahan penunjuk tempat, misalnya sini, situ, ke atas.
  • Kata tambahan penunjuk peri keadaan, misalnya sungguh-sungguh, cepat-cepat, baik-baik, begini, pandai-pandai.
  • Kata tambahan penunjuk banyak dan taraf ketandasan, misalnya terlalu, semata-mata, hanya, agak, hampir, sangat.
  • Kata tambahan penunjuk taraf kepastian.

–          kepastian, misalnya sungguh, tentu, pasti, memang.

–          Kemungkinan, misalnya mungkin, barangkali.

–          Pengharapan dan permintaan, misalnya semoga.

–          Ingkar, misalnya tidak, tak, tiada, jangan.

    1. Kata depan

Kata depan adalah kata yang selalu terdapat di depan kata benda atau kata ganti dan hubungannya lebih erat dengan kata yang mengikutinya daripada dengan kata yang ada di depannya. Berdasarkan artinya:

  • Kata depan pengantar tempat, misalnya di, ke, dari, di dalam.
  • Kata depan pengantar pihak yang akan menerima bagian, misalnya untuk, buat, bagi.
  • Pengantar alat, kawan, atau lawan, ialah kata dengan.
  • Pengantar maksud atau tujuan, ialah akan, untuk, dan guna.
  • Pengantar waktu atau tempat, misalnya hingga, sekitar, hampir.
  • Pengantar sebab, misalnya atas, demi, karena, sebab, oleh.
    1. Kata penghubung

Kata penghubung adalah kata yang mnghubungkan kata dengan kata atau kalumat dengan kalimat yang mendahuluinya.

  • Penunjuk gabungan, ialah dan, serta, lagi, lagi pula.
  • Penunjuk waktu, misalnya waktu, ketika, setelah, sementara.
  • Penunjuk maksud atau tujuan, ialah agar, supaya, biar.
  • Penunjuk perlawanan, misalnya tetapi, akan tetapi, melainkan.
  • Penunjuk sebab atau akibat, misalnya sebab, karena, sehingga.
  • Penunjuk syarat atau pengandaian, misalnya jika, kalau, asalkan.
  • Penunjuk sebab yang tak dipedulikan atau pernyataan mengalah, misalnya biarpun, meskipun, walaupun, walau sekalipun.
  • Penunjuk pelaku, pelengkap, atau keterangan, ialah bahwa.
    1. Kata sandang

Kata sandang adalah kata yang berfungsi untuk menegaskan kata berikutnya, kata yang disandanginya, hingga kata itu mempunyai arti yang tentu. Yang termasuk kata sandang adalah yang, nya, si, para, sebuah, ini.

    1. Kata seru

Kata seru ialah kata yang digunakan untuk melepaskan perasaan dan keluarnya pun biasanya tiada dengan sengaja.

  • Berdasarkan sifatnya:

–          kata seru yang sejati, misalnya aduh, oh, amboi, wahai.

–          Kata seru tiruan bunyi, misalnya meong, cit, debar.

–          Kata seru yang terjadi dari kata biasa, misalnya kasihan, sayang, masya allah, astaga, ya rabbi, dan sebagainya.

  • Berdasarkan maksudnya:

–          penyeru biasa, misalnya kata hai.

–          Menyatakan rasa heran, misalnya wah, wahai, astaga.

–          Menyatakan rasa sakit, misalnya aduh, tolong.

–          Menyatakan rasa iba atau sedih, misalnya, kasihan, amboi.

–          Menyatakan kecewa, misalnya sayang dan celaka.

–          Menyatakan kaget bercampur sedih, misalnya inna lillahi.

–          Menyatakan rasa lega, misalnya nah, syukur, alamdu lillah.

–          Menyatakan rasa jijik, misalnya cih dan cis.

  1. Penggolonga Kata oleh Soetarno (1976)
    1. Kata benda
  • Menurut sifatnya:

–          kata benda yang berwujud (kokret) adalah menyatakan nama benda yang dapat dikenal dengan panca indera. Misalnya buku, juru masak, si cebol, bulan.

–          Kata benda yang tak berwujud (abstrak) ialah menyatakan hal yang hanya dapat dikenal dengan pikiran. Misalnya ketertiban, persatuan, ilham, peperangan.

  • Menurut artinya:

–          nama jenis, misalnya buku, kota, orang, anjing, rumah.

–          Nama diri, misalnya Lawu, Semarang, dan sebagainya.

–          Nama zat, misalnya mas, perak, kayu, dan sebagainya.

–          Nama kumpulan, misalnya kelompok, rumpun, pasukan.

    1. Kata kerja

Kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau pengertian dinamis.

  • Menilik pertaliannya dengan objek:

–          kata kerja transitif, ialah kata kerja yang membutukan pelengkap. Misalnya membaca, melihat, menguji, melarang, mempertinggi.

–          Kata kerja intransitif, yakni kata kerja yang tidak dapat dibubui pelengkap. Misalnya berludah, sampai, lalu.

  • Menilik hubungannya dengan subjek:

–          bentuk tindak atau aktif, ialah kata kerja yang menyatakan bahwa subjek melakukan perbuatan. Misalnya lalu, pindah.

–          Bentuk tanggap atau pasif, ialah kata kerja yang menyatakan bahwa subjek menanggapi atau dikenai pekerjaan. Misalnya dipukul, tertunda, kehujanan.

Ada pula kata kerja bantu, yakni kata kerja yang dalam pemakainnya tidak berdiri sendiri, melainkan untuk membantu kata kerja lain. Misalnya ada, mau, hendak. Sedangkan kata kerja kopula ialah kata kerja yang terletak diantara subjek dan predikat dalam kalimat nominal. Misalnya Tuti menjadi guru; Ayahku jadi dokter; Budiman jatuh sakit.

    1. Kata keadaan

Kata keadaan adalah kata menerangkan keadaan, sifat khusus atau watak suatu benda. Misalnya lama, tamat, baru, panjang tangan, berduri.

    1. Kata keterangan

Kata keterangan adalah kata yang berfungsi sebagai keterangan pada kata yang bukan kata benda. Menurut artinya, dibedakan:

  • Penunjuk waktu, misalnya baru, tengah, lagi.
  • Penunjuk tempat, misalnya sini, sana, situ.
  • Penunjuk peri keadaan, misalnya sungguh, beriba hati.
  • Penunjuk banyak atau taraf ketandasan, misalnya terlalu, agak.
  • Penunjuk taraf kepastian, misalnya pasti, mungkin.
  • Penunjuk tekanan, misalnya pula, juga, gerangan.
    1. Kata ganti

adalah kata yang bertugas menggantikan kata benda yang telah disebut.

  • Kata ganti orang (persona), digolongkan menjadi orang ke 1, misalnya aku, kami, kita; orang ke 2, misalnya engkau, kamu, tuan; orang ke 3, misalnya dia, beliau, mereka.
  • Kata ganti pemilik yakni kata ganti yang menjadi pemilik barang apa yang tersebut pada yang disertai. Misalnya ku, mu, nya.
  • Kata ganti penanya adalah kata ganti yang digunakan untuk bertanya. Misalnya apa, siapa, berapa, bagaimana.
  • Kata ganti tak tentu, dibedakan menjadi kata ganti benda tak tentu, misalnya suatupun, yang mana; dan kata ganti orang tak tentu, misalnya siapa, barang siapa.
  • Kata ganti penunjuk, ialah kata yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu dengan langsung atau menggantikannya, ialah itu, ini, begini begitu, yakni, yaitu, kini.
  • Kata ganti penghubung, ialah kata yang berfungsi sebagai pangganti kata benda atau hal yang telah disebut dahulu, dan penghubung kalimat, yaitu yang dan tempat.
    1. Kata bilangan

ialah kata yang menyatakan jumlah benda atau hal, atau menunuk urutannya dalam deretan. Dibedakan menjadi:

  • Kata bilangan tentu, misalnya satu, dua, dan seterusnya.
  • Kata bilangan tak tentu, misalnya beberapa, sejumlah.
  • Kata bilangan tingkat, misalnya kedua, ketiga.
  • Kata bilangan kumpulan, misalnya kedua dalam kedua anak itu.
  • Kata bilangan pecahan, misalnya setengah, tiga perempat.

Di samping kata bilangan, terdapat kata penunjuk jenis, yaitu kata yang menghubungkan kata bilangan dengan kata benda misalnya ekor, buah.

    1. Kata penghubung

Kata sambung adalah kata yang berfungsi menghubungkan sebuah perkataan dengan perkataan atau kalimat dengan kalimat yang mendahu-luinya. Dapat dibedakan menjadi:

  • Penghubung penunjuk gabungan, misalnya dan, dengan, lalu.
  • Pangantara penunjuk waktu, misalnya waktu, ketika, tatkala.
  • Penunjuk maksud atau tujuan, misalnya agar, supaya, biar.
  • Penunjuk perlawanan, misalnya tetapi, melainkan, hanya.
  • Penunjuk sebab atau akibat, misalnya sebab, karena, sehingga.
  • Penunjuk syarat atau pengandaian, misalnya jika, kalau, asal.
  • Penunjuk sebab yang tak dipedulikan tau pernyataan mengalah, misalnya biarpun, meskipun, walaupun.
  • Penunjuk pelaku, pelengkap, atau keterangan, ialah bahwa.
    1. Kata depan

Kata depan adalah kta yang menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lain serta menentukan sekali sifat perhubungan.

  • Berdasarkan asalnya:

–          kata depan asli, ialah kata depan yang semata-mata hanya melakukan jabatan sebagai kata depan, misalnya di, ke.

–          Kata deopan pinjaman, yakni kata depan yang kecuali melakukan tugas sebagai kata depan dalam kalimat, dapat juga melakukan jabatan lain. Misalnya buat, atas, pada.

  • Menurut bentuknya:

–          kata depan tunggal, ialah kata depan yang hanya terdiri dari satu kata, misalnya di, ke, dari, untuk, dan sebagainya.

–          Kata depan mejemuk, ialah kata depan yang terdiri dari dua kata, misalnya di dalam, ke dalam, daripada, di atas.

  • Menurut artinya:

–          kata depan pengantar tempat, misalnya di, ke, dari, dalam.

–          Kata depan pengantar pihak yang akan menerima bagian, misalnya buat, bagi, untuk.

–          Kata depan pengantar pelaku, ialah kata oleh.

–          Pengantar alat, kawan, atau lawan, ialah dengan.

–          Pengantar maksud atau tujuan, misalnya akan, buat, guna.

–          Pengantar waktu atau maksud, misal hingga, dekat, hampir.

–          Pengantar sebab, misalnya berkat, atas, demi, karena.

–          Pengantar hubungan hal, misalnya peri, perihal, tentang.

    1. Kata sandang

Kata sandang ialah kata yang digunakan untuk menegaskan dan menentukan sehingga tersekatnya kata-kata yang mengikutinya atau yang dilekatinya. Misalnya yang, nya, si, sang,  para, ini, itu, suatu,sebuah.

    1. Kata seru

Kata seru ialah kata yang merupakan tiruan bunyi atau seruan secara spontan sebagai pelepas perasaan. Menurut artinya, dibedakan menjadi:

  • Kata seru peniru bunyi, yakni kata seru yang berupa tiruan bunyi-bunyi yang terdengar, misalnya dor, cit, huk, buk, ngeong.
  • Kata seru yang menyatakan rasa hati, misalnya aduh, hai, sayang.

–          penyeru biasa, misalnya hai, e.

–          menyatakan rasa heran, misalnya wah, astaga, aduh.

–          Menyatakan rasa sakit atau terancam bahaya, ialah tolong.

–          Menyatakan rasa iba atau sedih, misalnya ya ampun.

–          Terkejut bercampur sedih, misalnya masya allah.

–          Menyatakan kekecewaan, misalnya ah, celaka.

–          Menyatakan rasa kesal, misalnya tobat.

–          Menyatakan minta perhatian, misalnya halo, hai.

–          Menyatakan tidak percaya, misalnya masa.

–          Menyataka persetujuan, misalnya nah.

 

  1. Penggolongan Kata oleh Soetan Moehammad Zain (1943)
    1. Kata pekerjaan

Kata pekerjaan ialah kata yang menjawab pertanyaan mengapa seseorang atau sesuatu, atau diapakan seseorang atau sesuatu. Misalnya makan, berjalan, tertangkap, melompat, dan sebagainya.

    1. Nama benda
  • Nama benda dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:

–          berwujud, yaitu kata yang menunjuk benda berwujud, misalnya rumah, kambing, gunung, hantu, peri, jin.

–          Tidak  berwujud, misalnya penyakit, kehendak, kesusahan.

  • Nama benda dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu:

–          nama sendiri, misalnya Ahmad, Merapi, Musi, Bandung.

–          Nama bangsa ialah nama jenis benda, misalnya kursi, dll.

–          Nama zat, misalnya air, kapur, garam, emas, intan.

    1. Pengganti atau penunjuk benda
  • Kata pengganti orang atau benda, ada dua: 1. kata pengganti nama yang sebenarnya, misalnya aku, kamu, dia; 2. kata pengganti nama yang tidak sebenarnya, misalnya saya, hamba, adik, tuan.

Di samping itu, ada: 1. pengganti orang pertama, misalnya aku, kami; 2. pengganti orang kedua, misalnya engkau, tuan; 3. pengganti orang ketiga, misalnya ia, dia, mereka.

  • Manunjukkan kepunyaan, ialah ku, mu, kau, dan nya.
  • Kata penunjuk, ialah ini, itu, sini, situ, dan sana.
  • Kata tanya, misalnya apa, mana, siapa, berapa, bagaimana.
  • Kata penunjuk yang.
  • Kata penunjuk yang kurang tentu, misalnya seorang, sesuatu.
  • Menunjukkan banyak, dibedakan: 1. tentu, misalnya satu, dua, dan seterusnya; 2. tidak tentu, misalnya segala, sekalian, beberapa.
  • Menunjukkan pangkat, yang dibentuk dengan menambahkan awalan ke- pada nama bilangan yang menunjukkan banyak yang tentu, misalnya kesatu, keempat, dan seterusnya.
    1. Nama bilangan
    1. Nama sifat atau hal

Ialah kata yang menyatakan sifat, tabiat, atau keadaan suatu benda atau yang dianggap benda, misalnya besar, condong, buruk, miskin.

    1. Kata tambahan

Ialah kata yang menerangkan bukan nama benda, melainkan menerangkan kata golongan lain. Digolongkan menjadi dua: 1. sejati, misalnya sangat, sekali, belum, sungguh; 2. kata yang karena fungsinya termasuk golonga kata tambahan, misalnya Burung itu terbang tinggi.

Di samping itu, digolongkan pula menjadi lima:

  • menyatakan waktu, misalnya sedang, tengah, lagi, masi, kini.
  • Menyatakan tempat, misalnya sini, situ, sana, di sini, di situ.
  • Menyatakan banyak, misalnya lebih, kurang, amat, terlalu.
  • Menyatakan betapa, mislanya keras-keras, pandai-pandai.
  • Menyatakan peri, misalnya tentu, sungguh, niscaya, barangkali.
    • Perangkai sejati, yaitu di, ke, dari.
    • Perangkai yang berasal dari nama benda, misalnya dengan, sebab.
    1. Kata perangkai
    1. Kata penghubung

Ialah kata yang berfungsi menghubungkan kalimat atau bagian kalimat.

  • Menyatakan makna mengumpulkan, misalkan dan, lagi, serta.
  • Menyatakan makna perlawanan, misalnya tetapi, melainkan.
  • Menyatakan makna sebab, misalnya sebab, karena, oleh.
  • Menunjukkan waktu atau tempat, misalkan ketika, hingga.
  • Menyatakan perjanjian atau pembatasan, misalkan jika, kalau.
  • Manyatakan maksud atau akibat, misalkan supaya, sehingga.
  • Menyatakan makna mengalah, misalkan meskipun, biar.
    1. Kata seru

Kata seru digunakan untuk menyatakan:

  • Keheranan, misalnya wah, wahai, amboi, astaga.
  • Kesakitan, misalnya aduh.
  • Turut merasakan kesusahan orang lain, misalnya kasihan.
  • Kekecewaan, misalnya sayang.
  • Kesenangan hati, misalnya syukur, alhamdulillah.
  • Kejijikan atau penghinaan, misalnya cih, cis.
  • Ketidakpercayaan, misalnya masa, masakan, mana boleh.

 

  1. Penggolongan Kata oleh S. Zainuddin Gl. Png. Batuah (1950)
    1. Kata (peng) ganti
  • Pengganti orang, 1. orang yang sebenarnya, yaitu aku (pertama tunggal), kami dan kita (pertama jamak),engkau dan kamu (kedua tunggal), engkau sekalian dan kamu sekalian (kedua jamak), ia dan dia (ketiga tunggal dan jamak); 2. orang yang tidak sebenarnya, (a) orang pertama, ialah saya, hamba, beta; (b) orang kedua, ialah tuan, nyonya, anda, saudara; (c) orang ketiga, misal orang itu.
  • Kata kepunyaan, ialah semua kata ganti orang dan bentuk kependekannya, misalnya buku saya, kursi kami, tokonya.
  • Kata penunjuk, ialah ini, itu,  sini, situ, begini, begitu, yaitu, si.
  • Kata tanya, misalnya apa, mengapa, siapa, berapa, bagaimana.
  • Kata penunjuk dan pertalian yang.
  • Kata (peng)ganti tak tentu, ialah orang, seseorang, barang sesuatu.
  • Kata ganti kena diri, ialah kata diri.
  • Kata benda sakala atau berwujud ialah nama benda yang sesungguhnya. 1. nama barang, ialah nama diri, misalnya Ali, Tegal, Indonesia; 2. nama zat, misalnya mas, perak, timah; 3. nama kumpulan, misalnya laskar gerombolan, keluarga.
  • Kata benda niskala atau tak berwujud.
    1. Kata benda
    1. Kata kerja

Ialah kata yang dalamnya terkandung sesuatu perbuatan. Misalnya jatuh, berlari, menulis, bercakap-cakap, dan sebagainya.

    1. Kata sifat

Kata sifat adalah kata yang menyatakan sifat atau hal sesuatu barang. Misalnya sakit, berat, buruk, pucat, baik hati, manis mulut.

    1. Kata tambahan

Kata tambahan adalah kata yang menjadi keterangan pada kata selain kata benda. Kata golongan ini dibedakan menjadi:

  • Penunjuk sifat, misalnya perlahan-lahan, begini, begitu.
  • Penunjuk taraf, misalnya sama, kurang, agak, hampir.
  • Penunjuk waktu, misalnya sedang, tengah, sekarang, kini.
  • Penunjuk tempat, misalnya di rumah, ke sekolah, dari pasar.
  • Penunjuk modalitas, (a) menyatakan kesungguhan, misalnya ya, bahkan, tentu; (b) menyatakan kemungkinan, misalnya mungkin, dapat, bisa; (c) menyatakan kehendak, misalnya moga-moga.
  • Bilangan pokok, misalnya satu, dua, tiga, dan seterusnya.
  • Bilangan pecahan, misalnya setengah, seperlima.
  • Bilangan penunjuk tingkat, misalnya pertama, kedua.
  • Bilangan pengumpul, yaitu mengungkapkan kumpulan misalnya kedua, kesepuluh, dan sebagainya.
  • Bilangan pengganda, misalnya sekali, tujuh ganga, tujuh lapis.
  • Bilangan penunjuk yang kurang tentu, misalnya segala, banyak.
    1. Kata bilangan
    1. Kata perangkai

Ialah kata yang menyatakan perhubungan sebuah kata lain dalam kalimat itu juga. Misalnya dari, pada, bagi, akan, oleh, dengan, sedikit.

    1. Kata penghubung

Ialah kata yang menghubungkan dua buah kata yang sama fungsinya dalam kalimat. Kata golongan ini dapat digolongkan menjadi:

  • Penunjuk pengumpul, misalnya kata dan, dengan, lagi.
  • Penunjuk pengumpul dan pencerai, misalnya baik … baik, atau … atau, baik … atau.
  • Penunjuk kosokbali, ialah kata atau.
  • Penunjuk perlawanan, misalnya  tetapi, akan tetapi, melainkan.
  • Penunjuk sebab-karena, misalnya oleh, karena, sebab.
  • Penunjuk saarat atau perjanjian, misalnya kalau, jialau, asal.
  • Penunjuk peralahan, misalnya sungguhpun, meskipun, walau.
  • Penunjuk maksud, misalnya supaya, agar.
  • Penunjuk penerangan, misalnya  kata yaitu, yakni.
  • Penunjuk kehendak, ialah kata barang.
  • Sebagai pembuka kata, ialah kata bahwa.
  • Penghubung yang lain-lain, misalnya hingga, sampai, jadi.
  • Kata tiruan bunyi, misalnya kata bak, buk, pang, cas, cis.
  • Kata yang menyatakan perasaan, misalnya ah, wah, o, amboi, nah.
  • Kata yang menyatakan semboyan, misalnya hai, halo, awas.
    1. Kata seru

 

  1. Penggolongan Kata oleh Madong Lubis (1954)
    1. Kata benda
  • Menyatakan benda yang berwujud, 1. nama jenis, misalnya kuda, kursi, buku; 2. nama sendiri, misalnya Kalimantan, Hamid, Semeru; 3. nama zat, misalnya air, timah, kapur; 4. nama himpunan, misalnya hutan, lautam, belukar.
  • Menyatakan benda tidak berwujud, misalnya hukuman, kehendak.
    1. Kata kerja

Ialah kata yang menyatakan perbuatan, misalnya makan, pergi, berlari.

    1. Kata sifat

Ialah kata yang menyatakan sifat atau hal, misalnya murah, tinggi, besar.

    1. Kata pengganti dan penunjuk benda
  • Pengganti badan, 1. badan pertama, misalnya aku, saya; 2. badan kedua, misalnya engkau, kamu; 3. badan ketiga, misalnya ia.
  • Pengganti pertanyaan, misalnya apa, siapa, bagaimana.
  • bulat (biasa), misalnya satu, dua, tiga.
  • pecahan, misalnya dua pertiga, seperdua, dua setengah.
  • penunjuk taraf (tingkat), misalkan kesatu, kedua.
  • Kurang tentu, misalkan semua, sekalian, sedikit, beberara.
  • Kata-kata penyukat, misalnya rupiah, jam, menit, orang.
  • Berdasarkan kata yang diterangkan:
    1. Kata bilangan
    1. Kata tambahan

–          menerangkan kata kerja, misalkan rajin-rajin belajar.

–          Menerangkan kata sifat, misalnya tinggi benar.

–          Menerangkan bilangan, misalnya hampir seribu.

–          Menerangkan kata penyelit, misalnya tepat di muka.

  • Berdasarkan artinya:

–          penunjuk tempat, misalnya di mana, ke sana, di bawah.

–          penunjuk waktu, misalnya tengah, sedang, manakala.

–          Penunjuk keadaan, misalnya demikian, hati-hati.

–          Penunjuk taraf, misalnya kurang, agak, benar.

–          Penunjuk sikap, (a) kepastian, misalnya sungguh, bahkan; (b) menidakkan, misalnya tidak, bukan; (c) kebimbangan, misalnya mungkin, barangkali; (d) pengharapan, misalnya moga-moga, hendaknya, dan sebagainya.

    1. Kata penyelit (perangkai)
  • Kata penyelit yang sebenarnya, misalnya di, ke, dari.
  • Kata penyelit berpadu, misalnya di sekolah, ke kantor.
  • Penujuk himpunan, misalnya dan, lagi, serta, maka.
  • Penunjuk waktu,  misalnya apabila, tatkala, setelah, sehabis.
  • Penunjuk sebab, misalnya sebab, karena, oleh karena.
  • Penunjuk maksud dan akibat, misalnya agar, jadi, supaya.
  • Penunjuk pertentangan, misalnya walaupun, meskipun.
  • Penunjuk syarat, misalnya kalau, jikalau, niscaya.
  • Kata penghubung yang sukar ditentukan jenisnya, misalnya maka, bahwa, syahdan, arkian, adapun, dan sebagainya.
  • Kata tiruan bunyi, misalnya ting, bur, bam, ngeong, embik.
  • Kata ucapan perasaan, misalnya aduh, ai, oi, astaga, ssst.
    1. Kata penghubung
    1. Kata seru

 

  1. Penggolongan Kata oleh I. R. Poedjawijatna dan P. J. Zoetmulder (1955)
    1. Kata sebut
  • Konkret, yaitu manyatakan sesuatu yang sungguh-sungguh ada, misalnya bapak, anjing, pasir.
  • Abstrak, yaitu menyatakan sesuatu yang hanya ada dalam pikiran saja, misalnya pemandangan, kedudukan, kekuatan.
  • Kata keadaan, misalnya baik, beristeri, mambabi buta.
  • Kata kerja, (a) transitif; dan (b) intransitif.
  • Kata ganti orang, (a) orang pertama, misalnya aku, kami; (b) orang kedua, misalnya kamu, engkau; (c) orang ketiga misalnya dia.
  • Kata ganti tanya, misalnya mana, bilamana, mengapa.
  • Kata ganti tunjuk, ialah kata itu dan ini.
  • Menunjuk waktu, misalnya belum, pernah, sekarang.
  • Menunjuk cara, misalnya entah, barangkali, agak.
  • Menunjuk tempat, misalnya ke sana kemari, kian kemari.
  • Menunjuk derajat, misalkan hampir, hanya, makin.
  • Menunjuk keadaan, misalnya sama, seperti, sia-sia.
  • Menunjuk sebab, misalnya karena itu, sebab itu.
  • Kata bilangan tentu, misalnya delapan, sembilan.
  • Tak tentu, misalnya beberapa, semua, banyak, sedikit.
  • Tingkat, misalnya kedua, kelima, dan seterusnya.
  • Pecahan, misalnya sepertiga, lima perempat.
    1. Kata tambah
    1. Kata ganti
    1. Kata keterangan tambah
    1. Kata bilangan

Di samping itu terdapat kata penunjuk enis, misalnya buah, biji, ekor.

    1. Kata depan
  • Menyatakan hubungan alat, misalnya kata dengan.
  • Menyatakan hubungan bersama-sama, misalnya kata serta.
  • Menyatakan hubungan pelaku, misalnya kata oleh.
  • Menyatakan hubungan maksud dan tujuan, misalnya bagi, untuk.
  • Menyatakan hubungan hala, misalnya kata peri, hal, tentang.
  • Menyatakan hubungan sebab, misalnya kata karena, sebab.
    1. Kata seru

Kata seru ialah kata yang menirukan suara yang merupakan seruan, misalnya bum, tik, astaga, wahai, aduhai.

    1. Kata perangkai

Ialah kata yanag merangkaikan kalimat dengan kalimat lainnya, misalnya dan, lalu, bahkan, bahwa agar, akan, dan sebagainya.

 

  1. Penggolongan Kata oleh S. Takdir Alisjahbana (1960)
    1. Kata benda atau substantive

Menurut batasan ini, kata ganti termasuk golongan kata benda.

    1. Kata kerja atau verba

Yang termasuk golongan ini adalah kata yang berawalan me- dan di-.

    1. Kata keadaan atau adjectiva ( kata bilangan termasuk golongan ini)
    2. Kata sambung atau konjungsi (kata depan termasuk golongan ini)
    3. Kata sandang atau artikel.
    4. Kata seru atau interjeksi.

BAB IV

PENGGOLONGAN KATA SECARA NONTRADISIONAL

  1. Penggolongan Kata oleh Slametmuljana

Berdasrkan fungsi kata dalam kalimat, kata digolongkan menjadi:

  1. Kata-kata yang pada hakekatnya hanya melakukan jabatan gatra sebutan
  • Kata keadaan, misalnya kata besar, sukar, bagus, dan sebagainya.
  • Kata kerja, misalnya kata mendayung, menangkap, diangkut.

–          kata kerja bantu ialah kata kerja yang menyatakan perbuatan yang ditunjuk terbatas dalam lingkungannya sendiri, misalnya kata jatuh dan menangis.

–          Kata kerja langsung ialah kata kerja yang dapat berhubungan dengan pelaku kedua (objek) tanpa perantara kata lain, misalnya membaca.

–          Kata kerja sambung ialah kata kerja yang dalam hubungannya dengan pelaku kedua menggunakan perantara kata lain, misalnya cinta kepada ayah.

  1. Kata-kata yang dapat melakukan jabatan gatra pangkal dan gatra sebutan
  • Kata benda

–          kata benda yang menyatakan nama benda yang dapat dicapai dengan panca indera, misalnya kata batu, daun.

–          Kata benda yang tidak nyata, misalnya perbuatan, keka-yaan, perbuatan, dan sebagainya.

  • Kata ganti

–          kata penunjuk, yaitu kata itu dan ini.

–          Kata pemisah, yaitu kata yang dan tempat.

–          Kata ganti diri dan milik. Yaitu aku, kamu, dia.

–          Kata ganti tanya, misalnya apa, berapa, dimana.

–          Kata ganti sesuatu, misalnya seseorang, sesuatu.

  • Kata bilangan

–          bilangan pokok dibagi menjadi bilangan tunggal (satu, dua, dan seterusnya sampai sembilan) dan majemuk (kesatuan bilangan tunggal:11, 12, dan seterusnya).

–          Bilangan bantu, misalnya batang, belah, biji, buah, ekor.

–          Bilangan tak tentu, misalnya banyak, sedikit, beberapa.

–          Bilangan himpunan, keduanya, ketiga orang itu.

  1. Kata-kata pembantu regu II
  • Kata yang menjelaskan tempat kedudukan kata benda, yaitu ini, itu.
  • Kata yng menunjukkan kekianan.
  • Kata keadaan dan kata benda yang memberi penjelasan kata benda tentang keadaannya, pemiliknya, dan sebagainya. Misalnya orang kaya, bapak saya.
  1. Kata-kata pembantu pertalian

Ialah kata yang menjelaskan pertalian kata yang satu, kalimat yang satu dengan yang lain.

  • Kata yang menerangkan kata keadaan dan kata kerja, misalnya sekali, terlalu.
  • Kata yang menghubungkan kata yang satu, kalimat yang satu dengan yang lain, misalnya dari, ke, untuk.
  • Kata yang disisipkan dalam kalimat seakan-akan berdiri sendiri, lepas dari ikatan kalimat. Misalnya nah, hai, sayang, aduh.

  1. Penggolongan Kata oleh Anton M. Moeliono
    1. Rumpun nominal

Yaitu kata yang dapat diingkari oleh kata bukan.

  • Rumpun nominal yang dapat didahului partikel preposisi direktif di. Misalnya di rumah, di mobil, di jalan, di air.
  • Rumpun nominal yang dapat didahului partikel pada. Misalnya pada tanggal, pada ibu, dan sebgainya.
    1. Rumpun verbal

Yaitu kata yang dapat diingkari dengan kata tidak.

  • Rumpun verbal transitif.
  • Rumpun verbal tak transitif.
  • Rumpun verbal ajektif.
  • Preposisi
  • Konjungsi
  • Penunjuk kecaraan
  • Penunjuk segi atau aspek: sedang, telah, lagi.
  • Penunjuk derajat: agak, sangat, kurang.
    1. Rumpun partikel

 

  1. Penggolongan Kata oleh Gorys Keraf
    1. Kata benda

Ialah semua kata yang dapat diterangkan atau diperluas dengan yang + kata sifat. Kata ganti merupakan sub-golongan kata benda.

    1. Kata kerja

Ialah segala macam kata yang dapat diperluas dengan kelompok kata dengan + kata sifat. Misalnya berjalan, nyanyi, mendengar.

    1. Kata sifat

Ialah semua kata yang dapat mengambil bentuk se + reduplikasi kata dasar + nya. Misalnya semahal-mahalnya, secepat-cepatnya.

    1. Kata tugas
  • Kata tugas monovalen, yaitu yang semata-mata bertugas untuk memperluas kalimta, misalnya dan, tetapi, sesudah, di, ke, dari.
  • Kata tugas yang abmivalen, yaitu kata tugas yang juga bertindak sebagai jenis kata lain, baik dalam membentuk suatu kalimat minim maupun mengubah bentuknya. Misalnya sudah dan tidak.

 

  1. Penggolongan Kata oleh S. Wojowasito
    1. Kata benda

Kata benda lazim menduduki subjek dan predikat dan diikuti kata itu, didahului preposisi, kata bilangan, dan diikuti nama pribadi.

    1. Kata kerja

Kata kerja lazim menduduki predikat dan mengikuti subjek dan mendahului objek, dapa diikuti preposisi, dapat digunakan untuk perintah.

    1. Kata sifat

Kata sifat lazim mengikuti kata benda sebagai sifat, dapat digunakan untuk perintah, dan didahului kata hendak, dan sedang.

    1. Kata tambah

Kata tambah hanya bisa menduduki fungsi keterangan sekunder.

    1. Kata penghubung

Kata penghubung berfungsi menghubungkan dua kalimat sejajar atau bertingkat dan dua kata yang sejenis secara sejajar.

    1. Kata seru

Kata seru dignakan sebagai motphrase, yaitu satu kata yang bertindak penuh sebagai kalimat dengan intonasi seruan.

    1. Kata bilangan

Kata bilanagn adalah kata yang menyebut sesuatu yang objektif. Golongan ini debedakan menjadi kata bilangan tentu dan tak tentu.

    1. Kata ganti

Kata ganti adalah kata yang mengganti kata benda, misalnya aku, ini, itu.

    1. Kata depan

Yaitu kata yang dalam kesatuan sintaksis, dalam frase atau kelompok kata, menentukan sifat hubungan dengan kelompok kata yang mendahuluinya.

 

  1. Penggolongan Kata oleh M. Ramlan
    1. Kata verbal

Kata verbal yaitu kata yang dapat diingkari dengan kata tidak, yang termasuk adalah kata kerja dan kata keadaan.

    1. Kata nominal

Yaitu kata yang dalam kalimat dapat menduduki fungsi S, P, O dan dalam frasa dapat diingkari dengan kata bukan.

    1. Kata keterangan

Dalam kalimat kata keterangan cenderung menduduki fungsi keterangan.

    1. Kata tambah

Yaitu kata yang dalam frasa cenderung menduduki fungsi atribut (bukan, belum, akan).

    1. Kata bilangan: dua, tiga, kedua (tingkat, kumpulan)
    2. Kata penyukat: kata bantu bilangan, misalnya tiga ekor, lima buah.
    3. Kata sandang: si, sang, semua, segala, segenap, seluruh.
    4. Kata tanya: apa, mengapa, bagaimana, dan sebagainya.
    5. Kata suruh: mari, jangan.
    6. Kata penghubung: dan, lalu, atau, tetapi, bahkan, dan sebaginya.
    7. Kata depan: di, ke, dari.
    8. Kata seruan: ah, wah, aduh, amboi, dan sebagainya.

 

BAB V

KEANGGOTAAN GANDA DAN TRANSPOSISI

Golongan kata ditentukan berdasarkan perilaku kata dalam frase, klausa, kalimat, dan wacana. Sustu kta mungkin memiliki berbagai perilaku sintaksis.  Misalnya kata sedang dalam kalimat-kalimat berikut.

  • Nilainya sedang.
  • Ibu sedang pergi.
  • Ibu pergi, sedang anak-anaknya tidur.
  • Sedang ia membaca, terdengar suara orang mengetuk pintu.

Dari contoh do atas jelas bahwa kata dalam mungkin termasuk golongan kata verbal, kata tambah, penghubung setara, dan penghubung tidak setara.

Transposisi adalah perpindahan posisi atau fungsi. Transposisi ada yang mengubah golongan kata, ada yang tidak. Fungsi predikat tidak mengubah golongan kata. Sebaliknya fungsi subjek mengubah golongan kata menjadi nominal. Kata membaca dalam Ia membaca buku baru termasuk kata verbal, tetapi dalam kalimat Membaca sangat berfaedah termasuk golongan katanominal karena adanya transposisi.

Meningkatkan Kemampuan Membaca

Pengarang       : Donald H. Weiss

Penerbit           : Binarupa Aksara – Amacom

Tebal buku      : 75 halaman

Tahun terbit     : 1990

Kota terbit       : Jakarta

 

Pendahuluan: Memerangi Kelebihan Beban Informasi

 

Melalui buku ini, pembaca diharapkan mempunyai kemampuan membaca yang lebih besar daripada yang dimiliki, sebagaimana diduga oleh para guru komunikasi. Pembaca dapat mengambil keputusan yang lebih baik mengenai apa yang harus dibaca, kapan, dan dimana. Pembaca akan dapat mengorganisasikan bacaan dengan lebih baik pula, belajar kapan dan bagaimana membaca untuk pengenalan (termasuk untuk hiburan), dan juga membaca untuk pengetahuan atau secara mendalam. Pembaca tidak hanya akan membaca kata-kata dengan lebih cepat namun akan menggunakan beberapa teknik untuk mengerti kata-kata itu dengan lebih baik.

Bagian selebihnya dari buku ini membicarakan cara untuk membaca demi kekuatan. Buku ini juga mengungkapkan pentingnya membaca dengan baik dan memperlihatkan bagaimana caranya meningkatkan keterampilan membaca.

 

Bab I

Mimpi yang Hancur Berantakan: Bagaimana Kemampuan Membaca

dapat Membentuk atau Menghancurkan Anda

Kemampuan membaca dapat membentuk atau menghancurkan. Dengan kemampuan membaca yang baik, kita dapat melakukan kegiatan membaca yang bertujuan untuk bermacam-macam hal dengan baik pula. Namun orang yang tidak memiliki kemampuan membaca yang baik akan sangat sulit untuk melakukan itu.

 

Bab II

Terlalu Banyak yang Harus Dibaca dan Terlalu Sedikit Waktu:

Bagaimana Memutuskan Apa yang Harus Dibaca dan Kapan Membacanya

 

Ada terlalu banyak yang harus dibaca dan terlalau sedikit waktu untuk membacanya. Oleh karena itu, kita perlu memilah apa yang kita, kapan , dan dimana. Pilihan terletak pada jawaban terhadap pertanyaan yang nyaris bergantung kepada penyederhanaan: “ Mengapa membacanya?” Anda todak perlu membaca apapun jika anda tidak mempunyai kebutuhan atau keinginan untuk mengetahuinya.Bacalah sesuatu yang perlu anda ketahui.

  • Menyeleksi dan Memilih

Dalam membaca kita tidak harus membaca semua yang ada, namun kita bisa menyeleksi dan mimilih bacaan yang kita butuhkan. Itulah salah satu alasan mengapa penerbit membuka produk merata dengan daftar isi. Mereka eminta anda untuk memilih apa yang anda rasa harus anda baca. Disini pembacaan sekilas (scanning) akan sangat membantu.

Arahkan pandangan anda sepanjang daftar isi tersebut. Bila ada sesuatu yamh menarik perhatian anda, entah karena anda perlu mengetahuinya atau menginginkannya. Bila tidak ada yang menarik perhatian anda, singkirkan buku itu atau kembalikan ke rak.

  • Di mana dan Kapan

Di mana dan kapan membaca hampir sama pentingnya dengan mengapa dan apa. Tempat dan waktu bergantung kepada seberapa besar anda perlu atau ingin mengingat apa yang anda baca. Segera sesudah anda memisahkan bahan menjadi kebutuhan untuk membaca dan keinginan ntuk membaca dan sesudah memilih apa yang harus dibaca, di mana, dan kapan, kita perlu mengorganisasi bacaan berdasarkan prioritas.

 

Bab III

Intisari Pengendalian Keranjang Surat Masuk

  • Siapa yang menginginkan saya untuk membacanya?

Dalam membaca kita harus memperhatikan “siapa yang menginginkan saya untuk membacanya?”. Jika bacaan tersebut penting untuk dibaca, maka segeralah membacanya.

  • Apa yang akan terjadi bila saya tidak membacaya atau tidak membacanya sekarang?

Bagian kedua ini mengacu pada konsekuensi positif dan negatif. Ada tiga hal yang harus diprioritaskan, yaitu:

a. Apa yang penting?

b. Apa yang diperlukan dengan segera?

c. Peranan apa yang dimainkannya?

 

Namun, bila masih belum yakin mengenai prioritas, tanyakan:

  1. Apa yang bergantung kepada bacan saya sekarang ini?
  2. Apalagi yang tidak akan terjadi bila saya tidak membacanya?
  3. Bila saya tidak membacanya, apakah saya atau orang lain akan dapat mengerjakan hal-hal lain?
  4. Bagaimana tidak membaca hal ini mempengaruhi orang lain atau proses lain?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memberitahuperanan apa yang dimainkan bahan bacaan tersebut. Kita dapat mengetahui pula bacaan mana yang harus dibaca lebih dahulu dan kapan. Ringkasnya, untuk mendapatkan kendali atas kebiasaan anda dalam membaca, belajarlah memisahkan apa yang perlu anda ketahui dan perlu anda baca.

 

Bab IV

Membaca versus Kemampuan Membaca

  • Membaca versus Mendengar

Konfusius mengatakan sesuatu yang masih masuk akal: katakan kepada sya dan saya lua, Perlihatkan kepada saya dan sya ingat, biarkan saya melakukannya dan saya mengerti. Karena kata-kata yang diucapkan berlalu lebih cepat melalui kesadran daripada kata yang tertulis, kebanyakan orang menyimpan sekitar setengah dari apa yang mereka dengar dibandingkan dengan apa yang mereka bicara.

Baca apa yang dikatakan seseorang, dan cetakan tersebut melengkapi anda dengan ingatan yang tidak mungkin salah. Anda dapat selau melihat apa yang tidak anda ingat. Namun yang lebih penting, apa yang tidak anda mengerti pada mulanya, anda dapat belajar lebih cermat dengan kecepatan anda sendiri dan dengan cara sendiri.

  • Kosakata

Kebanyakan orang membaca dengan dangkal, menyaring kata-kata yang tidak mereka mengerti dan membiarkan konteks membawakan makna kata-kata yang baru. Bila ada sesuatu yang cukup pentinguntuk dibaca, maka sesuatu itu cukup penting untuk dimengerti. Selain itu, membaca kamus adalah salah satu cara yang digunakan oleh para penulis untuk mengembangkan kosakata yang lebih baik dibandingkan kebanyakan orang.

Saat membaca, setiap kali mendapatkan suatu kata atau frase yang tidak dimengerti, catatnya dan cari makna di kamus. Gunakan kembali kata atau frase itu setidaknya dalam satu kalimat dan gunakan pada setiap kesempatan yang sesuai. Kata atu frase itu segera menjadi milik kita.

  • Kedangkalan

Ketika orang menyaring kata-kata yang mereka tidak ketahui, mereka kehilangan kedalaman  yang mungkin mereka perlukan untuk pengertian yang lengkap atas apa yang penting secara dangkal dapat menimbulkan konsekuensi yang serius. Kurangnya kosakata bukanlah satu-satunya sebab kedangkalan. Pengalihan perhatian juga menganggu pemahaman dan menyebabkan kurangnya kedalaman.

  • Kelambatan

Membaca dengan cermat bukan berarti membaca dengan lambat. Dengan mem-baca lambat malah akan membuat kehilangan rangkaian gagasan. Pembaca lambat biasanya menyuarakan apa yang mereka baca, entah di dalam hati atau dengan suara keras. Hal ini melambatkan kecepatan membaca hingga mendekati kecepatan mendengar. Satu lagi sebab dari membaca lambat adalah gerakan mata yang berlebihan. Saat membaca mata bergerak bolak-balik sepanjang baris teks dan biasanya satu demi satu kata.

Untuk dapat membaca dengan baik, sebaiknya kebiasaan tersebut dihindari. Dibutuhkan waktu agar terbiasa dengan kegiatan membaca yang hening dan menyeluruh, tetapi akan terasa menjadi lebih mudah dan semakin mudah bila berlatih setiap kali membaca sesuatu.

  • Pembacaan Ulang

Kebanyak orang memperlambat diri mereka sendiri dengan pembacaan ulang yang tidak perlu. Pembacaan ulang sangat mengganggu proses membaca. Sebaiknya saat membaca pilihlah unsur esensial yang dirasa perlu untuk diingat dan buat catatan mental mengenai unsur tersebut. Dapat juga dilakukan dengan menandai dengan pena berwarna. Bila suda selesai membaca, coba ingat pokok-pokok yang menonjol itu.

Bila anda mempunyai kendali yang lebih besar atas cara anda membaca, anda bisa mendapatkan lebih banyakdari semua yang lewat di depan anda. Anda mengerti bahan bersangkutan lebih banyak, dan dengan pengertian, anda meningkatkan ingatan anda pula. Apa yang tidak apat anda ingat, tinjau kembali. Peninjauan kembali membedakan membaca untuk pengenalan dan membaca untuk pengetahuan (membaca secara mendalam).

 

Bab V

Membaca untuk Pengenalan

Membaca untuk pengenalan berarti membaca mendapatkan inti dari pokok bahasan tanpa mengembangkan pengertian yang tuntas. Membaca untuk pengenalan berarti mengumpulkan informasi untuk pemakaian yang terbatas. Selanjutnya informasi tersebut tersdia untuk pemeriksaan yang lebih ekstensif bila diperlukan. Jadi, anda membaca sekilas, meninjau, atau menyaring.

  • Pembacaan sekilas (scanning)

Membaca sekilas berarti hanya mencari bahan yang relevan atau berhubungan langsung, fakta atau gagasan khusus. Membaca sekilas dapat juga dilakukan dengan memperhatikan judul, mencari artikel yang menarik perhatian, dan menelusuri informasinya dengan cepat. Membaca sekilas menghemat waktu. Teknik membaca ini memfokuskan perhatian dengan tajam dan menghilangkan kekusutan mental.  Dengan menyoroti satu potongan kecil ahan yang penting, membaca sekilas membantu mengambil keputusan tentang bentuk lain membaca untuk pengenalan, seperti peninjauan.

  • Peninjauan (previewing)

Peninjauan memberi kesempatan untuk memutuskan tentang apa yang harus disaring dan apa yang harus dibaca secara mendalam. Bila anda memutuskan untuk membaca suatu artikel atau bab dari sebuah buku, henat banyak waktu anda dan energi mental dengan membaca judul serta subjudul. Mungkin ternyata bahwa judul artikel atau bab lebih menarik daripada teksnya, tetapi bila bahannya masih menarik minat, tinjaulah atau lebih baik saring dan baca yang perlu diketahui secara mendalam.

  • Penyaringan (scimming)

Penyaringan berarti menggerakkan mata dengan cepat untuk menelusuri halaman dengan membaca judul, subjudul, kalimat topik, dan kata-kata isyarat yang menyediakan lebih banyak dari sekadar gagasan yang menonjol yang ditangkap sewaktu melakukan peninjauan. Penyaringan mirip dengan pembacaan sekilas.

 

Bab VI

Membaca untuk pengetahuan yang Mendalam

Membaca untuk pengetahuan yang mendalam dapat dilakukan dengan menetapkan tujuan dan sasaran, menetapkan prioritas, menaruh perhatian cermat, dan membuat catatan secara efektif. Berikut ini akan dijelaskan mengenai masing-masing hal tersebut.

  • Penetapan Tujuan

Membaca untuk memperoleh semua informasi yang esensial di dalam teks atau membaca untuk mendapatkan isi dengan menetapkan tujuan dan sasaran membaca, menegakkan prioritas, menaruh perhatian dan menulis kerangka. Memutuskan mengapa anda membaca seauatu menghasilkan tujuan dan sasaran yang mengidentifikasi bahan yang palingpentinguntuk dibaca dan diingat. Tujuan anda membantu anda menggabungkan apa yang perlu diketahui, dan gabungan nya menjadi penggerak yang kuat.

Bila orang memiliki kebutuhan untuk mengetahui sesuatu, mereka menggali secara antusias ke dalam tugas pencarian. Tujuan dan sasaran mengarahkan peninjauan, penyaringan, dan pembacaan sekilas yang anda lakukan. Tujuan dan sasaran menunjukkan apa yang harus disimpan dan dimana menemukan sesuatu bila anda memerlukannya.

  • Pemberian Perhatian, Untuk menaruh perhatian, harus melibatkan diri sepenuhnya. Menyiapkan diri untuk membaca adan membersihkan pikiran dari semuanya. Harus fokus pada judul atau ringkasan bahan yang akan memberi petunjuk. Tidak ada ruginya memulai untuk menulis sasaran dan apa yang harus didapat dati bacaan yang ada. Disinilah pembuatan catatan menjadi penting dilakukan untuk mengembangkan kosakata dan peninjauan atau pengertian.Pembuatan Catatan
  • Pengembangan kosakata

“Biarkan saya melakukan, dan sya mengerti.” Dalam kalimat tersut, “melakukan” berarti mengambil peran aktif dalam belajar sendiri. Ketika membaca untuk pengenalan, pembaca secara aktif menyeleksi informasi yang ingin diserap dan menolak selebihnya. Seringkali saat membaca kita menemukan kata-kata sulit, disinilah membaca dengan kamus di tangan menjadi penting. Dengan begitu kosakata yang kita miliki menjadi berkembang.

Berikut ini adalah sebuah format sederhana untuk mengembangkan kosakata. Format ini terdiri atas: (1) kata yang dipelajari, (2) bagian cara berbi-cara yang dipenuhinya, (3) makna atau beberapa makna, dan (4) pemakainnya.

  • Peninjauan dan pengertian

Membaca untuk pengetahuan dimulai dengan peninjauan dan penya-ringan untuk gambaran umum mengenai pokok bahasan dan rasa untuk sudut pandang si penulis. Untuk meningkatkan kemampuan anda dalam membaca, anda perlu menuliskan catatan dalam kata-kata sendiri. Ketika membuat catatan dengan kata-kata sendiri, sama saa menanamkan gagasan, konsep, instruksi di dalam benak. Pembuatan catatan juga memberi rekaman tertulis untuk peninjauan cepat ketika memerlukan bacaan tersebut.

 

Kesimpulan

 

Ledakan informasi tidak perlu menyapu bersih diri anda. Dunia kita adalah dunia yang memiliki informasi paling baik yang pernah dikenal. Anda dapat mengendalikan apa yang anda baca, menyingkirkan apa yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Dan dapat mengendalikan sejauh mana anda menyerapsemua banjir informasi yang menyerbu diri anda.

Baca untuk pengenalan. Baca sekilas, tinjau, dan saring. Memisahkan semua bahan dan menemukan apa yang perlu dibaca untuk pengetahuan. Kemudian seranglah secara tuntas dan menjauh dengan mengetahui dan mengerti apa yang dibaca dengan menghentikan arus bacaan guna membuat catatan untuk pengembangan kosakata atau untuk peninjauan.

Membaca untuk pengenalan dan membaca secara mendalam tidak bertentangan satu sama lain. Yang satu mengurangi kekusutan dan membantu anda berfokus pada hal-hal yang paling bermakna untuk yang lain. Keduannya dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan anda dalam membaca.

 

 

 

RONGGENG DUKUH PARUK Catatan Buat Emak (Karangan Ahmad Tohari)

Sudah sebelas tahun Dukuh Paruk tidak memiliki ronggeng. Padahal tanpa ronggeng dukuh itu serasa lesu. Malapetaka keracunan tempe bongkrek sebelas tahun yang lalu menjadi penyebab mendegnya pertunjukkan ronggeng di Dukuh Paruk. Dalam suasana seperti itu, Srintil gadis sebelas tahun tampil sebagai ronggeng baru. Indang ronggeng telah merasuki tubuh Srintil dan membuat Srintil menjadi seorang ronggeng sejati. Untuk mengesahkan hal itu, seorang ronggeng harus melalui sayembara bukak kelambu. Dalam sayembara bukak kelambu, lelaki yang membayar paling mahallah yang berhak mendapatkan keperawanan Srintil.

Akhirnya sayembara bukak kelambupun dilaksanakan. Setelah melalui tawar-menawar yang cukup lama, Dowerlah yang memenangkan sayembara tersebut. Namun karena kelicikkan Srintil, Rasus teman sepermainan dan orang yang benar-benar Srintil cintailah yang melakukan malam bukak kelambu dengan Srintil. Walaupun ia telah mendapatkan keperawanaan Srintil, Rasus tetap kecewa dan merasakan kehilangan dengan dinobatkannya Srintil sebagai ronggeng. Karena apabila Srintil menjadi seorang ronggeng, maka Rasus tidak akan bisa lagi bermain leluasa dengan Srintil seperti dulu. Rasus pun sekaligus kehilangan sosok emaknya yang ada dalam diri Srintil. Bagi Rasus, menjadi ronggeng berarti harus bersedia melayani semua orang yang menginginkannya.

Meskipun baru berusia sebelas tahun, mimik penagih birahi yang selalu ditampilkan oleh seorang ronggeng yang sebenarnya, juga sangat baik dibawakan oleh Srintil. Srintil melakukan semuanya dengan kesadaran penuh serta kebanggaan seorang perempuan menaklukkan banyak lelaki hanya dengan sampur dan kerlingan nakalnya. Tak ada yang tabu bagi seorang ronggeng secantik dirinya melakoni semua itu. Orang-orang di dukuh Paruk bangga memilikinya, ronggeng cantik dan terkenal. Tak ada kecemburuan para istri, justru kebanggan bila suami mereka bisa tidur bersama Srintil. Tampilnya Srintil pun mengidupkan kembali dukuh itu.

Setelah kejadian itu Rasus pergi menghilang meninggalkan Dukuh Paruk. Sekian lama ia membantu berjualan singkong di pasar kecamatan dan bertemulah ia dengan sersan Slamet. Setelah lama bergaul dengan sersan Slamet, Rasus pun dipilih untuk menjadi pembantu tentara. Hari-harinya pun diwarnai dengan pergaulan bersama tentara-tentara. Bersama tentara-tentara tersebut Rasus membela rakyat dari ketertindasan dan menjaga keamanan rakyat.

Walaupun Rasus kecewa dengan Srintil dan tanah kelahirannya, ia tetap merasa terpanggil untuk melindungi tanah leluhur dan warganya. Maka pada saat perampokan di rumah Nyai Kertareja yang merupakan nenek Srintil, Rasus ikut mengambil peran dalam penumpasan para perampok dan berhasil menyelamatkan Srintil. Setelah kejadian tersebut Rasus tinggal beberapa hari di Dukuh Paruk, dan Srintil pun merasa senang karena sudah sangat lama tidak berjumpa dengan Rasus. Selama kembalinya Rasus di Dukuh Paruk, Srintil melayani segala kebutuhan Rasus seperti layaknya seorang istri melayani suaminya.

Namun pada suatu pagi, Rasus bertekad untuk tetap meninggalkan Dukuh Paruk. Rasus kembali bergabung dengan kelompok tentara untuk mengayomi masyarakat. Dengan berat hati ia meninggalkan tanah kelahirannya dan gadis yang sangat ia cintai, yaitu Srintil.

 

Quantum Reading

Judul               : Quantum Reading

Pengarang       :  Hernowo

Tahun              : 2005

Cetakan           : V

Tebal buku      : 215

Penerbit           : MCL

Kota terbit       : Bandung

Bab 1

Konsep Baru Membaca Buku

AMBAK adalah Apa manfaanya bagiku? Dalam buku ini yang dimaksut adalah manfaat membaca buku. Untuk mencari manfaat kita harus mengetahui kegiatan membaca. Kegiatan membaca adalah kegiatan yang melibatkan banyak hal berkaitan dengan membaca.ada 7 konsep kegiatan membaca ala Tony Buzan

  1. pengenalan
  2. peleburan
  3. intra-intergrasi
  4. ekstra- intergrasi
  5. penyimpanan
  6. pengingatan
  7. pengomunikasian

Manfaat khusus dari kegiatan membaca adalah bahwa orang yang rajin membaca buku dapat terhindar dari kerusakan jaringan otak. Bahkan penelitian itu menyatakan bahwa membaca buku dapat membantu seseorang untuk menumbuhkan saraf-saraf baru di otak. Beberapa manfaat tentang membaca

  • membaca menambah kosakata dan pengetahuan akan tatabahasa dan sintaksis. Membaca memperkenalkan kita pada banyak ungkapan kreatif.
  • Banyaknya buku atau artikel membantu kita menyelami peraasan dan hubungan kita dfengan orang lain
  • Membaca memicu imajinasi. Buku yang baik mengajak kita membayangkan dunia beserta isinya.

Kegiatan membaca buku memang melibatkan banyak aspek: to think (berpikir), to feel (merasakan), dan juga to act (bertindak melaksanakan hal-hal yang baik dan bermanfaat sebagaimana yang dianurkan oleh sebuah buku).

Sugesti positif adalah mengisi pikiran-pikiran dengan sesuatu yang akan berbuah sukses, sesuatu yang kita inginkan dan harapan mewujut nyata di dalam diri kita setelah melakukan sesuatu.kekuatan sugesti sangatlah penting dalam belajar kita dapat melakukan sesuatu dengan baik , jika berpikir bahwa kita mampu melakukanya.

Kata paradikma dan presepsi sangat penting dalam kita mau berubah. Seringkali kita mempunyai paradikma bahwa ”buku membuat kita ngantuk”. Jika kita ingin mengubah paradikma tersebut, kita harus mengubah diri kita sendiri. Untuk mengubah diri kita secara efektif, kita harus mengubah paradikma atau presepsi kita. Baru kemudian langkahkan kaki anda ke wilayah pengubahan paradikma dalam hal membaca buku.

Sebagian orang memiliki gaya belaar yang dominan, pembelajaran ” muli-indriawi” adalah peluang terbesar bagi kesuksesan belajar. Pembelajaran multi-indriawi secara sengaja melibatkan semua indra dalam belajar.

Inti dari pembelajaran multi-indriawi adalah

  • Membaca dan memvisualkan bahanya (ini berarti sudah melihatnya)
  • Membaca fakta kunci keras-keras, mengaukan pertanyaan, dan menawabnya (ini berarti sudah mendengarnya)
  • Menuliskan pokok masalah pada kartu dan menyusunnyadalam urutan logis (berarti sudah melakukannya)

Memanfaatkan imajinasi ketika membaca. Imainasi merupakan kemampuan menciptakan gagasan atau gambaran mental dalam pikiran anda.imajinasi di perlukan untuk memecahkan kalimat-kalimat yang memerlukan penggambaran atau visualisasi. Ada kekeuatan dahsyat di dalam diri kita. Pertama, self-anwareness (kesadaran diri, kedua, conscience (hati nurani), ketiga, independent will (kehendak bebas atau kemampuan untuk memilih), dan keempat, imagination (daya imainasi)

Memaksimalkan daya ingat ketika membaca dengan cara strategi melejitkan daya ingat :

  1. Sikap atau keyakinan positif
  2. Pengamatan yang cermat
  3. Pertimbangan konteks
  4. Prinsip AAT (awal, akhir, dan tengah)
  5. Berupaya untuk aktif
  6. Kelompokan
  7. Libatkan emosi
  8. Cari umpan balik

Peta pikiran dapat membantu kita untuk mengalirkan secara sangat-sangat bebas apa pun yang kita simpan di dalam pikiran dan perasaan kita.penggunaan teknik peta-pikiran dapat mempertaam dan mempercanggih proses ”pengikatan” yang kita lakuakan enggunaan teknik ini akan membuat kegiatan membaca. Berlatih menggunakan peta-ikiran ketika membaca adalah salah satu bentuk latihan yang paling baik

Manfaat peta-pikiran

  1. Untuk menulis secar kreatif
  2. Untuk mengelola ”jaringan” pekeraan
  3. Untuk menuangkan ide secara bebas (brainstorming)
  4. untuk menjadikan rapat-rapat lebih produktif
  5. Untuk menyusun daftar tugas
  6. Untuk melakukan presentansi secara komprehensif
  7. Untuk melalukan pencatatan secara efektif
  8. Untuk membantu proses pengengembangan diri

BAB 2

Teknik Baru Membaca Buku

Membaca cepat  adalah keterampilan yang sangat bermanfaat untuk keperluan membaca  sekilas dan biasanya mencegah kita bosan.strategi seperti ini biasanya bermanfaat atau perlu untuk teks ilmiah atau matematika yang sulit. Tujuan yang berbeda membutuhkan kecepatan membaca yang berbeda. Kita membaca bukan untuk melihat setiap kata, melainkan untuk memahami makna materinya.

Cara membaca super gaya accerated learning:

  1. Ciptakan gambar keseluruhan dan ambil gagasan inti buku.
  2. Lihat sekilas bahan-bahan yang ada di buku tersebut.
  3. Buatlah sketsa mengenai hal-hal yang kita ketahui
  4. Siapkanlah pertanyaan
  5. Bacalah secara cepat teks yang ada di setiap bab
  6. Tinjaulah kembali apa yang pernah di baca secara cepat
  7. Buatlah catatan.
  8. Ulangi pembacaan.

Belajar berdasarkan aktifitas (BBA) berarti bergerak aktif secara fisik ketika belajar. Belajar ini jauh lebih efektif daripada presentasi, materi, dan media. Unsur –unsur dari belajar SAVI mudah dingat.

  1. Somatis          : belajar dengan bergerak dan berbuat
  2. Audiotori       : belaar dengan berbicara dan medengar
  3. Visual             : belajar dengan mengamati dan menggambarkan
  4. Intelektual      : belajar  dengsn memecahkan masalah dan merenung

Otak kita ternyata terdiri dari dua belahan tak kiri dan otak kanan. Kita menggunakan otak kanan ketika membaca buku:

  1. Semangat
  2. Spontannitas
  3. Emosi
  4. Warna
  5. Imajinasi
  6. Gairah
    1. ada unsur baru
    2. kegembiraan.

    Kita juga perlu memanfaatkan tak kiri kita dengan membalik kegiatan membaca buku dan kita yakin dapat menggunakan otak kanan lebih dahulu, dapat membangun paradikma baru membaca. Kita telah terlalu lama didominasi otak kiri saat menjalankan kegiatan tertentu, termasuk membaca buku.

    Kiat membaca buku secara cepat

    1. Pastikan dahulu informasi apayang dicari
    2. Letakkan buku anda sajauh 50 cm dari mata
    3. Gerakan telunjuk anda ke bawAh ditengaah2 halaman denganlipat di atas ujung jari
    4. Gerakan jari dengan cepat sehingga anda tidak punya waktu untyuk berhenti pada setiap huruf.

    Resensi buku dengan cara yang muda kita pahami, adalah suatu paparan ringkasan tentang manfaat sebuah buku. Lewat resensi buku , seseorang dapat mengenali manfaat buku szecara cepat. Resensi buku bisa adi ringkasan buku yang terdiri atas ratusan halaman menjadi hanya dua halaman.

    Teknik asyik merensensi buku

    • Cutting dan Glueing

      Merupakan teknik yang paling sederhana dalam membuat resnsi. Apabila seseorang rajin berlatih dengan teknik ini. Maka dia dapat meningkatkan penulisan resensinya dengan menggunakan teknik ke dua.

      • Focusing

        Teknik ini berkaitan dengan kegiatan memusatkan perhatian kepada satu komponen saja yang menarik disajikan oleh sebuah buku.

        • Comparing

          Teknik ini mengajak seorang peresensi untuk melakukan perbandingan.caranya dengan tidak hanya membaca satu buku saja. Selain buku yang ingin diresensi, membaca setidaknya lebih dari dua kali.

          Hasil resensi yang berasal dari penggunaan teknik ketiga ini akan lebih memperkaya pembaca resensi buku tersebut.

          Meningkatkan Kemampuan Membaca

          Pendahuluan: Memerangi Kelebihan Beban Informasi

          Melalui buku ini, pembaca diharapkan mempunyai kemampuan membaca yang lebih besar daripada yang dimiliki, sebagaimana diduga oleh para guru komunikasi. Pembaca dapat mengambil keputusan yang lebih baik mengenai apa yang harus dibaca, kapan, dan dimana. Pembaca akan dapat mengorganisasikan bacaan dengan lebih baik pula, belajar kapan dan bagaimana membaca untuk pengenalan (termasuk untuk hiburan), dan juga membaca untuk pengetahuan atau secara mendalam. Pembaca tidak hanya akan membaca kata-kata dengan lebih cepat namun akan menggunakan beberapa teknik untuk mengerti kata-kata itu dengan lebih baik.

          Bagian selebihnya dari buku ini membicarakan cara untuk membaca demi kekuatan. Buku ini juga mengungkapkan pentingnya membaca dengan baik dan memperlihatkan bagaimana caranya meningkatkan keterampilan membaca.

          Mimpi yang Hancur Berantakan: Bagaimana Kemampuan Membaca dapat Membentuk atau Menghancurkan Anda

          Kemampuan membaca dapat membentuk atau menghancurkan. Dengan kemampuan membaca yang baik, kita dapat melakukan kegiatan membaca yang bertujuan untuk bermacam-macam hal dengan baik pula. Namun orang yang tidak memiliki kemampuan membaca yang baik akan sangat sulit untuk melakukan itu.

          Terlalu Banyak yang Harus Dibaca dan Terlalu Sedikit Waktu: Bagaimana Memutuskan Apa yang Harus Dibaca dan Kapan Membacanya

          Ada terlalu banyak yang harus dibaca dan terlalau sedikit waktu untuk membacanya. Oleh karena itu, kita perlu memilah apa yang kita, kapan , dan dimana. Pilihan terletak pada jawaban terhadap pertanyaan yang nyaris bergantung kepada penyederhanaan: “ Mengapa membacanya?” Anda todak perlu membaca apapun jika anda tidak mempunyai kebutuhan atau keinginan untuk mengetahuinya.Bacalah sesuatu yang perlu anda ketahui.

          • Menyeleksi dan Memilih

            Dalam membaca kita tidak harus membaca semua yang ada, namun kita bisa menyeleksi dan mimilih bacaan yang kita butuhkan. Itulah salah satu alasan mengapa penerbit membuka produk merata dengan daftar isi. Mereka eminta anda untuk memilih apa yang anda rasa harus anda baca. Disini pembacaan sekilas (scanning) akan sangat membantu.

            Arahkan pandangan anda sepanjang daftar isi tersebut. Bila ada sesuatu yamh menarik perhatian anda, entah karena anda perlu mengetahuinya atau menginginkannya. Bila tidak ada yang menarik perhatian anda, singkirkan buku itu atau kembalikan ke rak.

            • Di mana dan Kapan

              Di mana dan kapan membaca hampir sama pentingnya dengan mengapa dan apa. Tempat dan waktu bergantung kepada seberapa besar anda perlu atau ingin mengingat apa yang anda baca. Segera sesudah anda memisahkan bahan menjadi kebutuhan untuk membaca dan keinginan ntuk membaca dan sesudah memilih apa yang harus dibaca, di mana, dan kapan, kita perlu mengorganisasi bacaan berdasarkan prioritas.

              Intisari Pengendalian Keranjang Surat Masuk

              • Siapa yang menginginkan saya untuk membacanya?

                Dalam membaca kita harus memperhatikan “siapa yang menginginkan saya untuk membacanya?”. Jika bacaan tersebut penting untuk dibaca, maka segeralah membacanya.

                • Apa yang akan terjadi bila saya tidak membacaya atau tidak membacanya sekarang?

                  Bagian kedua ini mengacu pada konsekuensi positif dan negatif. Ada tiga hal yang harus diprioritaskan, yaitu:

                  a. Apa yang penting?

                  b. Apa yang diperlukan dengan segera?

                  c. Peranan apa yang dimainkannya?

                  Namun, bila masih belum yakin mengenai prioritas, tanyakan:

                  1. Apa yang bergantung kepada bacan saya sekarang ini?
                  2. Apalagi yang tidak akan terjadi bila saya tidak membacanya?
                  3. Bila saya tidak membacanya, apakah saya atau orang lain akan dapat mengerjakan hal-hal lain?
                  4. Bagaimana tidak membaca hal ini mempengaruhi orang lain atau proses lain?

                  Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memberitahuperanan apa yang dimainkan bahan bacaan tersebut. Kita dapat mengetahui pula bacaan mana yang harus dibaca lebih dahulu dan kapan. Ringkasnya, untuk mendapatkan kendali atas kebiasaan anda dalam membaca, belajarlah memisahkan apa yang perlu anda ketahui dan perlu anda baca.

                  Membaca versus Kemampuan Membaca

                  • Membaca versus Mendengar

                    Konfusius mengatakan sesuatu yang masih masuk akal: katakan kepada sya dan saya lua, Perlihatkan kepada saya dan sya ingat, biarkan saya melakukannya dan saya mengerti. Karena kata-kata yang diucapkan berlalu lebih cepat melalui kesadran daripada kata yang tertulis, kebanyakan orang menyimpan sekitar setengah dari apa yang mereka dengar dibandingkan dengan apa yang mereka bicara.

                    Baca apa yang dikatakan seseorang, dan cetakan tersebut melengkapi anda dengan ingatan yang tidak mungkin salah. Anda dapat selau melihat apa yang tidak anda ingat. Namun yang lebih penting, apa yang tidak anda mengerti pada mulanya, anda dapat belajar lebih cermat dengan kecepatan anda sendiri dan dengan cara sendiri.

                    • Kosakata

                      Kebanyakan orang membaca dengan dangkal, menyaring kata-kata yang tidak mereka mengerti dan membiarkan konteks membawakan makna kata-kata yang baru. Bila ada sesuatu yang cukup pentinguntuk dibaca, maka sesuatu itu cukup penting untuk dimengerti. Selain itu, membaca kamus adalah salah satu cara yang digunakan oleh para penulis untuk mengembangkan kosakata yang lebih baik dibandingkan kebanyakan orang.

                      Saat membaca, setiap kali mendapatkan suatu kata atau frase yang tidak dimengerti, catatnya dan cari makna di kamus. Gunakan kembali kata atau frase itu setidaknya dalam satu kalimat dan gunakan pada setiap kesempatan yang sesuai. Kata atu frase itu segera menjadi milik kita.

                      • Kedangkalan

                        Ketika orang menyaring kata-kata yang mereka tidak ketahui, mereka kehilangan kedalaman  yang mungkin mereka perlukan untuk pengertian yang lengkap atas apa yang penting secara dangkal dapat menimbulkan konsekuensi yang serius. Kurangnya kosakata bukanlah satu-satunya sebab kedangkalan. Pengalihan perhatian juga menganggu pemahaman dan menyebabkan kurangnya kedalaman.

                        • Kelambatan

                          Membaca dengan cermat bukan berarti membaca dengan lambat. Dengan mem-baca lambat malah akan membuat kehilangan rangkaian gagasan. Pembaca lambat biasanya menyuarakan apa yang mereka baca, entah di dalam hati atau dengan suara keras. Hal ini melambatkan kecepatan membaca hingga mendekati kecepatan mendengar. Satu lagi sebab dari membaca lambat adalah gerakan mata yang berlebihan. Saat membaca mata bergerak bolak-balik sepanjang baris teks dan biasanya satu demi satu kata.

                          Untuk dapat membaca dengan baik, sebaiknya kebiasaan tersebut dihindari. Dibutuhkan waktu agar terbiasa dengan kegiatan membaca yang hening dan menyeluruh, tetapi akan terasa menjadi lebih mudah dan semakin mudah bila berlatih setiap kali membaca sesuatu.

                          • Pembacaan Ulang

                            Kebanyak orang memperlambat diri mereka sendiri dengan pembacaan ulang yang tidak perlu. Pembacaan ulang sangat mengganggu proses membaca. Sebaiknya saat membaca pilihlah unsur esensial yang dirasa perlu untuk diingat dan buat catatan mental mengenai unsur tersebut. Dapat juga dilakukan dengan menandai dengan pena berwarna. Bila suda selesai membaca, coba ingat pokok-pokok yang menonjol itu.

                            Bila anda mempunyai kendali yang lebih besar atas cara anda membaca, anda bisa mendapatkan lebih banyakdari semua yang lewat di depan anda. Anda mengerti bahan bersangkutan lebih banyak, dan dengan pengertian, anda meningkatkan ingatan anda pula. Apa yang tidak apat anda ingat, tinjau kembali. Peninjauan kembali membedakan membaca untuk pengenalan dan membaca untuk pengetahuan (membaca secara mendalam).

                            Membaca untuk Pengenalan

                            Membaca untuk pengenalan berarti membaca mendapatkan inti dari pokok bahasan tanpa mengembangkan pengertian yang tuntas. Membaca untuk pengenalan berarti mengumpulkan informasi untuk pemakaian yang terbatas. Selanjutnya informasi tersebut tersdia untuk pemeriksaan yang lebih ekstensif bila diperlukan. Jadi, anda membaca sekilas, meninjau, atau menyaring.

                            • Pembacaan sekilas (scanning)

                              Membaca sekilas berarti hanya mencari bahan yang relevan atau berhubungan langsung, fakta atau gagasan khusus. Membaca sekilas dapat juga dilakukan dengan memperhatikan judul, mencari artikel yang menarik perhatian, dan menelusuri informasinya dengan cepat. Membaca sekilas menghemat waktu. Teknik membaca ini memfokuskan perhatian dengan tajam dan menghilangkan kekusutan mental.  Dengan menyoroti satu potongan kecil ahan yang penting, membaca sekilas membantu mengambil keputusan tentang bentuk lain membaca untuk pengenalan, seperti peninjauan.

                              • Peninjauan (previewing)

                                Peninjauan memberi kesempatan untuk memutuskan tentang apa yang harus disaring dan apa yang harus dibaca secara mendalam. Bila anda memutuskan untuk membaca suatu artikel atau bab dari sebuah buku, henat banyak waktu anda dan energi mental dengan membaca judul serta subjudul. Mungkin ternyata bahwa judul artikel atau bab lebih menarik daripada teksnya, tetapi bila bahannya masih menarik minat, tinjaulah atau lebih baik saring dan baca yang perlu diketahui secara mendalam.

                                • Penyaringan (scimming)

                                  Penyaringan berarti menggerakkan mata dengan cepat untuk menelusuri halaman dengan membaca judul, subjudul, kalimat topik, dan kata-kata isyarat yang menyediakan lebih banyak dari sekadar gagasan yang menonjol yang ditangkap sewaktu melakukan peninjauan. Penyaringan mirip dengan pembacaan sekilas.

                                  Membaca untuk pengetahuan yang Mendalam

                                  Membaca untuk pengetahuan yang mendalam dapat dilakukan dengan menetapkan tujuan dan sasaran, menetapkan prioritas, menaruh perhatian cermat, dan membuat catatan secara efektif. Berikut ini akan dijelaskan mengenai masing-masing hal tersebut.

                                  1. Penetapan Tujuan

                                  Membaca untuk memperoleh semua informasi yang esensial di dalam teks atau membaca untuk mendapatkan isi dengan menetapkan tujuan dan sasaran membaca, menegakkan prioritas, menaruh perhatian dan menulis kerangka. Memutuskan mengapa anda membaca seauatu menghasilkan tujuan dan sasaran yang mengidentifikasi bahan yang palingpentinguntuk dibaca dan diingat. Tujuan anda membantu anda menggabungkan apa yang perlu diketahui, dan gabungan nya menjadi penggerak yang kuat.

                                  Bila orang memiliki kebutuhan untuk mengetahui sesuatu, mereka menggali secara antusias ke dalam tugas pencarian. Tujuan dan sasaran mengarahkan peninjauan, penyaringan, dan pembacaan sekilas yang anda lakukan. Tujuan dan sasaran menunjukkan apa yang harus disimpan dan dimana menemukan sesuatu bila anda memerlukannya.

                                  • Pemberian Perhatian

                                    Untuk menaruh perhatian, harus melibatkan diri sepenuhnya. Menyiapkan diri untuk membaca adan membersihkan pikiran dari semuanya. Harus fokus pada judul atau ringkasan bahan yang akan memberi petunjuk. Tidak ada ruginya memulai untuk menulis sasaran dan apa yang harus didapat dati bacaan yang ada. Disinilah pembuatan catatan menjadi penting dilakukan untuk mengembangkan kosakata dan peninjauan atau pengertian.

                                    • Pembuatan Catatan
                                    • Pengembangan kosakata

                                      “Biarkan saya melakukan, dan sya mengerti.” Dalam kalimat tersut, “melakukan” berarti mengambil peran aktif dalam belajar sendiri. Ketika membaca untuk pengenalan, pembaca secara aktif menyeleksi informasi yang ingin diserap dan menolak selebihnya. Seringkali saat membaca kita menemukan kata-kata sulit, disinilah membaca dengan kamus di tangan menjadi penting. Dengan begitu kosakata yang kita miliki menjadi berkembang.

                                      Berikut ini adalah sebuah format sederhana untuk mengembangkan kosakata. Format ini terdiri atas: (1) kata yang dipelajari, (2) bagian cara berbi-cara yang dipenuhinya, (3) makna atau beberapa makna, dan (4) pemakainnya.

                                      • Peninjauan dan pengertian

                                      Membaca untuk pengetahuan dimulai dengan peninjauan dan penya-ringan untuk gambaran umum mengenai pokok bahasan dan rasa untuk sudut pandang si penulis. Untuk meningkatkan kemampuan anda dalam membaca, anda perlu menuliskan catatan dalam kata-kata sendiri. Ketika membuat catatan dengan kata-kata sendiri, sama saa menanamkan gagasan, konsep, instruksi di dalam benak. Pembuatan catatan juga memberi rekaman tertulis untuk peninjauan cepat ketika memerlukan bacaan tersebut.

                                      Kesimpulan

                                      Ledakan informasi tidak perlu menyapu bersih diri anda. Dunia kita adalah dunia yang memiliki informasi paling baik yang pernah dikenal. Anda dapat mengendalikan apa yang anda baca, menyingkirkan apa yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Dan dapat mengendalikan sejauh mana anda menyerapsemua banjir informasi yang menyerbu diri anda.

                                      Baca untuk pengenalan. Baca sekilas, tinjau, dan saring. Memisahkan semua bahan dan menemukan apa yang perlu dibaca untuk pengetahuan. Kemudian seranglah secara tuntas dan menjauh dengan mengetahui dan mengerti apa yang dibaca dengan menghentikan arus bacaan guna membuat catatan untuk pengembangan kosakata atau untuk peninjauan.

                                      Membaca untuk pengenalan dan membaca secara mendalam tidak bertentangan satu sama lain. Yang satu mengurangi kekusutan dan membantu anda berfokus pada hal-hal yang paling bermakna untuk yang lain. Keduannya dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan anda dalam membaca.

                                       

                                      Membaca Ekspresif

                                      Data buku

                                      Judul               : Membaca Ekspresif

                                      Pengarang       : Prof. Dr.  Henry Guntur Tarigan

                                      Tahun              : 1994

                                      Penerbit           : Angkasa Bandung

                                      Tebal buku      : 102 halaman

                                      Pengajaran membaca berdasarkan tujuan

                                      1.1  Tujuan pengajaran membaca

                                      Kegiatan membaca mempunyai dua maksud utama yaitu:

                                      1. Tujuan behavioral, yang disebut juga tujuan tertutup, ataupun tujuan instruksional.

                                      Tujuan ini biasanya diarahkan pada kegiatan-kegiatan membaca:

                                      • Memahami makna kata (word attack).
                                      • Keterampilan-keterampilan studi (study skills).
                                      • Pemahaman (comprehension).

                                      b. Tujuan ekspresif atau tujuan terbuka terkandung dalam kegiatan-kegiatan membaca:

                                      • Membaca pengarahan diri sendiri (self directed reading).
                                      • Membaca penafsiran, membaca interpretative (interpretative reading).
                                      • Membaca kreatif (creative reading).

                                      1.2  Tingkatan dan aplikasi tujuan

                                      Ada 3 tingkatan tujuan membaca.

                                      1. Pada tingkatan yang paling abstrak, tujuan itu merapatkan pertanyaan. Tujuanya untuk menentukan tujuan bagi keseluruhan unit sekolah. Memperkenalkan bidang-bidang studi berserta wilayah yang di garap. Serta mengendalikan perkembangan progam.
                                      2. Pada tingkatan yang lebih kongkrit, tujuan yang dinyatakan dalam istilah  behavioral, adalah sangat tepat untuk menganalisi tujuan umum menjadi tujuan instruksional khusus.
                                      3. Pada tingkatan yang paling khusus, tujuan itu sedemikian eksplisitnya sehingga memberikan suatu jalur khusus menuju pencapaian tujuan yang dinyatakan pada tingkat kedua, tujuan tersebut menetapkan berencana bagi pengajaran.

                                      1.3        Tujuan behavioral adalah sasaran atau hasil yang dinginkan dari proses belajar yang dinyatakan oleh perilaku yang dapat diamati.

                                      1.3.1        Keunggulan tujuan behavioral

                                      1.3.2        Keunggulan tujuan behavioral

                                      1.4  Tujuan ekspresif.

                                      Tujuan ekspresif memberi dorongan kepada guru dan siswa. Tujuan ekspresif evokatif  ketimbang preskriptif lebih bersifat merangsang daripada bersifat menentukan. Tujuan ekspresif terbagi atas tiga jenis, yaitu:

                                      a)      Tujuan pengarahan diri.

                                      b)      Tujuan interpretatif.

                                      c)      Tujuan kreatif.

                                      Membaca pengarahan diri

                                      2.1    Memilih buku bacaan.

                                      Membaca pengarahan diri adalah keterampilan memilih buku-buku bacaan serta pengembangan otomatisasi. Keunggulan praktek pemilihan sendiri bahan-bahan bacaan tentu saja dipengaruhi oleh beberapa faktor: sang anak harus mempunyai beberapa minat yang ingin dikembangkan serta mengikat sang pribadi pada situasi membaca. Bahan-bahan bacaan yang tersedia dapat menjalin serta menyerasikan minatnya untuk membaca.

                                      Dasar teori tersebut ialah bahwa apabila kondisi-kondisi terpenuhui sang anak akan berusaha mencari bahan-bahan bacaan yang sesuai denganya, maka dia akan tumbuh dan berkembang.

                                       

                                      2.2    Kecepatan membaca.

                                      Sub bab ini menegaskan pada upaya membantu para siswa agar mereka menjadi pembaca yang lebih efisien. Menurut penelitian kecepatan membaca orang dewasa biasanya berkisar antara 900-1000 kata permenit dan bagi SD sebagai berikut:

                                      • Kelas 1 = 60-80 kata permenit
                                      • Kelas 2 = 90-110 kata permenit
                                      • Kelas 3 = 120-140 kata permenit
                                      • Kelas 4 = 150-160 kata permenit
                                      • Kelas 5 = 170-180 kata permenit
                                      • Kelas 6 = 190-250 kata permenit

                                      Maka pada dasarnya dia siap untuk membaca dengan mempergunakan berbagai teknik.

                                      a)      Skiming atau membaca sekilas.

                                      Suatu tipe membaca dengan cara meliputi atau menjelajah bahan bacaan secara cepat agar dapat memetik ide-ide utama.

                                      b)      Scanning atau membaca sepintas

                                      Suatu teknik pembacaan sekilas tetapi dengan teliti dengan maksud untuk menemukan informasi khusus, informasi tertentu dari bahan bacaan, sang pembaca sekilas ini menggerakan matanya secara cepat pada seluruh halaman, siap siaga menyaring terminologi tertentu atau frase-frase inti yang dapat memenuhi tujuan teknik membaca sekilas.

                                      c)      Membaca teliti.

                                      Cara dan upaya untuk memperoleh pemahaman sepenuhnya atas suatu bahan bacaan.

                                      Tujuan yang ingin dicapai antara lain:

                                      1. Mengingat dan memahami ide-ide pengarang.
                                      2. Menganalisis para tokoh.
                                      3. Memahami konsep-konsep khusus.
                                      4. Melukiskan hubungan-hubungan
                                      5. Mencari pola-pola.
                                      6. Menganalisis gaya.

                                      2.3    Mengikuti petunjuk.

                                      Keterampilan mengikuti petunjuk memang sangat perlu dalam kegiatan membaca untuk menambah ilmu pengetahuan. Demikian pula dalam proses belajar mengajar. Membaca terdapat suatu kegiatan yang disebut kegiatan membaca terarah atau direct reading ativiti.

                                      Kegiatan membaca terarah adalah suatu rencana pelajaran membaca yang terdiri atas lima tahap. Untuk membantu para siswa membaca bahan-bahan yang berada pada tingkat baca.

                                      2.4    Mengarah diri sendiri.

                                      Mengarahkan diri sendiri yang menangani pengenalan akan kerumitan sesuatu tugas serta menaksir atau mempengirakan. waktu dan upaya yang diperlukan untuk menyelesaikan secara tuntas.

                                      2.5    Memanfatkan perpustakaan .

                                      Keterampilan memanfatkan perpustkaan dengan segala bahan yang ada didalam sangat penting bagi ekspresi lisan dan tulisa perpustakaan adalah gudang ilmu pengetahuan.

                                      2.6    Aneka tujuan.

                                      Tujuan dibagi atas 3 tingkatan, yaitu tingkatan A-C bagi para siswa SD kelas 1-2, DE 3-4, FG 3-6.

                                      Membaca interpetatif

                                      3.1  Maksud pengarang.

                                      Seorang pengarang menulis sesuatu untuk dibaca orang lain sadar atau tidak sadar sang pengarang mempunyai maksud tertentu pada karyanya. Oleh sebab itu perlu kita ketahui terlebih dahulu ragam tulisan. Secara garis besar karya tulis berupa.

                                      (I)                Narasi.

                                      (II)             Deskripsi.

                                      (III)          Persuasi.

                                      (IV)          Eksposisi.

                                      Pengklasifikasikan karya tulis dapat pula dilakukan berdasarkan nada (voice). Ada 6 jenis nada tulisan yaitu:

                                      1. Nada akrab
                                      2. Nada penerangan
                                      3. Nada menjelaskan
                                      4. Nada mendebat
                                      5. Nada kewenangan

                                      3.2    Fakta atau fiksi.

                                      Perbedaan utama antara fiksi dengan non fiksi terletak pada tujuan. Tujuan adalah menciptakan kembali apa yang telah terjadi secara aktual. Cerita non fiksi bersifat aktivitas. Aktualitas adalah apa yang benar-benar terjadi sedangkan realitas adalah apaapa-apa yang dapat terjadi.

                                      3.3    Sifat-sifat tokoh.

                                      Kata ciri sifat yang mengandung pengertian yang mengacu kepada jenis-jenis karakteristik luar yang kongkrit yang mencerminkan kebiasaan tingkah laku sehari-hari yang tidak bersifat reflektif untuk mengenal ciri-ciri pribadi seseorang, maka sebaiknya kita dibekali seperlunya dengan teori-teori kepribadian atau personality theories.

                                      3.4    Reaksi emosional

                                      Kegiatan membaca interpretatif adalah melatih ketrampilan menafsirkan reaksi emosional sesuatu karya tulis. Ada 2 aspek emosional

                                      a)      Reaksi emosional sang pembaca pada makna tipe karya sastra.

                                      b)      Reaksi – reaksi emosional terdapat pada tokoh di dalam karya sastra.

                                       

                                      3.5    Gaya bahasa

                                      Bahasa adalah suatu sarana interaksi sosial fungsi utamanya adalah komunikasi korelasi psikologis sesuatu bahasa adalah kompentensi atau kemampuan melaksanakan interaksi sosial dengan bantuan bahasa. Keunggulan lain dari bahasa adalah untuk menandai tema seseorang tokoh. Keterampilan sang pengarang memanfatkan bahasa untuk menciptakan nada dan suasana yang tepat guna dapat memukau para pembaca.

                                      3.6    Dampak cerita.

                                      Membaca suatu karya sastra maka besar kemungkinan ada suatu nilai yang berkenan di hati kita. Semakin banyak karya sastra yang dibaca , dengan kata lain semakin tinggi apresiasinya sastra kita, maka semakin banyak nilai yang memberi kesan pada kita. Nilai itu semua bukan hanya memberi kesan semata tetapi juga dapat mempengaruhi pandangan hidup kita, kalau pengaruh itu sudah kuat pada diri kita, maka karya-karya sastra tersebut memberikan dampak kehidupan kita.

                                      3.7    Aneka tujuan.

                                      Dengan kegiatan membaca interpretatif, ada beberapa tujuan yang henmdak dicapai. Tujuan itu terbagi atas 3 tingkatan:

                                      • Tujuan tindakan A-C  ( kelas 1-2 SD)
                                      • Tujuan tingkatan D-E ( kelas 3-4 SD)
                                      • Tujuan tingkatan F-G ( kelas 5-6 SD)

                                      Membaca kreatif

                                      4.1. Dramatisasi

                                      Pada tahap ini para siswa dikembangkan dramatisasikan tema-tema dari dalam kaitanya dengan pengalaman. Pengalaman mereka sendiri atau situasi kontemporer. Supaya lebih jelas atau lebih luas dalam hal dramatisasi, maka ada 3 hal penting yaitu:

                                      a)      Prinsip-prinsip kritik drama.

                                      b)      Unsur-unsur drama.

                                      c)      Jenis-jenis drama.

                                      4.2. Interpretasi lisan atau musik.

                                      Latihan menginterprestasikan sepenggal bacaan sastra dengan tepat secara lisan dan musik, harus mengetahui mengenai nada dan tempo.

                                      Dari segi nada musik diklasifikasikan atas:

                                      a)Musik atau lagu minor.

                                      b)      Musik atau lagu mayor.

                                      Di tinjau dari segi tempo, maka pada umumnya lagu atau musik dapat pada klasifikasi atas.

                                      a)      Tempo lambat.

                                      b)      Tempo sedang.

                                      c)      Tempo cepat.

                                      Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam vokal.

                                      a)      Membaca notasi.

                                      b)      Pernafasan dan sikap.

                                      c)      Pemenggalan kalimat dan frase.

                                      d)     Pengucapan.

                                      4.3. Narasi pribadi.

                                      Berdasarkan bentuk fiksi dapat di bagi atas lima golongan, yaitu:

                                      a)      Novel.

                                      b)      Novellete.

                                      c)      Short story.

                                      d)     Short short story.

                                      e)      Vignete.

                                      Kasifikasi tersebut menjadi sederhana lagi yaitu tiga jenis:

                                      a)      Novel.

                                      b)      Novellete.

                                      c)      Short story.

                                      Berdasarkan isinya maka dapatlah kita membagi fiksi menjadi:

                                      a)      Impresionisme.

                                      b)      Romantik.

                                      c)      Realisme.

                                      d)     Realisme sebenarnya.

                                      e)      Naturalisme.

                                      f)       Ekspresionisme.

                                      g)      Simbolisme

                                      4.4. Ekspresilisme.

                                      Betapa eratnya hubungan antara membaca dan menulis, kian banyak bahan bacaan yang kita baca maka kian banyak pula informasi yang kita peroleh,dan kian banyak pula hal yang di sampaikan. Kita eksperesikan kepada orang lain, baik secara lisan maupun secara tulisan, dengan cara banyak membaca maka, daya ekspresi kita baik secara lisan maupun tulisan semakin meningkat.

                                      4.5. Ekspresi Visual

                                      Kegiatan ini bermula pada tahap pertama dengan cara menampakan kegiatan-kegiatan yang memberi kesempatan kepada para siswa untuk menciptakan suatu karya atau produk visual. Dalam tahap ke dua gambar visual yang menghubungkan beberapa aspek bacaan mereka dengan pengalaman pribadi. Dengan latihan yang intensif, maka keterampilan para siswa untuk berekpresi visual dapat kita tingkatkan dalam membaca kreatif.

                                      4.6. Aneka Tujuan

                                      Tujuan membaca kreatif.

                                      a)      Tujuan tingkat A-C ( kelas 1-2 SD).

                                      b)      Tujuan tingkat D-E ( kelas 3-4 SD).

                                      c)      Tujuan tingkat F-G ( kelas 5-6 SD)