DEBAT

I. PENGANTAR

Debat seringkali dicampuradukkan banyak orang dengan diskusi, walaupun ada perbedaan besar lain metode, lain maksud, lain pula hasilnya. Persamaan antara kedua bentuk pembicaraan itu hanyalah bahwa keduanya merupakan tukar menukar pikiran secara teratur.Penulis bermaksud secara singkat menjelaskan beberapa pengertian tentang debat dan seluk beluknya ( Kursus Kader Katolik, 1970 : 4).

 

II. PENGERTIAN

Debat merupakan suatu argumen untuk menentukan baik tidaknya suatu usul tertentu yang didukung oleh suatu pihak yang disebut pendukung atau afirmatif, dab ditolak, disangkal oleh pihak lain yang disebut penyangkal atau negatif ( Tarigan, 1984 : 86). Pengertian lain tentang debat adalah suatu proses komunikasi lisan, yang dinyatakan dengan bahasa untuk mempertahankan pendapat ( Dispodjojo, 1984 : 47 ).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2003 : 242 ) debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Menurut Dori Wuwur dalam bukunya Retorika (1991:120) debat adalah saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia dengan tujuan mencapai kemenangan untuk satu pihak. Menurut Kamdhi (1995:24-26) debat adalah suatu pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai suatu pokok masalah dimana masing-masing peserta memberikan alasan untuk mempertahankan pendapatnya.

 

II. UNSUR-UNSUR DEBAT

a. Unsur debat secara khusus

Dalam debat unsur subjektif sangat berpengaruh; maksudnya sering perasaan orang dan emosi lebih mendasari suatu pandangan daripada fakta. Jadi, tidak jarang perdebatan sewaktu-waktu menruncing menjadi panas, khususnya dalam perdebatan ideologis. Orang mudah dikuasai oleh emosi dan tidak lagi berpikir secara rasional. Maka tak heran jika mereka mulai bersikeras dan bersitegang mempertahankan pandangan atau gagasannya, meskipun secara objektif hal itu kurang penting (Kursus Kader Katolik, 1970 : 6 ).

b. Unsur umum debat

Unsur umum debat sama dengan unsur public speaking, tetapi ada beberapa perbedaan dalam debat yaitu :

  1. materi/tema debat : pokok pembicaraan yang akan dibahas dalam debat.
    1. tema : ide pokok yang menjadi bahan debat
    2. tujuan : untuk kemenangan, mempertahankan argumen atau pendapat
    3. langkah-langkah: terdiri dari orientasi, pengumpulan fakta, pembahasan, dan penyimpulan.
    4. tata tertib: peraturan-peraturan yang diterapkan dalam pelaksanaan debat.
  2. personalia; terdiri dari :
    1. panitia : terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara.
    2. debat; di dalamnya terdapat :
    3. moderator : orang yang mengatur jalannya debat
    4. pihak penyanggah : pihak yang tidak setuju dengan pihak pendukung
    5. pihak pendukung : pihak yang mendukung (pihak yang pro)
    6. juri : orang yang memberi penilaian jalannya debat
    7. publik : orang yang mengikuti jalannya debat
    8. penyedia dana : orang yang menyediakan dana untuk jalannya diskusi
    9. MC (jika diperlukan): memandu acara dari awal hingga akhir
  3. fasilitas ; meliputi :
    1. lingkungan
    2. ruang
    3. sound system
    4. media (OHP, sarana dan prasarana)

 

III. MACAM-MACAM DEBAT

Menurut Dispodjojo dalam bukunya Komunikasi Lisan ( 1984 : 48-60 ), macam debat berdasarkan bentuknya dibedakan atas

1. Debat Tradisional

Debat bentuk ini banyak dilakukan diberbagai tempat misalnya di dalam masyarakat atau suatu kelompok terdapat suatu permasalahan yang dipandang perlu dibicarakan secara umum dan terbuka agar masyarakat dapat memahaminya dan dapat menentukan pendiriannya terhadap masalah tersebut.

2. Debat Berseling

Debat berseling disebut juga The Cross-Examination Debate atau disebut juga The Oregeon Plan of  Debate. Pelaksanaan debat bentuk ini berbeda dengan Debat Tradisional, sebab pada Debat Berseling setelah setiap pembicara dari kelompok pembicara selesai berbicara, anggota dari kelompok lawan langsung diberi kesempatan mengajukan pertanyaan terhadap uraian yang baru saja diutarakan oleh lawan bicara.

3. Debat Langsung

Debat Langsung ini disebut juga dengan istilah The Direct Clash Debate.

Bentuk ini mempunyai dua ciri khusus :

(1).  Kedua kelompok yang akan berdebat setelah mengutarakan pandangannya mengenai judul debat menentukan masalah-masalah apa saja yang perlu dibicarakan berhubungan dengan judul debat itu, bagaimana urutan masalah yang akan diperdebatkan.

(2).   Dalam debat itu Moderator menentukan penilaiannya kelompok mana yang menang dalam memperdebatkan masalah yang telah mereka setujui, setiap selesai memperdebatkan tiap masalah.

4. Debat Kelompok Terpisah

Debat dalam bentuk ini juga disebut The Split Team Debate, dilakukan untuk perdebatan antara kelompok satu dengan kelompok yang lain, boleh juga antara sekolah, Fakultas, Universitas dengan sekolah, Fakultas atau Universitas yang lain, tetapi dalam pelaksanaan debat kelompok itu dipisah-pisahkan. Artinya semua anggota dari kelompok mana saja yang menyetujui gagasan yang terumuskan dalam judul debat sama-sama membentuk satu kelompok yang dinamai Kelompok Pendukung, dan siapa saja yang tidak menyetujui gagasan yang terumuskan dalam judul debat itu terkumpul menjadi satu dan membentuk Kelompok Penyanggah.

5. Debat dengan Menjegal

Debat ini juga disebut dengan The Heckling Debate. Disebut demikian karena setiap pembicara sewaktu mengutarakan pendapatnya dapat dipotong dengan pertanyaan oleh kelompok lawan, setelah melampaui batas waktu bicara minimal yang ditentukan. Mereka yang berdebat juga terdiri atas dua kelompok: Kelompok Pendukung dan Kelompok Penyanggah.

6. Debat Pemecahan Masalah

Debat macam ini disebut juga dengan nama The Problem Soulving Debate. Perbedaan yang segera tampak pada debat semacam ini adalah kelompok yang berdebat tidak dibedakan dengan Kelompok Pendukung dan Kelompok Penyanggah. Tetapi kelompok-kelompok itu dibedakan dengan nama mungkin kelompok satu atau kelompok dua. Debat macam ini tidak ditemukan preposisi , ialah suatu pernyataan yang harus dipertahankan atau diserang tetapi hanya terdapat suatu masalah yang tersusun, dalam bentuk kalimat tanya.

 

Menurut Tarigan dalam bukunya Berbicara Sebagai Keterampilan Berbahasa           ( 1984: 90-92 ), juga membagi macam debat berdasarkan bentuk, maksud dan metodenya maka dapat diklasifikan atas tipe-tipe atau kategori, sebagai berikut :

1. Debat Parlementer atau Majelis ( Assembly or Parlementary Debating )

Maksud dan tujuan Debat Majelis atau Parlementer adalah untuk memberi dan menambahi dukungan bagi suatu Undang-Undang tertentu dan semua anggota yang indin menyatakan pandangan dan pendapatnyapun berbicara mendukung atau menentang usul tersebut setelah mendapat ijin dari Majelis.

2. Debat Pemeriksaan Ulangan untuk Mengetahui Kebenaran Pemeriksaan Terdahulu  ( Cross-Exemanation Debating )

Maksud dan tujuan perdebatan ini ialah mengajukan serangkaian pertanyaan yang satu sama lain erat berhubungan, yang menyebabkan para individu yang ditanya menunjang posisi yang hendak ditegakkan dan diperkokoh sang penanya.

3. Debat Formal, Konvensional atau Debat Pendidikan ( Formal, Conventional, or educational Debating ).

Tujuan debat formal adalah memberi kesempatan bagi dua tim pembicara untuk mengemukakan kepada para pendengar sejumlah argumen yang menunjang atau membantah suatu usul.

 

Menurut Dori Wuwur (1991: 121-123) macam debat ada dua macam yaitu :

1. Debat Inggris

Terbagi menjadi dua macam yaitu debat tertutup maksudnya setiap orang hanya berbicara satu kali, oleh karena itu pembicara harus menyiapkan diri dan menyusun jalan pikirannya secara cermat. Debat yang selanjutnya adalah debat terbuka maksudnya orang dapat berbicara lebih dari satu kali. Sesudah semua peserta berbicara, kedua pembicara pertama dari masing-masing kelompok menyampaikan kata penutup.

2. Debat Amerika

Debat ini dilakukan oleh dua regu yang berhadapan, tapi masing-masing regu menyiapkan tema melalui pengumpulan bahan sevara telitidan penyusunan argumentasi yang cermat. Para anggota anggota debat ini adalah orang-orang ynag terlatih dalam seni berbicara, semua berdebat didepan sekelompok Juri dan public umum.

 

IV. TAKTIK-TAKTIK DALAM DEBAT

Menurut Kursus Kader Katolik dalam buku Taktik Berdebat (1970 : 17-89 ) adapun taktik debat seperti berikut :

  1. Menolak argumentasi lawan
    1. isi ditolak langsung

Maksud metode ini : menghindari si lawan, agar ia jangan sampai mengemukakan pendapatnya secara lengkap dan meyakinkan. Dengan menyangkal fakta, yang merupakan dasar pendapatnya, dia terpaksa membuang waktu yang berharga itu untuk hal-hal yang remeh. Jadi dia tidak sampai sasarannya.

Debat ini biasanya digunakan :

a.1  dalam pengadilan khususnya oleh pembela.

a.2  untuk menolak permintaan yang belum mau dikabulkan.

a.3 sebagai pembelaan diri untuk melemahkan serangan lawan, jika diketahui        bahwa si lawan sesungguhnya tidak mempunyai bukti bagi tuduhannya.

 

  1. isi ditolak secara tidak lansung.

Metode ini disebut juga dengan “ pisau analisa “ yaitu : menyerang pendapat lawan secara tidak langsung, dengan menariknya dari pokok persoalan kepada segi-segi khusus dan detail-detail yang diketahui lebih baik karena keahlian, pengalaman dan persiapan yang teliti.

Debat ini biasanya digunakan :

b.1  kalau kita menguasai persoalan yang dibicarakan itu, atau kita ahli dalam  bidang itu dan lawan tampaknya mengerti sepotong-sepotong saja.

b.2   jika kita punya waktu yang cukup, karena dalam debat ini butuh waktu yang agak panjang dalam menguaraikan salah satu segi dan dibuat sedemikian rupa, sehingga lawan menjadi lelah serta kehilangan semangat untuk mengejar maksudnya.

 

  1. Menggunakan Argumentasi Lawan Sendiri
    1. Melebih-lebihkan

Maksud metode ini adalah dari gagasan atau maksud atau ucapan lawan masuk akal atau tidak masuk akal ditarik konsekuensi secara berlebih-lebihan sehingga menuju pada suatu kesimpulan yang pasti tidak masuk akal, atau “ absurd “.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :

a.1 jika apa yang dikemukakan lawan itu logis dan beralasan, sehingga  menyerangnya langsung tidak banyak gunanya.

a.2 jika kita tidak bermaksud menanggapi ucapan atau pendapat lawan secara serius, meskipun apa yang dikatakannya itu memang tepat.

a.3 jika maksud atau gagasan lawan itu menimbulkan konsekuesi yang positif dan negatif.

 

  1. Mengubah ucapan lawan sedikit.

Maksud metode ini membuat pandangan atau usul pihak lawan itu sebagai objek yang mudah dapat diserang yaitu dengan cara mengubah arti ucapan atau pandangan lawan dan kemudian arti atau ucapan yang telah diubah itu diserang sampai hancur.

 

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :

b.1 dalam politik bahan debat sering dikaitkan dengan alasan emosionil.

b.2 lawan mengemukakan pendapat atau serangan secara samar-samar (berdwi –arti) sehingga mudah ditafsirkan berbeda-beda dan dipilih segi yang menjatuhkannya.

 

  1. Menunjuk Segi atau Sudut Lain dari Pendapat atau Argumen Lawan.
    1. Tiada gading yang tak retak

Maksud metode ini menjatuhkan pendapat atau gagasan atau tindakan lawan, yang berat sebelah hanya memandang dari satu sudut yang menguntungkan dirinya sendiri dengan mengemukakan segi-segi lain dari pendapat atau maksudnya itu, yang belum ditinjau, agar gambaran yang lebih lengkap memperlihatkan secara jelas kelemahan pendapat atau gagasan lawan itu.

Metode ini digunakan dalam kesempatan :

a.1 jika lawan mengemukakan gagasan atau maksud atau pandangannya yang berat sebelah.

a.2 pada debat-debat politik pernilaian atas sesuatu hal yang sama sering dapat berbeda selaras dengan sudut pandangan masing-masing pihak yang berlawanan.

a.3 dalam propaganda, kampanye atau perang iklan masing-masing pihak berusaha memuji-muji “obatnya” sendiri dan kadang-kadang memburuk-burukan pihak lain.

 

b. Berdialektika

Maksud metode ini melemahkan pendapat atau gagasan atau tindakan lawan dengan mengemukakan pandangan atau gagasan yang bertentangan meskipun dalam kedua-duanya terdapat segi-segi kebenaran.

 

 

Metode ini dapat digunakan dalam :

b.1 debat mengenai soal-soal ilmiah dan poltik, dimana hampir selalu terdapat pandangan yang bertentangan.

b.2 kita berusaha mencari kompromi dengan pihak lawan.

b.3 kita mengadakan pertentangan semu (paradoks)

 

4.   Mengalihkan pokok pembicaraan kepada hal-hal lain

a. melarikan diri pada hal-hal umum

Maksud metode ini mengalihkan perhatian dari persoalan lawan yang khusus kepada persoalan atau pandangan yang umum atau latar belakang atau situasi yang umum yang tidak dimaksudkan oleh lawan itu.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan:

a.1  jika segolongan tidak mau menanggapi kritik yang dilontarkan pihak lawan meskipun ada segi benar dan penting.

a.2 jika kritik atau serangan lawan memang beralasan, tetapi tidak mau membebaskan diri dari kesalahan atau kekurangan kita itu.

 

b.“jikalau” dan “akan tetapi”

Maksud metode ini adalah menolak secara tak langsung pendapat atau usul atau rencana lawan dengan mengemukakan kemungkinan-kemungkinan, yang tidak diinginkan, atau sekurang-kurangnya melemahkan segi baik daripada pendapat, usul atau rencana lawan itu.

Taktik ini digunakan dalam hal :

b.1 menolak secara tak langsung atau secara halus perintah atau permintaan seseorang.

b.2 menguji pendapat atau usul atau rencana lawan dengan mengambil suatu kemungkinan.

c. salah tarik

Maksud metode ini merupakan penarikan kesimpulan yang seolah-olah nampak benar namun sesungguhnya salah, karena menjadikan sesuatu yang khusus menjadi dasar hukum yang seakan-akan berlaku umum.

Metode ini digunakan dalam kesempatan :

c.1 lawan mengemukakan pendapat atau gagasan atau argumennya berdasarkan beberapa kejadian atau pengalaman saja.

c.2 kita ingin memojokkan lawan dengan menjatuhkan pendapat atau gagasan atau argumennya atau yang didasarkan atas suatu penarikan kesimpulan (induksi) yang tepat.

c.3 pendapat atau argumen lawan yang hanya berdasarkan pengetahuan yang tidak dialaminya sendiri tetapi didapatnya dari orang lain atau bacaan-bacaan, dapat dilemahkan dengan mengemukakan pengalaman pribadi tentang hal itu.

 

  1. mencap

Maksud metode ini adalah menyerang pendapat atau ucapan atau argumen lawan dengan mencap pandangan atau pribadi daripada si lawan itu sebagai penganut aliran, golongan, ideologi yang buruk di mata masyarakat.

Taktik mencap ini digunakan dalam debat politik, ideologis, antar golongan yang sering disertai unsur-unsur emosional.

e. mensitir

Maksud metode ini adalah menunjuk pendapat/tulisan/ucapan orang-orang terkemuka atau berkuasa lebih mudah dipercayai dan diakui sesuatu yang benar.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :

e.1 dalam debat-debat ilmiah, politik, dan kebudayaan, dimana ucapan atau pendapat para terkemuka atau orang berkuasa dalam bidang itu memegang peranan penting.

e.2 jika si lawan mengemukakan pandangan atau usul yang baru atau menyimpang dari pendapat atau gagasan kelompok atau lingkungan hidupnya.

e.3 jika lawan itu seorang yang plin-plan ucapan atau pendapatnya mudah berubah-ubah, tidak memiliki pendirian konsekuen.

 

f. main tersinggung

Maksud metode ini adalah :

  1. mengalihkan jalannya debat yang bersifat zakelijk * menjadi suatu pertentangan pribadi, supaya perdebatan dibelokkan keluar dari isi pokok semula.
  2. menyinggung lawan secara tak langsung melalui “sindiran”, yang memang dimaksudkan untuk memancingnya. Kalau lawan terpancing maka tercapailah maksud.

Taktik ini dapat digunakan dalam kesempatan :

f.1 jika sesorang ingin mencari alasan dari ucapan atau argumen lawan yang bersifat zakelijk guna mencapai tujuannya yang bersifat pribadi.

f.2 jika seseorang merasa segan untuk mengemukakan pendapat atau argumen secara terang-terangan karena dia dapat dicap berlaku kasar.

f.3 jika sindiran-sindiran lawan cukup serius dan perlu dilayani, agar tidak merugikan pihak kita sendiri maka taktik lawan tadi dapat ditanggapi.

 

  1. Menghindari tema atau pokok pembicaraan yang di kemukakan lawan
    1. Menolak Tema

Pokok persoalan atau tema yang dikemukakan lawan ditolak atau dihindari,. Penolakan atau penghindaran tema itu berdasarkan dua alasan :

  1. Tema itu tidak berguna didebatkan sekarang hanya akan membuang-buang waktu  saja.
  2. Tema itu melemahkan posisi kita, karena belum siap, belum mempelajarinya secara mendalam, merugikan kepentingan diri atau kelompok kita.

 

 

 

* zakelijk ( Bel ) : sikap/tindakan yang didasarkan atas fakta dan hubungan yang rasional tanpa menonjolkan segi emosional.

Taktik ini sebaiknya digunakan dalam kesempatan :

a.1 kalau sejak semula telah kita lihat, bahwa tema itu tidak membawa hasil yang nyata atau hanya akan membuang-buang waktu saja.

a.2 kalau soal itu sendiri memang penting, tapi kita belum siap atau tidak memiliki pengetahuan, fakta, info, yang cukup tentang tema itu.

a.3 kalau tema yang dikemukakan lawan itu merugikan, sehingga kalah dalam pemungutan suara, tema itu membuka kelemahan intern (pecah belah intern belum di atasi) atau tema itu hanya isu yang sementara itu memberi untung atau angin kepada pihak lawan (suasana psikologis menguntungkan mereka).

b.Menyerang dari belakang

Maksud taktik ini adalah seolah-olah nampak sebagai suatu uraian yang mendalam, tetapi sesungguhnya hanya menyingkirkan pokok tema yang dikemukakan lawan.

Taktik menyerang dari belakang ini dapat dilakukan melalui tiga cara :

b.1   mengemukakan dasar sejarah, kebudayaan, geografis, yang melatar belakangi pandangan atau argumen lawan itu.

b.2  menunjukkan bahwa dasar yang melandasi pendapat atau argumen lawan itu sebenarnya.

    1. Melantur

Maksud dari metode ini adalah berbicara hilir mudik tanpa isi dan tujuan tertentu, sitir sana sitir sini ucapan-ucapan yang tidak berhubungan satu dengan yang lainnya.

Taktik melantur ini dapat digunakan dalam kesempatan dalam mengulur-ulur waktu dan menunda keputusan yang akan diambil, karena berbagai alasan.

    1. Caranya ditolak

Maksud metode ini: dengan menolak cara atau bentuk serangan lawan (A) berusaha menghindari perdebatan tentang isi pendapat atau serangan atau argumen dari lawan itu sendiri. Alasan pihak B untuk menghindari perdebatan dengan pihak A dapat berbeda-beda.

Taktik ini dapat digunakan dalam kesempatan-kesempatan:

d.1. Dipengadilan, pembela dapat menolak caranya tuntutan dikemukakan dan minta kepada hakim untuk mengundurkannya, karena dia belum diberi waktu secukupnya dan kebebasan yang sepenuhnya untuk berbicara dengan orang yang dibelanya.

d.2.  Lawan mengemukakan pendapat atau maksud atau permohonannya tidak sesuai dengan saluran atau prosedur yang resmi.

 

  1. Menyerang dengan semu
    1. Mengambil hati

Metode ini  tidak menyerang pihak lawan seperti metode-metode lainnya, tetapi lebih berusaha “ mengambil hatinya”, supaya dia  akhirnya melepaskan pendapat atau argumen dan menerima pandangan kita.

Taktik ini dapat digunakan pada kesempatan sebagai berikut:

a.1. kita berhapadan dengan orang yang lebih tua atau lebih tinggi jabatannya,begitu pula jika kita berdebat dengan orang yang memiliki nama baik atau ahli dalam bidang itu.

a.2. kita ingin menolak suatu usul atau permohonann orang lain tanpa meninggalkan satu kesan yang buruk pada diri orang itu terhadap diri atau kelompok atau perusahaan kita.

a.3.  kita ingin memohon suatu pertimbangan kembali atas putusan dari atasan, yang tidak diterima.

    1. Dilema semu

Maksud metode ini adalah membawa lawan kepada suatu keadaan, yang membuat dirinya serba salah: pilih ini salah, pilih itupun salah.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan:

b.1. kita ingin memojokkan lawan  kesuatu sudut, yang mematahkan sekalian argumennya. Lawan dipaksa untuk menyerah, mengalah atau mengakui kesalahannya.

b.2. kita ingin memaksa lawan mengikuti jalan pikiran kita, dengan mengemukakan dua pilihan, yang dua-duanya  yang akan menjatuhkan argumen lawan itu sendiri.

 

V. PERSIAPAN DEBAT

Menurut Tarigan dalam bukunya berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa (1984: 101-105) para anggota debat harusnya mempersiapan dua jenis pidato yang berbeda, yaitu :

  1. Pidato konstruktif: pidato yang membangun atau berguna.

Setiap anggota debat haruslah merencanakan suatu pidato konstruktif yang diturunkan dari argumen-argumen dan fakta-fakta dalam laporannya serta disesuaikan  atau diadaptasikan baik dengan kebutuhan-kebutuhan para pendengarnya maupun kepada argumen-argumen yang mungkin timbul dari para penyanggahnya.

  1. Pidato sanggahan, pidato tangkisan: pidato sangkalan.

Dalam pidato sanggahan tidak diperkenankan adanya argumen-argumen konstruktif yang baru, tetapi fakta-fakta tambahan demi memperkuat yang telah dikemukakan  dapat diperkenalkan dalam mengiktisarkan kasus tersebut.

 

Menurut Dispodjojo dalam bukunya komunikasi lisan (61-62) ada beberapa persiapan debat diantaranya:

  1. Menganalisis hakikat judul

Hendaknya dianalisis betul hakikat judul yang akan diperdebatkan, betulkan ia menguasainya, adakah preposisi debat itu bersifat politik, fakta ataukah penilaian.

  1. Meneliti.

Persiapan berikutnya ialah mencari dan mengevaluasi bukti-bukti yang akan dipilih sebagai alat pembuktian yang akan memperkuat kedudukannya dalam berdebat.

  1. Menyusun  persiapan

Kegiatan berikutnya mengumpulkan dan menyusun pendapat-pendapat dalam suatu pola tertentu yang disiapkan untuk menjadi bahan pembuktian dan pertahanan.

  1. Menduga-duga pendapat lawan.

Berdebat adalah akan menangkis pendapat lawan dan berusaha menyakinkan pendiriannya kepada lawan.

VI. PATOKAN DALAM BERDEBAT

Dalam berdebat ada enambelas patokan ynag depat digunakan (Dori Wuwur, 1991:123-125):

  1. Kita harus berkonsentrasi dan membataskan diri pada pokok pikiran lawan bicara yang menjadi titik lemah.
  2. Apabila posisi kita lemah maka kita tidak bisa mengemukakan argumentasi yang efektif, oleh karena itu kita harus selalu kemabali kepada titik lemah lawan bicara.
  3. Kita hanya boleh mengemukakan pembuktian apabila kita tahu pasti bahawa alasan lawan bicara tidak lebih kuat dari pada alasan kita.
  4. Apabila lawan menunjukkan argumentasi kita maka kita juga harus menunjukkan hal yang sama pada pihak lawan.
  5. Kita harus membedakan antara kesalahan yang terjadi antara hubungan dengan tata sopan santun dan kesalahan argumentatif yang dapat menjebak lawan bicara.
  6. Kita harus menunjukkan secara jelas kebenaran dan kekuatan kita, sebelum lawan melihat kelemahan kita.
  7. Pikiran atau ide itu tidak menentukan, yang menentukan adalah tindakan.
  8. Mempergunakan suatu perbandingan atau suatu ungkapan, seluruh pikiran nampak tidak berbobot.
  9. Orang menanggapi argumentasi lawan hanya terhadap apa ynag dikatakan pertama atau yang terakhir.
  10. Orang yang ingin menemukan kesalahan pada pikiran lawan bicara, dia harus menyingkap sesuatu yang tidak pernah dimunculakan dalam debat itu.
  11. Apabila lawan bicara mau mengemukakan suatu hal yang khusus, maka kita harus mencoba menggeneralisasikannya.
  12. Apabila ternyata bahwa pembuktian lawan itu kuat, maka kita harus mencoba memaparkannya kembali, tetapi dengan memanipulasikan akibat-akibatnya.
  13. Seringkali seseorang dapat berhasil menang dalam debat,apabila dia menyerang berbagai pendapat yang muncul dengan cara mengejek.
  14. Pengamatan yang tepat, pengertian yang dalam dan logika mengkarakterisasi suatu debat yang baik.
  15. Debat dilatarbelakangi oleh sifat ingat diri dan menuntut satu disiplin rohani-akademis yang tinggi.
  16. Berdebat berarti menundukkan lawan lewat argumentasi atau dengan kata lain menaklukan lawan bicara, tetapi dengan cara yang fair dan sportif sebagai mana pertandingan dalam olah raga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Dipodjojo, Asdi.1982. Komunikasi Lisan. Yogyakarta: PD. Lukman

Dori Wuwur, Henrikus. 1991. Retorika. Yogyakarta : Kanisius

Kamdhi, JS. 1995. Diskusi Yang Efektif. Cirebon : Kanisius

KKK.1970.Taktik Berdebat.Jakarta : K.m./CLC

Tarigan, Henry Guntur.1984. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung : Angkasa

 

Iklan

manajemen Keuangan Sekolah

Pengertian

Kegiatan administrasi keuangan sekolah adalah suatu proses pencatatan dan pengendalian keuangan milik sekolah yang dilaksanakan secara bertanggungjawab, jujur, terbuka, tertib, cermat, efektif, efisien sehingga terarah pada pencapaian tujan sekolah secara optimal. Manajemen keuangan di sekolah terutama berkenaan dengan kiat sekolah dalam menggali dana, kiat sekolah dalam mengelola dana, pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program tahunan sekolah, cara mengadministrasikan dana sekolah, dan cara melakukan pengawasan, pengendalian serta pemeriksaan.

Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektivitas. Oleh karena itu, disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di sekolah, juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan keuangan baik yang bersumber dari pemerintah, masyarakat dan sumber-sumber lainnya.

Ada beberapa sumber dana yang dapat diperoleh misalnya dari siswa/orang tua, masyarakat, pemerintah/yayasan, para dermawan dsb. Sumber-sumber ini hanya bersedia memberi sumbangan apabila nampak pada mereka adanya program-program yang jelas, penggunaan yang efektif dan pertanggung jawaban yang baik. Orang tua dan masyarakat adalah sumber dana yang sangat penting, oleh karena itu hendaknya sekolah terbuka bagi kontrol masyarakat, agar masyarakat menaruh kepercayaan bahwa uang mereka benar-benar digunakan secara baik sesuai dengan program yang telah ditetapkan. Manajemen yang berhubungan dengan keuangan antara lain :

  • Buku kas
  • Buku tabelaris
  • Daftar gaji
  • Daftar honorium
  • Surat Pertanggungjawaban (SPJ), dsb.

 

Dalam pelaksanaannya, manajemen keuangan menganut asas pemisahan tugas antara fungsi : (1) Otorisator; (2) Ordonator; dan (3) Bendaharawan. Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordonator adalah pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang telah ditetapkan. Bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban.

Kepala Sekolah, sebagai manajer, berfungsi sebagai Otorisator dan dilimpahi fungsi Ordonator untuk memerintahkan pembayaran. Namun, tidak dibenarkan melaksanakan fungsi Bendaharawan karena berkewajiban melakukan pengawasan ke dalam. Sedangkan Bendaharawan, di samping mempunyai fungsi-fungsi Bendaharawan, juga dilimpahi fungsi Ordonator untuk menguji hak atas pembayaran.

1. Macam-Macam Kegiatan Administrasi Keuangan Sekolah

  • Kegiatan pengendalian keuangan sekolah

Kegiatan pengendalian keuangan sekolah merupakan usaha-usaha seorang administrator agar kegiatan pengadaan dan penggunaan keuangan sekolah mengarah secara tepat pada pencapaian tujuan sekolah secara optimal berkat adanya tindakan-tindakan secara bertanggung jawab, terbuka, jujur, tertib, cermat, kreatif, efektif, dan efisien. Pengendalian keuangan sekolah ini terutama pada rencana anggaran pendapatan dan belanja (RAPB) sekolah, yakni suatu pernyataan mengenai uraian pendapatan dari sumber-sumber pendapatan yang digunakan untuk melaksanakan berbagai kegiatan sekolah sebagai belanja sekolah selama satu tahun anggaran. Sumber pendapatan dana sekolah dapat diperoleh dari SPP, BP3, DPP.

  • Kegiatan proses pencatatan keuangan sekolah

Kegiatan ini meliputi kegiatan penerimaan dan penyimpanan, penggunaan dan pertanggungjawabannya. Pencatatan harus dilakukan secara tanggung jawab, terbuka, jujur, tertib, cermat, aman, benar, sah, efektif, dan efisien. Oleh karena itu, dalam kegiatan ini diperlukan rekan kerja ynag profesional atau bendaharawan yang memiliki pribadi yang sesuia dan memiliki pengetahuan dan kecakapan tentang keuangan yang memadai. Setiap penerimaan uang harus dicatat oleh bendaharawan dalam buku kas umum dan buku kas pembantu sesuai dengan jenis penerimannya.

  • Buku kas umum

Buku kas umum yaitu buku yang digunakan untuk pencatatan penerimaan dan pengeluaran dana untuk semua mata anggaran dari satu jenis sumber pendapatan.

  • Buku kas pembantu

Buku kas pembantu adalah buku yang digunakan untuk pencatatan dan penggunaan dari setiap mata anggaran dari satu jenis sumber pendapatan (Buku kas Tabelaris).

2. Penyimpanan dan penggunaan keuangan sekolah

Uang sekolah harus disimpan di tempat yang aman, seperti brankas peti besi. Penyimpanan uang tunai di sekolah sebaiknya secukupnya saja, sesuai dengan batas jumlah yang telah ditentukan, sehingga tidak perlu terjadi sisa penegluaran dana demi keselamatan dana. Dana yang akan dikeluarkan untuk membiayai kegiatan yang tercantum dalam RAPB, maka pengeluaran harus dapat dipertanggungjwabkan oleh bendahara secara sah, benar, dan efisien.

3. Pertanggungjawaban keuangan sekolah

Laporan pertanggungjawaban dibuat secara tertulis oleh bendaharawan. Isi laporan pertanggungjawaban itu mengenai penerimaan dan pengeluaran dana sekolah dalam bentuk surat pertanggungjawaban (SPJ) yang dibuat setiap bulan dan setiap akhir tahun anggaran. Laporan tersebut, kadang-kadang dilengkapi dengan pemerikasaan langsung terhadap pembukuan dan penyimpanan uang tunai serta tanda bukti penerimaan dan pengeluaran dana. Laporan tersebut dimaksudkan agar bendaharawan dapat melaksanakan dengan benar, sah, efisien dalam menerima, menyimpan, dan menggunakan keuangan sekolah demi keselamatan keuangan sekolah.

Bila terjadi pemerikasaan keuangan sekolah, perlu dibuat berita acar mengenai proses pemeriksaan dan hasilnya yang ditandatangani bendaharawan. Pihak berwenang melakukan pemeriksaan berita acara untuk memperbaiki atau menyempurnakan pelaksanaan tugas bendaharawan dan sebagai dasar untuk pemerikasaan selanjutnya.

4. Manfaat kegiatan administrasi keuangan sekolah

  • Meningkatkan kerjasama antara bendaharawan dan kepala sekolah di satu pihak dan di pihak lain antar mereka dan rekan kerja lain.
  • Untuk menjamin keselamatan keuangan sekolah.
  • Untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan administrasi sekolah yang lain.
  • Untuk memperlancar pencapaian tujuan sekolah secara optimal.

5. Tugas administrator dalam kegiatan keuangan sekolah

  • Administrator harus mampu menyusun RAPB sekolah melalui APB secara bertanggungjawab.
  • Administrator harus mampu memperlancar pelaksanaan kegiatan administrasi keuangan sekolah.
  • Administrator harus mampu meningkatkan sifat-sifat tanggung jawab, jujur, cermat, terbuka, tertib, hati-hati, dan penguasaan pengetahuan serta kecakapan bendaharawan dalam kegiatan administrasi keuangan sekolah.
  • Administrator harus mampu meningkatkan kerja sama antara bendaharawan dengan kepala sekolah di satu pihak dan pihak lain antara mereka dengan rekan kerja yang lain.

 

Daftar pustaka

 

Masidjo, Ign. 2006. Manajemen Sekolah. Yogyakarta: Bina Dharma Mulia.

 

 

Search Engine

 

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/a-opini/manajemen-sekolah/

http://www.ditplb.or.id/profile.php?id=54

http://www.geocities.com/pengembangan_sekolah/kumpulan1.html

 

ALur dalam “Calon Arang”

Di sini kita akan menganalisis alur dalam cerita “Calon Arang”. Kutipan-kutipan dalam cerita “Calon Arang” yang menunjukkan alur yang digunakan adalah sebagai berikut:

Unsur-unsur Alur

  • Paparan (eksposisi)

Paparan (eksposisi) dalam novel “Calon Arang” salah satunya terdapat pada bab kedua. Kutipan yang menunjukan paparan tempat dan tokoh adalah: “Menurut riwayat adalah sebuah dusun dalam negara Daha. Girah namanya. Penduduk … janda. Calon Arang seorang perempuan setengah tua. Ia mempunyai anak perawan…bukan main cantiknya.”

Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa cerita terjadi di dusun Girah, Negara Daha. Sedangkan tokoh yang diceritakan adalah Calon Arang.

  • Rangsangan

Bagian rangsangan pada “Calon Arang” nampak dalam kalimat yang berbunyi: “… Ratna Manggali namanya. Bukan main cantik gadis itu. Sekalipun demikian tak seorang pun pemuda yang datang meminang, karena takut pada ibunya.”

Masalah yang terjadi disebabkan oleh kemarahan Calon Arang karena anaknya tak kunjung dipinang. Oleh karena itu, Calon Arang melakukan teluh pada masyarakat.

  • Gawatan

Pada cerita “Calon Arang” unsur gawatan terdapat dalam kutipan: “Calon Arang … . Ia senang menganiaya sesama manusia, membunuh, merampas, dan menyakiti. Calon arang berkuasa.” Dengan kelakuan Calon Arang yang seperti itu, otomatis raja tidak tinggal diam.

  • Tikaian

Dalam cerita ini bagian tikaian dapat dilihat pada bagian: “ Hari itu juga ratusan prajurit berbaris di alun-alun. Mereka ini diperintahkan pergi ke dusun Girah untuk menangkap Calon Arang.

Di sini dapat dilihat tikaian antara pihak kerajaan dan Calon Arang. Raja tidak mau rakyatnya terus dibebani oleh kelakuan Calon Arang, sedangkan Calon Arang juga terus berusaha untuk melampiaskan kemarahannya.

  • Rumitan

Rumitan dalam “Calon Arang” terdapat pada bagian yang menceritakan bahwa pasukan raja terkalahkan oleh Calon Arang. Hal tersebut nampak pada kalimat: “ Dalam perjalanan pulang Pasukan Bala tentara Raja dielu-elukan lagi oleh penduduk. Dan bila mereka mendengar akan kegagalan perutusan itu, lenyaplah harapan.”

  • Klimaks

Bagian klimaks terdapat pada saat amarah Calon Arang terhadap Raja Erlangga memuncak. Calon Arang sangat marah dan ingin sekali membunuh Erlangga. Klimaks dapat dilihat dari kalimat: “Sebentar-bentar ia menyumpah-nyumpah menakutkan. Sang Baginda Erlanggalah yang disumpahi.”

  • Krisis

Krisis pada cerita “Calon Arang” terlihat pada bab kedelapan, “Raja Membutuhkan Bantuan Sang Pertapa”. Bagian yang menunjukkan krisis cerita adalah: “ Kami perintahkan sekarang, semua pendeta yang menghadap pergi memuja ke candi, mohon petunjuk dari Dewa Agung guna mendapat obat mujarab untuk memberantas penyakit ini.”

  • Leraian

Setelah permasalahan mencapai puncak dan diikuti krisis, kemudian berlanjut pada bagian leraian. Bagian leraian ditunjukkan pada kutipan: “ Sangat giranglah hati Empu Bahula menerima kitab bertuah itu”. Setelah rahasia Calon Arang terbongkar maka Empu Baradah dapat mengalahkan kekuatan jahat Calon Arang.

  • Selesaian

Bagian selesaian dari cerita ini nampak pada: “ Sawah dan ladang diolah lagi. Panen yang bagus tidak berkeputusan. Tak seorangpun yang takut akan kelaparan. Demikian keadaan kerajaan Daha setelah Calon Arang mati.”

 

Jenis Alur

  • Alur maju

Secara keseluruhan cerita “Calon Arang” beralur maju. Peristiwa-peristiwa terjadi secara kronologis. Mulai dari kemarahan Calon Arang karena anaknya tidak lekas dipinang oleh seorang pemuda, sampai Calon Arang melakukan teluh pada masyarakar dan akhirnya Calon Arang terkalahkan dan mati.

  • Alur tunggal

`                             Alur tunggal dalan cerita “Calon Arang” dapat dilihat pada bab dua. Bab tersebut hanya menceritakan tentang Calon Arang. Sebagian kutipan yang dapat menunjukkan hal tersebut adalah: “ Calon Arang seorang perempuan setengah tua. … . Calon Arang ini memang buruk kelakuannya. Ia senang menganiaya sesama manusia, membunuh, merampas dan menyakiti. Calon Arang berkuasa. Ia tukang teluh dan punya banyak ilmu ajaib untuk membunuh orang.”

  • Alur jamak

Alur jamak dalam cerita ini salah satunya terdapat dalam bab kelima, “Calon Arang Mengusir Pasukan Raja”. Sebagian paragraf yang menunjukkan alur jamak adalah: “Berita tentang meluasnya teluh Calon Arang telah dilaporkan pada Sri Baginda Erlangga. … . Pada suatu hari dipanggilnya semua menteri menghadap. Selain … juga pendeta-pendeta dan para johan pahlawan … Daha.

  • Alur tertutup

“ Akhirnya Sang Maha Pendeta berkata dengan kepastian: “He, kau, Calon Arang mesti mati!” Waktu itu juga matilah Calon Arang. Kutipan tersebut yang menunjukkan cerita “Calon Arang” menggunakan alur tertutup.

“Calon Arang” dikatakan menggunakan alur tertutup karena ceritanya diakhiri dengan kepastian. Akhirnya Calon Arang mati dan rakyat kembali dalam kehidupan yang makmur dan bahagia.

 

 

Jenis Alur Drama

A. Pendahuluan

Dalam drama terdapat banyak unsur. Salah satu dari unsur tersebut adalah alur. Alur merupakan jalan cerita atau urut-urutan peristiwa dalam drama. Alur terdiri dari banyak jenis. Berikut ini akan  dikemukakan jenis-jenis drama setelah menelaah beberapa pendapat yang relevan dari sumber pustaka yang terjangkau.

B. Kutipan Pendapat

Jenis alur dapat dikelompokkan dengan menggunakan berbagai kriteria. Berdasarkan  kriteria urutan waktu: (Hariyanto, 2000:39)

  • Alur maju

    Alur maju disebut juga alur kronologis, alur lurus atau alur progresif. Peristiwa-peristiwa ditampilkan secara kronologis, maju, secara runtut dari awal tahap, tengah hingga akhir.

    • Alur mundur

      Alur mundur disebut juga alur tak kronologis, sorot balik, regresif, atau flash-back. Peristiwa-peristiwa ditampilkan dari tahap akhir atau tengah dan baru kemudian tahap awalnya.

      Berdasarkan  kriteria jumlah: (Hariyanto, 2000:39)

      • Alur tunggal

      Dalam alur tunggal biasanya cerita drama hanya menampilkan seorang tokoh protagonis. Cerita hanya mengikuti perjalanan hidup tokoh tersebut.

      • Alur jamak

      Dalam alur jamak, biasanya cerita drama menampilkan lebih dari satu tokoh protagonis. Perjalanan hidup tiap tokoh ditampilkan.

      Berdasarkan kriteria hubungan antarperistiwa:(Hariyanto, 2000:39)

      • Alur erat

        Alur erat disebut juga alur ketat atau padat. Dalam drama yang beralur cepat, susul menyusul, setiap bagian terasa penting dan menentukan.

        • Alur longgar

          Alur longgar berbanding terbalik dengan alur ketat. Hubungan antarperistiwanya longgar, tersajikan secara lambat, dan diselingi berbagai peristiwa tambahan. Pembaca atau penonton dapat meninggalkan atau mengabaikan adegan tertentu yang berkepanjangan dengan tanpa kehilangan alur utama cerita.

          Berdasarkan kriteria cara pengakhirannya: s(Hariyanto, 2000:39)

          • Alur tertutup

            Dalam drama yang beralur tertutup, penampilan kisahnya diakhiri dengan kepastian atau secara jelas.

            • Alur terbuka

              Dalam drama yang beralur terbuka, penampilan kisahnya diakhiri secara tidak pasti, tidak jelas, serba mungkin. Jadi akhir ceritanya diserahkan kepada imajinasi pembaca atau penonton.

              Dalam Kamus Istilah Sastra, terdapat alur:

              • Alur bawahan

              Alur kedua atau tambahan yang disusupkan disela-sela bagian alur utama sebagai variasi. Alur bawahan merupakan lakuan tersendiri tetapi yang masih ada hubungannya dengan alur utama. Ada kalanya alur bawahan ini dimaksudkan untuk menimbulkan kontras, adakalanya sejalan dengan alur utama. (Sudjiman, 1990: 4)

              • Alur erat (ketat)

              Jalinan peristiwa yang sangat padu di dalam suatu karya sastra, kalau salah satu peristiwa ditiadakan, keutuhan cerita akan terganggu. (Sudjiman, 1990: 4-5)

              • Alur longgar

              Jalinan peristiwa yang tidak padu di dalam karya sastra, meniadakan salah satu peristiwa tidak akan menganggu jalan cerita. (Sudjiman, 1990: 5)

              • Alur menanjak

              Jalinan peristiwa dalam satu karya sastra yang semakin menanjak sifatnya. (Sudjiman, 1990: 5)

              Dalam www.google.com alur atau jalan cerita adalah rangkaian cerita yang disusun secara logis. Alur ini biasanya terbagi atas beberapa unsur, yaitu: perkenalan, pertikaian, perumitan, puncak/klimaks, peleraian, dan akhir cerita. Ada dua jenis alur, yaitu:

              1. Alur longgar, yaitu jika sebagian alur ditinggalkan keutuhan cerita tidak  terganggu.

              2. Alur ketat, yaitu jika sebagian alur ditinggalkan keutuhan cerita menjadi terganggu.

              Alur/plot adalah jalan cerita atau urut-rutan peristiwa dalam drama. Jenis alur:

              • Alur maju

              Tahapan alur maju meliputi: pengenalan masalah, pertikaian, puncak masalah (klimaks), anti klimaks, penyelesaian masalah, cerita selesai.

              • Alur mundur/flashback/regresif

              Pada alur mundur cerita dimulai dari masa lalu, cerita masa sekarang, kemudian cerita masa yang akan datang.

              • Alur campuran

              Alur campuran merupakan alur yang dimulai dari awal/masa sekarang, masa lalu, kembali ke masa sekarang, kemudian masa depan.

              Dalam Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia, bagian-bagian dari alur adalah: perkenalan, pertikaian, perumitan, puncak atau klimaks, peleraian, dan akhir cerita. Ada dua jenis alur, yaitu alur ketat dan alur longgar. Alur ketat adalah jika sebagian alur ditinggalkan, keutuhan cerita menjadi terganggu. Sedangkan alur longgar adalah alur yang jika sebagian alur ditinggalkan, keutuhan cerita tidak terganggu. (Nurdin dan Maryani, 2002:271)

              Dalam tiap skenario terdapat bagian awal, bagian tengah atau disebut juga bagian “yang ruwet”, dan bagian akhir.

              • Bagian awal

              Sebelum masalah pokok diletakkan oleh pengarang sebagai dasar penggarapan, pada menit-menit permulaan pengarang memberikan berbagai informasi penting. Bersama dengan itu ia pun berupaya agar penonton terpukat. Pada bagian awal ini terungkap jawaban dari pertanyaan sekitar dimana peristiwa terjadi, kapan terjadi, siapakah pelaku-pelakunya, bagaimana peristiwa itu terjadi. Hal tersebut disebut dengan eksposisi (exposition), yang berfungsi sebagi pengantar. Selesai eksposisi baru tampil initial incident, yaitu peristiwa penggerak yang akan menuju klimaks dengan melewati berbagai penanjakkan action.

              • Bagian tengah

              Dibagian ini disusun kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. Perubahan perlu dilakukan jika plot memang menuntut demikian.

              • Bagian akhir

              Pada bagian inilah seluruh pertanyaan satu demi satu terjawab. Di sini tercapai klimaks terbesar. Jika pada bagian-bagian sebelumnya terjadi klimaks juga, hendaknya bagian akhir merupakan klimaks terbesar, setelah melewati berbagai krisis.

              Karya sastra yang lengkap mengandung cerita, pada umumnya mengandung delapan bagian alur. Bagian-bagian tersebut adalah: (Hariyanto, 2000:38-39)

              • Eksposisi

              Eksposisi sering disebut sebagi paparan. Eksposisi adalah bagian karya sastra drama yang berisi keterangan mengenai tokoh serta latar. Biasanya eksposisi terletak pada bagian awal. Dalam tahapan ini pegarang memperkenalkan para tokoh dan memberikan gambaran peristiwa yang akan terjadi.

              • Rangsangan

              Rangsangan adalah tahapan alur ketika muncul kekuatan, kehendak, kemauan, sikap, atau pandangan yang saling bertentangan.

              • Konflik atau tikaian

              Bagian ini merupakan tahapan ketika suasana emosional  memanas karena adanya pertentangan dua atau lebih kekuatan. Konflik dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu: manusia dengan alam, manusia dengan sesama, manusia dengan dirinya sendiri (batin), dan manusia dengan penciptanya.

              • Rumitan atau komplikasi

              Komplikasi merupakan tahapan ketika suasana semakin panas karena konflik semakin mendekati puncaknya. Gambaran nasib tokoh semakin jelas meskipun belum sepenuhnya terlukiskan.

              • Klimaks

              Klimaks adalah titik puncak cerita. Bagian ini merupakan tahapan ketika pertentangan yang terjadi mencapai titik optimalnya. Peristiwa dalam tahap ini merupakan pengubah nasib tokoh. Ini merupakan puncak rumitan dan puncak ketegangan penonton.

              • Krisis atau titik balik

              Bagian ini adalah bagian alur yang mengawali leraian. Tahap ini ditandai oleh perubahan alur cerita menuju kesudahannya.

              • Leraian

              Leraian adalah bagian struktur alur sesudah tercapainya klimaks, merupakan peristiwa yang menunjukkan perkembngan lakuan kearah selesaian. Dalam tahap ini kadar pertentangan mereda.

              • Penyelesaian

              Ini merupakan bagian akhir alur drama. Dalam tahap ini biasanya rahasia atau kesalahpahaman yang bertalian dengan alur cerita terjelaskan. Kesimpulan terpecahkannya masalah dihadirkan dalam tahap ini.

              Dalam cerita konvensional, struktur dramatik yang dipergunakan adalah struktur dramatik Aristoteles. Bagian-bagian dari struktur tersebut adalah: (Sumardjo dan Saini, 1986: 142-143)

              • Eksposisi

              Eksposisi adalah bagian awal atau pembukaan dari suatu karya sastra drama. Bagian ini memberikan penjelasan atau keterangan mengenai berbagai hal yang diperlukan untuk dapat memahami peristiwa berikutnya dalam cerita, seperti tokoh cerita, masalah, tempat dan waktu, dan sebagainya.

              • Komplikasi

              Bagian ini sering disebut juga penggawatan. Komplikasi merupakan lanjutan dari eksposisi dan peningkatan daripadanya. Dalam bagian ini salah seorang tokoh cerita mulai mengambil prakarsa untuk mencapai tujuan tertentu. Akan tetapi hasil dari prakarsa itu tidak pasti sehingga timbullah kegawatan.

              • Klimaks

              Komplikasi kemudian disusul klimaks. Dalam bagian ini pihak-pihak yang berlawanan, berhadapan untuk melakukan perhitungan terakhir yang menentukan nasib tokoh dalam cerita.

              • Resolusi

              Dalam resolusi semua masalah yang ditimbulkan oleh prakarsa tokoh terpecahkan.

              • Konklusi

              Dalam bagian ini nasib tokoh cerita sudah pasti. Konklusi merupakan akhir cerita.

              C. Pembahasan

              Dari berbagai pendapat tersebut dapatlah dikemukakan bahwa ada bermacam-macam jenis alur. Pembagian alur tersebut didasarkan pada berbagai aspek. Berdasarkan  kriteria urutan waktu, dikenal adanya alur maju dan alur mundur. Namun adapula yang menambahnya dengan alur campuran, yaitu perpaduan antara alur maju dan alur mundur. Berdasarkan  kriteria jumlah, dibedakan menjadi alur tunggal dan alur jamak. Berdasarkan kriteria hubungan antarperistiwa,  terdapat alur erat dan alur longgar. Sedangkan berdasarkan kriteria cara pengakhirannya, dikenal adanya alur tertutup dan alur terbuka. Akan tetapi dalam Kamus Istilah Sastra terdapat juga alur bawahan dan alur menanjak.

              Dalam sebuah alur terdiri dari beberapa bagian, yaitu bagian awal, tengah, dan akhir. Di dalam bagian-bagian tersebut terdiri atas eksposisi, rangsangan, konflik atau tikaian, rumitan atau komplikasi, klimaks, krisis atau titik balik, leraian, penyelesaian. Pada dasarnya alur terdiri atas bagian-bagian tersebut, namun ada yang sering menyebutnya dengan istilah-istilah lain.

              D. Kesimpulan

              Macam-macam jenis alur dibedakan berdasarkan beberapa aspek. Mulai dari  berdasarkan  kriteria urutan waktu, jumlah, hubungan antarperistiwa, sampai cara pengakhiran. Jenis-jenis alur tersebut adalah alur maju, alur mundur,  alur campuran, alur tunggal, alur jamak, alur erat, alur longgar, alur tertutup, alur terbuka, alur bawahan, dan alur menanjak.  Dalam alur terdapat tiga bagian, yaitu: bagian awal, tengah, dan akhir. Bagian-bagian tersebut terdiri atas eksposisi, rangsangan, konflik atau tikaian, rumitan atau komplikasi, klimaks, krisis atau titik balik, leraian, dan penyelesaian.

              E. Penutup

              Dengan demikian telah kita ketahui beberapa macam dari alur dan juga bagian-bagian dari alur. Semoga risalah ini bermanfaat untuk membantu kita memahami jenis-jenis alur, struktur alur, dan membantu dalam perkuliahan Pengkajian dan Apresiasi Drama.

              DAFTAR PUSTAKA

              Hariyanto, P. 2000. Pengantar Belajar Drama. Yogyakarta: PBSID Universitas Sanata Dharma.

              Nurdin, Ade dan Maryani, Yani. 2002. Intisari Bahasa dan sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.

              Sudjiman, Panuti. 1990. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Universitas Indonesia.

              Sumardjo, Jacob dan K.M. Saini. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

              www.google.com

              BONEKA SANG PENGUASA => Oleh: Marcellina Elfiana

              I. ASPEK TEKS DRAMA

              1. Jenis Drama

              • Bentuk dramatis

              Menurut bentuk dramatisnya, drama “Boneka Sang Penguasa” termasuk ke dalam melodrama. Melodrama adalah drama yang mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru pada penonton, namun tidak sedalam tragedi, tidak sampai menimbulkan katarsis (Hariyanto, 2000:9).

              Drama ini termasuk melodrama karena mengisahkan tentang cerita kehidupan yang berhubungan dengan kekuasaan. Kekuasaan yang selalu memihak pada kaum atasan.

              • Ragam bahasa cakapan

               

              Berdasarkan pada ragam bahasanya, drama dapat dibagi menjadi dua. Ada drama berbahasa Indonesia ragam umum dan ragam dialek (Hariyanto, 2000:9).

              Dalam drama “Boneka Sang Penguasa” sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia ragam umum. Akan tetapi, dalam drama tersebut juga sedikit mengunakan ragam dialek, yaitu dengan menggunakan kata sapaan “Pakne”. Kata sapaan tersebut merupakan ragam dialek jawa.

              • Bentuk sastra cakapan

               

              Berdasarkan bentuk sastra cakapannya, drama dapat berupa drama prosa dan drama puisi/liris (Hariyanto, 2000:9). Drama ini termasuk ke dalam drama prosa karena cakapannya brbentuk prosa, bukan puisi.

              • Kuantitas cakapan

               

              Dari segi kuantitas cakapannya, terdapat drama kata, drama mini kata, dan drama pantomim. Drama “Boneka Sang Penguasa” termasuk drama kata. Drama kata merupakan drama yang menggunakan banyak kata (Hariyanto, 2000:10).

              • Jumlah pelaku

               

              Dari aspek jumlah pelaku, dikenal adanya drama dialog dan drama monolog (monodrama). Drama dialog adalah drama yang paling lazim dan umum dipertunjukkan (Hariyanto, 2000:10).

              “Boneka Sang Penguasa” termasuk drama dialog. Dalam drama ini terdapat 6 tokoh, yaitu Pak Sarmen, Mbok Sarmen, Maha kuasa, Bu Dukuh, Daliman, dan Upik. Dalam drama tersebut, tokoh-tokoh yang ada saling berdialog.

              • Media pementasan

               

              Menurut P. Hariyanto (2000:10), berdasarkan media pementasannya dapat ditemukan 3 jenis drama. Ada drama radio (rekaman radio), drama televisi (rekaman video, sinetron, film), dan drama pentas (panggung).

              “Boneka Sang Penguasa” dirancang untuk drama pentas, karena dalam bagian akhir terdapat keterangan pementasan yang menyuruh seluruh pemain untuk maju berjajar dan meneriakkan suatu kalimat. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa drama ini termasuk drama pentas.

              • Tujuan penggunaan

               

              Berdasarkan tujuan penggunaannya, drama tersebut ditujukan untuk dipentaskan. Jika dipentaskan drama tersebut terkesan akan lebih hidup dibandingkan dengan hanya dibaca. Dengan pementasan maka penikmat drama akan lebih mudah menangkap maksud dari drama tersebut.

              1. Penonjolan unsur seni

              Dari segi penonjolan unsur seninya, dikenal adanya jenis drama tablo, opera, dan sendratari atau drama tari (Hariyanto, 2000:10). Dalam drama ini tidak menonjolkan unsur seni apapun, hanya merupakan drama biasa.

              • Proses penciptaan

               

              Berdasarkan proses penciptaanya terdapat drama asli dan drama terjemahan. Drama asli adalah drama karangan si pengarang sendiri, sedangkan drama terjemahan merupakan drama salinan dari bahasa lain adan pengarang lain (Hariyanto, 2000:10).

              “Boneka Sang Penguasa” termasuk drama asli. Drama ini asli karangan Marcellina Elfiana yang dipublikasikan dalam Jangkrik dalam Kotak.

              • Kuantitas waktu pementasan

               

              Dari segi kuantitas waktu pementasannya dikenal drama pendek dan drama panjang. Drama pendek biasanya terdiri dari satu babak saja, sehingga sering disebut drama sebabak (one act play). Drama jenis ini menuntut pemusatan pada satu tema, jumlah kecil pemeran, dan peringkasan dalam gaya, latar, dan pengaluran (Hariyanto, 2000:10).

              Boneka Sang Penguasa termasuk drama pendek karena hanya terdiri atas satu babak. Drama ini terpusat pada satu tema, yaitu tentang kekuasaan. Adegan dalam drama terjadi pada petang hari di kamar tamu.

              2. Tokoh

              Dalam sebuah drama pastilah ada tokoh. Tokoh adalah pelaku atau aktor dalam sebuah cerita. Tokoh merupakan pelaku dalam deretan peristiwa, ruang dan waktu atau suasana (Hartoko dan Rahmanto, 1986:144).

              • Peranan

               

              Dilihat dari peranannya, dalam drama terdapat tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah pelaku yang diutamakan dalam suatu drama. Tokoh tersebut paling banyak muncul atau mungkin paling banyak dibicarakan (Hariyanto, 2000:35). Dalam Boneka Sang Penguasa. Tokoh utamanya adalah Pak Saarmen. Dalam drama tersebut Pak Sarmen adalah tokoh yang paling disoroti, yaitu bagaimana ia menghadapi suatu masalah tentang penggusuran.

              Tokoh tambahan adalah pelaku yang kemunculannya dalam drama lebih sedikit, tidak begitu dipentingkan kehadirannya (Hariyanto, 2000:35). Dalam Boneka Sang Penguasa, yang berperan sebagai tokoh tambahan adalah Upik. Dia hanya muncul sebentar dan tidak dibicarakan dalam drama tersebut.

              • Fungsi

               

              Berdasarkan fungsi penampilannya terdapat tokoh protagonis, antagonis, dan tritagonis. Protagonis adalah tokoh yang diharapkan berfungsi menarik simpati dan empati pembicara atau penonton. Ia adalah tokoh dalam drama yang memegang pimpinan, tokoh sentral (Hariyanto, 2000: 35). Dalam Boneka Sang Penguasa, tokoh sentralnya adalah Pak Sarmen. Pak Sarmenlah yang paling erat berubungan dengan konflik yang ada.

              Antagonis adalah pelaku dalam drama yang berfungsi sebagai penentang utama dari tokoh protagonis. Antagonis disebut juga tokoh lawan (Hariyanto, 2000:35). Yang berperan sebagai tokoh antagonis dalam Boneka Sang Penguasa adalah Maha Kuasa. Dalam drama tersebut Maha Kuasa bertentangan dengan Pak Sarmen.

              • Pengungkapan watak

               

              Berdasarkan pengungkapan wataknya terdapat tokoh bulat (kompleks) dan tokoh datar (pipih, sederhana). Tokoh bulat adalah pelaku dalam sastra drama yang diberikan segi-segi wataknya sehingga dapat dibedakan dari tokoh-tokoh lainnya (Hariyanto, 2000:35). Yang termasuk sebagai tokoh bulat dalam Boneka Sang Penguasa adalah Pak Sarmen. Dalam drama tersebut nampak bahwa pak Sarmen berwatak penyayang keluarga, pekerja keras, memperjuangkan hak, namun juga bertemperamen tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari dialognya.

              Tokoh datar adalah pelaku dalam sastra drama yang tidak diungkapkan wataknya secara lengkap. Yang dikatakan atau dilakukan oleh tokoh datar biasanya tidak menimbulkan kejutan pada pembaca atau penonton (Hariyanto, 2000:35). Dalam Boneka Sang Penguasa, tokoh datarnya adalah

              • Pengembangan watak

               

              Berdasarkan pengembangan wataknya terdapat tokoh statis dan berkembang. Tokoh statsis adalah pelaku dalam sastra drama yang dalam keseluruhan drama tersebut sedikit sekali atau bahkan sama sekali tidak berubah (Hariyanto, 2000:35). Dalam Boneka Sang Penguasa tokoh statisnya adalah Upik dan Mbok Sarmen, Bu Dukuh. Dari awal sampai akhir tidak ada perubahan watak yang menonjol pada mereka.

              Tokoh berkembang adalah pelaku dalam drama yang dalam keseluruhan drama mengalami perubahan atau perkembangan. Tokoh berkembang dalam Boneka Sang Penguasa adalah Pak Sarmen, Daliman, dan Maha Kuasa. Pada awalnya Pak Sarmen nampak sebagai seorang yang sabar, namun menuju akhir cerita wataknya berubah menjadi semakin keras.

              Daliman pada tengah cerita berubah mengamini perintah Maha Kuasa. Sedangkan Maha Kuasa yang tadinya keras, pada akhirnya semakin berwatak keras dan memaksa bahkan mengancam Pak Sarmen untuk meningglkan tanahnya.

              • Pencermianan kehidupan nyata

               

              Berdasarkan kemungkinan pencerminan manusia dalam kehidupan nyata, terdapat tokoh tipikal dan tokoh netral. Tokoh tipikal adalah tokoh drama yang hanya sedikit ditampilkan individualitasnya dan lebih banyak ditampilkan pekerjaan atau perihal lainnya yang lebih bersifat mewakili.  Tokoh tipikal merupakan pencerminan orang atau sekelompok orang dalam suatu lembaga dunia nyata. Tokoh tipikal dalam Boneka Sang Penguasa adalah Pak Sarmen. Dalam drama ini Pak Sarmen kurang ditonjolkan individualitasnya, namun perwakilannya untuk melawan Maha Kuasa lebih disoroti. Dia melawan Maha Kuasa untuk memperjuangkan haknya.

              Tokoh netral adalah tokoh dalam drama yang bereksistensi demi drama itu sendiri. Ia hadir semata-mata demi drama tersebut dan tidak berpretensi mewakili sesuatu di luarnya. Dalam Boneka Sang Penguasa, tokoh netralnya adalah

              • Kebadanan tokoh

               

              Tokoh dalam sastra drama bukanlah sekedar semacam boneka yang mati. Tokoh tersebut diharapkan berkesan hidup, yaitu memiliki ciri-ciri kebadanan, cirri-ciri kejiwaan, dan ciri-ciri kemasyarakatan (Hariyanto,2000:35).

              Yang dimaksud ciri-ciri kebadanan misalnya usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, dan kondisi wajah. Kebadanan tokoh dalam drama tersebut nampak pada jenis kelamin, umur. Sapaan Pakne menujukkan berjenis kelamin laki-laki, Mbok dan Bu menunjukkan perempuan, dan dari percakapannya dapat disimpulkan bahwa Upik masih muda, dia seorang mahasiswa.

              1. Kejiwaan tokoh

              Yang dimaksud dengan ciri-ciri kejiwaan misalnya mentalitas, moral, temperamen, kecerdasan, dan kepandaian dalam bidang tertentu (Hariyanto, 2000:35). Salah satu kejiwaan tokoh yang sangat nampak adalah Pak Sarmen. Hal itu nampak pada ucapan-ucapannya yang bertemperamen tinggi saat menghadapi sikap Maha Kuasa kepadanya.

              • Kemasyarakatan tokoh

               

              Yang dimaksud ciri-ciri kemasyarakatan misalnya status sosial, pekerjaan atau peranan dalam masyarakat, pendidikan, ideologi, kegemaran, dan kewarganegaraan (Hariyanto, 2000:35). Hal tersebut salah satunya nampak pada diri Pak Sarmen. Pada awal cerita sudah nampak oleh penjelasan yang ada bahwa Pak Sarmen adalah seorang petani.

              3. Alur

              Alur sama dengan plot. Secara komplementer alur berkaiatan dengan cerita (Hartoko dan Rahmanto, 1986:10). Alur drama adalah rangkaian peristiwa dalam karya sastra drama yang mempunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas (Hariyanto, 2000:38).

              • Unsur alur

               

              Karya sastra yang lengkap mengandung cerita, pada umumnya mengandung delapan bagian alur sebagai berikut: eksposisi, rangsangan, konflik, rumitan, klimaks, krisis, leraian, dan penyelesaian (Hariyanto, 2000:38). Dalam Boneka Sang Penguasa tidak lengkap memiliki kedelapan unsur tersebut.

              Eksposisi (paparan) adalah bagian karya sastra drama yang berisi keterangan mengenai tokoh serta latar. Dalam drama tersebut eksposisi terdapat pada bagaian awal, yaitu “petang hari setelah Pak Sarmen pulang dari sawah, berbincang dengan istrinya di kamar tamu”. Dari bagian tersebut, penikmat drama dapat mengerti bahwa Pak Sarmen dan Mbok Sarmen sebagai tokoh drama, sedangkan berlatar di sebuah kamar tamu.

              Rangsangan adalah tahapan alur ketika muncul kekuatan, kehendak, kemauan, sikap, pandangan yang saling bertentangan dalam drama. Peristiwa ini sering ditimbulkan oleh masuknya seorang tokoh baru yang merusak keadaan yang semula laras (Hariyanto, 2000: 39).Bagian rangsangan dalam Boneka Sang Penguasa terjadi saat Daliman muncul dan mengabarkan bahwa kampungnya akan digusur. Otomotis hal tersebut menimbulkan konflik.

              Konflik atau tikaian adalah tahapan ketika suasana emosional memanas karena adanya pertentangan dua atau lebih kekuatan (Hariyanto, 2000:39). Konflik pada drama tersebut terjadi saat Pak Sarmen tidak mendengar kabar dari Daliman dan ia tak mau menerima hal tersebut.

              Rumitan atau komplikasi merupakan tahapan ketika suasana semakin panas karena konflik semakin mendekati puncaknya. Dalam Boneka Sang Penguasa bagian tersebut terdapat pada saat kedatangan Bu dukuh dan Maha Kuasa datang ke rumah Pak Sarmen untuk memberitahukan bahwa Maha Kuasa yang akan membeli tanahnya. Menghadapi Maha Kuasa yang sok berkuasa dan bertindak semaunya Pak Sarmen semakin marah.

              Klimaks atau titik puncak cerita merupakan tahapan ketika pertentangan yang terjadi mencapai titik optimalnya. Peristiwa dalam tahapan ini merupakan pengubahan nasib tokoh. Dalam drama tersebut klimaks terjadi saat Maha Kuasa dengan sombongnya membujuk Pak Sarmen untuk pindah dari tanah itu namun Pak Sarmen tetap menolaknya. Bahkan Pak Sarmen semakin kuat ada pendiriannya, sedangkan Daliman mulai luntur dan mau menuruti bujukan Maha Kuasa.

              Penyelesaian merupakan bagian akhir alur drama. Pada tahap ini ketentuan final dari segala pertentangan yang terjadi terungkapkan. Boneka Sang Penguasa berakhir dengan kemenangan Maha Kuasa. Hal tersebut nampak pada bagian akhir yang berbunyi “HAII…MAHA KUASA LAKUKAN APA YANG KAU SUKA. KAMI MEMANG TAK MAMPU MELAWANMU. KAMI ADALAH BONEKAMU…BONEKA SANG PENGUASA…!

              • Jenis konflik

               

              Konflik dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan dirinya sendiri, dan manusia dengan penciptanya. Dalam drama ini hanya terdapat satu jenis konflik, yaitu konflik manusia dengan manusia (Hariyanto, 2000:39). Dalam drama tersebut konflik terjadi antara Maa Kuasa dengan Keluaraga Pak Saremen dan Daliman. Namun konflik yang paling nampak adalah antara Maha Kuasa dengan Pak Sarmen, karena Pak Sarmen merupakan tokoh yang paling menentang dengan kelakuan Maha Kuasa.

              • Jenis selesaian

               

              Jenis selesaian drama ada tiga, yaitu denoumen, katastrofe, dan solusi. Pengakhiran cerita dalam drama ini menggunakan jenis katastrofe, yaitu drama tragedy yang berakhir menyedihkan (Hariyanto, 2000:39). Drama ini berakhir dengan kemenangan Maha Kuasa, dan rakyat kecil yang menderita.

              • Urutan waktu peristiwa

               

              Alur yang digunakan dalam drama ini adalah alur maju (kronologis, lurus, atau progresif). Peristiwa-peristiwa ditampilkan secara kronologis, maju, secara runtut dari tahap awal, tengah, hingga akhir (Hariyanto, 2000:39). Semua peristiwa dalam Boneka Sang penguasa bergerak maju sesuai dengan urutan waktu, tidak ada yang flashback.

              • Jumlah alur

               

              Berdasarkan jumlah alur terdapat alur tunggal dan alur jamak (Hariyanto, 2000:39). Drama Boneka Sang Penguasa menggunakan alur tunggal, sebab dalam drama ini cerita hanya berpusat pada satu tokoh, yaitu Pak Sarmen. Dalam drama ini tidak ada alur lain selain menceritakan Pak Sarmen.

              • Hubungan antarperistiwa

               

              Berdasarkan hubungan antarperistiwa terdapat drama beralur erat dan beralur longgar. Drama Boneka Sang Penguasa termasuk beralur ketat. Drama beralur ketat adalah drama yang beralur cepat, susuk menyusul, dan setiap bagian terasa penting dan menentukan (Hariyanto, 2000:39).

              • Pengakhiran

               

              Berdasarkan kriteria cara  pengakhirannya dapat ditemukan adanya drama beralur tertutup dan beralur terbuka. Dalam drama yang beralur tertutup penampilan kisahnya diakhiri dengan kepastian atau secara jelas (Hariyanto, 2000:39). Boneka Sang Penguasa beralur tertutup karena diakhiri dengan kejelasan, yaitu kemenangan sang Maha Kuasa.

              4. Latar

              Latar juga disebut setting atau landasan tumpu. Istilah ini mengacu pada makna tentang segala keteragan mengenai waktu, ruang, serta suasana (Hariyanto, 2000:42).

              • Latar tempat

               

              Latar tempat termasuk ke dalam latar fisik. Latar tempat adalah keadaan mengenai tempat tertentu (nama kota, desa, jalan, dan sebagainya). Dalam drama Boneka Sang Penguasa latar tempat terjadi hanya pada satu tempat, yaitu kamar tamu rumah Pak Sarmen. Dalam drama tersebut, semua peristiwa terjadi di ruang tamu.

              • Latar waktu

               

              Latar waktu juga termasuk dalam latar fisik. Latar waktu berhubungan dengan tanggal, jam, tahun, siang, maam, dan sebagainya. Latar waktu dalam drama tersebut terjadi pada petang hari.

              • Latar spiritual/sosial

               

              Latar spiritual adalah segala keterangan atau keadaan mengenai tata cara, adat istiadat, kepercayaan, nilai-nilai yang melingkupi dan dimiliki oleh latar fisik. Dalam drama tersebut latar spiritualnya adalah kebiasaan orang jawa menggunakan jarik sebagai baju bawahan. Dalam drama tersbut yang menggunakan jarik adalah Mbok Sarmen.

              • Anakronisme

               

              Anakronisme maknanya mengarah pada penempatan tokoh, peristiwa, cakapan, kostum, dan sebagainya yang tidak sesuai berdasrkan waktu dalam drama (Hariyanto, 2000:42). Dalam Boneka Sang penguasa tidak terdapat anakronisme. Semua tokoh, peristiwa, cakapan sudah sesuai berdasarkan waktu dalam drama.

              5. Tema

              Tema adalah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasai suatu karya sastra, dalam hal ini drama. Tema merupakan sutu gagasan sentral dalam drama (Hariyanto, 2000:43).

              • Premis

               

              Menurut premisnya terdapat tema pokok dan tambahan. Tema pokok sering disebut tema mayor, yaitu mana pokok cerita drama yang menjadi dasar atau gagasan umum karya sastra karya tersebut bukan hanya terdapat pada bagian tertentu saja (Hariyanto, 2000:43). Drama ini termasuk bertema mayor, karena bukan hanya bagian tertentu saja yang mndukung tercerminnya tema. Setiap bagian mencerminkan tentang kekuasaan, yaitu kabar penggusuran, kesewenang-wenangan Maha Kuasa, dan sebagainya.

              • Tingkatan tema/premis

               

              Tema tingkat fisik mengarah pada keadaan manusia dalam tingkatan kejiwaan molekul. Tema tingkat organik mengarah pada tingkat kejiwaan protolasma, masalah seksualita ditekankan. Tema tingkat sosial mengarah pada keadaan manusia dalam tingkatan kejiwaan makhluk social. Tema tingkat individu mengarah pada keadaan manusia dalam tingkat kejiwaan makhluk individu. Tema tingkat divine mengarah pada keadaan dalam tingkatan kejiwaan makhluk tingkat tinggi (Hariyanto, 2000:43).

              Drama ini tidak menggunakan tema tingkatan organik dan divine, karena dalam drama ini tidak menyangkut tentang seksualitas dan hubungan manusia dengan Tuhan.

              • Ketradisian tema

               

              Tema tradisional adalah pikiran utama yang itu-itu juga yang telah lama digunakan dalam karya sastra biasanya berkaitan dengan masalah kebenaran dan kejahatan. Tema nontradisional adalah ide utama yang tidak lazim dan bersifat melawan arus (Hariyanto, 2000:43).

              Dalam drama tersebut memang mengangkat tema yang biasa, yaitu tentang perlawanan rakyat kecil terhadap penguasa. Namun dalam drama tersebut tokoh utama tidak memperoleh kemenangan pada akhir cerita. Oleh sebab itu, cerita dari drama ini bisa disebut juga kurang lazim karena biasanya kebenaran itu menang, namun kali ini tidak.

              • Tema pokok/mayor/keseluruhan

               

              Tema pokok sering disebut tema mayor, yaitu mana pokok cerita drama yang menjadi dasar atau gagasan umum karya sastra karya tersebut bukan hanya terdapat pada bagian tertentu saja. Tema pokok dari drama ini adalah tentang kekuasaan.

              • Tema tambahan/minor/bagiannya

               

              Tema tambahan sering disebut juga tema minor atau bagian. Makna ini hanya terdapat pada bagian tertentu saja dalam sebuah drama. Secara tersirat dalam drama ini juga terdapat tema tambahan tentang pendidikan, yaitu digambarkan Upik sebagai seorang mahasiswa.

              6. Teknik Penceritaan

              • Sudut pandang penceritaan

              Dalam Boneka Sang Penguasa menggunakan sudut pandang orang ketiga. Dalam drama ini narrator menceritakan tentang pelaku-pelaku yang ada dalam cerita drama.

              • Teknik pengungkapan

               

              Teknik pengungkapan yang digunakan dalam drama tersebut adalah

              • Bentuk pengungkapan

               

              Bentuk pengungkapan drama tersebut adalah

              • Ketidaktepatan penggunaan teknik penceritaan/penulisan

               

              Dalam drama tersebut tidak ditemukan ketidaktepatan penggunaan teknik penceritaan. Teknik penceritaan yang digunakan sudah tepat.

              • Keistimewaan teknik penceritaan/penulisan

               

              Dalam drama ini tidak ada keistimewaan teknik penceritaan. Teknik yang digunakan sangat wajar, seperti drama-drama yang lain.

              7. Bahasa

              • Judul

              Judul yang dipakai dalam karya sastra biasanya menggambarkan isi tentang karya tersebut. Dalam drama tersebuat judul sudah sangat tepat dan sesuai dengan isi dan amanat yang ingin disanpaikan.

              • Bahasa bagian keterangan pementasan

               

              Dalam naskah drama sering terdapat bagian keterangan pementasan. Bagian tersebut difungsikan untuk mempermudah pelaku maupun penikmat drama untuk memahami jalan ceritanya. Namun hal tersebut juga harus diimbangii dengan bahasa yang jelas dan komunikatif.

              Bahasa bagian keterangan pementasan yang digunakan dalam Boneka Sang Penguasa sudah baik. Bagian tersebut membantu penikmat untuk mengikuti cerita yang disajikan.

              • Bahasa cakapan

               

              Bahasa cakapan yang digunakan dalam Boneka Sang penguasa cukup jelas dan dapat dimengerti oleh penikmat drama. Walaupun menggunakan sedikit ragam dialek, namun hal itu tidak cukup menganggu karena ragam dialek yang diunakan sangat sedikit, hanya Pakne, Mbok, dan to.

              • Ketidaktepatan penggunaan bahasa

               

              Dalam Boneka Sang Penguasa saya tidak menemui ketidaktepatan dalam penggunaan bahasa. Semua bahasa yang digunakan sudah tepat.

              • Keistimewaan penggunaan bahasa

               

              Keistimewaan penggunaan bahasa juga tidak ditemukan dalam drama isi. Bahasa yang digunakan sangat wajar.

              II. HUBUNGAN KEENAM UNSUR INTRINSIK

              1. Unsur yang kurang tergarap

              Semua unsur yang ada dalam drama ini sudah tergarap secara harmonis. Namun menurut saya konflik yang ada kurang dipertajam, sehingga cerita yang ada terkesan terlalu singkat. Akan lebih baik jika konflik yang sudah ada lebih diolah agar ceritanya lebih detail. Pada bagian tengah menuju akhir ceritanya terkesan terlalu dipercepat. Setelah Maha Kuasa meninggalkan rumah Pak Sarmen, cerita tak lama kemudian langsung berakhir dengan kemenangan penguasa.

              2. Unsur yang tergarap secara menonjol

              Unsur yang ada dalam drama tidak ada yang tergarap secara menonjol, semua tergarap secara merata dan minimalis.

              3. Keharmonisan unsur

              Semua unsur yang ada dalam drama berhubungan secara harmonis. Unsur-unsur yang ada berjalan secara bersama-sama mendukung jalannya cerita.

              4. Pengganggu keterpaduan dan keharmonisan hubungan unsur-unsur sebagai suatu kesatuan

              Dalam Bonela Sang Penguasa tidak ada pengganggu keterpaduan dan keharonisan  huungan unsur sebagai suatu kesatuan.

              5. Aspek keberagaman dalam keseluruhan unsur

              Keberagaman unsurnya sudah baik. Sudah memenuhi syarat drama utuk adanya tema, tokoh, alur, latar, watak, dan  bahasa.

              III. KESIMPULAN DAN TANGGAPAN

              Drama Boneka Sang Penguasa merupakan melodrama yang bertemakan kekuasaan. Dalam drama ini dikisahkan tentang Maha Kuasa yang menggunakan kekuasaan dengan sewenang-wenang untuk menindas rakyat kecil. Walaupun Pak Sarmen seorang rakyat kecil telah melawannya, namun akhirnya yang berkuasalah yang menang.

              Drama tersebut sangat baik, mengangkat sebuah cerita hidup yang sering terjadi juga pada saat ini. Drama ini bisa disebut juga segabai sindiran untuk para penguasa yang sering menyalahgunakan kekuasaannya untuk menindas rakyat kecil. Amanat yang ingin disampaikan melalui drama tersebut juga sudah dapat tersampaikan dengan jelas. Namun alangkah lebih baiknya jika usaha Pak Sarmen untuk melawan kehendah Maha Kuasa lebih ditonjolkan. Dengan begitu maka perjuangan rakyat kecil untuk mendapatkan haknya bisa lebih tercerminkan dalam drama tersebut. Dengan ditonjolkannya perjuangan rakyat kecil tersebut, maka akan menambah nilai dramatisasinya pula.

              DAFTAR PUSTAKA

              Adji, Peni S. E, 1998. Jangkrik dalam Kotak. Yogyakarta: PBSID Universitas       Sanata Dharma.

              Hariyanto, P. 2000. Pengantar Belajar Drama. Yogyakarta: PBSID Universitas Sanata Dharma

              Hartoko, Dick dan Rahmanto, B. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

              Pengertian Drama

              Pendahuluan

              Banyak orang membicarakan drama, bahkan sebagian dari mereka mengaku pernah memerankan sebuah tokoh dalam drama. Tetapi belum tentu mereka benar- benar mengerti apakah sebenarnya drama tersebut. Berikut ini penulis akan mengemukakan jawaban atas pertanyaan tersebut setelah menelaah beberapa pendapat yang relevan dari sumber pustaka yang terjangkau.

              Beberapa Pendapat

              Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2005:275), drama adalah 1) komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan; 2) cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater. Dengan pementasan diharapkan penonton lebih mudah dalam memahami suatu peristiwa kehidupan, watak dan lainnya.

              Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1982:275), drama adalah 1) cerita sandiwara yang mengharukan; lakon sedih; 2) seni-seni mengenai sandiwara (cara menjalankan dan menulis lakon). Dalam drama kita dapat mempelajari segala sesustu tentang sandiwara, mulai dari menulis lakon sampai menjalankan lakon.

              Menurut Kamus Bahasa Indonesia (Sri Sukesi Adiwimarta, 1983:521), drama merupakan 1) cerita (sandiwara, film) yang mengharukan; 2) lakon (komedi, tragedi dan sebagainya) yang dipentaskan; sandiwara. Drama terbagi atas drama tragedi, komedi, dan tragedi komedi.

              Menurut Kamus Istilah Seni Drama (1985:16), drama adalah jenis sastra berbentuk dialog, yang biasa untuk dipertunjukkan di atas pentas. Akan tetapi drama tidak selalu dipentaskan. Drama bacaan merupakan drama yang hanya dibaca saja, drama ini tidak dipentaskan.

              Menurut Kamus Istilah Sastra (Panuti Sudjiman, 1990:22), drama merupakan karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dan emosi lewat lakuan dan dialog; lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung. Adanya tikaian dan emosi membuat pementasan drama lebih hidup.Penonton seolah-olah dapat melihat secara langsung kisah tersebut. Dengan demikian, penikmat drama terbantu dalam memahami peristiwa yang dikisahkan.

              Dick Hartoko dan B. Rahmanto (1985:21) berpendapat bahwa drama adalah bentuk sastra berupa dialog yang diperagakan di atas panggung oleh satu atau beberapa dramatis personae. Lain dengan drama bacaan, yang mempertahankan bentuk dialog tetapi tidak dipentaskan, hanya dibaca saja. Drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat. Sikap-sikap yang berlawanan (ungkapan nilai moral, watak, kepentingan dan sebagainya) menyebabkan ketegangan. Jalurnya tunggal (kesatuan perbuatan, tempat dan waktu) dan bersifat kausal. Dialog-dialog bersifat pendek. Drama meliputi beberapa jenis cabang, seperti tragedi, komedi dan banyolan. Kata “drama” biasanya diperuntukkan bagi karya pentas yang serius.
              Menurut Ki Hajar Dewantara, pertunjukkan drama disebut juga sandiwara.Kata “sandi” berarti rahasia dan kata “wara” yang berarti pengajaran. Jadi, menurut Ki Hajar Dewantara, drama adalah pengajaran yang dilakukan dengan perlambang (Ki Hajar Dewantara melalui Harymawan, 1988:2-3). Sedangkan Menurut Ferdinand Brunetierre (Ferdinand melalui Harymawan, 1988:2), drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan action.

              Pembahasan

              Dari berbagai pendapat tersebut dapatlah dikemukakan bahwa pengertian drama secara singkat adalah cerita sandiwara atau kisah yang diharapkan dapat menggambarkan tentang kehidupan yang melibatkan konflik atau emosi dan penyelesaian untuk dipertunjukkan di atas pentas. Salah satu pendapat mengemukakan bahwa kisah dalam drama mengharukan. Hal itu disebabkan adanya keterlibatan konflik atau emosi yang menimbulkan perasaan haru terutama ketika kisahnya berakhir menyedihkan.

              Penutup

              Dengan demikian, pertanyaan pada awal tulisan ini telah terjawab. Drama adalah cerita atau kisah mengharukan tentang kehidupan yang melibatkan konflik atau emosi dan penyelesaian untuk dipertunjukkan di atas pentas. Semoga jawaban ini dapat bermanfaat untuk memahami arti drama.

              Daftar Pustaka

              Adiwimarta, Sri Sukesi. 1983. Kamus Bahasa Indonesia I. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

              Depdiknas, 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi III. Jakarta: Balai Pustaka.

              Hartoko, Dick dan B. Rahmanto. 1985. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

              Haryamawan, R.M.A. 1988. Dramaturgi. Bandung: Pustaka Jaya.

              Poerwadarminto, W.J.S. 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

              Samin Siregar, Ahmad, dkk. 1985. Kamus Istilah Seni Drama. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
              .

              FAKTOR PENGHAMBAT DALAM BELAJAR DAN CARA MENGATASINYA

              Latar Belakang

              Belajar merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan terjadi secara terus-menerus. Belajar sangat penting, namun dalam kenyataannya sering muncul permasalahan atau hambatan dalam belajar. Hambatan tersebut dapat berasal dari dalam diri anak maupun dari luar. Dengan adanya hambatan tersebut akan mempersulit anak untuk mancapai hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu, harus ada solusi untuk mengatasi hambatan yang muncul dalam belajar pada anak.

              Rumusan Masalah

              Dengan memperhatikan latar belakang masalah yang ada, makalah ini mengulas permasalahan tersebut. Pokok masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut.

              1. Apa saja yang merupakan faktor penghambat dalam belajar pada anak?
              2. Bagaimana cara mengatasi hambatan belajar pada anak?

              Tujuan

              Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan makalah ini adalah sebagai berikut.

              1. Mendeskripsikan faktor penghambat dalam belajar pada anak.
              2. Mendeskripsikan cara mengatasi hambatan belajar pada anak.

              PEMBAHASAN

              Faktor Penghambat Belajar

              Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar anak dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebutlah yang mempengaruhi hasil belajar anak. Berikut akan diuraikan tentang kedua faktor penghambat belajar.

              Faktor Internal

              Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan biologis serta faktor psikologis.

              1. Faktor fisiologis dan biologis

              Masa peka merupakan masa mulai berfungsinya factor fisiologis pada tubuh manusia. Faktor fisiologis adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor ini dibedakan menjadi 2, yaitu:

              –  Keadaan tonus jasmani

              Keadaan tonus jasmani sangat mempengaruhi aktivitas belajar anak. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap proses belajar. Sedangkan kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal.

              –  Keadaan fungsi jasmani atau fisiologis

              Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada anak sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama panca indera. Panca indera yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar.

              Anak yang memiliki kecacatan fisik (panca indera atau fisik) tidak akan dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Meskipun juga ada anak yang memiliki kecacatan fisik namun nilai akademiknya memuaskan. Kecacatan yang diderita anak akan mempengaruhi psikologisnya, diantaranya:

              –  sulit bergaul karena memiliki perasaan malu dan minder akan kekurangannya,

              –  ada perasaan takut diejek teman,

              –  merasa tidak sempurna dibandingkan dengan teman-teman lain.

               

              Perasaan yang menghantui anak dapat membuat prestasinya menurun. Namun ada juga anak yang menjadikan kekurangannya sebagai motivasi untuk maju. Cacat fisik membuat anak tidak dapat malakukan aktivitas belajar di sekolah dengan baik, sehingga perlu disediakan sekolah yang bisa menampungnya sesuai dengan cacat yang disandang. Misalnya bagi penyandang tuna netra bersekolah di SLBA, tuna rungu bersekolah di SLBB, dan sebagainya.

              Faktor psikologis

              Faktor psikologis adalah faktor yang berasal dari keadaan psikologis anak yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis utama yang mempengaruhi proses belajar anak adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.

              –  Kecerdasan/ intelegensi siswa

              Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ tubuh lainnya. Namun bila dikaitan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan dengan organ lain, karena fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi dari seluruh aktivitas manusia.

              Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar anak, karena  menentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi intelegensi seorang individu, semakin besar peluang individu untuk meraih sukses dalam belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain seperti orang tua, guru,dan sebagainya. Sebagai faktor psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru professional, sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasannya.

              Para ahli membagi tingkatan IQ menjadi bermacam-macam, salah satunya adalah penggolongan tingkat IQ berdasarkan tes Stanford-Biner yang telah direvisi oleh Terman dan Merill sebagai berikut (Fudyartanto 2002):

              Tingkat Kecerdasan (IQ) Klasifikasi
              140-169 amat superior
              120-139 superior
              110-119 rata-rata tingi
              90-109 rata-rata
              80-89 rata-rata rendah
              70-79 batas lemah mental
              20-69 lemah mental

              Pemahaman tentang tingkat kecerdasan individu dapat diperoleh orang tua dan guru atau pihak-pihak yang berkepentingan melalui konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Sehingga dapat diketahui anak didik berada pada tingkat kecerdasan yang mana. Informasi tentang taraf kecerdasan seseorang merupakan hal yang sangat berharga untuk memprediksi kemampuan belajar seseorang. Pemahaman terhadap tingkat kecerdasan peserta didik akan membantu mengarahkan dan merencanakan bantuan yang akan diberikan kepada siswa.

              –  Motivasi

              Motivasi adalah salah satu factor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasi yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan perilaku seseorang.

              Keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri anak yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai motivasi belajar. Dari sumbernya motivasi dibedakan menjadi: motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik adalah semua factor yang berasal dari dalam individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Dalam proses belajar, motivasi intrinsik relatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari luar (ekstrinsik).

              Menurut Arden N. frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar antara lain:

              1. Dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas
              2. Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan kegiatan untuk maju.
              3. Adanya keinginan untuk mancapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting. Misalnya: orang tua, saudara, guru, teman, dan sebagainya.
              4. Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain.

              Motivasi ekstrinsik adalah anak memulai dan meneruskan kegiatan belajar berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaian dengan kegiatan belajar itu sendiri. Yang tergolong bentuk motivasi belajar ekstrinsik antara lain:

              1. Balajar demi memenuhi kewajiban.
              2. Menghindari hukuman.
              3. Memperoleh hadiah material yang telah dijanjikan oleh orang tua.
              4. Meningkatkan gengsi dari orang lain.
              5. Memperoleh pujian dari orang lain.
              6. Tuntutan jabatan yang diinginkan.

              Bentuk motivasi belajar intrinsik dapat ditingkatkan menjadi motivasi berprestasi, yaitu daya penggerak dalam diri siswa untuk mencapai taraf prestasi belajar yang setinggi mungkin, demi penghargaan kepada diri sendiri. Jadi hasrat berprestasi tinggi bukan menurut ukuran dan pandangan sendiri.

              –  Minat

              Secara sederhana minat merupakan kecenderungan kegairahan yang tinggi atau besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003) minat bukanlah istilah yang populer dalam psikologi karena disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keinginan, motivasi, dan kebutuhan.

              Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan disampaikan dengan cara.

              Membuat menarik materi

              Materi bisa dibuat menarik melalui bentuk buku materi, desain pembelajaran, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, dan guru juga harus memperhatikan performansi saat mengajar.

              Pemilihan jurusan atau bidang sekolah

              Pemilihan sebaiknya diserahkan pada siswa, sesuai dengan minatnya.

              –  Sikap

              Dalam proses belajar sikap dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajar. Sikap adalah gejala internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Shay,2003).

              Sikap siswa dalam belajar dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negatif dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang profesional dan bertanggungjawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan profesionalitas seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi  siswanya, berusaha mengembang kepribadian sebagai seorang guru yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya, berusaha untuk menyajikan pelajaran yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan, meyakinkan siswa bahwa bidang studi yang dipelajarinya bermanfaat bagi siswa.

              –  Bakat

              Faktor psikologis lain yang mempengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum bakat didefisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaian dengan belajar, Slavin(1994) mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seseorang siswa untuk belajar. Dengan demikian bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.

              Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Karena itu bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu untuk melakuakan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan latihan. Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap informasi yang berhubungan dengan bakat yang dimilikinya. Misalnya siswa yang berbakat dibidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa yang lain selain bahasanya sendiri.

              Selain itu yang menjadi faktor psikologis lainnya adalah disiplin. Disiplin diri adalah kemampuan diri yang kuat untuk mempertahankan diri dari bermacam-macam gangguan dalam belajar. Misal, seorang anak akan tetap belajar walaupun ada acara televisi yang menarik.

              Faktor Eksternal

              Selain faktor internal, faktor eksternal juga dapat mempengaruhi proses belajar anak. Faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi faktor lingkungan sosial dan non-sosial (Syah, 2003):

              Lingkungan sosial

              Lingkungan sosial anak dapat menimbulkan kesulitan dalam  belajar. Linkungan sosial dibagi manjadi tiga, yaitu:

              Lingkungan sosial sekolah

              Pendidikan di sekolah bukan sekedar bertujuan untuk melatih siswa supaya “siap pakai” untuk kerja atau mampu meneruskan ke jenjang pendidikan berikutnya atau mencapai angka rapor, melainkan untuk membentuk peserta didik manjadi manusia sejati. Proses pembentukan manusia sejati sudah mulai sejak anak hidup dalam keluarga, kemudian dilanjutkan di sekolah, di masyarakat, di dunia kerja dan di lingkungan sekitar.

              Di sekolah, untuk membentuk manusia sejati ada salah satu harapan dari pendidik yaitu Self Regulated Learner (SRL). SLR adalah murid-murid yang memiliki kemampuan belajar tinggi dan disiplin sehingga mereka membuat belajar itu lebih mudah dan menyenangkan. Namun harapan itu tidak akan terwujud jika lingkungan sekolah seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas tidak mendukung. Faktor-faktor yang dapat menghambat anak belajar di sekolah adalah:

              • Metode mengajar

              Dalam mengajar guru memerlukan metode yang cocok. Metode ini dimaksudkan agar materi yang disampaikan oleh guru terasa menarik dan siswa mudah menyerapnya.

              • Kurikulum

              Kurikulum yang kurang  tepat dapat menjadi salah satu faktor yang dapat menimbulkan kesukaran belajar. Kurikulum sangat penting dan selalu ada dalam sebuah instansi pendidikan. Kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan psikologi anak.

              • Penerapan disiplin

              Disiplin dalam sebuah sekolah sangat diperlukan untuk meengontrol kegiatan siswa di sekolah. Namun kedisiplinan yang terlalu ketat akan membuat siswa merasa terkekang dan merasa ruang geraknya dibatasi.

              • Hubungan siswa dengan guru maupun teman

              Suasana sebuah kelas didukung oleh peran guru dan anggota kelas. Jika suasana kelas tidak mendukung, maka dapat menghambat proses belajar anak. Hubungan siswa dengan guru, siswa dengan teman juga perlu dibangun sedemikian rupa sehingga tercipta suasana ynag baik dan nyaman bagi siswa, sehingga mereka betah menjadi bagian dari kelas.

              • Tugas rumah yang terlalu banyak

              Guru memberikan tugas untuk siswa merupakan hal yang wajar. Tetapi siswa akan merasa jenuh dengan tugas yang terlalu banyak. Bagi sebagian siswa tugas merupakan beban. Hal seperti inilah yang akan menghambat proses belajar anak.

              • Sarana dan prasarana

              Keberhasilan belajar anak juga didukung oleh sarana dan prasarana yang ada. Sarana dan prasarana yang memadai juga membantu tercapainya hasil belajar yang maksimal.

              2. Lingkungan sosial masyarakat

              Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa juga mempengaruhi proses belajar anak. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran, dan banyak teman sebaya di lingkungan yang tidak sekolah dapat menjadi faktor yang menimbulkan kesukaran belajar bagi siswa. Misalnya siswa tidak memiliki teman belajar dan diskusi maka akan merasa kesulitan saat akan meminjam buku atau alat belajar yang lain.

              3.  Lingkungan keluarga

              Keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar. Oleh karena itu, lingkungan keluarga sangat mempengaruhi proses belajar anak. Faktor dari keluarga yang dapat menimbulkan permasalahan belajar anak adalah:

              • Pola asuh orang tua

              Setiap orang memiliki pola atau cara yang berbeda dalam mendidik anak. Pola asuh yang selalu mengekang anak akan membuat anak sulit dan bahkan tidak dapat mengembangkan kemampuan dan bakat yang dimiliki.

              • Hubungan orang tua dan anak

              Hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan anak akan membuat anak tidak betah di rumah. Dengan begitu anak tidak akan bisa melaksanakan aktivitas belajarnya dengan baik.

              • Keadaan ekonomi keluarga

              Meskipun tidak mutlak, perekonomian keluarga dapat menjadi salah satu penghambat anak. Ada kemungkinan anak menjadi minder dan malu bergaul dengan teman karena masalah ekonomi keluarganya. Dengan perasaan minder anak akan mudah tersinggung, kecil hati, dan sebagainya. Akhirnya hal tersebut akan mempengaruhi hasil belajar anak.

              • Keharmonisan keluarga

              Keluarga yang tidak harmonis akan memberi dampak negatif pada anak dalam belajar. Pertikaian atau cek-cok ayah dan ibu akan membuat anak merasa terbebani sehingga anak menjadi kurang semangat dalam belajar.

              • Kondisi rumah

              Kondisi rumah yang kurang memadai akan membuat anak kesukaran dalam belajar. Letak rumah juga berpengaruh pada proses belajar anak. Rumah yang terlalu dekat dengan jalan raya kurang efektif untuk belajar anak.

              Teman sebaya

              Teman sebaya dapat mempengaruhi proses belajar anak, baik teman sebaya dalam lingkup sekolah maupun tempat tinggal atau masyarakat. Pada usia anak-anak dan remaja, jiwa yang dimiliki masih labil, emosional, pemarah, dan juga rasa egois sangat besar. Biasanya tejadi kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh teman sebaya atau kawan bermain. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan atau bahkan persaingan yang menimbulkan sikap saling mengejek, mendorong, memukul bahkan kekerasan verbal.

              Kekerasan sebagai gangguan emosi pada dasarnya tidak hanya menyerang orang lain, tetapi juga menyerang diri sendiri. Persoalan kekerasan dilihat dari lapangan psikologi pendidikan mencoba mengarahkan pada lingkungan sekolahtempat anak belajar berinteraksi dengan teman sebaya.

              Interaksi sosial yang tidak sehat antar teman sebaya di sekolah dipengaruhi faktor lingkungan dari luar yang dibawa ke sekolah oleh peserta didik yang berujung pada tindakan kekerasan. Belajar yang tidak menyenangkan juga membuat anak merasa tertekan dan bertindak nakal. Sebenarnya kekerasan yang terjadi di kalangan siswa dibentuk dari pengalaman-pengalaman lama.

              Teman sebaya  yang seharusnya bisa untuk memperoleh informasi dan perbandingan tentang dunia sosisal, prinsip keadilan malalui konflik yang terjadi dengan teman, bisa untuk belajar tentang konsep gender juga dapat berpengaruh negatif bagi anak. Misalnya kebiasaan-kebiasaan buruk yang dimiliki kawan sebayanya akan mudah mempengaruhi diri anak. Kebiasaan buruk yang mudah ditiru biasanya dari ucapan atau tindakan.

               

              1. Lingkungan non-sosisal

              Faktor yang termasuk lingkungan non-sosial adalah

              Lingkungan alamiah

              Yang dimaksud dengan lingkungan alamiah adalah kondisi yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar tidak terlalu silau, tidak terlalu gelap, dan tenang.

              1. Instrumental

              Instrumental dapat digolongkan dua macam:

              Hardware

              Yang termasuk perangkat hard ware adalah gedung sekolah, alat, fasilitas, sarana prasarana belajar, dan sebagainya.

              Software

              Yang termasuk perangkat software dalam pendidikan adalah kurikulum sekolah, peraturan, buku panduan, silabus, dan sebagainya.

              Cara Mengatasi Hambatan Belajar

              Saat timbul hambatan dalam belajar, hambatan tersebut harus segera diatasi. Dengan diatasi hambatan tersebut maka proses belajar dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai hasil belajarr yang maksimal. Cara mengatasi hambatan belajar dapat di mulai dari diri anak, keluarga, dan sekolah.

              Diri anak

              1.      Menjaga kesehatan jasmani.

              2.      Menumbuhkan rasa percaya diri.

              3.      Membangun motivasi diri.

              4.      Belajar berinteraksi dengan lingkungan.

              5.      Belajar menjaga emosi.

              6.      Menerima keadaan (ekonomi, jasmani,dll).

              Keluarga

              1.      Memberi teladan dalam sikap dan tingkah laku kepada anak.

              2.      Menjaga keharmonisan keluarga.

              3.      Menyediakan waktu untuk mendampingi anak dalam belajar

              4.      Megusahakan kesehatan anak, misalnya dengan makanan bergizi.

              5.      Melatih anak dengan mengerjakan pekerjaan rumah (menyapu, mencuci piring, dll).

              6.      Meminimalkan untuk membandingkan anak dengan anak yang lain.

              7.      Mencukupi fasilitas dan saran prasarana belajar.

              8.      Mambangun dan memberi motivasi anak.

              Sekolah

              1.    Guru mangendalikan diri (emosi) saat mengajar.

              2.    Guru menjaga kedekatan dengan siswa maupun orangtua siswa.

              3.    Guru bersikap adil pada semua siswa.

              4.    Guru memberikan motivasi siswa, misalnya dengan pujian, dan sebagainya.

              5.    Guru mamberikan teladan yang baik pada siswa.

              6.    Guru mengajar dengan menggunakan metode yang menyenangkan.

              7.    Guru melihat kelemahan masing-masing siswa, misalnya ada siswa yang cacat fisik letak posisi duduk di depan.

              8.    Guru mamberi tugas sesuai dengan kemampuan siswa.

              9.    Lingkungan yang nyaman untuk belajar siswa.

              10.  Memberikan kelonggaran tata tertib, namun tetap disiplin.

              PENUTUP

              Kesimpulan

              Dalam kegiatan belajar, sering timbul permasalan atau hambatan pada anak. Permasalahan belajar dapat timbul dari dalam diri anak sendiri (internal) maupun dari luar (eksternal). Hambatan internal meliputi fisiologis, biologis dan psikologis anak, mulai dari kecerdasan, motivasi, minat, sampai bakat si anak. Sedangkan hambatan eksternal meliputi linkungan social maupun lingkungan non-sosial.

              Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal, hambatn belajar tersebut harus diatasi. Berbagai hambatan yang timbul saat belajar dapat diatasi mulai dari diri anak sendiri, keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

              Saran

              Tenaga pendidik, guru maupun orang tua harus mengerti kemampuan anak. Dalam belajar anak harus didampingi dan dalam mendidik harus menyesuaikan dengan keadaan anak. Dalam belajar anak memiliki kebebasan untuk memilih, namun juga harus mengikuti aturan yang ada.

              Untuk siswa yang mengalami hambatan belajar juga harus sadar dan memiliki semangat untuk belajar, karena belajar merupakan bekal untuk masa depan. Siswa harus menjaga kesehatan, hubungan dengan guru, teman, dan keluarga dengan baik agar batin tidak terbebani sehingga dapat belajar dengan baik.

               

              DAFTAR PUSTAKA

              Idris, H. Zahara. 1992. Pengantar Pendidikan 1. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

              Koes, Partowisastro. 1982. Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar Jilid 2. Jakarta: Erlangga

              Monks, F. J, dkk. 1994. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

               

              Soejanto, Stefanus Sandjaja. 2005. Bimbingan di Sekolah Dasar: Buku Pegangan Kuliah Mahasiswa. Semarang: Universitas katolik Soegjapranata.

              Sukaji, S. 1998. Keluarga dan Keberhasilan Penelitian. Depok: Undat Fakultas Psikologi.

              Suryabrata, S. 1993. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

              Yusuf, A. Muri. 1986. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Ghalia Indonesia.