nyala satu menjadi seribu

Sabtu sore itu Sabtu suci. Ketika hujan seorang gadis berpayung suci berjalan perlahan menuju rumah si Dia Yang Maha OK. Tak tahu tujuan hatinya, mungkin hanya formalitas setiap tahun. Ketika Paskah datang ya pergilah dia ke gereja. Seperti minggu-minggu biasanya. Minggu ya ke gereja . . . males ya bolos gereja.

Ketika di rumahNya

Di sana ia belajar untuk saling berbagi. Ketika nyala satu lilin menjadi seribu, di situ ada sesuatu yang bernama “saling berbagi”. Dengan sesuatu itu maka semua akan terasa satu, indah, terang, dan nyaman. Tanpa sesuatu itu, maka sebaliknya . . . dunia serasa sepi, hampa, dan tak bergairah. Maka berbagilah!!!

Ketika di RumahNya

Di sana ia belajar dari yang kumal, dari yang berambut gondrong tak terurus. Ia mengerti bahwa Dia tidak goblok, namun Dia amat sangat OK. Dia rela di hina dan tersiksa, demi kita. Belajarlah dari Dia!!!

Dan ketika gadis itu berkali-kali mendengarkan cerita yang sama tentang Dia, sampai saat ini dia hanya sebatas kagum. Dia tahu pengorbananNya, dia tahu betapa sengsaraNya, namun belum sepenuhnya hidup dalam Dia. OoooOOooohhh gadis berpayung . . . gadis biasa . . . gadis berawan. Hiduplah dalam Dia!!!

4 thoughts on “nyala satu menjadi seribu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s