DEBAT

I. PENGANTAR

Debat seringkali dicampuradukkan banyak orang dengan diskusi, walaupun ada perbedaan besar lain metode, lain maksud, lain pula hasilnya. Persamaan antara kedua bentuk pembicaraan itu hanyalah bahwa keduanya merupakan tukar menukar pikiran secara teratur.Penulis bermaksud secara singkat menjelaskan beberapa pengertian tentang debat dan seluk beluknya ( Kursus Kader Katolik, 1970 : 4).

 

II. PENGERTIAN

Debat merupakan suatu argumen untuk menentukan baik tidaknya suatu usul tertentu yang didukung oleh suatu pihak yang disebut pendukung atau afirmatif, dab ditolak, disangkal oleh pihak lain yang disebut penyangkal atau negatif ( Tarigan, 1984 : 86). Pengertian lain tentang debat adalah suatu proses komunikasi lisan, yang dinyatakan dengan bahasa untuk mempertahankan pendapat ( Dispodjojo, 1984 : 47 ).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2003 : 242 ) debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Menurut Dori Wuwur dalam bukunya Retorika (1991:120) debat adalah saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia dengan tujuan mencapai kemenangan untuk satu pihak. Menurut Kamdhi (1995:24-26) debat adalah suatu pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai suatu pokok masalah dimana masing-masing peserta memberikan alasan untuk mempertahankan pendapatnya.

 

II. UNSUR-UNSUR DEBAT

a. Unsur debat secara khusus

Dalam debat unsur subjektif sangat berpengaruh; maksudnya sering perasaan orang dan emosi lebih mendasari suatu pandangan daripada fakta. Jadi, tidak jarang perdebatan sewaktu-waktu menruncing menjadi panas, khususnya dalam perdebatan ideologis. Orang mudah dikuasai oleh emosi dan tidak lagi berpikir secara rasional. Maka tak heran jika mereka mulai bersikeras dan bersitegang mempertahankan pandangan atau gagasannya, meskipun secara objektif hal itu kurang penting (Kursus Kader Katolik, 1970 : 6 ).

b. Unsur umum debat

Unsur umum debat sama dengan unsur public speaking, tetapi ada beberapa perbedaan dalam debat yaitu :

  1. materi/tema debat : pokok pembicaraan yang akan dibahas dalam debat.
    1. tema : ide pokok yang menjadi bahan debat
    2. tujuan : untuk kemenangan, mempertahankan argumen atau pendapat
    3. langkah-langkah: terdiri dari orientasi, pengumpulan fakta, pembahasan, dan penyimpulan.
    4. tata tertib: peraturan-peraturan yang diterapkan dalam pelaksanaan debat.
  2. personalia; terdiri dari :
    1. panitia : terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara.
    2. debat; di dalamnya terdapat :
    3. moderator : orang yang mengatur jalannya debat
    4. pihak penyanggah : pihak yang tidak setuju dengan pihak pendukung
    5. pihak pendukung : pihak yang mendukung (pihak yang pro)
    6. juri : orang yang memberi penilaian jalannya debat
    7. publik : orang yang mengikuti jalannya debat
    8. penyedia dana : orang yang menyediakan dana untuk jalannya diskusi
    9. MC (jika diperlukan): memandu acara dari awal hingga akhir
  3. fasilitas ; meliputi :
    1. lingkungan
    2. ruang
    3. sound system
    4. media (OHP, sarana dan prasarana)

 

III. MACAM-MACAM DEBAT

Menurut Dispodjojo dalam bukunya Komunikasi Lisan ( 1984 : 48-60 ), macam debat berdasarkan bentuknya dibedakan atas

1. Debat Tradisional

Debat bentuk ini banyak dilakukan diberbagai tempat misalnya di dalam masyarakat atau suatu kelompok terdapat suatu permasalahan yang dipandang perlu dibicarakan secara umum dan terbuka agar masyarakat dapat memahaminya dan dapat menentukan pendiriannya terhadap masalah tersebut.

2. Debat Berseling

Debat berseling disebut juga The Cross-Examination Debate atau disebut juga The Oregeon Plan of  Debate. Pelaksanaan debat bentuk ini berbeda dengan Debat Tradisional, sebab pada Debat Berseling setelah setiap pembicara dari kelompok pembicara selesai berbicara, anggota dari kelompok lawan langsung diberi kesempatan mengajukan pertanyaan terhadap uraian yang baru saja diutarakan oleh lawan bicara.

3. Debat Langsung

Debat Langsung ini disebut juga dengan istilah The Direct Clash Debate.

Bentuk ini mempunyai dua ciri khusus :

(1).  Kedua kelompok yang akan berdebat setelah mengutarakan pandangannya mengenai judul debat menentukan masalah-masalah apa saja yang perlu dibicarakan berhubungan dengan judul debat itu, bagaimana urutan masalah yang akan diperdebatkan.

(2).   Dalam debat itu Moderator menentukan penilaiannya kelompok mana yang menang dalam memperdebatkan masalah yang telah mereka setujui, setiap selesai memperdebatkan tiap masalah.

4. Debat Kelompok Terpisah

Debat dalam bentuk ini juga disebut The Split Team Debate, dilakukan untuk perdebatan antara kelompok satu dengan kelompok yang lain, boleh juga antara sekolah, Fakultas, Universitas dengan sekolah, Fakultas atau Universitas yang lain, tetapi dalam pelaksanaan debat kelompok itu dipisah-pisahkan. Artinya semua anggota dari kelompok mana saja yang menyetujui gagasan yang terumuskan dalam judul debat sama-sama membentuk satu kelompok yang dinamai Kelompok Pendukung, dan siapa saja yang tidak menyetujui gagasan yang terumuskan dalam judul debat itu terkumpul menjadi satu dan membentuk Kelompok Penyanggah.

5. Debat dengan Menjegal

Debat ini juga disebut dengan The Heckling Debate. Disebut demikian karena setiap pembicara sewaktu mengutarakan pendapatnya dapat dipotong dengan pertanyaan oleh kelompok lawan, setelah melampaui batas waktu bicara minimal yang ditentukan. Mereka yang berdebat juga terdiri atas dua kelompok: Kelompok Pendukung dan Kelompok Penyanggah.

6. Debat Pemecahan Masalah

Debat macam ini disebut juga dengan nama The Problem Soulving Debate. Perbedaan yang segera tampak pada debat semacam ini adalah kelompok yang berdebat tidak dibedakan dengan Kelompok Pendukung dan Kelompok Penyanggah. Tetapi kelompok-kelompok itu dibedakan dengan nama mungkin kelompok satu atau kelompok dua. Debat macam ini tidak ditemukan preposisi , ialah suatu pernyataan yang harus dipertahankan atau diserang tetapi hanya terdapat suatu masalah yang tersusun, dalam bentuk kalimat tanya.

 

Menurut Tarigan dalam bukunya Berbicara Sebagai Keterampilan Berbahasa           ( 1984: 90-92 ), juga membagi macam debat berdasarkan bentuk, maksud dan metodenya maka dapat diklasifikan atas tipe-tipe atau kategori, sebagai berikut :

1. Debat Parlementer atau Majelis ( Assembly or Parlementary Debating )

Maksud dan tujuan Debat Majelis atau Parlementer adalah untuk memberi dan menambahi dukungan bagi suatu Undang-Undang tertentu dan semua anggota yang indin menyatakan pandangan dan pendapatnyapun berbicara mendukung atau menentang usul tersebut setelah mendapat ijin dari Majelis.

2. Debat Pemeriksaan Ulangan untuk Mengetahui Kebenaran Pemeriksaan Terdahulu  ( Cross-Exemanation Debating )

Maksud dan tujuan perdebatan ini ialah mengajukan serangkaian pertanyaan yang satu sama lain erat berhubungan, yang menyebabkan para individu yang ditanya menunjang posisi yang hendak ditegakkan dan diperkokoh sang penanya.

3. Debat Formal, Konvensional atau Debat Pendidikan ( Formal, Conventional, or educational Debating ).

Tujuan debat formal adalah memberi kesempatan bagi dua tim pembicara untuk mengemukakan kepada para pendengar sejumlah argumen yang menunjang atau membantah suatu usul.

 

Menurut Dori Wuwur (1991: 121-123) macam debat ada dua macam yaitu :

1. Debat Inggris

Terbagi menjadi dua macam yaitu debat tertutup maksudnya setiap orang hanya berbicara satu kali, oleh karena itu pembicara harus menyiapkan diri dan menyusun jalan pikirannya secara cermat. Debat yang selanjutnya adalah debat terbuka maksudnya orang dapat berbicara lebih dari satu kali. Sesudah semua peserta berbicara, kedua pembicara pertama dari masing-masing kelompok menyampaikan kata penutup.

2. Debat Amerika

Debat ini dilakukan oleh dua regu yang berhadapan, tapi masing-masing regu menyiapkan tema melalui pengumpulan bahan sevara telitidan penyusunan argumentasi yang cermat. Para anggota anggota debat ini adalah orang-orang ynag terlatih dalam seni berbicara, semua berdebat didepan sekelompok Juri dan public umum.

 

IV. TAKTIK-TAKTIK DALAM DEBAT

Menurut Kursus Kader Katolik dalam buku Taktik Berdebat (1970 : 17-89 ) adapun taktik debat seperti berikut :

  1. Menolak argumentasi lawan
    1. isi ditolak langsung

Maksud metode ini : menghindari si lawan, agar ia jangan sampai mengemukakan pendapatnya secara lengkap dan meyakinkan. Dengan menyangkal fakta, yang merupakan dasar pendapatnya, dia terpaksa membuang waktu yang berharga itu untuk hal-hal yang remeh. Jadi dia tidak sampai sasarannya.

Debat ini biasanya digunakan :

a.1  dalam pengadilan khususnya oleh pembela.

a.2  untuk menolak permintaan yang belum mau dikabulkan.

a.3 sebagai pembelaan diri untuk melemahkan serangan lawan, jika diketahui        bahwa si lawan sesungguhnya tidak mempunyai bukti bagi tuduhannya.

 

  1. isi ditolak secara tidak lansung.

Metode ini disebut juga dengan “ pisau analisa “ yaitu : menyerang pendapat lawan secara tidak langsung, dengan menariknya dari pokok persoalan kepada segi-segi khusus dan detail-detail yang diketahui lebih baik karena keahlian, pengalaman dan persiapan yang teliti.

Debat ini biasanya digunakan :

b.1  kalau kita menguasai persoalan yang dibicarakan itu, atau kita ahli dalam  bidang itu dan lawan tampaknya mengerti sepotong-sepotong saja.

b.2   jika kita punya waktu yang cukup, karena dalam debat ini butuh waktu yang agak panjang dalam menguaraikan salah satu segi dan dibuat sedemikian rupa, sehingga lawan menjadi lelah serta kehilangan semangat untuk mengejar maksudnya.

 

  1. Menggunakan Argumentasi Lawan Sendiri
    1. Melebih-lebihkan

Maksud metode ini adalah dari gagasan atau maksud atau ucapan lawan masuk akal atau tidak masuk akal ditarik konsekuensi secara berlebih-lebihan sehingga menuju pada suatu kesimpulan yang pasti tidak masuk akal, atau “ absurd “.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :

a.1 jika apa yang dikemukakan lawan itu logis dan beralasan, sehingga  menyerangnya langsung tidak banyak gunanya.

a.2 jika kita tidak bermaksud menanggapi ucapan atau pendapat lawan secara serius, meskipun apa yang dikatakannya itu memang tepat.

a.3 jika maksud atau gagasan lawan itu menimbulkan konsekuesi yang positif dan negatif.

 

  1. Mengubah ucapan lawan sedikit.

Maksud metode ini membuat pandangan atau usul pihak lawan itu sebagai objek yang mudah dapat diserang yaitu dengan cara mengubah arti ucapan atau pandangan lawan dan kemudian arti atau ucapan yang telah diubah itu diserang sampai hancur.

 

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :

b.1 dalam politik bahan debat sering dikaitkan dengan alasan emosionil.

b.2 lawan mengemukakan pendapat atau serangan secara samar-samar (berdwi –arti) sehingga mudah ditafsirkan berbeda-beda dan dipilih segi yang menjatuhkannya.

 

  1. Menunjuk Segi atau Sudut Lain dari Pendapat atau Argumen Lawan.
    1. Tiada gading yang tak retak

Maksud metode ini menjatuhkan pendapat atau gagasan atau tindakan lawan, yang berat sebelah hanya memandang dari satu sudut yang menguntungkan dirinya sendiri dengan mengemukakan segi-segi lain dari pendapat atau maksudnya itu, yang belum ditinjau, agar gambaran yang lebih lengkap memperlihatkan secara jelas kelemahan pendapat atau gagasan lawan itu.

Metode ini digunakan dalam kesempatan :

a.1 jika lawan mengemukakan gagasan atau maksud atau pandangannya yang berat sebelah.

a.2 pada debat-debat politik pernilaian atas sesuatu hal yang sama sering dapat berbeda selaras dengan sudut pandangan masing-masing pihak yang berlawanan.

a.3 dalam propaganda, kampanye atau perang iklan masing-masing pihak berusaha memuji-muji “obatnya” sendiri dan kadang-kadang memburuk-burukan pihak lain.

 

b. Berdialektika

Maksud metode ini melemahkan pendapat atau gagasan atau tindakan lawan dengan mengemukakan pandangan atau gagasan yang bertentangan meskipun dalam kedua-duanya terdapat segi-segi kebenaran.

 

 

Metode ini dapat digunakan dalam :

b.1 debat mengenai soal-soal ilmiah dan poltik, dimana hampir selalu terdapat pandangan yang bertentangan.

b.2 kita berusaha mencari kompromi dengan pihak lawan.

b.3 kita mengadakan pertentangan semu (paradoks)

 

4.   Mengalihkan pokok pembicaraan kepada hal-hal lain

a. melarikan diri pada hal-hal umum

Maksud metode ini mengalihkan perhatian dari persoalan lawan yang khusus kepada persoalan atau pandangan yang umum atau latar belakang atau situasi yang umum yang tidak dimaksudkan oleh lawan itu.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan:

a.1  jika segolongan tidak mau menanggapi kritik yang dilontarkan pihak lawan meskipun ada segi benar dan penting.

a.2 jika kritik atau serangan lawan memang beralasan, tetapi tidak mau membebaskan diri dari kesalahan atau kekurangan kita itu.

 

b.“jikalau” dan “akan tetapi”

Maksud metode ini adalah menolak secara tak langsung pendapat atau usul atau rencana lawan dengan mengemukakan kemungkinan-kemungkinan, yang tidak diinginkan, atau sekurang-kurangnya melemahkan segi baik daripada pendapat, usul atau rencana lawan itu.

Taktik ini digunakan dalam hal :

b.1 menolak secara tak langsung atau secara halus perintah atau permintaan seseorang.

b.2 menguji pendapat atau usul atau rencana lawan dengan mengambil suatu kemungkinan.

c. salah tarik

Maksud metode ini merupakan penarikan kesimpulan yang seolah-olah nampak benar namun sesungguhnya salah, karena menjadikan sesuatu yang khusus menjadi dasar hukum yang seakan-akan berlaku umum.

Metode ini digunakan dalam kesempatan :

c.1 lawan mengemukakan pendapat atau gagasan atau argumennya berdasarkan beberapa kejadian atau pengalaman saja.

c.2 kita ingin memojokkan lawan dengan menjatuhkan pendapat atau gagasan atau argumennya atau yang didasarkan atas suatu penarikan kesimpulan (induksi) yang tepat.

c.3 pendapat atau argumen lawan yang hanya berdasarkan pengetahuan yang tidak dialaminya sendiri tetapi didapatnya dari orang lain atau bacaan-bacaan, dapat dilemahkan dengan mengemukakan pengalaman pribadi tentang hal itu.

 

  1. mencap

Maksud metode ini adalah menyerang pendapat atau ucapan atau argumen lawan dengan mencap pandangan atau pribadi daripada si lawan itu sebagai penganut aliran, golongan, ideologi yang buruk di mata masyarakat.

Taktik mencap ini digunakan dalam debat politik, ideologis, antar golongan yang sering disertai unsur-unsur emosional.

e. mensitir

Maksud metode ini adalah menunjuk pendapat/tulisan/ucapan orang-orang terkemuka atau berkuasa lebih mudah dipercayai dan diakui sesuatu yang benar.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :

e.1 dalam debat-debat ilmiah, politik, dan kebudayaan, dimana ucapan atau pendapat para terkemuka atau orang berkuasa dalam bidang itu memegang peranan penting.

e.2 jika si lawan mengemukakan pandangan atau usul yang baru atau menyimpang dari pendapat atau gagasan kelompok atau lingkungan hidupnya.

e.3 jika lawan itu seorang yang plin-plan ucapan atau pendapatnya mudah berubah-ubah, tidak memiliki pendirian konsekuen.

 

f. main tersinggung

Maksud metode ini adalah :

  1. mengalihkan jalannya debat yang bersifat zakelijk * menjadi suatu pertentangan pribadi, supaya perdebatan dibelokkan keluar dari isi pokok semula.
  2. menyinggung lawan secara tak langsung melalui “sindiran”, yang memang dimaksudkan untuk memancingnya. Kalau lawan terpancing maka tercapailah maksud.

Taktik ini dapat digunakan dalam kesempatan :

f.1 jika sesorang ingin mencari alasan dari ucapan atau argumen lawan yang bersifat zakelijk guna mencapai tujuannya yang bersifat pribadi.

f.2 jika seseorang merasa segan untuk mengemukakan pendapat atau argumen secara terang-terangan karena dia dapat dicap berlaku kasar.

f.3 jika sindiran-sindiran lawan cukup serius dan perlu dilayani, agar tidak merugikan pihak kita sendiri maka taktik lawan tadi dapat ditanggapi.

 

  1. Menghindari tema atau pokok pembicaraan yang di kemukakan lawan
    1. Menolak Tema

Pokok persoalan atau tema yang dikemukakan lawan ditolak atau dihindari,. Penolakan atau penghindaran tema itu berdasarkan dua alasan :

  1. Tema itu tidak berguna didebatkan sekarang hanya akan membuang-buang waktu  saja.
  2. Tema itu melemahkan posisi kita, karena belum siap, belum mempelajarinya secara mendalam, merugikan kepentingan diri atau kelompok kita.

 

 

 

* zakelijk ( Bel ) : sikap/tindakan yang didasarkan atas fakta dan hubungan yang rasional tanpa menonjolkan segi emosional.

Taktik ini sebaiknya digunakan dalam kesempatan :

a.1 kalau sejak semula telah kita lihat, bahwa tema itu tidak membawa hasil yang nyata atau hanya akan membuang-buang waktu saja.

a.2 kalau soal itu sendiri memang penting, tapi kita belum siap atau tidak memiliki pengetahuan, fakta, info, yang cukup tentang tema itu.

a.3 kalau tema yang dikemukakan lawan itu merugikan, sehingga kalah dalam pemungutan suara, tema itu membuka kelemahan intern (pecah belah intern belum di atasi) atau tema itu hanya isu yang sementara itu memberi untung atau angin kepada pihak lawan (suasana psikologis menguntungkan mereka).

b.Menyerang dari belakang

Maksud taktik ini adalah seolah-olah nampak sebagai suatu uraian yang mendalam, tetapi sesungguhnya hanya menyingkirkan pokok tema yang dikemukakan lawan.

Taktik menyerang dari belakang ini dapat dilakukan melalui tiga cara :

b.1   mengemukakan dasar sejarah, kebudayaan, geografis, yang melatar belakangi pandangan atau argumen lawan itu.

b.2  menunjukkan bahwa dasar yang melandasi pendapat atau argumen lawan itu sebenarnya.

    1. Melantur

Maksud dari metode ini adalah berbicara hilir mudik tanpa isi dan tujuan tertentu, sitir sana sitir sini ucapan-ucapan yang tidak berhubungan satu dengan yang lainnya.

Taktik melantur ini dapat digunakan dalam kesempatan dalam mengulur-ulur waktu dan menunda keputusan yang akan diambil, karena berbagai alasan.

    1. Caranya ditolak

Maksud metode ini: dengan menolak cara atau bentuk serangan lawan (A) berusaha menghindari perdebatan tentang isi pendapat atau serangan atau argumen dari lawan itu sendiri. Alasan pihak B untuk menghindari perdebatan dengan pihak A dapat berbeda-beda.

Taktik ini dapat digunakan dalam kesempatan-kesempatan:

d.1. Dipengadilan, pembela dapat menolak caranya tuntutan dikemukakan dan minta kepada hakim untuk mengundurkannya, karena dia belum diberi waktu secukupnya dan kebebasan yang sepenuhnya untuk berbicara dengan orang yang dibelanya.

d.2.  Lawan mengemukakan pendapat atau maksud atau permohonannya tidak sesuai dengan saluran atau prosedur yang resmi.

 

  1. Menyerang dengan semu
    1. Mengambil hati

Metode ini  tidak menyerang pihak lawan seperti metode-metode lainnya, tetapi lebih berusaha “ mengambil hatinya”, supaya dia  akhirnya melepaskan pendapat atau argumen dan menerima pandangan kita.

Taktik ini dapat digunakan pada kesempatan sebagai berikut:

a.1. kita berhapadan dengan orang yang lebih tua atau lebih tinggi jabatannya,begitu pula jika kita berdebat dengan orang yang memiliki nama baik atau ahli dalam bidang itu.

a.2. kita ingin menolak suatu usul atau permohonann orang lain tanpa meninggalkan satu kesan yang buruk pada diri orang itu terhadap diri atau kelompok atau perusahaan kita.

a.3.  kita ingin memohon suatu pertimbangan kembali atas putusan dari atasan, yang tidak diterima.

    1. Dilema semu

Maksud metode ini adalah membawa lawan kepada suatu keadaan, yang membuat dirinya serba salah: pilih ini salah, pilih itupun salah.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan:

b.1. kita ingin memojokkan lawan  kesuatu sudut, yang mematahkan sekalian argumennya. Lawan dipaksa untuk menyerah, mengalah atau mengakui kesalahannya.

b.2. kita ingin memaksa lawan mengikuti jalan pikiran kita, dengan mengemukakan dua pilihan, yang dua-duanya  yang akan menjatuhkan argumen lawan itu sendiri.

 

V. PERSIAPAN DEBAT

Menurut Tarigan dalam bukunya berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa (1984: 101-105) para anggota debat harusnya mempersiapan dua jenis pidato yang berbeda, yaitu :

  1. Pidato konstruktif: pidato yang membangun atau berguna.

Setiap anggota debat haruslah merencanakan suatu pidato konstruktif yang diturunkan dari argumen-argumen dan fakta-fakta dalam laporannya serta disesuaikan  atau diadaptasikan baik dengan kebutuhan-kebutuhan para pendengarnya maupun kepada argumen-argumen yang mungkin timbul dari para penyanggahnya.

  1. Pidato sanggahan, pidato tangkisan: pidato sangkalan.

Dalam pidato sanggahan tidak diperkenankan adanya argumen-argumen konstruktif yang baru, tetapi fakta-fakta tambahan demi memperkuat yang telah dikemukakan  dapat diperkenalkan dalam mengiktisarkan kasus tersebut.

 

Menurut Dispodjojo dalam bukunya komunikasi lisan (61-62) ada beberapa persiapan debat diantaranya:

  1. Menganalisis hakikat judul

Hendaknya dianalisis betul hakikat judul yang akan diperdebatkan, betulkan ia menguasainya, adakah preposisi debat itu bersifat politik, fakta ataukah penilaian.

  1. Meneliti.

Persiapan berikutnya ialah mencari dan mengevaluasi bukti-bukti yang akan dipilih sebagai alat pembuktian yang akan memperkuat kedudukannya dalam berdebat.

  1. Menyusun  persiapan

Kegiatan berikutnya mengumpulkan dan menyusun pendapat-pendapat dalam suatu pola tertentu yang disiapkan untuk menjadi bahan pembuktian dan pertahanan.

  1. Menduga-duga pendapat lawan.

Berdebat adalah akan menangkis pendapat lawan dan berusaha menyakinkan pendiriannya kepada lawan.

VI. PATOKAN DALAM BERDEBAT

Dalam berdebat ada enambelas patokan ynag depat digunakan (Dori Wuwur, 1991:123-125):

  1. Kita harus berkonsentrasi dan membataskan diri pada pokok pikiran lawan bicara yang menjadi titik lemah.
  2. Apabila posisi kita lemah maka kita tidak bisa mengemukakan argumentasi yang efektif, oleh karena itu kita harus selalu kemabali kepada titik lemah lawan bicara.
  3. Kita hanya boleh mengemukakan pembuktian apabila kita tahu pasti bahawa alasan lawan bicara tidak lebih kuat dari pada alasan kita.
  4. Apabila lawan menunjukkan argumentasi kita maka kita juga harus menunjukkan hal yang sama pada pihak lawan.
  5. Kita harus membedakan antara kesalahan yang terjadi antara hubungan dengan tata sopan santun dan kesalahan argumentatif yang dapat menjebak lawan bicara.
  6. Kita harus menunjukkan secara jelas kebenaran dan kekuatan kita, sebelum lawan melihat kelemahan kita.
  7. Pikiran atau ide itu tidak menentukan, yang menentukan adalah tindakan.
  8. Mempergunakan suatu perbandingan atau suatu ungkapan, seluruh pikiran nampak tidak berbobot.
  9. Orang menanggapi argumentasi lawan hanya terhadap apa ynag dikatakan pertama atau yang terakhir.
  10. Orang yang ingin menemukan kesalahan pada pikiran lawan bicara, dia harus menyingkap sesuatu yang tidak pernah dimunculakan dalam debat itu.
  11. Apabila lawan bicara mau mengemukakan suatu hal yang khusus, maka kita harus mencoba menggeneralisasikannya.
  12. Apabila ternyata bahwa pembuktian lawan itu kuat, maka kita harus mencoba memaparkannya kembali, tetapi dengan memanipulasikan akibat-akibatnya.
  13. Seringkali seseorang dapat berhasil menang dalam debat,apabila dia menyerang berbagai pendapat yang muncul dengan cara mengejek.
  14. Pengamatan yang tepat, pengertian yang dalam dan logika mengkarakterisasi suatu debat yang baik.
  15. Debat dilatarbelakangi oleh sifat ingat diri dan menuntut satu disiplin rohani-akademis yang tinggi.
  16. Berdebat berarti menundukkan lawan lewat argumentasi atau dengan kata lain menaklukan lawan bicara, tetapi dengan cara yang fair dan sportif sebagai mana pertandingan dalam olah raga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Dipodjojo, Asdi.1982. Komunikasi Lisan. Yogyakarta: PD. Lukman

Dori Wuwur, Henrikus. 1991. Retorika. Yogyakarta : Kanisius

Kamdhi, JS. 1995. Diskusi Yang Efektif. Cirebon : Kanisius

KKK.1970.Taktik Berdebat.Jakarta : K.m./CLC

Tarigan, Henry Guntur.1984. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung : Angkasa

 

9 thoughts on “DEBAT

    1. sama-sama.
      wah,tak ada teknik tentang itu . . . mungkin salah satu caranya Anda berdebat dengan penjual nasi ayam.
      Kalo Anda menang debat . . . boleh makan sepuasnya nasi+ayam.
      haahahahahhhhaaaaa

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s