aku luka ku tertawa

Sering merasa aneh dengan diri sendiri saat mengalami luka-tertawa. Di saat terluka aku tertawa, di saat tertawa sekaligus aku terluka. Aku sendiri menertawakan lukaku. Luka yang hanya karena hal kecil, yang bagiku pernah tak bermakna. Tapi sekarang? Aku luka-tertawa. Semua hanya dagelan hidup!!!

Iklan

DEBAT

I. PENGANTAR

Debat seringkali dicampuradukkan banyak orang dengan diskusi, walaupun ada perbedaan besar lain metode, lain maksud, lain pula hasilnya. Persamaan antara kedua bentuk pembicaraan itu hanyalah bahwa keduanya merupakan tukar menukar pikiran secara teratur.Penulis bermaksud secara singkat menjelaskan beberapa pengertian tentang debat dan seluk beluknya ( Kursus Kader Katolik, 1970 : 4).

 

II. PENGERTIAN

Debat merupakan suatu argumen untuk menentukan baik tidaknya suatu usul tertentu yang didukung oleh suatu pihak yang disebut pendukung atau afirmatif, dab ditolak, disangkal oleh pihak lain yang disebut penyangkal atau negatif ( Tarigan, 1984 : 86). Pengertian lain tentang debat adalah suatu proses komunikasi lisan, yang dinyatakan dengan bahasa untuk mempertahankan pendapat ( Dispodjojo, 1984 : 47 ).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2003 : 242 ) debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Menurut Dori Wuwur dalam bukunya Retorika (1991:120) debat adalah saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia dengan tujuan mencapai kemenangan untuk satu pihak. Menurut Kamdhi (1995:24-26) debat adalah suatu pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai suatu pokok masalah dimana masing-masing peserta memberikan alasan untuk mempertahankan pendapatnya.

 

II. UNSUR-UNSUR DEBAT

a. Unsur debat secara khusus

Dalam debat unsur subjektif sangat berpengaruh; maksudnya sering perasaan orang dan emosi lebih mendasari suatu pandangan daripada fakta. Jadi, tidak jarang perdebatan sewaktu-waktu menruncing menjadi panas, khususnya dalam perdebatan ideologis. Orang mudah dikuasai oleh emosi dan tidak lagi berpikir secara rasional. Maka tak heran jika mereka mulai bersikeras dan bersitegang mempertahankan pandangan atau gagasannya, meskipun secara objektif hal itu kurang penting (Kursus Kader Katolik, 1970 : 6 ).

b. Unsur umum debat

Unsur umum debat sama dengan unsur public speaking, tetapi ada beberapa perbedaan dalam debat yaitu :

  1. materi/tema debat : pokok pembicaraan yang akan dibahas dalam debat.
    1. tema : ide pokok yang menjadi bahan debat
    2. tujuan : untuk kemenangan, mempertahankan argumen atau pendapat
    3. langkah-langkah: terdiri dari orientasi, pengumpulan fakta, pembahasan, dan penyimpulan.
    4. tata tertib: peraturan-peraturan yang diterapkan dalam pelaksanaan debat.
  2. personalia; terdiri dari :
    1. panitia : terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara.
    2. debat; di dalamnya terdapat :
    3. moderator : orang yang mengatur jalannya debat
    4. pihak penyanggah : pihak yang tidak setuju dengan pihak pendukung
    5. pihak pendukung : pihak yang mendukung (pihak yang pro)
    6. juri : orang yang memberi penilaian jalannya debat
    7. publik : orang yang mengikuti jalannya debat
    8. penyedia dana : orang yang menyediakan dana untuk jalannya diskusi
    9. MC (jika diperlukan): memandu acara dari awal hingga akhir
  3. fasilitas ; meliputi :
    1. lingkungan
    2. ruang
    3. sound system
    4. media (OHP, sarana dan prasarana)

 

III. MACAM-MACAM DEBAT

Menurut Dispodjojo dalam bukunya Komunikasi Lisan ( 1984 : 48-60 ), macam debat berdasarkan bentuknya dibedakan atas

1. Debat Tradisional

Debat bentuk ini banyak dilakukan diberbagai tempat misalnya di dalam masyarakat atau suatu kelompok terdapat suatu permasalahan yang dipandang perlu dibicarakan secara umum dan terbuka agar masyarakat dapat memahaminya dan dapat menentukan pendiriannya terhadap masalah tersebut.

2. Debat Berseling

Debat berseling disebut juga The Cross-Examination Debate atau disebut juga The Oregeon Plan of  Debate. Pelaksanaan debat bentuk ini berbeda dengan Debat Tradisional, sebab pada Debat Berseling setelah setiap pembicara dari kelompok pembicara selesai berbicara, anggota dari kelompok lawan langsung diberi kesempatan mengajukan pertanyaan terhadap uraian yang baru saja diutarakan oleh lawan bicara.

3. Debat Langsung

Debat Langsung ini disebut juga dengan istilah The Direct Clash Debate.

Bentuk ini mempunyai dua ciri khusus :

(1).  Kedua kelompok yang akan berdebat setelah mengutarakan pandangannya mengenai judul debat menentukan masalah-masalah apa saja yang perlu dibicarakan berhubungan dengan judul debat itu, bagaimana urutan masalah yang akan diperdebatkan.

(2).   Dalam debat itu Moderator menentukan penilaiannya kelompok mana yang menang dalam memperdebatkan masalah yang telah mereka setujui, setiap selesai memperdebatkan tiap masalah.

4. Debat Kelompok Terpisah

Debat dalam bentuk ini juga disebut The Split Team Debate, dilakukan untuk perdebatan antara kelompok satu dengan kelompok yang lain, boleh juga antara sekolah, Fakultas, Universitas dengan sekolah, Fakultas atau Universitas yang lain, tetapi dalam pelaksanaan debat kelompok itu dipisah-pisahkan. Artinya semua anggota dari kelompok mana saja yang menyetujui gagasan yang terumuskan dalam judul debat sama-sama membentuk satu kelompok yang dinamai Kelompok Pendukung, dan siapa saja yang tidak menyetujui gagasan yang terumuskan dalam judul debat itu terkumpul menjadi satu dan membentuk Kelompok Penyanggah.

5. Debat dengan Menjegal

Debat ini juga disebut dengan The Heckling Debate. Disebut demikian karena setiap pembicara sewaktu mengutarakan pendapatnya dapat dipotong dengan pertanyaan oleh kelompok lawan, setelah melampaui batas waktu bicara minimal yang ditentukan. Mereka yang berdebat juga terdiri atas dua kelompok: Kelompok Pendukung dan Kelompok Penyanggah.

6. Debat Pemecahan Masalah

Debat macam ini disebut juga dengan nama The Problem Soulving Debate. Perbedaan yang segera tampak pada debat semacam ini adalah kelompok yang berdebat tidak dibedakan dengan Kelompok Pendukung dan Kelompok Penyanggah. Tetapi kelompok-kelompok itu dibedakan dengan nama mungkin kelompok satu atau kelompok dua. Debat macam ini tidak ditemukan preposisi , ialah suatu pernyataan yang harus dipertahankan atau diserang tetapi hanya terdapat suatu masalah yang tersusun, dalam bentuk kalimat tanya.

 

Menurut Tarigan dalam bukunya Berbicara Sebagai Keterampilan Berbahasa           ( 1984: 90-92 ), juga membagi macam debat berdasarkan bentuk, maksud dan metodenya maka dapat diklasifikan atas tipe-tipe atau kategori, sebagai berikut :

1. Debat Parlementer atau Majelis ( Assembly or Parlementary Debating )

Maksud dan tujuan Debat Majelis atau Parlementer adalah untuk memberi dan menambahi dukungan bagi suatu Undang-Undang tertentu dan semua anggota yang indin menyatakan pandangan dan pendapatnyapun berbicara mendukung atau menentang usul tersebut setelah mendapat ijin dari Majelis.

2. Debat Pemeriksaan Ulangan untuk Mengetahui Kebenaran Pemeriksaan Terdahulu  ( Cross-Exemanation Debating )

Maksud dan tujuan perdebatan ini ialah mengajukan serangkaian pertanyaan yang satu sama lain erat berhubungan, yang menyebabkan para individu yang ditanya menunjang posisi yang hendak ditegakkan dan diperkokoh sang penanya.

3. Debat Formal, Konvensional atau Debat Pendidikan ( Formal, Conventional, or educational Debating ).

Tujuan debat formal adalah memberi kesempatan bagi dua tim pembicara untuk mengemukakan kepada para pendengar sejumlah argumen yang menunjang atau membantah suatu usul.

 

Menurut Dori Wuwur (1991: 121-123) macam debat ada dua macam yaitu :

1. Debat Inggris

Terbagi menjadi dua macam yaitu debat tertutup maksudnya setiap orang hanya berbicara satu kali, oleh karena itu pembicara harus menyiapkan diri dan menyusun jalan pikirannya secara cermat. Debat yang selanjutnya adalah debat terbuka maksudnya orang dapat berbicara lebih dari satu kali. Sesudah semua peserta berbicara, kedua pembicara pertama dari masing-masing kelompok menyampaikan kata penutup.

2. Debat Amerika

Debat ini dilakukan oleh dua regu yang berhadapan, tapi masing-masing regu menyiapkan tema melalui pengumpulan bahan sevara telitidan penyusunan argumentasi yang cermat. Para anggota anggota debat ini adalah orang-orang ynag terlatih dalam seni berbicara, semua berdebat didepan sekelompok Juri dan public umum.

 

IV. TAKTIK-TAKTIK DALAM DEBAT

Menurut Kursus Kader Katolik dalam buku Taktik Berdebat (1970 : 17-89 ) adapun taktik debat seperti berikut :

  1. Menolak argumentasi lawan
    1. isi ditolak langsung

Maksud metode ini : menghindari si lawan, agar ia jangan sampai mengemukakan pendapatnya secara lengkap dan meyakinkan. Dengan menyangkal fakta, yang merupakan dasar pendapatnya, dia terpaksa membuang waktu yang berharga itu untuk hal-hal yang remeh. Jadi dia tidak sampai sasarannya.

Debat ini biasanya digunakan :

a.1  dalam pengadilan khususnya oleh pembela.

a.2  untuk menolak permintaan yang belum mau dikabulkan.

a.3 sebagai pembelaan diri untuk melemahkan serangan lawan, jika diketahui        bahwa si lawan sesungguhnya tidak mempunyai bukti bagi tuduhannya.

 

  1. isi ditolak secara tidak lansung.

Metode ini disebut juga dengan “ pisau analisa “ yaitu : menyerang pendapat lawan secara tidak langsung, dengan menariknya dari pokok persoalan kepada segi-segi khusus dan detail-detail yang diketahui lebih baik karena keahlian, pengalaman dan persiapan yang teliti.

Debat ini biasanya digunakan :

b.1  kalau kita menguasai persoalan yang dibicarakan itu, atau kita ahli dalam  bidang itu dan lawan tampaknya mengerti sepotong-sepotong saja.

b.2   jika kita punya waktu yang cukup, karena dalam debat ini butuh waktu yang agak panjang dalam menguaraikan salah satu segi dan dibuat sedemikian rupa, sehingga lawan menjadi lelah serta kehilangan semangat untuk mengejar maksudnya.

 

  1. Menggunakan Argumentasi Lawan Sendiri
    1. Melebih-lebihkan

Maksud metode ini adalah dari gagasan atau maksud atau ucapan lawan masuk akal atau tidak masuk akal ditarik konsekuensi secara berlebih-lebihan sehingga menuju pada suatu kesimpulan yang pasti tidak masuk akal, atau “ absurd “.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :

a.1 jika apa yang dikemukakan lawan itu logis dan beralasan, sehingga  menyerangnya langsung tidak banyak gunanya.

a.2 jika kita tidak bermaksud menanggapi ucapan atau pendapat lawan secara serius, meskipun apa yang dikatakannya itu memang tepat.

a.3 jika maksud atau gagasan lawan itu menimbulkan konsekuesi yang positif dan negatif.

 

  1. Mengubah ucapan lawan sedikit.

Maksud metode ini membuat pandangan atau usul pihak lawan itu sebagai objek yang mudah dapat diserang yaitu dengan cara mengubah arti ucapan atau pandangan lawan dan kemudian arti atau ucapan yang telah diubah itu diserang sampai hancur.

 

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :

b.1 dalam politik bahan debat sering dikaitkan dengan alasan emosionil.

b.2 lawan mengemukakan pendapat atau serangan secara samar-samar (berdwi –arti) sehingga mudah ditafsirkan berbeda-beda dan dipilih segi yang menjatuhkannya.

 

  1. Menunjuk Segi atau Sudut Lain dari Pendapat atau Argumen Lawan.
    1. Tiada gading yang tak retak

Maksud metode ini menjatuhkan pendapat atau gagasan atau tindakan lawan, yang berat sebelah hanya memandang dari satu sudut yang menguntungkan dirinya sendiri dengan mengemukakan segi-segi lain dari pendapat atau maksudnya itu, yang belum ditinjau, agar gambaran yang lebih lengkap memperlihatkan secara jelas kelemahan pendapat atau gagasan lawan itu.

Metode ini digunakan dalam kesempatan :

a.1 jika lawan mengemukakan gagasan atau maksud atau pandangannya yang berat sebelah.

a.2 pada debat-debat politik pernilaian atas sesuatu hal yang sama sering dapat berbeda selaras dengan sudut pandangan masing-masing pihak yang berlawanan.

a.3 dalam propaganda, kampanye atau perang iklan masing-masing pihak berusaha memuji-muji “obatnya” sendiri dan kadang-kadang memburuk-burukan pihak lain.

 

b. Berdialektika

Maksud metode ini melemahkan pendapat atau gagasan atau tindakan lawan dengan mengemukakan pandangan atau gagasan yang bertentangan meskipun dalam kedua-duanya terdapat segi-segi kebenaran.

 

 

Metode ini dapat digunakan dalam :

b.1 debat mengenai soal-soal ilmiah dan poltik, dimana hampir selalu terdapat pandangan yang bertentangan.

b.2 kita berusaha mencari kompromi dengan pihak lawan.

b.3 kita mengadakan pertentangan semu (paradoks)

 

4.   Mengalihkan pokok pembicaraan kepada hal-hal lain

a. melarikan diri pada hal-hal umum

Maksud metode ini mengalihkan perhatian dari persoalan lawan yang khusus kepada persoalan atau pandangan yang umum atau latar belakang atau situasi yang umum yang tidak dimaksudkan oleh lawan itu.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan:

a.1  jika segolongan tidak mau menanggapi kritik yang dilontarkan pihak lawan meskipun ada segi benar dan penting.

a.2 jika kritik atau serangan lawan memang beralasan, tetapi tidak mau membebaskan diri dari kesalahan atau kekurangan kita itu.

 

b.“jikalau” dan “akan tetapi”

Maksud metode ini adalah menolak secara tak langsung pendapat atau usul atau rencana lawan dengan mengemukakan kemungkinan-kemungkinan, yang tidak diinginkan, atau sekurang-kurangnya melemahkan segi baik daripada pendapat, usul atau rencana lawan itu.

Taktik ini digunakan dalam hal :

b.1 menolak secara tak langsung atau secara halus perintah atau permintaan seseorang.

b.2 menguji pendapat atau usul atau rencana lawan dengan mengambil suatu kemungkinan.

c. salah tarik

Maksud metode ini merupakan penarikan kesimpulan yang seolah-olah nampak benar namun sesungguhnya salah, karena menjadikan sesuatu yang khusus menjadi dasar hukum yang seakan-akan berlaku umum.

Metode ini digunakan dalam kesempatan :

c.1 lawan mengemukakan pendapat atau gagasan atau argumennya berdasarkan beberapa kejadian atau pengalaman saja.

c.2 kita ingin memojokkan lawan dengan menjatuhkan pendapat atau gagasan atau argumennya atau yang didasarkan atas suatu penarikan kesimpulan (induksi) yang tepat.

c.3 pendapat atau argumen lawan yang hanya berdasarkan pengetahuan yang tidak dialaminya sendiri tetapi didapatnya dari orang lain atau bacaan-bacaan, dapat dilemahkan dengan mengemukakan pengalaman pribadi tentang hal itu.

 

  1. mencap

Maksud metode ini adalah menyerang pendapat atau ucapan atau argumen lawan dengan mencap pandangan atau pribadi daripada si lawan itu sebagai penganut aliran, golongan, ideologi yang buruk di mata masyarakat.

Taktik mencap ini digunakan dalam debat politik, ideologis, antar golongan yang sering disertai unsur-unsur emosional.

e. mensitir

Maksud metode ini adalah menunjuk pendapat/tulisan/ucapan orang-orang terkemuka atau berkuasa lebih mudah dipercayai dan diakui sesuatu yang benar.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :

e.1 dalam debat-debat ilmiah, politik, dan kebudayaan, dimana ucapan atau pendapat para terkemuka atau orang berkuasa dalam bidang itu memegang peranan penting.

e.2 jika si lawan mengemukakan pandangan atau usul yang baru atau menyimpang dari pendapat atau gagasan kelompok atau lingkungan hidupnya.

e.3 jika lawan itu seorang yang plin-plan ucapan atau pendapatnya mudah berubah-ubah, tidak memiliki pendirian konsekuen.

 

f. main tersinggung

Maksud metode ini adalah :

  1. mengalihkan jalannya debat yang bersifat zakelijk * menjadi suatu pertentangan pribadi, supaya perdebatan dibelokkan keluar dari isi pokok semula.
  2. menyinggung lawan secara tak langsung melalui “sindiran”, yang memang dimaksudkan untuk memancingnya. Kalau lawan terpancing maka tercapailah maksud.

Taktik ini dapat digunakan dalam kesempatan :

f.1 jika sesorang ingin mencari alasan dari ucapan atau argumen lawan yang bersifat zakelijk guna mencapai tujuannya yang bersifat pribadi.

f.2 jika seseorang merasa segan untuk mengemukakan pendapat atau argumen secara terang-terangan karena dia dapat dicap berlaku kasar.

f.3 jika sindiran-sindiran lawan cukup serius dan perlu dilayani, agar tidak merugikan pihak kita sendiri maka taktik lawan tadi dapat ditanggapi.

 

  1. Menghindari tema atau pokok pembicaraan yang di kemukakan lawan
    1. Menolak Tema

Pokok persoalan atau tema yang dikemukakan lawan ditolak atau dihindari,. Penolakan atau penghindaran tema itu berdasarkan dua alasan :

  1. Tema itu tidak berguna didebatkan sekarang hanya akan membuang-buang waktu  saja.
  2. Tema itu melemahkan posisi kita, karena belum siap, belum mempelajarinya secara mendalam, merugikan kepentingan diri atau kelompok kita.

 

 

 

* zakelijk ( Bel ) : sikap/tindakan yang didasarkan atas fakta dan hubungan yang rasional tanpa menonjolkan segi emosional.

Taktik ini sebaiknya digunakan dalam kesempatan :

a.1 kalau sejak semula telah kita lihat, bahwa tema itu tidak membawa hasil yang nyata atau hanya akan membuang-buang waktu saja.

a.2 kalau soal itu sendiri memang penting, tapi kita belum siap atau tidak memiliki pengetahuan, fakta, info, yang cukup tentang tema itu.

a.3 kalau tema yang dikemukakan lawan itu merugikan, sehingga kalah dalam pemungutan suara, tema itu membuka kelemahan intern (pecah belah intern belum di atasi) atau tema itu hanya isu yang sementara itu memberi untung atau angin kepada pihak lawan (suasana psikologis menguntungkan mereka).

b.Menyerang dari belakang

Maksud taktik ini adalah seolah-olah nampak sebagai suatu uraian yang mendalam, tetapi sesungguhnya hanya menyingkirkan pokok tema yang dikemukakan lawan.

Taktik menyerang dari belakang ini dapat dilakukan melalui tiga cara :

b.1   mengemukakan dasar sejarah, kebudayaan, geografis, yang melatar belakangi pandangan atau argumen lawan itu.

b.2  menunjukkan bahwa dasar yang melandasi pendapat atau argumen lawan itu sebenarnya.

    1. Melantur

Maksud dari metode ini adalah berbicara hilir mudik tanpa isi dan tujuan tertentu, sitir sana sitir sini ucapan-ucapan yang tidak berhubungan satu dengan yang lainnya.

Taktik melantur ini dapat digunakan dalam kesempatan dalam mengulur-ulur waktu dan menunda keputusan yang akan diambil, karena berbagai alasan.

    1. Caranya ditolak

Maksud metode ini: dengan menolak cara atau bentuk serangan lawan (A) berusaha menghindari perdebatan tentang isi pendapat atau serangan atau argumen dari lawan itu sendiri. Alasan pihak B untuk menghindari perdebatan dengan pihak A dapat berbeda-beda.

Taktik ini dapat digunakan dalam kesempatan-kesempatan:

d.1. Dipengadilan, pembela dapat menolak caranya tuntutan dikemukakan dan minta kepada hakim untuk mengundurkannya, karena dia belum diberi waktu secukupnya dan kebebasan yang sepenuhnya untuk berbicara dengan orang yang dibelanya.

d.2.  Lawan mengemukakan pendapat atau maksud atau permohonannya tidak sesuai dengan saluran atau prosedur yang resmi.

 

  1. Menyerang dengan semu
    1. Mengambil hati

Metode ini  tidak menyerang pihak lawan seperti metode-metode lainnya, tetapi lebih berusaha “ mengambil hatinya”, supaya dia  akhirnya melepaskan pendapat atau argumen dan menerima pandangan kita.

Taktik ini dapat digunakan pada kesempatan sebagai berikut:

a.1. kita berhapadan dengan orang yang lebih tua atau lebih tinggi jabatannya,begitu pula jika kita berdebat dengan orang yang memiliki nama baik atau ahli dalam bidang itu.

a.2. kita ingin menolak suatu usul atau permohonann orang lain tanpa meninggalkan satu kesan yang buruk pada diri orang itu terhadap diri atau kelompok atau perusahaan kita.

a.3.  kita ingin memohon suatu pertimbangan kembali atas putusan dari atasan, yang tidak diterima.

    1. Dilema semu

Maksud metode ini adalah membawa lawan kepada suatu keadaan, yang membuat dirinya serba salah: pilih ini salah, pilih itupun salah.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan:

b.1. kita ingin memojokkan lawan  kesuatu sudut, yang mematahkan sekalian argumennya. Lawan dipaksa untuk menyerah, mengalah atau mengakui kesalahannya.

b.2. kita ingin memaksa lawan mengikuti jalan pikiran kita, dengan mengemukakan dua pilihan, yang dua-duanya  yang akan menjatuhkan argumen lawan itu sendiri.

 

V. PERSIAPAN DEBAT

Menurut Tarigan dalam bukunya berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa (1984: 101-105) para anggota debat harusnya mempersiapan dua jenis pidato yang berbeda, yaitu :

  1. Pidato konstruktif: pidato yang membangun atau berguna.

Setiap anggota debat haruslah merencanakan suatu pidato konstruktif yang diturunkan dari argumen-argumen dan fakta-fakta dalam laporannya serta disesuaikan  atau diadaptasikan baik dengan kebutuhan-kebutuhan para pendengarnya maupun kepada argumen-argumen yang mungkin timbul dari para penyanggahnya.

  1. Pidato sanggahan, pidato tangkisan: pidato sangkalan.

Dalam pidato sanggahan tidak diperkenankan adanya argumen-argumen konstruktif yang baru, tetapi fakta-fakta tambahan demi memperkuat yang telah dikemukakan  dapat diperkenalkan dalam mengiktisarkan kasus tersebut.

 

Menurut Dispodjojo dalam bukunya komunikasi lisan (61-62) ada beberapa persiapan debat diantaranya:

  1. Menganalisis hakikat judul

Hendaknya dianalisis betul hakikat judul yang akan diperdebatkan, betulkan ia menguasainya, adakah preposisi debat itu bersifat politik, fakta ataukah penilaian.

  1. Meneliti.

Persiapan berikutnya ialah mencari dan mengevaluasi bukti-bukti yang akan dipilih sebagai alat pembuktian yang akan memperkuat kedudukannya dalam berdebat.

  1. Menyusun  persiapan

Kegiatan berikutnya mengumpulkan dan menyusun pendapat-pendapat dalam suatu pola tertentu yang disiapkan untuk menjadi bahan pembuktian dan pertahanan.

  1. Menduga-duga pendapat lawan.

Berdebat adalah akan menangkis pendapat lawan dan berusaha menyakinkan pendiriannya kepada lawan.

VI. PATOKAN DALAM BERDEBAT

Dalam berdebat ada enambelas patokan ynag depat digunakan (Dori Wuwur, 1991:123-125):

  1. Kita harus berkonsentrasi dan membataskan diri pada pokok pikiran lawan bicara yang menjadi titik lemah.
  2. Apabila posisi kita lemah maka kita tidak bisa mengemukakan argumentasi yang efektif, oleh karena itu kita harus selalu kemabali kepada titik lemah lawan bicara.
  3. Kita hanya boleh mengemukakan pembuktian apabila kita tahu pasti bahawa alasan lawan bicara tidak lebih kuat dari pada alasan kita.
  4. Apabila lawan menunjukkan argumentasi kita maka kita juga harus menunjukkan hal yang sama pada pihak lawan.
  5. Kita harus membedakan antara kesalahan yang terjadi antara hubungan dengan tata sopan santun dan kesalahan argumentatif yang dapat menjebak lawan bicara.
  6. Kita harus menunjukkan secara jelas kebenaran dan kekuatan kita, sebelum lawan melihat kelemahan kita.
  7. Pikiran atau ide itu tidak menentukan, yang menentukan adalah tindakan.
  8. Mempergunakan suatu perbandingan atau suatu ungkapan, seluruh pikiran nampak tidak berbobot.
  9. Orang menanggapi argumentasi lawan hanya terhadap apa ynag dikatakan pertama atau yang terakhir.
  10. Orang yang ingin menemukan kesalahan pada pikiran lawan bicara, dia harus menyingkap sesuatu yang tidak pernah dimunculakan dalam debat itu.
  11. Apabila lawan bicara mau mengemukakan suatu hal yang khusus, maka kita harus mencoba menggeneralisasikannya.
  12. Apabila ternyata bahwa pembuktian lawan itu kuat, maka kita harus mencoba memaparkannya kembali, tetapi dengan memanipulasikan akibat-akibatnya.
  13. Seringkali seseorang dapat berhasil menang dalam debat,apabila dia menyerang berbagai pendapat yang muncul dengan cara mengejek.
  14. Pengamatan yang tepat, pengertian yang dalam dan logika mengkarakterisasi suatu debat yang baik.
  15. Debat dilatarbelakangi oleh sifat ingat diri dan menuntut satu disiplin rohani-akademis yang tinggi.
  16. Berdebat berarti menundukkan lawan lewat argumentasi atau dengan kata lain menaklukan lawan bicara, tetapi dengan cara yang fair dan sportif sebagai mana pertandingan dalam olah raga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Dipodjojo, Asdi.1982. Komunikasi Lisan. Yogyakarta: PD. Lukman

Dori Wuwur, Henrikus. 1991. Retorika. Yogyakarta : Kanisius

Kamdhi, JS. 1995. Diskusi Yang Efektif. Cirebon : Kanisius

KKK.1970.Taktik Berdebat.Jakarta : K.m./CLC

Tarigan, Henry Guntur.1984. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung : Angkasa

 

manajemen Keuangan Sekolah

Pengertian

Kegiatan administrasi keuangan sekolah adalah suatu proses pencatatan dan pengendalian keuangan milik sekolah yang dilaksanakan secara bertanggungjawab, jujur, terbuka, tertib, cermat, efektif, efisien sehingga terarah pada pencapaian tujan sekolah secara optimal. Manajemen keuangan di sekolah terutama berkenaan dengan kiat sekolah dalam menggali dana, kiat sekolah dalam mengelola dana, pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program tahunan sekolah, cara mengadministrasikan dana sekolah, dan cara melakukan pengawasan, pengendalian serta pemeriksaan.

Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektivitas. Oleh karena itu, disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di sekolah, juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan keuangan baik yang bersumber dari pemerintah, masyarakat dan sumber-sumber lainnya.

Ada beberapa sumber dana yang dapat diperoleh misalnya dari siswa/orang tua, masyarakat, pemerintah/yayasan, para dermawan dsb. Sumber-sumber ini hanya bersedia memberi sumbangan apabila nampak pada mereka adanya program-program yang jelas, penggunaan yang efektif dan pertanggung jawaban yang baik. Orang tua dan masyarakat adalah sumber dana yang sangat penting, oleh karena itu hendaknya sekolah terbuka bagi kontrol masyarakat, agar masyarakat menaruh kepercayaan bahwa uang mereka benar-benar digunakan secara baik sesuai dengan program yang telah ditetapkan. Manajemen yang berhubungan dengan keuangan antara lain :

  • Buku kas
  • Buku tabelaris
  • Daftar gaji
  • Daftar honorium
  • Surat Pertanggungjawaban (SPJ), dsb.

 

Dalam pelaksanaannya, manajemen keuangan menganut asas pemisahan tugas antara fungsi : (1) Otorisator; (2) Ordonator; dan (3) Bendaharawan. Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordonator adalah pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang telah ditetapkan. Bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban.

Kepala Sekolah, sebagai manajer, berfungsi sebagai Otorisator dan dilimpahi fungsi Ordonator untuk memerintahkan pembayaran. Namun, tidak dibenarkan melaksanakan fungsi Bendaharawan karena berkewajiban melakukan pengawasan ke dalam. Sedangkan Bendaharawan, di samping mempunyai fungsi-fungsi Bendaharawan, juga dilimpahi fungsi Ordonator untuk menguji hak atas pembayaran.

1. Macam-Macam Kegiatan Administrasi Keuangan Sekolah

  • Kegiatan pengendalian keuangan sekolah

Kegiatan pengendalian keuangan sekolah merupakan usaha-usaha seorang administrator agar kegiatan pengadaan dan penggunaan keuangan sekolah mengarah secara tepat pada pencapaian tujuan sekolah secara optimal berkat adanya tindakan-tindakan secara bertanggung jawab, terbuka, jujur, tertib, cermat, kreatif, efektif, dan efisien. Pengendalian keuangan sekolah ini terutama pada rencana anggaran pendapatan dan belanja (RAPB) sekolah, yakni suatu pernyataan mengenai uraian pendapatan dari sumber-sumber pendapatan yang digunakan untuk melaksanakan berbagai kegiatan sekolah sebagai belanja sekolah selama satu tahun anggaran. Sumber pendapatan dana sekolah dapat diperoleh dari SPP, BP3, DPP.

  • Kegiatan proses pencatatan keuangan sekolah

Kegiatan ini meliputi kegiatan penerimaan dan penyimpanan, penggunaan dan pertanggungjawabannya. Pencatatan harus dilakukan secara tanggung jawab, terbuka, jujur, tertib, cermat, aman, benar, sah, efektif, dan efisien. Oleh karena itu, dalam kegiatan ini diperlukan rekan kerja ynag profesional atau bendaharawan yang memiliki pribadi yang sesuia dan memiliki pengetahuan dan kecakapan tentang keuangan yang memadai. Setiap penerimaan uang harus dicatat oleh bendaharawan dalam buku kas umum dan buku kas pembantu sesuai dengan jenis penerimannya.

  • Buku kas umum

Buku kas umum yaitu buku yang digunakan untuk pencatatan penerimaan dan pengeluaran dana untuk semua mata anggaran dari satu jenis sumber pendapatan.

  • Buku kas pembantu

Buku kas pembantu adalah buku yang digunakan untuk pencatatan dan penggunaan dari setiap mata anggaran dari satu jenis sumber pendapatan (Buku kas Tabelaris).

2. Penyimpanan dan penggunaan keuangan sekolah

Uang sekolah harus disimpan di tempat yang aman, seperti brankas peti besi. Penyimpanan uang tunai di sekolah sebaiknya secukupnya saja, sesuai dengan batas jumlah yang telah ditentukan, sehingga tidak perlu terjadi sisa penegluaran dana demi keselamatan dana. Dana yang akan dikeluarkan untuk membiayai kegiatan yang tercantum dalam RAPB, maka pengeluaran harus dapat dipertanggungjwabkan oleh bendahara secara sah, benar, dan efisien.

3. Pertanggungjawaban keuangan sekolah

Laporan pertanggungjawaban dibuat secara tertulis oleh bendaharawan. Isi laporan pertanggungjawaban itu mengenai penerimaan dan pengeluaran dana sekolah dalam bentuk surat pertanggungjawaban (SPJ) yang dibuat setiap bulan dan setiap akhir tahun anggaran. Laporan tersebut, kadang-kadang dilengkapi dengan pemerikasaan langsung terhadap pembukuan dan penyimpanan uang tunai serta tanda bukti penerimaan dan pengeluaran dana. Laporan tersebut dimaksudkan agar bendaharawan dapat melaksanakan dengan benar, sah, efisien dalam menerima, menyimpan, dan menggunakan keuangan sekolah demi keselamatan keuangan sekolah.

Bila terjadi pemerikasaan keuangan sekolah, perlu dibuat berita acar mengenai proses pemeriksaan dan hasilnya yang ditandatangani bendaharawan. Pihak berwenang melakukan pemeriksaan berita acara untuk memperbaiki atau menyempurnakan pelaksanaan tugas bendaharawan dan sebagai dasar untuk pemerikasaan selanjutnya.

4. Manfaat kegiatan administrasi keuangan sekolah

  • Meningkatkan kerjasama antara bendaharawan dan kepala sekolah di satu pihak dan di pihak lain antar mereka dan rekan kerja lain.
  • Untuk menjamin keselamatan keuangan sekolah.
  • Untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan administrasi sekolah yang lain.
  • Untuk memperlancar pencapaian tujuan sekolah secara optimal.

5. Tugas administrator dalam kegiatan keuangan sekolah

  • Administrator harus mampu menyusun RAPB sekolah melalui APB secara bertanggungjawab.
  • Administrator harus mampu memperlancar pelaksanaan kegiatan administrasi keuangan sekolah.
  • Administrator harus mampu meningkatkan sifat-sifat tanggung jawab, jujur, cermat, terbuka, tertib, hati-hati, dan penguasaan pengetahuan serta kecakapan bendaharawan dalam kegiatan administrasi keuangan sekolah.
  • Administrator harus mampu meningkatkan kerja sama antara bendaharawan dengan kepala sekolah di satu pihak dan pihak lain antara mereka dengan rekan kerja yang lain.

 

Daftar pustaka

 

Masidjo, Ign. 2006. Manajemen Sekolah. Yogyakarta: Bina Dharma Mulia.

 

 

Search Engine

 

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/a-opini/manajemen-sekolah/

http://www.ditplb.or.id/profile.php?id=54

http://www.geocities.com/pengembangan_sekolah/kumpulan1.html

 

Tata Bahasa Indonesia PENGGOLONGAN KATA

Prof. Drs. M. Ramlan

 

BAB I

PENDAHULUAN

Penggolongan kata menyederhanakan pemerian struktur bahasa dan merupakan tahapan yang tidak boleh dilalui dalam penyusunan tata bahasa suatu bahasa. Setiap pembicaraan mengenai tata bahasa tentu melibatkan pembicaraan tentang penggolongan kata. Ttanpa penggolongan kata, struktur frase, klausa, dan kalimat tidak mungkin dapat dijelaskan. Oleh karena itu, pembicaraan tentang penggolongan kata akan sangat bermanfaat dan akan merupakan sumbangan penting bagi tata bahasa dan juga bagi pengajaran bahasa Indonesia.

 

BAB II

KATA

Salah satu sifat tata bahasa tradisional ialah analisisnya berdasarkan arti. Sifat ini tercermin juga pada penentuan kata. Secara tradisional kata dijelaskan sebagai kumpulan huruf yang mengandung arti. Jadi setiap kata tentu mengandung arti.

 

BAB III

PENGGOLONGAN KATA SECARA TRADISIONAL

  1. Penggolongan Kata oleh C. A. Mees (1957)
  • Kata benda atau nomen substantivum

Kata benda ialah kata yang menyebut nama substansi atau perwujudan. Kata benda dibedakan menjadi kata benda konkret dan kata benda abstrak, yaitu bisa berupa kata dasar atau kata turunan.

  • Kata keadaan atau nomen adjectivum

Fungsi kata keadaan:

  • Fungsi predikat, yaitu apabila menduduki fungsi predikat.
  • Fungsi atributif, yaitu apabila terikat pada kata benda.
  • Fungsi substantif, yaitu apabila kata keadaan disubstantifkan oleh kata sandang dan mengganti substantif yang bersangkutan.

 

  • Kata ganti atau pronominal

Kata ganti adalah kata yang menunjuk, menyatakan, atau menanyakan tentang sebuah substansi. Macam-macam kata golongan:

  • Kata ganti persona, yaitu kata yang mengganti nama persona.

–          kata ganti persona pertama, misalnya aku, saya, kami.

–          kata ganti persona kedua, misalnya engkau, kamu, tuan.

–          kata ganti persona ketiga, misalnya ia, dia, mereka.

  • Kata ganti mendiri ialah kata ganti yang mengganti diri persona itu sendiri, yaitu kata diri dan diri sendiri.
  • Kata ganti penunjuk ialah kata yang menunjuk tempat sesuatu substansi, yaitu kata ini dan itu.
  • Kata ganti relatif ialah kata yang menyatakan perhubungan antara sebuah sustansi dengan kalimat yang menjelaskan, yaitu kata yang.
  • Kata ganti penanya, yaitu yang menyatakan pertanyaan mengenai nama substansi, misalnya kata apa, siapa, dan mana.
  • Kata ganti tak tentu, yaitu kata yang menyatakan suatu substansi yang tak tentu, misalnya kata apa, siapa-siapa, anu, sesuatu.
  • Kata kerja transitif, yaitu kata kerja yang membutuhkan substantif supaya sempurna artinya.
  • Kata kerja intransitif, yaitu kata kerja yang sudah sempurna artinya, maka tidak dapat dibubuhi substantif sebagai pelengkap.
  1. Kata kerja atau verbum

Selain itu ada kata kerja kopula, yaitu kata kerja yang bertindak sebagai kopula, misalnya kata adalah, jadi, menjadi.

  1. Kata Bilangan atau numeri
  • Induk kata bilangan, misalnya kata satu, dua, seratus, lima ribu.
  • Kata bilangan tak tentu, misalnya kata beberapa, segala.
  • Kata bilangan kumpulan, misalnya kata ketiga, berlima.
  • Kata bilangan tingkat, misalnya kata kesatu, kedua, ketiga.
  • Kata bilangan pecahan, misalnya kata dua pertiga, seperdua.
    1. Kata sandang atau articulus

Menurut fungsi dan pemakaiannya dibedakan menjadi: (1) kata sandang tentu, yaitu kata yang; (2) kata sandang persona, yaitu kata si dan sang; (3) kata sandang tak tentu, yaitu kata seorang, sebuah, sesuatu.

    1. Kata depan atau praepositio

Kata depan dipakai untuk menjelaskan pertalian kata-kata. Kata depan yang tulen adalah di, ke, dari. Di samping itu terdapat kata depan yang lain, yaitu pada, akan, dengan, serta, antara, untuk, dan sebagainya.

    1. Kata keterangan atau adverbium

adalah kata yang menerangkan 1. kata kerja dalam segala fungsinya, 2. kata keadaan dalam segala fungsinya, 3. kata keterangan, 4. kata bilangan, 5. predikat kalimat, dan 6. menegaskan subjek dan predikat kalimat.

  • Kata keterangan waktu: dahulu, kemarin, hari ini, selamanya.
  • Kata keterangan modal, dibedakan menjadi:

–          kepastian, misalnya memang, niscaya, pasti, dan lain-lain.

–          Pengakuan, misalnya kata ya, benar, betul, sebenarnya.

–          Kesangsian, misalnya kata agaknya, barangkali.

–          Keinginan, misalnya kata moga-moga, mudah-mudahan.

–          Ajakan, misalnya kata baik, mari, hendaknya.

–          Kewajiban, misalnya kata harus, perlu, wajib.

–          Larangan, ialah kata jangan.

–          Ingkaran, ialah kata bukan, bukannya, tidak.

–          Keheranan, ialah kata mustahil, mana boleh.

  • Kata keterangan tempat dan jurusan, misalnya kata di sini, dari situ, ke sana, dari mana, dan sebagainya.
  • Kata keterangan kaifat atau kualitatif, misalnya perlahan-lahan, dengan gembira, kuat-kuat, selebar-lebarnya, dan sebagainya.
  • Kata keterangan derajat dan permana, misalnya kata amat, hampir.
  • Kata tekanan, ialah kah, gerangan, pula, pun, lah.
    1. Kata sambung atau conjungtio

ialah kata yang menghubungkan kata-kata, bagian-bagian kalimat, dan kalimat. Yang termasuk kata sambung misalnya kata apabila, bilamana, lagi pula, dan, agar, karena, dan sebagainya.

    1. Kata seru atau interjection

Kata seru ialah kata yang menirukan bunyi manusia. Yang termasuk golongan kata seru misalnya ya, wah, ah, hai, o, oh, cis, dan sebagianya.

 

  1. Penggolongan Kata oleh Tardjan Hadidjaja (1959)
    1. Kata benda

Kata benda adalah kata yang menyatakan benda. Menurut keadaannya, dibedakan menjadi (1) kata benda konkret, yaitu menyatakan benda yang benar-benar atau atau benda khayal. Misalnya orang, burung, buku pelajaran, hantu, bidadari, dan sebagainya; dan (2) kata benda abstrak, yaitu menyatakan nama benda yang adanya hanya dapat dipahami oleh pikiran, misalnya ilham, angan-angan, perguruan, perdagangan, perjanjian, perdamaian, pertandingan, kerajinan, dan sebagainya.

Menurut artinya, digolongan menjadi: (1) kata beda nama jenis, misalnya rumah, daun, pohon, dunia, matahari, dan sebagainya; (2). kata benda nama diri, misalnya Mei, Surono, Gunung Merapi, Sungai Barito; (3) kata benda nama zat, misalnya batu, pasir, besi, mas, garam; (4) kata benda nama kumpulan, misalnya berkas, rumpun, onggok, gugusan.

    1. Kata kerja

Berdasarkan hubungan antara pokok dan sebutannya, kata kerja dibedakan menjadi: 1. kata kerja bentuk tindak, yaitu apabila pokok kalimat melakukan perbuatan, misalnya duduk, lari, hilir mudik, berjual bei, mempercepat; dan 2. kata kerja bentuk tanggap, yaitu apabila pokok kalimat menanggapi, diperlakukan, atau dikenai perbuatan, misalnya dipukul, dilalui,  terhampiri, kelihatan, dan sebagainya.

    1. Kata ganti

Kata ganti adalah kata yang menjadi pengganti nama orang atau benda.

  • Kata ganti orang

–          orang pertama, misalnya aku, kami, hamba;

–          orang kedua, misalnya engkau, kamu, tuan;

–          orang ketiga, misalnya ia, dia, mereka.

Masing-masing dapat dibedakan atas tunggal dan jamak.

  • Kata ganti pemilik

–          kesatu, ialah ku, kami, kita; (tunggal dan jamak)

–          kedua, ialah mu, kamu; ( tunggal dan jamak)

–          ketiga, ialah nya, mereka. (tunggal dan jamak)

  • Kata ganti penanya, misalnya apa, siapa, mana, yang mana.
  • Kata ganti tak tentu, misalnya barang sesuatu, barang siapa.
  • Kata ganti penujuk, ialah ini dan itu.
  • Kata penghubung, ialah kata yang.
  • Bilangan pokok, yang dibedakan menjadi: 1. bilangan pokok tertentu, misalnya satu, dua, dan sebaginya; 2. bilangan pokok tak tentu, misalnya semua, segala, sekalian.
  • Bilangan tingkat, dibedakan menjadi: 1. bilangan tingkat tentu, misalnya kesatu, kedua; dan 2. bilangan tak tentu, ialah kesekian.
  • Kata bilangan pecahan, misalnya sepertiga, tiga perlima.
    1. Kata bilangan
    1. Kata sifat

Kata sifat ialah kata yang menyatakan sifat atau keadaan benda. Misalnya kering, kering kerontang, berlumuran darah, menguning, dan sebagainya.

    1. Kata tambahan

Kata tambahan adalah kata yang berfungsi sebagai keterangan pada kata yang bukan kata benda. Kata tambahan dibedakan menjadi:

  • Kata tambahan penunjuk waktu, misalnya pagi-pagi, sedang, kini.
  • Kata tambahan penunjuk tempat, misalnya sini, situ, ke atas.
  • Kata tambahan penunjuk peri keadaan, misalnya sungguh-sungguh, cepat-cepat, baik-baik, begini, pandai-pandai.
  • Kata tambahan penunjuk banyak dan taraf ketandasan, misalnya terlalu, semata-mata, hanya, agak, hampir, sangat.
  • Kata tambahan penunjuk taraf kepastian.

–          kepastian, misalnya sungguh, tentu, pasti, memang.

–          Kemungkinan, misalnya mungkin, barangkali.

–          Pengharapan dan permintaan, misalnya semoga.

–          Ingkar, misalnya tidak, tak, tiada, jangan.

    1. Kata depan

Kata depan adalah kata yang selalu terdapat di depan kata benda atau kata ganti dan hubungannya lebih erat dengan kata yang mengikutinya daripada dengan kata yang ada di depannya. Berdasarkan artinya:

  • Kata depan pengantar tempat, misalnya di, ke, dari, di dalam.
  • Kata depan pengantar pihak yang akan menerima bagian, misalnya untuk, buat, bagi.
  • Pengantar alat, kawan, atau lawan, ialah kata dengan.
  • Pengantar maksud atau tujuan, ialah akan, untuk, dan guna.
  • Pengantar waktu atau tempat, misalnya hingga, sekitar, hampir.
  • Pengantar sebab, misalnya atas, demi, karena, sebab, oleh.
    1. Kata penghubung

Kata penghubung adalah kata yang mnghubungkan kata dengan kata atau kalumat dengan kalimat yang mendahuluinya.

  • Penunjuk gabungan, ialah dan, serta, lagi, lagi pula.
  • Penunjuk waktu, misalnya waktu, ketika, setelah, sementara.
  • Penunjuk maksud atau tujuan, ialah agar, supaya, biar.
  • Penunjuk perlawanan, misalnya tetapi, akan tetapi, melainkan.
  • Penunjuk sebab atau akibat, misalnya sebab, karena, sehingga.
  • Penunjuk syarat atau pengandaian, misalnya jika, kalau, asalkan.
  • Penunjuk sebab yang tak dipedulikan atau pernyataan mengalah, misalnya biarpun, meskipun, walaupun, walau sekalipun.
  • Penunjuk pelaku, pelengkap, atau keterangan, ialah bahwa.
    1. Kata sandang

Kata sandang adalah kata yang berfungsi untuk menegaskan kata berikutnya, kata yang disandanginya, hingga kata itu mempunyai arti yang tentu. Yang termasuk kata sandang adalah yang, nya, si, para, sebuah, ini.

    1. Kata seru

Kata seru ialah kata yang digunakan untuk melepaskan perasaan dan keluarnya pun biasanya tiada dengan sengaja.

  • Berdasarkan sifatnya:

–          kata seru yang sejati, misalnya aduh, oh, amboi, wahai.

–          Kata seru tiruan bunyi, misalnya meong, cit, debar.

–          Kata seru yang terjadi dari kata biasa, misalnya kasihan, sayang, masya allah, astaga, ya rabbi, dan sebagainya.

  • Berdasarkan maksudnya:

–          penyeru biasa, misalnya kata hai.

–          Menyatakan rasa heran, misalnya wah, wahai, astaga.

–          Menyatakan rasa sakit, misalnya aduh, tolong.

–          Menyatakan rasa iba atau sedih, misalnya, kasihan, amboi.

–          Menyatakan kecewa, misalnya sayang dan celaka.

–          Menyatakan kaget bercampur sedih, misalnya inna lillahi.

–          Menyatakan rasa lega, misalnya nah, syukur, alamdu lillah.

–          Menyatakan rasa jijik, misalnya cih dan cis.

  1. Penggolonga Kata oleh Soetarno (1976)
    1. Kata benda
  • Menurut sifatnya:

–          kata benda yang berwujud (kokret) adalah menyatakan nama benda yang dapat dikenal dengan panca indera. Misalnya buku, juru masak, si cebol, bulan.

–          Kata benda yang tak berwujud (abstrak) ialah menyatakan hal yang hanya dapat dikenal dengan pikiran. Misalnya ketertiban, persatuan, ilham, peperangan.

  • Menurut artinya:

–          nama jenis, misalnya buku, kota, orang, anjing, rumah.

–          Nama diri, misalnya Lawu, Semarang, dan sebagainya.

–          Nama zat, misalnya mas, perak, kayu, dan sebagainya.

–          Nama kumpulan, misalnya kelompok, rumpun, pasukan.

    1. Kata kerja

Kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau pengertian dinamis.

  • Menilik pertaliannya dengan objek:

–          kata kerja transitif, ialah kata kerja yang membutukan pelengkap. Misalnya membaca, melihat, menguji, melarang, mempertinggi.

–          Kata kerja intransitif, yakni kata kerja yang tidak dapat dibubui pelengkap. Misalnya berludah, sampai, lalu.

  • Menilik hubungannya dengan subjek:

–          bentuk tindak atau aktif, ialah kata kerja yang menyatakan bahwa subjek melakukan perbuatan. Misalnya lalu, pindah.

–          Bentuk tanggap atau pasif, ialah kata kerja yang menyatakan bahwa subjek menanggapi atau dikenai pekerjaan. Misalnya dipukul, tertunda, kehujanan.

Ada pula kata kerja bantu, yakni kata kerja yang dalam pemakainnya tidak berdiri sendiri, melainkan untuk membantu kata kerja lain. Misalnya ada, mau, hendak. Sedangkan kata kerja kopula ialah kata kerja yang terletak diantara subjek dan predikat dalam kalimat nominal. Misalnya Tuti menjadi guru; Ayahku jadi dokter; Budiman jatuh sakit.

    1. Kata keadaan

Kata keadaan adalah kata menerangkan keadaan, sifat khusus atau watak suatu benda. Misalnya lama, tamat, baru, panjang tangan, berduri.

    1. Kata keterangan

Kata keterangan adalah kata yang berfungsi sebagai keterangan pada kata yang bukan kata benda. Menurut artinya, dibedakan:

  • Penunjuk waktu, misalnya baru, tengah, lagi.
  • Penunjuk tempat, misalnya sini, sana, situ.
  • Penunjuk peri keadaan, misalnya sungguh, beriba hati.
  • Penunjuk banyak atau taraf ketandasan, misalnya terlalu, agak.
  • Penunjuk taraf kepastian, misalnya pasti, mungkin.
  • Penunjuk tekanan, misalnya pula, juga, gerangan.
    1. Kata ganti

adalah kata yang bertugas menggantikan kata benda yang telah disebut.

  • Kata ganti orang (persona), digolongkan menjadi orang ke 1, misalnya aku, kami, kita; orang ke 2, misalnya engkau, kamu, tuan; orang ke 3, misalnya dia, beliau, mereka.
  • Kata ganti pemilik yakni kata ganti yang menjadi pemilik barang apa yang tersebut pada yang disertai. Misalnya ku, mu, nya.
  • Kata ganti penanya adalah kata ganti yang digunakan untuk bertanya. Misalnya apa, siapa, berapa, bagaimana.
  • Kata ganti tak tentu, dibedakan menjadi kata ganti benda tak tentu, misalnya suatupun, yang mana; dan kata ganti orang tak tentu, misalnya siapa, barang siapa.
  • Kata ganti penunjuk, ialah kata yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu dengan langsung atau menggantikannya, ialah itu, ini, begini begitu, yakni, yaitu, kini.
  • Kata ganti penghubung, ialah kata yang berfungsi sebagai pangganti kata benda atau hal yang telah disebut dahulu, dan penghubung kalimat, yaitu yang dan tempat.
    1. Kata bilangan

ialah kata yang menyatakan jumlah benda atau hal, atau menunuk urutannya dalam deretan. Dibedakan menjadi:

  • Kata bilangan tentu, misalnya satu, dua, dan seterusnya.
  • Kata bilangan tak tentu, misalnya beberapa, sejumlah.
  • Kata bilangan tingkat, misalnya kedua, ketiga.
  • Kata bilangan kumpulan, misalnya kedua dalam kedua anak itu.
  • Kata bilangan pecahan, misalnya setengah, tiga perempat.

Di samping kata bilangan, terdapat kata penunjuk jenis, yaitu kata yang menghubungkan kata bilangan dengan kata benda misalnya ekor, buah.

    1. Kata penghubung

Kata sambung adalah kata yang berfungsi menghubungkan sebuah perkataan dengan perkataan atau kalimat dengan kalimat yang mendahu-luinya. Dapat dibedakan menjadi:

  • Penghubung penunjuk gabungan, misalnya dan, dengan, lalu.
  • Pangantara penunjuk waktu, misalnya waktu, ketika, tatkala.
  • Penunjuk maksud atau tujuan, misalnya agar, supaya, biar.
  • Penunjuk perlawanan, misalnya tetapi, melainkan, hanya.
  • Penunjuk sebab atau akibat, misalnya sebab, karena, sehingga.
  • Penunjuk syarat atau pengandaian, misalnya jika, kalau, asal.
  • Penunjuk sebab yang tak dipedulikan tau pernyataan mengalah, misalnya biarpun, meskipun, walaupun.
  • Penunjuk pelaku, pelengkap, atau keterangan, ialah bahwa.
    1. Kata depan

Kata depan adalah kta yang menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lain serta menentukan sekali sifat perhubungan.

  • Berdasarkan asalnya:

–          kata depan asli, ialah kata depan yang semata-mata hanya melakukan jabatan sebagai kata depan, misalnya di, ke.

–          Kata deopan pinjaman, yakni kata depan yang kecuali melakukan tugas sebagai kata depan dalam kalimat, dapat juga melakukan jabatan lain. Misalnya buat, atas, pada.

  • Menurut bentuknya:

–          kata depan tunggal, ialah kata depan yang hanya terdiri dari satu kata, misalnya di, ke, dari, untuk, dan sebagainya.

–          Kata depan mejemuk, ialah kata depan yang terdiri dari dua kata, misalnya di dalam, ke dalam, daripada, di atas.

  • Menurut artinya:

–          kata depan pengantar tempat, misalnya di, ke, dari, dalam.

–          Kata depan pengantar pihak yang akan menerima bagian, misalnya buat, bagi, untuk.

–          Kata depan pengantar pelaku, ialah kata oleh.

–          Pengantar alat, kawan, atau lawan, ialah dengan.

–          Pengantar maksud atau tujuan, misalnya akan, buat, guna.

–          Pengantar waktu atau maksud, misal hingga, dekat, hampir.

–          Pengantar sebab, misalnya berkat, atas, demi, karena.

–          Pengantar hubungan hal, misalnya peri, perihal, tentang.

    1. Kata sandang

Kata sandang ialah kata yang digunakan untuk menegaskan dan menentukan sehingga tersekatnya kata-kata yang mengikutinya atau yang dilekatinya. Misalnya yang, nya, si, sang,  para, ini, itu, suatu,sebuah.

    1. Kata seru

Kata seru ialah kata yang merupakan tiruan bunyi atau seruan secara spontan sebagai pelepas perasaan. Menurut artinya, dibedakan menjadi:

  • Kata seru peniru bunyi, yakni kata seru yang berupa tiruan bunyi-bunyi yang terdengar, misalnya dor, cit, huk, buk, ngeong.
  • Kata seru yang menyatakan rasa hati, misalnya aduh, hai, sayang.

–          penyeru biasa, misalnya hai, e.

–          menyatakan rasa heran, misalnya wah, astaga, aduh.

–          Menyatakan rasa sakit atau terancam bahaya, ialah tolong.

–          Menyatakan rasa iba atau sedih, misalnya ya ampun.

–          Terkejut bercampur sedih, misalnya masya allah.

–          Menyatakan kekecewaan, misalnya ah, celaka.

–          Menyatakan rasa kesal, misalnya tobat.

–          Menyatakan minta perhatian, misalnya halo, hai.

–          Menyatakan tidak percaya, misalnya masa.

–          Menyataka persetujuan, misalnya nah.

 

  1. Penggolongan Kata oleh Soetan Moehammad Zain (1943)
    1. Kata pekerjaan

Kata pekerjaan ialah kata yang menjawab pertanyaan mengapa seseorang atau sesuatu, atau diapakan seseorang atau sesuatu. Misalnya makan, berjalan, tertangkap, melompat, dan sebagainya.

    1. Nama benda
  • Nama benda dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:

–          berwujud, yaitu kata yang menunjuk benda berwujud, misalnya rumah, kambing, gunung, hantu, peri, jin.

–          Tidak  berwujud, misalnya penyakit, kehendak, kesusahan.

  • Nama benda dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu:

–          nama sendiri, misalnya Ahmad, Merapi, Musi, Bandung.

–          Nama bangsa ialah nama jenis benda, misalnya kursi, dll.

–          Nama zat, misalnya air, kapur, garam, emas, intan.

    1. Pengganti atau penunjuk benda
  • Kata pengganti orang atau benda, ada dua: 1. kata pengganti nama yang sebenarnya, misalnya aku, kamu, dia; 2. kata pengganti nama yang tidak sebenarnya, misalnya saya, hamba, adik, tuan.

Di samping itu, ada: 1. pengganti orang pertama, misalnya aku, kami; 2. pengganti orang kedua, misalnya engkau, tuan; 3. pengganti orang ketiga, misalnya ia, dia, mereka.

  • Manunjukkan kepunyaan, ialah ku, mu, kau, dan nya.
  • Kata penunjuk, ialah ini, itu, sini, situ, dan sana.
  • Kata tanya, misalnya apa, mana, siapa, berapa, bagaimana.
  • Kata penunjuk yang.
  • Kata penunjuk yang kurang tentu, misalnya seorang, sesuatu.
  • Menunjukkan banyak, dibedakan: 1. tentu, misalnya satu, dua, dan seterusnya; 2. tidak tentu, misalnya segala, sekalian, beberapa.
  • Menunjukkan pangkat, yang dibentuk dengan menambahkan awalan ke- pada nama bilangan yang menunjukkan banyak yang tentu, misalnya kesatu, keempat, dan seterusnya.
    1. Nama bilangan
    1. Nama sifat atau hal

Ialah kata yang menyatakan sifat, tabiat, atau keadaan suatu benda atau yang dianggap benda, misalnya besar, condong, buruk, miskin.

    1. Kata tambahan

Ialah kata yang menerangkan bukan nama benda, melainkan menerangkan kata golongan lain. Digolongkan menjadi dua: 1. sejati, misalnya sangat, sekali, belum, sungguh; 2. kata yang karena fungsinya termasuk golonga kata tambahan, misalnya Burung itu terbang tinggi.

Di samping itu, digolongkan pula menjadi lima:

  • menyatakan waktu, misalnya sedang, tengah, lagi, masi, kini.
  • Menyatakan tempat, misalnya sini, situ, sana, di sini, di situ.
  • Menyatakan banyak, misalnya lebih, kurang, amat, terlalu.
  • Menyatakan betapa, mislanya keras-keras, pandai-pandai.
  • Menyatakan peri, misalnya tentu, sungguh, niscaya, barangkali.
    • Perangkai sejati, yaitu di, ke, dari.
    • Perangkai yang berasal dari nama benda, misalnya dengan, sebab.
    1. Kata perangkai
    1. Kata penghubung

Ialah kata yang berfungsi menghubungkan kalimat atau bagian kalimat.

  • Menyatakan makna mengumpulkan, misalkan dan, lagi, serta.
  • Menyatakan makna perlawanan, misalnya tetapi, melainkan.
  • Menyatakan makna sebab, misalnya sebab, karena, oleh.
  • Menunjukkan waktu atau tempat, misalkan ketika, hingga.
  • Menyatakan perjanjian atau pembatasan, misalkan jika, kalau.
  • Manyatakan maksud atau akibat, misalkan supaya, sehingga.
  • Menyatakan makna mengalah, misalkan meskipun, biar.
    1. Kata seru

Kata seru digunakan untuk menyatakan:

  • Keheranan, misalnya wah, wahai, amboi, astaga.
  • Kesakitan, misalnya aduh.
  • Turut merasakan kesusahan orang lain, misalnya kasihan.
  • Kekecewaan, misalnya sayang.
  • Kesenangan hati, misalnya syukur, alhamdulillah.
  • Kejijikan atau penghinaan, misalnya cih, cis.
  • Ketidakpercayaan, misalnya masa, masakan, mana boleh.

 

  1. Penggolongan Kata oleh S. Zainuddin Gl. Png. Batuah (1950)
    1. Kata (peng) ganti
  • Pengganti orang, 1. orang yang sebenarnya, yaitu aku (pertama tunggal), kami dan kita (pertama jamak),engkau dan kamu (kedua tunggal), engkau sekalian dan kamu sekalian (kedua jamak), ia dan dia (ketiga tunggal dan jamak); 2. orang yang tidak sebenarnya, (a) orang pertama, ialah saya, hamba, beta; (b) orang kedua, ialah tuan, nyonya, anda, saudara; (c) orang ketiga, misal orang itu.
  • Kata kepunyaan, ialah semua kata ganti orang dan bentuk kependekannya, misalnya buku saya, kursi kami, tokonya.
  • Kata penunjuk, ialah ini, itu,  sini, situ, begini, begitu, yaitu, si.
  • Kata tanya, misalnya apa, mengapa, siapa, berapa, bagaimana.
  • Kata penunjuk dan pertalian yang.
  • Kata (peng)ganti tak tentu, ialah orang, seseorang, barang sesuatu.
  • Kata ganti kena diri, ialah kata diri.
  • Kata benda sakala atau berwujud ialah nama benda yang sesungguhnya. 1. nama barang, ialah nama diri, misalnya Ali, Tegal, Indonesia; 2. nama zat, misalnya mas, perak, timah; 3. nama kumpulan, misalnya laskar gerombolan, keluarga.
  • Kata benda niskala atau tak berwujud.
    1. Kata benda
    1. Kata kerja

Ialah kata yang dalamnya terkandung sesuatu perbuatan. Misalnya jatuh, berlari, menulis, bercakap-cakap, dan sebagainya.

    1. Kata sifat

Kata sifat adalah kata yang menyatakan sifat atau hal sesuatu barang. Misalnya sakit, berat, buruk, pucat, baik hati, manis mulut.

    1. Kata tambahan

Kata tambahan adalah kata yang menjadi keterangan pada kata selain kata benda. Kata golongan ini dibedakan menjadi:

  • Penunjuk sifat, misalnya perlahan-lahan, begini, begitu.
  • Penunjuk taraf, misalnya sama, kurang, agak, hampir.
  • Penunjuk waktu, misalnya sedang, tengah, sekarang, kini.
  • Penunjuk tempat, misalnya di rumah, ke sekolah, dari pasar.
  • Penunjuk modalitas, (a) menyatakan kesungguhan, misalnya ya, bahkan, tentu; (b) menyatakan kemungkinan, misalnya mungkin, dapat, bisa; (c) menyatakan kehendak, misalnya moga-moga.
  • Bilangan pokok, misalnya satu, dua, tiga, dan seterusnya.
  • Bilangan pecahan, misalnya setengah, seperlima.
  • Bilangan penunjuk tingkat, misalnya pertama, kedua.
  • Bilangan pengumpul, yaitu mengungkapkan kumpulan misalnya kedua, kesepuluh, dan sebagainya.
  • Bilangan pengganda, misalnya sekali, tujuh ganga, tujuh lapis.
  • Bilangan penunjuk yang kurang tentu, misalnya segala, banyak.
    1. Kata bilangan
    1. Kata perangkai

Ialah kata yang menyatakan perhubungan sebuah kata lain dalam kalimat itu juga. Misalnya dari, pada, bagi, akan, oleh, dengan, sedikit.

    1. Kata penghubung

Ialah kata yang menghubungkan dua buah kata yang sama fungsinya dalam kalimat. Kata golongan ini dapat digolongkan menjadi:

  • Penunjuk pengumpul, misalnya kata dan, dengan, lagi.
  • Penunjuk pengumpul dan pencerai, misalnya baik … baik, atau … atau, baik … atau.
  • Penunjuk kosokbali, ialah kata atau.
  • Penunjuk perlawanan, misalnya  tetapi, akan tetapi, melainkan.
  • Penunjuk sebab-karena, misalnya oleh, karena, sebab.
  • Penunjuk saarat atau perjanjian, misalnya kalau, jialau, asal.
  • Penunjuk peralahan, misalnya sungguhpun, meskipun, walau.
  • Penunjuk maksud, misalnya supaya, agar.
  • Penunjuk penerangan, misalnya  kata yaitu, yakni.
  • Penunjuk kehendak, ialah kata barang.
  • Sebagai pembuka kata, ialah kata bahwa.
  • Penghubung yang lain-lain, misalnya hingga, sampai, jadi.
  • Kata tiruan bunyi, misalnya kata bak, buk, pang, cas, cis.
  • Kata yang menyatakan perasaan, misalnya ah, wah, o, amboi, nah.
  • Kata yang menyatakan semboyan, misalnya hai, halo, awas.
    1. Kata seru

 

  1. Penggolongan Kata oleh Madong Lubis (1954)
    1. Kata benda
  • Menyatakan benda yang berwujud, 1. nama jenis, misalnya kuda, kursi, buku; 2. nama sendiri, misalnya Kalimantan, Hamid, Semeru; 3. nama zat, misalnya air, timah, kapur; 4. nama himpunan, misalnya hutan, lautam, belukar.
  • Menyatakan benda tidak berwujud, misalnya hukuman, kehendak.
    1. Kata kerja

Ialah kata yang menyatakan perbuatan, misalnya makan, pergi, berlari.

    1. Kata sifat

Ialah kata yang menyatakan sifat atau hal, misalnya murah, tinggi, besar.

    1. Kata pengganti dan penunjuk benda
  • Pengganti badan, 1. badan pertama, misalnya aku, saya; 2. badan kedua, misalnya engkau, kamu; 3. badan ketiga, misalnya ia.
  • Pengganti pertanyaan, misalnya apa, siapa, bagaimana.
  • bulat (biasa), misalnya satu, dua, tiga.
  • pecahan, misalnya dua pertiga, seperdua, dua setengah.
  • penunjuk taraf (tingkat), misalkan kesatu, kedua.
  • Kurang tentu, misalkan semua, sekalian, sedikit, beberara.
  • Kata-kata penyukat, misalnya rupiah, jam, menit, orang.
  • Berdasarkan kata yang diterangkan:
    1. Kata bilangan
    1. Kata tambahan

–          menerangkan kata kerja, misalkan rajin-rajin belajar.

–          Menerangkan kata sifat, misalnya tinggi benar.

–          Menerangkan bilangan, misalnya hampir seribu.

–          Menerangkan kata penyelit, misalnya tepat di muka.

  • Berdasarkan artinya:

–          penunjuk tempat, misalnya di mana, ke sana, di bawah.

–          penunjuk waktu, misalnya tengah, sedang, manakala.

–          Penunjuk keadaan, misalnya demikian, hati-hati.

–          Penunjuk taraf, misalnya kurang, agak, benar.

–          Penunjuk sikap, (a) kepastian, misalnya sungguh, bahkan; (b) menidakkan, misalnya tidak, bukan; (c) kebimbangan, misalnya mungkin, barangkali; (d) pengharapan, misalnya moga-moga, hendaknya, dan sebagainya.

    1. Kata penyelit (perangkai)
  • Kata penyelit yang sebenarnya, misalnya di, ke, dari.
  • Kata penyelit berpadu, misalnya di sekolah, ke kantor.
  • Penujuk himpunan, misalnya dan, lagi, serta, maka.
  • Penunjuk waktu,  misalnya apabila, tatkala, setelah, sehabis.
  • Penunjuk sebab, misalnya sebab, karena, oleh karena.
  • Penunjuk maksud dan akibat, misalnya agar, jadi, supaya.
  • Penunjuk pertentangan, misalnya walaupun, meskipun.
  • Penunjuk syarat, misalnya kalau, jikalau, niscaya.
  • Kata penghubung yang sukar ditentukan jenisnya, misalnya maka, bahwa, syahdan, arkian, adapun, dan sebagainya.
  • Kata tiruan bunyi, misalnya ting, bur, bam, ngeong, embik.
  • Kata ucapan perasaan, misalnya aduh, ai, oi, astaga, ssst.
    1. Kata penghubung
    1. Kata seru

 

  1. Penggolongan Kata oleh I. R. Poedjawijatna dan P. J. Zoetmulder (1955)
    1. Kata sebut
  • Konkret, yaitu manyatakan sesuatu yang sungguh-sungguh ada, misalnya bapak, anjing, pasir.
  • Abstrak, yaitu menyatakan sesuatu yang hanya ada dalam pikiran saja, misalnya pemandangan, kedudukan, kekuatan.
  • Kata keadaan, misalnya baik, beristeri, mambabi buta.
  • Kata kerja, (a) transitif; dan (b) intransitif.
  • Kata ganti orang, (a) orang pertama, misalnya aku, kami; (b) orang kedua, misalnya kamu, engkau; (c) orang ketiga misalnya dia.
  • Kata ganti tanya, misalnya mana, bilamana, mengapa.
  • Kata ganti tunjuk, ialah kata itu dan ini.
  • Menunjuk waktu, misalnya belum, pernah, sekarang.
  • Menunjuk cara, misalnya entah, barangkali, agak.
  • Menunjuk tempat, misalnya ke sana kemari, kian kemari.
  • Menunjuk derajat, misalkan hampir, hanya, makin.
  • Menunjuk keadaan, misalnya sama, seperti, sia-sia.
  • Menunjuk sebab, misalnya karena itu, sebab itu.
  • Kata bilangan tentu, misalnya delapan, sembilan.
  • Tak tentu, misalnya beberapa, semua, banyak, sedikit.
  • Tingkat, misalnya kedua, kelima, dan seterusnya.
  • Pecahan, misalnya sepertiga, lima perempat.
    1. Kata tambah
    1. Kata ganti
    1. Kata keterangan tambah
    1. Kata bilangan

Di samping itu terdapat kata penunjuk enis, misalnya buah, biji, ekor.

    1. Kata depan
  • Menyatakan hubungan alat, misalnya kata dengan.
  • Menyatakan hubungan bersama-sama, misalnya kata serta.
  • Menyatakan hubungan pelaku, misalnya kata oleh.
  • Menyatakan hubungan maksud dan tujuan, misalnya bagi, untuk.
  • Menyatakan hubungan hala, misalnya kata peri, hal, tentang.
  • Menyatakan hubungan sebab, misalnya kata karena, sebab.
    1. Kata seru

Kata seru ialah kata yang menirukan suara yang merupakan seruan, misalnya bum, tik, astaga, wahai, aduhai.

    1. Kata perangkai

Ialah kata yanag merangkaikan kalimat dengan kalimat lainnya, misalnya dan, lalu, bahkan, bahwa agar, akan, dan sebagainya.

 

  1. Penggolongan Kata oleh S. Takdir Alisjahbana (1960)
    1. Kata benda atau substantive

Menurut batasan ini, kata ganti termasuk golongan kata benda.

    1. Kata kerja atau verba

Yang termasuk golongan ini adalah kata yang berawalan me- dan di-.

    1. Kata keadaan atau adjectiva ( kata bilangan termasuk golongan ini)
    2. Kata sambung atau konjungsi (kata depan termasuk golongan ini)
    3. Kata sandang atau artikel.
    4. Kata seru atau interjeksi.

BAB IV

PENGGOLONGAN KATA SECARA NONTRADISIONAL

  1. Penggolongan Kata oleh Slametmuljana

Berdasrkan fungsi kata dalam kalimat, kata digolongkan menjadi:

  1. Kata-kata yang pada hakekatnya hanya melakukan jabatan gatra sebutan
  • Kata keadaan, misalnya kata besar, sukar, bagus, dan sebagainya.
  • Kata kerja, misalnya kata mendayung, menangkap, diangkut.

–          kata kerja bantu ialah kata kerja yang menyatakan perbuatan yang ditunjuk terbatas dalam lingkungannya sendiri, misalnya kata jatuh dan menangis.

–          Kata kerja langsung ialah kata kerja yang dapat berhubungan dengan pelaku kedua (objek) tanpa perantara kata lain, misalnya membaca.

–          Kata kerja sambung ialah kata kerja yang dalam hubungannya dengan pelaku kedua menggunakan perantara kata lain, misalnya cinta kepada ayah.

  1. Kata-kata yang dapat melakukan jabatan gatra pangkal dan gatra sebutan
  • Kata benda

–          kata benda yang menyatakan nama benda yang dapat dicapai dengan panca indera, misalnya kata batu, daun.

–          Kata benda yang tidak nyata, misalnya perbuatan, keka-yaan, perbuatan, dan sebagainya.

  • Kata ganti

–          kata penunjuk, yaitu kata itu dan ini.

–          Kata pemisah, yaitu kata yang dan tempat.

–          Kata ganti diri dan milik. Yaitu aku, kamu, dia.

–          Kata ganti tanya, misalnya apa, berapa, dimana.

–          Kata ganti sesuatu, misalnya seseorang, sesuatu.

  • Kata bilangan

–          bilangan pokok dibagi menjadi bilangan tunggal (satu, dua, dan seterusnya sampai sembilan) dan majemuk (kesatuan bilangan tunggal:11, 12, dan seterusnya).

–          Bilangan bantu, misalnya batang, belah, biji, buah, ekor.

–          Bilangan tak tentu, misalnya banyak, sedikit, beberapa.

–          Bilangan himpunan, keduanya, ketiga orang itu.

  1. Kata-kata pembantu regu II
  • Kata yang menjelaskan tempat kedudukan kata benda, yaitu ini, itu.
  • Kata yng menunjukkan kekianan.
  • Kata keadaan dan kata benda yang memberi penjelasan kata benda tentang keadaannya, pemiliknya, dan sebagainya. Misalnya orang kaya, bapak saya.
  1. Kata-kata pembantu pertalian

Ialah kata yang menjelaskan pertalian kata yang satu, kalimat yang satu dengan yang lain.

  • Kata yang menerangkan kata keadaan dan kata kerja, misalnya sekali, terlalu.
  • Kata yang menghubungkan kata yang satu, kalimat yang satu dengan yang lain, misalnya dari, ke, untuk.
  • Kata yang disisipkan dalam kalimat seakan-akan berdiri sendiri, lepas dari ikatan kalimat. Misalnya nah, hai, sayang, aduh.

  1. Penggolongan Kata oleh Anton M. Moeliono
    1. Rumpun nominal

Yaitu kata yang dapat diingkari oleh kata bukan.

  • Rumpun nominal yang dapat didahului partikel preposisi direktif di. Misalnya di rumah, di mobil, di jalan, di air.
  • Rumpun nominal yang dapat didahului partikel pada. Misalnya pada tanggal, pada ibu, dan sebgainya.
    1. Rumpun verbal

Yaitu kata yang dapat diingkari dengan kata tidak.

  • Rumpun verbal transitif.
  • Rumpun verbal tak transitif.
  • Rumpun verbal ajektif.
  • Preposisi
  • Konjungsi
  • Penunjuk kecaraan
  • Penunjuk segi atau aspek: sedang, telah, lagi.
  • Penunjuk derajat: agak, sangat, kurang.
    1. Rumpun partikel

 

  1. Penggolongan Kata oleh Gorys Keraf
    1. Kata benda

Ialah semua kata yang dapat diterangkan atau diperluas dengan yang + kata sifat. Kata ganti merupakan sub-golongan kata benda.

    1. Kata kerja

Ialah segala macam kata yang dapat diperluas dengan kelompok kata dengan + kata sifat. Misalnya berjalan, nyanyi, mendengar.

    1. Kata sifat

Ialah semua kata yang dapat mengambil bentuk se + reduplikasi kata dasar + nya. Misalnya semahal-mahalnya, secepat-cepatnya.

    1. Kata tugas
  • Kata tugas monovalen, yaitu yang semata-mata bertugas untuk memperluas kalimta, misalnya dan, tetapi, sesudah, di, ke, dari.
  • Kata tugas yang abmivalen, yaitu kata tugas yang juga bertindak sebagai jenis kata lain, baik dalam membentuk suatu kalimat minim maupun mengubah bentuknya. Misalnya sudah dan tidak.

 

  1. Penggolongan Kata oleh S. Wojowasito
    1. Kata benda

Kata benda lazim menduduki subjek dan predikat dan diikuti kata itu, didahului preposisi, kata bilangan, dan diikuti nama pribadi.

    1. Kata kerja

Kata kerja lazim menduduki predikat dan mengikuti subjek dan mendahului objek, dapa diikuti preposisi, dapat digunakan untuk perintah.

    1. Kata sifat

Kata sifat lazim mengikuti kata benda sebagai sifat, dapat digunakan untuk perintah, dan didahului kata hendak, dan sedang.

    1. Kata tambah

Kata tambah hanya bisa menduduki fungsi keterangan sekunder.

    1. Kata penghubung

Kata penghubung berfungsi menghubungkan dua kalimat sejajar atau bertingkat dan dua kata yang sejenis secara sejajar.

    1. Kata seru

Kata seru dignakan sebagai motphrase, yaitu satu kata yang bertindak penuh sebagai kalimat dengan intonasi seruan.

    1. Kata bilangan

Kata bilanagn adalah kata yang menyebut sesuatu yang objektif. Golongan ini debedakan menjadi kata bilangan tentu dan tak tentu.

    1. Kata ganti

Kata ganti adalah kata yang mengganti kata benda, misalnya aku, ini, itu.

    1. Kata depan

Yaitu kata yang dalam kesatuan sintaksis, dalam frase atau kelompok kata, menentukan sifat hubungan dengan kelompok kata yang mendahuluinya.

 

  1. Penggolongan Kata oleh M. Ramlan
    1. Kata verbal

Kata verbal yaitu kata yang dapat diingkari dengan kata tidak, yang termasuk adalah kata kerja dan kata keadaan.

    1. Kata nominal

Yaitu kata yang dalam kalimat dapat menduduki fungsi S, P, O dan dalam frasa dapat diingkari dengan kata bukan.

    1. Kata keterangan

Dalam kalimat kata keterangan cenderung menduduki fungsi keterangan.

    1. Kata tambah

Yaitu kata yang dalam frasa cenderung menduduki fungsi atribut (bukan, belum, akan).

    1. Kata bilangan: dua, tiga, kedua (tingkat, kumpulan)
    2. Kata penyukat: kata bantu bilangan, misalnya tiga ekor, lima buah.
    3. Kata sandang: si, sang, semua, segala, segenap, seluruh.
    4. Kata tanya: apa, mengapa, bagaimana, dan sebagainya.
    5. Kata suruh: mari, jangan.
    6. Kata penghubung: dan, lalu, atau, tetapi, bahkan, dan sebaginya.
    7. Kata depan: di, ke, dari.
    8. Kata seruan: ah, wah, aduh, amboi, dan sebagainya.

 

BAB V

KEANGGOTAAN GANDA DAN TRANSPOSISI

Golongan kata ditentukan berdasarkan perilaku kata dalam frase, klausa, kalimat, dan wacana. Sustu kta mungkin memiliki berbagai perilaku sintaksis.  Misalnya kata sedang dalam kalimat-kalimat berikut.

  • Nilainya sedang.
  • Ibu sedang pergi.
  • Ibu pergi, sedang anak-anaknya tidur.
  • Sedang ia membaca, terdengar suara orang mengetuk pintu.

Dari contoh do atas jelas bahwa kata dalam mungkin termasuk golongan kata verbal, kata tambah, penghubung setara, dan penghubung tidak setara.

Transposisi adalah perpindahan posisi atau fungsi. Transposisi ada yang mengubah golongan kata, ada yang tidak. Fungsi predikat tidak mengubah golongan kata. Sebaliknya fungsi subjek mengubah golongan kata menjadi nominal. Kata membaca dalam Ia membaca buku baru termasuk kata verbal, tetapi dalam kalimat Membaca sangat berfaedah termasuk golongan katanominal karena adanya transposisi.

Meningkatkan Kemampuan Membaca

Pengarang       : Donald H. Weiss

Penerbit           : Binarupa Aksara – Amacom

Tebal buku      : 75 halaman

Tahun terbit     : 1990

Kota terbit       : Jakarta

 

Pendahuluan: Memerangi Kelebihan Beban Informasi

 

Melalui buku ini, pembaca diharapkan mempunyai kemampuan membaca yang lebih besar daripada yang dimiliki, sebagaimana diduga oleh para guru komunikasi. Pembaca dapat mengambil keputusan yang lebih baik mengenai apa yang harus dibaca, kapan, dan dimana. Pembaca akan dapat mengorganisasikan bacaan dengan lebih baik pula, belajar kapan dan bagaimana membaca untuk pengenalan (termasuk untuk hiburan), dan juga membaca untuk pengetahuan atau secara mendalam. Pembaca tidak hanya akan membaca kata-kata dengan lebih cepat namun akan menggunakan beberapa teknik untuk mengerti kata-kata itu dengan lebih baik.

Bagian selebihnya dari buku ini membicarakan cara untuk membaca demi kekuatan. Buku ini juga mengungkapkan pentingnya membaca dengan baik dan memperlihatkan bagaimana caranya meningkatkan keterampilan membaca.

 

Bab I

Mimpi yang Hancur Berantakan: Bagaimana Kemampuan Membaca

dapat Membentuk atau Menghancurkan Anda

Kemampuan membaca dapat membentuk atau menghancurkan. Dengan kemampuan membaca yang baik, kita dapat melakukan kegiatan membaca yang bertujuan untuk bermacam-macam hal dengan baik pula. Namun orang yang tidak memiliki kemampuan membaca yang baik akan sangat sulit untuk melakukan itu.

 

Bab II

Terlalu Banyak yang Harus Dibaca dan Terlalu Sedikit Waktu:

Bagaimana Memutuskan Apa yang Harus Dibaca dan Kapan Membacanya

 

Ada terlalu banyak yang harus dibaca dan terlalau sedikit waktu untuk membacanya. Oleh karena itu, kita perlu memilah apa yang kita, kapan , dan dimana. Pilihan terletak pada jawaban terhadap pertanyaan yang nyaris bergantung kepada penyederhanaan: “ Mengapa membacanya?” Anda todak perlu membaca apapun jika anda tidak mempunyai kebutuhan atau keinginan untuk mengetahuinya.Bacalah sesuatu yang perlu anda ketahui.

  • Menyeleksi dan Memilih

Dalam membaca kita tidak harus membaca semua yang ada, namun kita bisa menyeleksi dan mimilih bacaan yang kita butuhkan. Itulah salah satu alasan mengapa penerbit membuka produk merata dengan daftar isi. Mereka eminta anda untuk memilih apa yang anda rasa harus anda baca. Disini pembacaan sekilas (scanning) akan sangat membantu.

Arahkan pandangan anda sepanjang daftar isi tersebut. Bila ada sesuatu yamh menarik perhatian anda, entah karena anda perlu mengetahuinya atau menginginkannya. Bila tidak ada yang menarik perhatian anda, singkirkan buku itu atau kembalikan ke rak.

  • Di mana dan Kapan

Di mana dan kapan membaca hampir sama pentingnya dengan mengapa dan apa. Tempat dan waktu bergantung kepada seberapa besar anda perlu atau ingin mengingat apa yang anda baca. Segera sesudah anda memisahkan bahan menjadi kebutuhan untuk membaca dan keinginan ntuk membaca dan sesudah memilih apa yang harus dibaca, di mana, dan kapan, kita perlu mengorganisasi bacaan berdasarkan prioritas.

 

Bab III

Intisari Pengendalian Keranjang Surat Masuk

  • Siapa yang menginginkan saya untuk membacanya?

Dalam membaca kita harus memperhatikan “siapa yang menginginkan saya untuk membacanya?”. Jika bacaan tersebut penting untuk dibaca, maka segeralah membacanya.

  • Apa yang akan terjadi bila saya tidak membacaya atau tidak membacanya sekarang?

Bagian kedua ini mengacu pada konsekuensi positif dan negatif. Ada tiga hal yang harus diprioritaskan, yaitu:

a. Apa yang penting?

b. Apa yang diperlukan dengan segera?

c. Peranan apa yang dimainkannya?

 

Namun, bila masih belum yakin mengenai prioritas, tanyakan:

  1. Apa yang bergantung kepada bacan saya sekarang ini?
  2. Apalagi yang tidak akan terjadi bila saya tidak membacanya?
  3. Bila saya tidak membacanya, apakah saya atau orang lain akan dapat mengerjakan hal-hal lain?
  4. Bagaimana tidak membaca hal ini mempengaruhi orang lain atau proses lain?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memberitahuperanan apa yang dimainkan bahan bacaan tersebut. Kita dapat mengetahui pula bacaan mana yang harus dibaca lebih dahulu dan kapan. Ringkasnya, untuk mendapatkan kendali atas kebiasaan anda dalam membaca, belajarlah memisahkan apa yang perlu anda ketahui dan perlu anda baca.

 

Bab IV

Membaca versus Kemampuan Membaca

  • Membaca versus Mendengar

Konfusius mengatakan sesuatu yang masih masuk akal: katakan kepada sya dan saya lua, Perlihatkan kepada saya dan sya ingat, biarkan saya melakukannya dan saya mengerti. Karena kata-kata yang diucapkan berlalu lebih cepat melalui kesadran daripada kata yang tertulis, kebanyakan orang menyimpan sekitar setengah dari apa yang mereka dengar dibandingkan dengan apa yang mereka bicara.

Baca apa yang dikatakan seseorang, dan cetakan tersebut melengkapi anda dengan ingatan yang tidak mungkin salah. Anda dapat selau melihat apa yang tidak anda ingat. Namun yang lebih penting, apa yang tidak anda mengerti pada mulanya, anda dapat belajar lebih cermat dengan kecepatan anda sendiri dan dengan cara sendiri.

  • Kosakata

Kebanyakan orang membaca dengan dangkal, menyaring kata-kata yang tidak mereka mengerti dan membiarkan konteks membawakan makna kata-kata yang baru. Bila ada sesuatu yang cukup pentinguntuk dibaca, maka sesuatu itu cukup penting untuk dimengerti. Selain itu, membaca kamus adalah salah satu cara yang digunakan oleh para penulis untuk mengembangkan kosakata yang lebih baik dibandingkan kebanyakan orang.

Saat membaca, setiap kali mendapatkan suatu kata atau frase yang tidak dimengerti, catatnya dan cari makna di kamus. Gunakan kembali kata atau frase itu setidaknya dalam satu kalimat dan gunakan pada setiap kesempatan yang sesuai. Kata atu frase itu segera menjadi milik kita.

  • Kedangkalan

Ketika orang menyaring kata-kata yang mereka tidak ketahui, mereka kehilangan kedalaman  yang mungkin mereka perlukan untuk pengertian yang lengkap atas apa yang penting secara dangkal dapat menimbulkan konsekuensi yang serius. Kurangnya kosakata bukanlah satu-satunya sebab kedangkalan. Pengalihan perhatian juga menganggu pemahaman dan menyebabkan kurangnya kedalaman.

  • Kelambatan

Membaca dengan cermat bukan berarti membaca dengan lambat. Dengan mem-baca lambat malah akan membuat kehilangan rangkaian gagasan. Pembaca lambat biasanya menyuarakan apa yang mereka baca, entah di dalam hati atau dengan suara keras. Hal ini melambatkan kecepatan membaca hingga mendekati kecepatan mendengar. Satu lagi sebab dari membaca lambat adalah gerakan mata yang berlebihan. Saat membaca mata bergerak bolak-balik sepanjang baris teks dan biasanya satu demi satu kata.

Untuk dapat membaca dengan baik, sebaiknya kebiasaan tersebut dihindari. Dibutuhkan waktu agar terbiasa dengan kegiatan membaca yang hening dan menyeluruh, tetapi akan terasa menjadi lebih mudah dan semakin mudah bila berlatih setiap kali membaca sesuatu.

  • Pembacaan Ulang

Kebanyak orang memperlambat diri mereka sendiri dengan pembacaan ulang yang tidak perlu. Pembacaan ulang sangat mengganggu proses membaca. Sebaiknya saat membaca pilihlah unsur esensial yang dirasa perlu untuk diingat dan buat catatan mental mengenai unsur tersebut. Dapat juga dilakukan dengan menandai dengan pena berwarna. Bila suda selesai membaca, coba ingat pokok-pokok yang menonjol itu.

Bila anda mempunyai kendali yang lebih besar atas cara anda membaca, anda bisa mendapatkan lebih banyakdari semua yang lewat di depan anda. Anda mengerti bahan bersangkutan lebih banyak, dan dengan pengertian, anda meningkatkan ingatan anda pula. Apa yang tidak apat anda ingat, tinjau kembali. Peninjauan kembali membedakan membaca untuk pengenalan dan membaca untuk pengetahuan (membaca secara mendalam).

 

Bab V

Membaca untuk Pengenalan

Membaca untuk pengenalan berarti membaca mendapatkan inti dari pokok bahasan tanpa mengembangkan pengertian yang tuntas. Membaca untuk pengenalan berarti mengumpulkan informasi untuk pemakaian yang terbatas. Selanjutnya informasi tersebut tersdia untuk pemeriksaan yang lebih ekstensif bila diperlukan. Jadi, anda membaca sekilas, meninjau, atau menyaring.

  • Pembacaan sekilas (scanning)

Membaca sekilas berarti hanya mencari bahan yang relevan atau berhubungan langsung, fakta atau gagasan khusus. Membaca sekilas dapat juga dilakukan dengan memperhatikan judul, mencari artikel yang menarik perhatian, dan menelusuri informasinya dengan cepat. Membaca sekilas menghemat waktu. Teknik membaca ini memfokuskan perhatian dengan tajam dan menghilangkan kekusutan mental.  Dengan menyoroti satu potongan kecil ahan yang penting, membaca sekilas membantu mengambil keputusan tentang bentuk lain membaca untuk pengenalan, seperti peninjauan.

  • Peninjauan (previewing)

Peninjauan memberi kesempatan untuk memutuskan tentang apa yang harus disaring dan apa yang harus dibaca secara mendalam. Bila anda memutuskan untuk membaca suatu artikel atau bab dari sebuah buku, henat banyak waktu anda dan energi mental dengan membaca judul serta subjudul. Mungkin ternyata bahwa judul artikel atau bab lebih menarik daripada teksnya, tetapi bila bahannya masih menarik minat, tinjaulah atau lebih baik saring dan baca yang perlu diketahui secara mendalam.

  • Penyaringan (scimming)

Penyaringan berarti menggerakkan mata dengan cepat untuk menelusuri halaman dengan membaca judul, subjudul, kalimat topik, dan kata-kata isyarat yang menyediakan lebih banyak dari sekadar gagasan yang menonjol yang ditangkap sewaktu melakukan peninjauan. Penyaringan mirip dengan pembacaan sekilas.

 

Bab VI

Membaca untuk pengetahuan yang Mendalam

Membaca untuk pengetahuan yang mendalam dapat dilakukan dengan menetapkan tujuan dan sasaran, menetapkan prioritas, menaruh perhatian cermat, dan membuat catatan secara efektif. Berikut ini akan dijelaskan mengenai masing-masing hal tersebut.

  • Penetapan Tujuan

Membaca untuk memperoleh semua informasi yang esensial di dalam teks atau membaca untuk mendapatkan isi dengan menetapkan tujuan dan sasaran membaca, menegakkan prioritas, menaruh perhatian dan menulis kerangka. Memutuskan mengapa anda membaca seauatu menghasilkan tujuan dan sasaran yang mengidentifikasi bahan yang palingpentinguntuk dibaca dan diingat. Tujuan anda membantu anda menggabungkan apa yang perlu diketahui, dan gabungan nya menjadi penggerak yang kuat.

Bila orang memiliki kebutuhan untuk mengetahui sesuatu, mereka menggali secara antusias ke dalam tugas pencarian. Tujuan dan sasaran mengarahkan peninjauan, penyaringan, dan pembacaan sekilas yang anda lakukan. Tujuan dan sasaran menunjukkan apa yang harus disimpan dan dimana menemukan sesuatu bila anda memerlukannya.

  • Pemberian Perhatian, Untuk menaruh perhatian, harus melibatkan diri sepenuhnya. Menyiapkan diri untuk membaca adan membersihkan pikiran dari semuanya. Harus fokus pada judul atau ringkasan bahan yang akan memberi petunjuk. Tidak ada ruginya memulai untuk menulis sasaran dan apa yang harus didapat dati bacaan yang ada. Disinilah pembuatan catatan menjadi penting dilakukan untuk mengembangkan kosakata dan peninjauan atau pengertian.Pembuatan Catatan
  • Pengembangan kosakata

“Biarkan saya melakukan, dan sya mengerti.” Dalam kalimat tersut, “melakukan” berarti mengambil peran aktif dalam belajar sendiri. Ketika membaca untuk pengenalan, pembaca secara aktif menyeleksi informasi yang ingin diserap dan menolak selebihnya. Seringkali saat membaca kita menemukan kata-kata sulit, disinilah membaca dengan kamus di tangan menjadi penting. Dengan begitu kosakata yang kita miliki menjadi berkembang.

Berikut ini adalah sebuah format sederhana untuk mengembangkan kosakata. Format ini terdiri atas: (1) kata yang dipelajari, (2) bagian cara berbi-cara yang dipenuhinya, (3) makna atau beberapa makna, dan (4) pemakainnya.

  • Peninjauan dan pengertian

Membaca untuk pengetahuan dimulai dengan peninjauan dan penya-ringan untuk gambaran umum mengenai pokok bahasan dan rasa untuk sudut pandang si penulis. Untuk meningkatkan kemampuan anda dalam membaca, anda perlu menuliskan catatan dalam kata-kata sendiri. Ketika membuat catatan dengan kata-kata sendiri, sama saa menanamkan gagasan, konsep, instruksi di dalam benak. Pembuatan catatan juga memberi rekaman tertulis untuk peninjauan cepat ketika memerlukan bacaan tersebut.

 

Kesimpulan

 

Ledakan informasi tidak perlu menyapu bersih diri anda. Dunia kita adalah dunia yang memiliki informasi paling baik yang pernah dikenal. Anda dapat mengendalikan apa yang anda baca, menyingkirkan apa yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Dan dapat mengendalikan sejauh mana anda menyerapsemua banjir informasi yang menyerbu diri anda.

Baca untuk pengenalan. Baca sekilas, tinjau, dan saring. Memisahkan semua bahan dan menemukan apa yang perlu dibaca untuk pengetahuan. Kemudian seranglah secara tuntas dan menjauh dengan mengetahui dan mengerti apa yang dibaca dengan menghentikan arus bacaan guna membuat catatan untuk pengembangan kosakata atau untuk peninjauan.

Membaca untuk pengenalan dan membaca secara mendalam tidak bertentangan satu sama lain. Yang satu mengurangi kekusutan dan membantu anda berfokus pada hal-hal yang paling bermakna untuk yang lain. Keduannya dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan anda dalam membaca.