nyala satu menjadi seribu

Sabtu sore itu Sabtu suci. Ketika hujan seorang gadis berpayung suci berjalan perlahan menuju rumah si Dia Yang Maha OK. Tak tahu tujuan hatinya, mungkin hanya formalitas setiap tahun. Ketika Paskah datang ya pergilah dia ke gereja. Seperti minggu-minggu biasanya. Minggu ya ke gereja . . . males ya bolos gereja.

Ketika di rumahNya

Di sana ia belajar untuk saling berbagi. Ketika nyala satu lilin menjadi seribu, di situ ada sesuatu yang bernama “saling berbagi”. Dengan sesuatu itu maka semua akan terasa satu, indah, terang, dan nyaman. Tanpa sesuatu itu, maka sebaliknya . . . dunia serasa sepi, hampa, dan tak bergairah. Maka berbagilah!!!

Ketika di RumahNya

Di sana ia belajar dari yang kumal, dari yang berambut gondrong tak terurus. Ia mengerti bahwa Dia tidak goblok, namun Dia amat sangat OK. Dia rela di hina dan tersiksa, demi kita. Belajarlah dari Dia!!!

Dan ketika gadis itu berkali-kali mendengarkan cerita yang sama tentang Dia, sampai saat ini dia hanya sebatas kagum. Dia tahu pengorbananNya, dia tahu betapa sengsaraNya, namun belum sepenuhnya hidup dalam Dia. OoooOOooohhh gadis berpayung . . . gadis biasa . . . gadis berawan. Hiduplah dalam Dia!!!

apa pun ini

 

diawali dengan adu strategi . . . penantian yang panjang . . . merasakan kesulitan hidup yang teramat sangat >>> yaitu matiin lampu . . . aaaaahhhhh . . . dan akhirnya segerombolan manusia datang menyerbu ke TKP bak rampok di tengah malam. Pertahanan air mata jebooolllll . . . air mengalir sampai jauh dibarengi pengakuan-pengakuan yang cukup mengejutkan.

>>> terima kasih yaaaa teman-teman, kalian semua selallu di hatiku. Oooooh Sheila, sungguh lebaynya dirimu hingga membuat perut kami kesakitan karena tertawaterpingkal-pingkal.

>>> orang rumah aja gak kaya gini . . . hhoooo hhhoooo hhooooo. “Ya iyalah . . . masak orang rumahmu kaya kita-kita? G3L4k l000hhhhh” wkwkwkwkkkkk.

intinya seruuuuu abiiieeeesssss . . . bahasa jadul!!!

 

cerita kosong

Malam ini bersama beberapa dari mereka. Berawal dari sebuah tragedi perut kosong, merambah ke santap malam, dan disela obrolan hadirlah sebuah istilah “cerita kosong”. Yaaa . . . memang benar-benar cerita kosong. Berawal dari kekosongan, omong kosong, dan perlahan menjadikan suatu sisi hati menjadi kosong terkikis lega.

– – –

Berawal dari butiran yang indah, kami beranjak mencari tempat yang cocok dan enak untuk saling bertukaran cerita. Tapi tampaknya akulah yang menjadi korban malam ini, dan mungkin akan lain di malam-malam atau waktu yang lain. Di sebuah bangunan terbuka yang bersorot lampu oranye mereka memulai menggoda dan merangsang bibirku untuk mengucapkan kata demi kata yang mungkin membuat mereka penasaran, sekedar ingin tahu, atau bahkan ingin membantu . . . entahlah. tapi rasaku berbeda, tak seiring dengan hasrat mereka. Aku merasa tak ada sesuatu yang harus diungkap, diceritakan, dan dibagikan. Semua sudah tersimpan rapi, tak perlu dikuak, dan hanya aku.

Tapi . . . tak apalah . . . semoga ini menjadi sesuatu yang berharga tak hanya bagiku, namun bagi mereka. Aaaaaahhhh . . . dasar kalian, terima kasih yaaaaa!!!

ketika malam semakin larut

ketika rasa semakin hanyut

bukan aku tak mau berbagi

ini pilihan hati

Cukuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuppppppppppppppppppppppp !!!!!!!!!!!!!

Duduk dan Setia

Ini, kini, dan di sini kita berbicara tentang sesuatu yang baru. Sesuatu yang ingin kita lakukan, yang masih kita harapkan kehadirannya. Kadang kita berpikir ingin melakukan atau membentuk suatu kebiasaan (yang mudah-mudahan kebiasaan positif), namun berat untuk memulai. Seandainya kita sudah memulainya pun, mungkin selalu saja ada sesuatu yang datang dari kanan atau pun kiri yang mencoba merusak niat kita. Akhirnya kita urung untuk membentuk sesuatu yang baru itu. Ya . . . ya . . . ya . . . wajar kok, manusiawi.

ketika aku berubah, aku marah

ketika aku marah, aku gerah

ketika aku gerah, aku lemah

aku berubah ketika aku lemah.

niat kembali dari kelemahanku

hanya niat, niat, dan minggat

aku kembali lemah dengan niat

niat yang tak membawaku menyat

niat . . . aku ingin

ingin duduk dan setia!!!

aaaahhhhh . . . kapan akan kembali??? dari kemarin hanya janji, janji tak tertepati. Keputusan yang tak terputuskan!!! Kesempatan yang tak sempat digunakan.

sudut ruang

Gelap . . . kacau . . . penuh . . . berantakan . . . tanpa arah. Tiba-tiba aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Serasa dijebak ke dalam sudut sumur yang amat dalam, tak ada cahaya, penuh sesak, berantakan, dan tak tahu apa yang semestinya kukerjakan. Ruang ini . . . tak ada teman, tak ada yang bisa ditanya. Hanya ada seekor kecoa bodoh yang menatap kebodohanku. Dia terlihat mengkilap tapi ternyata sama bodohnya denganku. Aku maupun dia bodoh.

*tak akan menyerah dengan keadaan*

Sosiolinguistik

  1. Pengarang                   : P. W. J. Nababan
  2. Penerbit                       : Gramedia
  3. Tahun terbit               : 1984
  4. Kota terbit                   : Jakarta
  5. Jumlah halaman       : 83 lembar

BAB 1

PENDAHULUAN

Sosiolinguistik adalah studi atau pembahasan dari bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat. Sosiolinguistik mempelajari dan membahasa aspek-aspek kemasyarakatan bahasa, khususnya perbedaan (variasi) yang terdapat dalam bahsa yang berkaiatan dengan faktor-faktor kemasyarakatan (sosial).

Masalah utama dari sosiolinguistik adalah mengkaji bahasa dalam konteks sosial dan kebudayaan, menghubungka faktor-faktor kebahasaan, ciri-ciri, dan ragam bahasa dengan situasi serta faktor sosial dan budaya, serta mengkaji fungsi sosial dn penggunaan bahasa dalam masyarakat.

Topik-topik umum dalam pembahasan sosiolinguistik ialah: (a)bahasa, dialek, idiolek, dan ragam bahasa; (b) repertoar bahasa; (c) masyarakat bahasa; (d) kedwibahasaan dan kegandabahasaan; (e) fungsi kemasyarakatan bahsa dan profil sosiolinguistik; (f) penggunaan bahasa (etnografi berbahsa); (g) sikap bahasa; (h) perencanaan bahasa; (i) interaksi sosiolinguistik; dan (j) bahasa dan kebudayaan.

Metode yang digunakan adalah perpaduan dari sosiologi dan linguistik. Metode linguistik digunakan untuk memerikan (deskripsi) bentuk bahasa serta unsur yang ditemukan, yang kemudian digambarkan dengan notasi/tanda-tanda fonetik/fonemik. Cara mengumpulkan data dari lapangan (masyarakat) kebanyakan diambil dari ilmu sosiologi, khususnya yang berhubungan dengan pengamatan (observasi) dan pengumpulan data dengan kuesioner dan wawancara.

Sumbangan utama sosiolinguistik kepada pengajaran bahasa ialah: (a) penekanan kebermaknaan bahasa dalam pengajaran bahasa; (b) pengertian yang lebih mendalam tentang ragam bahasa; (c) tujuan pengajaran bahasa yang bersumber pada penggunaan bahasa dalam masyarakat; (d) bentuk bahasa yang diajarkan disesuaikan dengan bentuk bahasa yang ada dalam masyarakat.

Keadaan sosiolinguistik di Indonesia sangat kompleks. Terdapat banyak bahasa dan dialek, namun Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu. Kebanyakan orang Indonesia belajar bahasa daerah sebagai bahasa pertamanya. Bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua yang dipelajari di bangku sekolah.

 

 

BAB 2

VARIASI DALAM BAHASA

Variasi bahasa adalah ragam bahasa. Dimensi variasi bahasa ada 4, yaitu dialek (daerah/letak geografis), sosiolek (kelompok sosial), fungsiolek (situasi berbahasa/tingkat formalitas), dan kronolek (perkembangan waktu). Cabang linguistik yang mengkaji bahasa yang berbeda (membandingkan) disebut linguistik historis/diakronik (dimensi waktu/sejarah) dan linguistik kontrastif (cara dan sukar mudahnya belajar bahasa dengan latar belakang bahasa lain).

1. Kajian Variasi dalam Linguistik umum

Variasi bahasa dapat dibedakan berdasarkan sumber perbedaan itu, yaitu variasi internal dan eksternal. Variasi internal adalah varisai bahasa yang disebabkan oleh faktor dalam bahasa itu sendiri, khususnya unsur yang mendahukui dan /atau mengikuti unsur yang diperhatikan itu. Sedangkan varisai eksternal merupakan variasi yang sehubungan dengan daerah asal penutur, kelompok sosial, situasi berbahasa, dan zaman penggunaan bahasa itu. Variasi internal memiliki cirri alamiah. Cirri variasi seperti ini dikaji dalam linguistik umum.

2. Kajian Historis-Komparatif

Yang dikaji dalam lapangan historis-komparatif dan linguistik kontrastif adalah materi yang sama, tetapi dengan tujuan dan metode berbeda. Materi kajian berupa perbedaan bahasa. Tujuan dalam kajian komparatif adalah penentuan pola kekerabatan atau struktur “silsilah” dari bahasa. Dengan begini data juga kita peroleh pembagian bahasa di dunia ini ke dalam apa yang disebut rumpun bahasa.

3. Kajian Dialektologi

Dialektologi adalah ilmu yang mengkaji tentang perbedaan-perbedaan bahasa sebagai manifestasi dari variasi dalam suatu bahasa yang sama. Dalam pemetaan variasi dialek dari bahasa dipergunakan konsep isoglos, yaitu garis yang menghubungkan dua tempat yang menunjukkan ciri atau unsur yang sama, atau garis yang memisah dua tempat yang menunjukkan ciri/unsur yang berbeda.

4. Kajian Sosiolinguistik

Sosiolinguistik mencakup pengkajian sosiolek dan fungsiolek. Bahan kajian sosiolinguistik adalah “penggunaan bahasa” oleh penutur-penutur tertentu dalam keadaan yang sewajarnya untuk tujuan tertentu.

5. Aspek Morfologi dan Sintaksis dari Ragam Fungsiolek

Bahasa mempunyai banyak ragam. Ragam bahasa menunjukkan perbedaan struktural dalam unsur-unsurnya. Perbedaan struktural itu adalah berbentuk ucapan, intonasi, morfologi, identitas kata, dan sintaksis. Di sini perhatian difokuskan pada perbedaan morfologi dan sintaksis dari ragam fungsiolek. Funsiolek dibagi menjadi lima tingkatan:

  • Ragam beku (frozen): ragam bahasa paling resmi yang digunakan dalam situasi khidmat dan upacara resmi (dokumen bersejarah, undang-undang dasar, dsb)
    • Ragam resmi (formal): ragam bahasa yang dipakai dalam pidato resmi dan rapat dinas.
  • Ragam usaha (consultative): ragam bahasa yang sesuai pembicaraan di sekolah, perusahaan, dan rapat usaha. Raga mini berada pada tingkat paling operasional.
    • Ragam santai (casual): ragam bahasa santai antarteman dalam berbincang-bincang.
    • Ragam akrab (intimate): ragam bahasa antaranggota yang akrab dalam keluarga.

 

Dalam rangka pengkajian sosiolinguistik, yang relevan bagi kita ialah korelasi perbedaan buni (fonologi), bentuk kata (morfologi), dan bentuk atau susunan kalimat (sintaksis) dengan faktor-faktor sosial. Ragam bahasa tidak hanya mencakup fungsiolek, tapi juga sosiolek dan dialek. Maka dalam pembahasan ragam bahasa ini perlu juga diperhatikan perbedaan kebahasaan antara lapisan masyarakat serta kelompok masyarakat, dan perbedaan kebahasaan antardaerah.

 

BAB 3

KEDWIBAHASAAN

Berdwibahasa (bilingual) adalah berbahasa dengan memakai lebih adri satu bahasa, umpamanya bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Orang yang dapat mengguanakan dua bahasa disebut dwibahasawan.

1. Bilingualisme (kebiasaan) dan Bilingualitas (kemampuan)

Bilingualiame ialah kebiasaan menggunakan dua bahasa dalam interaksi dengan orang lain. Bilingualitas adalah kemampuan untuk berdwibahasa. Jadi, orang yang “berdwibahasa” mencakup pengertian kebiasaan memakai dua bahasa, atau kemampuan memakai dua bahasa. Jikalau kita memperhatikan hubungan logika antara bilingualisme dan bilingualitas, kita dapat mengerti bahwa tidak semua yang mempunyai bilingualitas mempraktekkan bilingualisme dalam kehidupan sehari-hari.

2. Kedwibahasaan Masyarakat dan Perorangan

Istilah kedwibahasaan dapat dipakai perorangan maupun masyarakat. Dalam kedwibahasaan suatu masyarakat terdapat dua keadaan teorotis yang ekstrim. Pertama, keadaan dimana semua anggota masyarakat itu tahu dua bahasa dan menggunakan kedua bahasa setiap hari dalam pekerjaan dan interaksi sosial. Kedua, bila ada dua bahasa dalam masyarakat, tapi tiap orang hanya tahu satu bahasa dan dengan begitu masyarakat terdiri atas dua jaringan komunikasi.

Dengan adanya bilingualisme masyarakat di suatu tempat belum selalu berarti akan terdapat di situ bilingualitas. Perubahan keadaan kedwibahasaan masyarakt (transisi) disebut kedwibahasaan yang labil.

3. Alih Kode dan Campur Kode

Alih kode yaitu peralihan penggunaan bahasa dalam situasi bahasa tertentu agar semua pelaku bahasa dapat berkomunikasi dengan baik. Konsep alih kode mencakup juga kejadian dimana kita beralih dari satu ragam fungsiolek (umpamanya ragam santai) ke ragam lain (umpamanya ragam formal), atau dari satu dialek ke dialek lain, dsb.

Campur kode adalah suatu keadaan berbahasa yang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa tanpa ada sesuatu  dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa itu. Misalnya penggunaan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa daerah. Ciri yang menonjol dalam campur kode adalah kesantaian atau situasi informal.

4. Profil Bilingualitas

Jika kemampuan dan tindak laku dalam kedua bahasa terpisah atau bekerja sendiri, maka disebut sebagai bilingualitas sejajar. Sedangkan bilingualitas majemuk adalah jika kemampuan dan kebiasaan orang dalam bahasa utama berpengaruh atas penggunaan bahasa kedua.

5. Interferensi

Interferensi adalah pengacauan dalam penggunaan dua bahasa. Interferensi perlakuan adalah interferensi yang  terdapat dalam tindak laku bahasa perorangan. Interferensi perlakuan yang terjadi sewaktu orang masih belajar suatu bahasa kedua/asing disebut inteferansi perkembanan. Sedangkan interferensi yang terjadi alam bentuk perubahan unsur, bunyi, atau struktur suatu bahasa dari bahasa lain disebut interferensi sistemik.

6. Pola-pola Bilingualisme

Dalam masyarakat yang berganda bahasa akan terdapat berbagai macam pola kedwibahasaan, yang terdiri dari unsur-unsur berikut: bahasa yang dipakai, bidang kebahasaan, dan teman berbahasa. Jadi, pola kedwibahasaan itu menjawab pertanyaan: bahasa apa yang dipakai orang, untuk bidang kebahasaan apa, dan kepada siapa?

 

BAB 4

FUNGSI-FUNGSI BAHASA

Secara umum bahasa berfungsi untuk komunikasi. Namun berikut ini akan dibahas macam-macam fungsi bahasa secara terperinci.

  1. Fungsi Kebudayaan

Fungsi bahasa dalam kebudayaan sebagai:

  • sarana perkembangan kebudayaan

Bahasa adalah bagian dari kebudayaan, dan bahasalah yang memungkinkan pengembangan kebudayan.

  • jalur penerus kebudayaan

Seseorang belajar dan mengetahui kebudayaannya kebanyakan mealui bahasa. Artinya kita hidup dalam masyarakat melalui dan dengan bantuan bahasa.

  • inventaris ciri-ciri kebudayaan

yang dimaksud dengan bahasa sebagai inventaris kebudayaan adalah segala sesuatu yang ada dalam suatu kebudayaan mempunyai nama dalam bahasa kebudayaan itu.

 

  1. Fungsi Kemasyarakatan

Fungsi kemasyarakatan bahasa menunjukkan peranan khusus sesuatu bahasa dalam kehidupan masyarakat. Klasifikasi bahasa berdasarkan fungsi kemasyarakatan dibagi:

  • Berdasarkan ruang lingkup
  1. bahasa nasional

Bahasa nasional dirumuskan oleh Halim berfungsi sebagai lambing kebanggaan kebangsaan, lambing identitas bangsa, alat pnyatuan berbagai suku bangsa, dan alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya.

  1. bahasa kelompok

Bahasa kelompok adalah bahasa yang digunakan oleh kelompok yang lebih kecil dari suatu bangsa. Di Indonesia disebut sebagai bahasa daerah atau logat daerah.

  • Berdasarkan bidang pemakaian
  1. bahasa resmi: bahasa yang dipakai untuk keentingan resmi kenegaraan. Di Indonesia adalah bahasa Indonesia.
    1. Bahasa pendidikan: bahasa yang dipakai sebagai pengantar dalam pendidikan.
    2. Bahasa agama, bahasa dagang, dsb

 

  1. Fungsi Perorangan

Untuk bahasa anak-anak kecil terdiri dari enam fungsi:

  • Fungsi instrumental: unkapan bahasa, termasuk bahasa bayiuntuk meminta sesuatu.
  • Menyuruh: ungkapan untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu.
  • Interaksi: unkapan yang menciptakan suatu iklim untuk hubungan pribadi.
  • Kepribadian: ungkapan yang menyatakan atau mengakhiri partisipasi.
    • Pemecahan masalah: ungkapan yang meminta atau menyatakan jawab keada suatu masalah atau persoalan.
    • Khayal: unkapan yang mengajak pendengar untuk berpura-pura atau simulasi suatu keadaan seperti yang dilakukan anak jika bermain rumah-rumahan.
    • Informasi (usia lebih dari tiga tahun): memberitahukan suatu hal. Fungsi informative inilah yang didapat jikalau ilmu disajikan di sekolah-sekolah sebagai suatu produk dan bukan sebagi proses.

 

  1. Fungsi Pendidikan

Fungsi ini lebih banyak didasarkan pada tujuan penggunaan bahasa dalam pendidikan dan pengajaran. Fungsi pendidikan bahasa dapat dibagi manjadi 4 subfungsi:

  • Fungsi integratif: memberi penekanan pada penggunaan bahasa sebagai alat yang membuat anak didik ingin dan sanggup menjadi anggota suatu masyarakat.
  • Fungsi instrumental: penggunaan bahasa untuk tujuan mendapatkeuntungan material, memperoleh pekerjaan, meraih ilmu, dsb.
  • Fungsi kultural: penggunaan bahasa sebagai jalur mengenal dan menghargai suatu sistem nilai dan cara hidup, atau kebudayaan suatu masyarakat.
  • Fungsi penalaran: memberikan lebih banyak tekanan pada penggunaan bahasa sebagai alat berfikir dan mengerti serta menciptakan kosep, dengan pendek untuk bernalar. Fungsi penalaran bahasa Indonesia terlaksana bukan hanya karena ada latihan bernalar, tapi karena bahasa Indonesia dipakai dalam mata pelajaran lain.

 

BAB 5

BAHASA DAN KEBUDAYAAN

  1. Bahasa

Semua manusia mempunyai bahasa. Bahasa kita digambarkan terdiri atas tiga subsistem, yaitu: subsistem fonologi (mencakup unsur bunyi serta struktur), tata bahasa: memerikan hubungan antar usur bermakna (morfem, kata, frase, klausa), kosa kata: daftar dari unsur bermakna. Fungsi dasar bahasa adalah untuk komunikasi, yaitu alat pergaulan yang memungkinkan terjadinya interaksi sosial (kekerabatan).

 

  1. Kebudayaan

Semua sistem komunikasi disebut kebudayaan, yaitu keseluruhan sistem komunikasi yang mengikat dan memungkinkan bekerjanya suatu himpunan manusia yang disebut masyarakat. Kebudayaan merupakan:

  • pengatur dan pengikat masyarakat,
  • hal yang diperoleh manusia melalui belajar,
  • pola kebiasaan dan perilaku manusia,
  • sistem komunikasi yang dipakai masyarakat untuk memperoleh kerjasama.

 

  1. Hubungan Bahasa dan Kebudayaan

Bahasa merupakan bagian terpenting dari kebudayaan. Bahasa terlibat dalam semua aspek kebudayaan. Kebudayaan manusia tidak akan terjadi tanpa bahasa. Jadi bahasa adalah pokok bagi kebudayaan dan masyarakat manusia. Hubungan lain dari bahasa dengan kebudayaan adalah bahasa mempunyai makna hanya dalam kebudayaan yang menjadi wadahnya. Bahasa merupakan kunci bagi kebudayaan. Maka untuk mempelajari suatu kebudayaan harus mempelajari bahasanya terlebih dahulu. Bentuk dan struktur bahasa seseorang mempengaruhi cara berpikir (kebudayaan) seseorang.

 

  1. Tata cara berbahasa

Sebagai subsistem kebudayaan, maka tindak laku (tindak cara) berbahasa pun mengikuti norma-norma kebudayaan induknya. Tata cara berbahasa mengatur:

  • Apa yang sebainya kita katakana pada waktu dan keadaan tertentu.
  • Ragam bahasa apa yang sewajarnya kita akai dalam situasi sosiolinguistik tertentu.
  • Kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran berbicara kita dan menyela perbincangan orang lain.
    • Kapan kita harus diam, jangan berbicara.

 

 

BAB 6

PERENCANAAN BAHASA

 

Salah satu gejala modern tentan bahasa ialah bahwa orang lebih sadar akan adanya bahasa di masyarakat, bahwa bahasa-bahasa itu berhubungan satu sama lain, serta bahwa bahasa-bahasa itu mempunyai fungsi dan prestise yang berbeda. Orang juga sadar bahwa kepribadian kelompok manusia erat hubungannya dengan bangsa. Penggarapan bentuk-bentuk bahasa dalam masyarakat disebut perencanaan bahasa.

 

  1. Penentuan Bahasa

Yang paling utama dalam perencanaan bahasa adalah penentuan bahasa apa yang akan dipakai dalam masyarakat (negara) itu serta fungsi apa yang akan dipenuhi. Dalam pemilihan bahasa resmi, khususnya bahasa nasional, sering sekali timbul pertikaian diantara Negara yang berganda bahasa. Akhirnya akan menggunakan bahasa bekas penjajahnya.

 

  1. Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Bahasa baru yang diserahi fungsi kemasyarakatan yang barua kan memerlukan penggarapan-penggarapantertentu agar bahasa itu dapat memenuhi fungsi kemasyaraktan yang diharapkan dari bahasa itu. Salah satu yang diperlukan adalah pembakuan (standardisasi), agar ada kesamaan penggunaannya oleh semua pemakainya. Langkah selanjutnya adalah penyebaran, artinya mengumumkan dan membuat orang memakainya atau mempelajarinya. Ini dapat dilakukan secara formal (sekolah, buku) dan informal (koran, majalah). Di Indonesia masih dalam taraf ini dan lambat laun kita harapkan semua dapat mengikuti EYD.

 

  1. Kesimpulan

Perencanaan bahasa tidak selalu terencana, namun ada usaha perorangan maupun kelompok manusia yang secara sadar/tidak sadar mempengaruhi bentuk fungsi sesuatu bahasa. Tujuan sementara perencanaan bahasa adalah pembakuan, modernisasi, dan grafisasi. Penggunaan ketiga aspek perencanaan bahasa ini dalam pendidikan dan pengajaran : (1) sebagai alat penyebar ilmu pada masyarakat luas, dan (2) sebagai bahan pelajaran yang perlu dimasukkan dalam kurikulum.

 

BAB 7

PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN BAHASA

  1. Bahasa dan pendidikan

Disini, pendidikan merupakan jalur mewariskan dan mewarisi suatu kebudayaan. Tujuan pendidikan tidak cukup sebatas pewarisan, tapi pendidikan juga harus kreatif dan inovatif. Dasar operasional khusus kreativitas ialah “penangguhan penilaian atau penyimpulan” dan memberikan cukup waktu untuk lebih dahulu memikirkan, mendiskusikan segala data dan aspek suatu masalah. Inovasi pendidikan dibuat dan dimungkinkan dengan menggunakan bahasa dalam fungsi-fungsi kepribadian yang bukan hanya informatif, tapi juga mementingkan funsi interaksi, pemecahan persoalan, dan khayalan.

 

  1. Hipotesis Bernstein

Hipotesis ini disebut “hipotesis kerugian” yang didasarkan atas perbedaan variasi bahasa golongan buruh (rendah) dan golongan menengah. Teori ini mengatakan bahwa anak golongan menengah memakai variasi bahasa yang berbentuk lengkap di rumah, sedangkan anak golongan buruh dibesarkan dalam lingkungan variasi bahasa yang terbatas atau tidak berbentuk lengkap. Di sekolah, bahasa yang digunakan mirip dengan bahasa lengkap (golongan menengah), maka golongan buruhlah yang harus dirugikan untuk mempelajari bahasa baru (lengkap).

Hasil hipotesis ini dihubungkan dengan pengetahuan bahwa bahasa lah alat utama pendidikan. Banyak ahli mengatakan ketidakberhasilan pendidikan adalah ketidakberhasilan kebahasaan.

 

  1. Tujuan Belajar Bahasa

Tujuan balajar bahasa dapat digolongkan ke dalam empat golongan utama:

  1. penalaran,

Tujuan penalaran menyagkut kesanggupan berpikir dan pengungkapan nilai serta sikap sosial budaya, pendeknya identitas dan kepribadian seseorang.

  1. instrumental,

Tujuan instrumental menyangkut penggunaan bahasa yang dipelajari untuk tujuan-tujuan material dan konkret, umpamanya supaya tahu memakai alat-alat, memperbaiki kerusakkan mesin, mempelajari suatu ilmu, dan sebagainya.

  1. integratif,

Tujuan integratif menyangkut keinginan seseorang menjadi anggota sesuatu mesyarakat yang menggunakan bahasa itu sebagai bahasa pergaulan sehari-hari dengan cara menguasai bahasa itu seperti penutur aslinya.

  1. Kebudayaan

Tujuan kebudayaan terdapat pada orang yang secara ilmiah ingi engetahui, atau memperdalam pengetahuannya, tenyang suatu kebudayaan atau masyarakat. Ini didasarkan atas asumsi bahwa bahasa adalah suatu inventaris dari unsur kebudayaan masyarakat, sehingga menguasai bahasa akan membantu pendalaman tentang kebudayaan atau kehidupan mesyarakat yang memakai bahasa tersebut.

 

  1. Makna Bahasa

Makna diungkapkan dengan unsur kebahasaan (morfem, kata, farse, klausa) yang dapat dimodifikasi dengan struktur dan fonologi. Di zaman komunikasi massa sekarang ini semakin terasa perlunya dimasukkan dalam pelajaran bahasa disekolah pengertian yang lebih dalam tentang makna bahasa.

 

  1. Bahasa dalam Interaksi Belajar-Mengajar

Bahasa merupakan alat utama untuk berinteraksi antara guru dan murid. Oleh karena itu, jelas bahwa akan berguna sekali jika kita sadar akan pola penggunaan bahasa dalam interaksi belajar mengajar, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas belajar-mengajar itu.

 

  1. Kesimpulan

Bahasa adalah bagian dari kebudayaan dan berfungsi sebagai inventaris unsur-unsur kebudayaan. Bahasa juga berfungsi sebagai jalur dan alat pembudayaan orang dan sebagai alat penerus dan pengembang kebudayaan. Faktor dalam masyarakat menentukan variasi bahasa yang digunakan orang  sehingga pengetahuan akan pola berbahasa orabg dan kelompok dapat berguna dalam pengkajian masyarakat itu.

DEBAT

I. PENGANTAR

Debat seringkali dicampuradukkan banyak orang dengan diskusi, walaupun ada perbedaan besar lain metode, lain maksud, lain pula hasilnya. Persamaan antara kedua bentuk pembicaraan itu hanyalah bahwa keduanya merupakan tukar menukar pikiran secara teratur.Penulis bermaksud secara singkat menjelaskan beberapa pengertian tentang debat dan seluk beluknya ( Kursus Kader Katolik, 1970 : 4).

 

II. PENGERTIAN

Debat merupakan suatu argumen untuk menentukan baik tidaknya suatu usul tertentu yang didukung oleh suatu pihak yang disebut pendukung atau afirmatif, dab ditolak, disangkal oleh pihak lain yang disebut penyangkal atau negatif ( Tarigan, 1984 : 86). Pengertian lain tentang debat adalah suatu proses komunikasi lisan, yang dinyatakan dengan bahasa untuk mempertahankan pendapat ( Dispodjojo, 1984 : 47 ).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2003 : 242 ) debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Menurut Dori Wuwur dalam bukunya Retorika (1991:120) debat adalah saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia dengan tujuan mencapai kemenangan untuk satu pihak. Menurut Kamdhi (1995:24-26) debat adalah suatu pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai suatu pokok masalah dimana masing-masing peserta memberikan alasan untuk mempertahankan pendapatnya.

 

II. UNSUR-UNSUR DEBAT

a. Unsur debat secara khusus

Dalam debat unsur subjektif sangat berpengaruh; maksudnya sering perasaan orang dan emosi lebih mendasari suatu pandangan daripada fakta. Jadi, tidak jarang perdebatan sewaktu-waktu menruncing menjadi panas, khususnya dalam perdebatan ideologis. Orang mudah dikuasai oleh emosi dan tidak lagi berpikir secara rasional. Maka tak heran jika mereka mulai bersikeras dan bersitegang mempertahankan pandangan atau gagasannya, meskipun secara objektif hal itu kurang penting (Kursus Kader Katolik, 1970 : 6 ).

b. Unsur umum debat

Unsur umum debat sama dengan unsur public speaking, tetapi ada beberapa perbedaan dalam debat yaitu :

  1. materi/tema debat : pokok pembicaraan yang akan dibahas dalam debat.
    1. tema : ide pokok yang menjadi bahan debat
    2. tujuan : untuk kemenangan, mempertahankan argumen atau pendapat
    3. langkah-langkah: terdiri dari orientasi, pengumpulan fakta, pembahasan, dan penyimpulan.
    4. tata tertib: peraturan-peraturan yang diterapkan dalam pelaksanaan debat.
  2. personalia; terdiri dari :
    1. panitia : terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara.
    2. debat; di dalamnya terdapat :
    3. moderator : orang yang mengatur jalannya debat
    4. pihak penyanggah : pihak yang tidak setuju dengan pihak pendukung
    5. pihak pendukung : pihak yang mendukung (pihak yang pro)
    6. juri : orang yang memberi penilaian jalannya debat
    7. publik : orang yang mengikuti jalannya debat
    8. penyedia dana : orang yang menyediakan dana untuk jalannya diskusi
    9. MC (jika diperlukan): memandu acara dari awal hingga akhir
  3. fasilitas ; meliputi :
    1. lingkungan
    2. ruang
    3. sound system
    4. media (OHP, sarana dan prasarana)

 

III. MACAM-MACAM DEBAT

Menurut Dispodjojo dalam bukunya Komunikasi Lisan ( 1984 : 48-60 ), macam debat berdasarkan bentuknya dibedakan atas

1. Debat Tradisional

Debat bentuk ini banyak dilakukan diberbagai tempat misalnya di dalam masyarakat atau suatu kelompok terdapat suatu permasalahan yang dipandang perlu dibicarakan secara umum dan terbuka agar masyarakat dapat memahaminya dan dapat menentukan pendiriannya terhadap masalah tersebut.

2. Debat Berseling

Debat berseling disebut juga The Cross-Examination Debate atau disebut juga The Oregeon Plan of  Debate. Pelaksanaan debat bentuk ini berbeda dengan Debat Tradisional, sebab pada Debat Berseling setelah setiap pembicara dari kelompok pembicara selesai berbicara, anggota dari kelompok lawan langsung diberi kesempatan mengajukan pertanyaan terhadap uraian yang baru saja diutarakan oleh lawan bicara.

3. Debat Langsung

Debat Langsung ini disebut juga dengan istilah The Direct Clash Debate.

Bentuk ini mempunyai dua ciri khusus :

(1).  Kedua kelompok yang akan berdebat setelah mengutarakan pandangannya mengenai judul debat menentukan masalah-masalah apa saja yang perlu dibicarakan berhubungan dengan judul debat itu, bagaimana urutan masalah yang akan diperdebatkan.

(2).   Dalam debat itu Moderator menentukan penilaiannya kelompok mana yang menang dalam memperdebatkan masalah yang telah mereka setujui, setiap selesai memperdebatkan tiap masalah.

4. Debat Kelompok Terpisah

Debat dalam bentuk ini juga disebut The Split Team Debate, dilakukan untuk perdebatan antara kelompok satu dengan kelompok yang lain, boleh juga antara sekolah, Fakultas, Universitas dengan sekolah, Fakultas atau Universitas yang lain, tetapi dalam pelaksanaan debat kelompok itu dipisah-pisahkan. Artinya semua anggota dari kelompok mana saja yang menyetujui gagasan yang terumuskan dalam judul debat sama-sama membentuk satu kelompok yang dinamai Kelompok Pendukung, dan siapa saja yang tidak menyetujui gagasan yang terumuskan dalam judul debat itu terkumpul menjadi satu dan membentuk Kelompok Penyanggah.

5. Debat dengan Menjegal

Debat ini juga disebut dengan The Heckling Debate. Disebut demikian karena setiap pembicara sewaktu mengutarakan pendapatnya dapat dipotong dengan pertanyaan oleh kelompok lawan, setelah melampaui batas waktu bicara minimal yang ditentukan. Mereka yang berdebat juga terdiri atas dua kelompok: Kelompok Pendukung dan Kelompok Penyanggah.

6. Debat Pemecahan Masalah

Debat macam ini disebut juga dengan nama The Problem Soulving Debate. Perbedaan yang segera tampak pada debat semacam ini adalah kelompok yang berdebat tidak dibedakan dengan Kelompok Pendukung dan Kelompok Penyanggah. Tetapi kelompok-kelompok itu dibedakan dengan nama mungkin kelompok satu atau kelompok dua. Debat macam ini tidak ditemukan preposisi , ialah suatu pernyataan yang harus dipertahankan atau diserang tetapi hanya terdapat suatu masalah yang tersusun, dalam bentuk kalimat tanya.

 

Menurut Tarigan dalam bukunya Berbicara Sebagai Keterampilan Berbahasa           ( 1984: 90-92 ), juga membagi macam debat berdasarkan bentuk, maksud dan metodenya maka dapat diklasifikan atas tipe-tipe atau kategori, sebagai berikut :

1. Debat Parlementer atau Majelis ( Assembly or Parlementary Debating )

Maksud dan tujuan Debat Majelis atau Parlementer adalah untuk memberi dan menambahi dukungan bagi suatu Undang-Undang tertentu dan semua anggota yang indin menyatakan pandangan dan pendapatnyapun berbicara mendukung atau menentang usul tersebut setelah mendapat ijin dari Majelis.

2. Debat Pemeriksaan Ulangan untuk Mengetahui Kebenaran Pemeriksaan Terdahulu  ( Cross-Exemanation Debating )

Maksud dan tujuan perdebatan ini ialah mengajukan serangkaian pertanyaan yang satu sama lain erat berhubungan, yang menyebabkan para individu yang ditanya menunjang posisi yang hendak ditegakkan dan diperkokoh sang penanya.

3. Debat Formal, Konvensional atau Debat Pendidikan ( Formal, Conventional, or educational Debating ).

Tujuan debat formal adalah memberi kesempatan bagi dua tim pembicara untuk mengemukakan kepada para pendengar sejumlah argumen yang menunjang atau membantah suatu usul.

 

Menurut Dori Wuwur (1991: 121-123) macam debat ada dua macam yaitu :

1. Debat Inggris

Terbagi menjadi dua macam yaitu debat tertutup maksudnya setiap orang hanya berbicara satu kali, oleh karena itu pembicara harus menyiapkan diri dan menyusun jalan pikirannya secara cermat. Debat yang selanjutnya adalah debat terbuka maksudnya orang dapat berbicara lebih dari satu kali. Sesudah semua peserta berbicara, kedua pembicara pertama dari masing-masing kelompok menyampaikan kata penutup.

2. Debat Amerika

Debat ini dilakukan oleh dua regu yang berhadapan, tapi masing-masing regu menyiapkan tema melalui pengumpulan bahan sevara telitidan penyusunan argumentasi yang cermat. Para anggota anggota debat ini adalah orang-orang ynag terlatih dalam seni berbicara, semua berdebat didepan sekelompok Juri dan public umum.

 

IV. TAKTIK-TAKTIK DALAM DEBAT

Menurut Kursus Kader Katolik dalam buku Taktik Berdebat (1970 : 17-89 ) adapun taktik debat seperti berikut :

  1. Menolak argumentasi lawan
    1. isi ditolak langsung

Maksud metode ini : menghindari si lawan, agar ia jangan sampai mengemukakan pendapatnya secara lengkap dan meyakinkan. Dengan menyangkal fakta, yang merupakan dasar pendapatnya, dia terpaksa membuang waktu yang berharga itu untuk hal-hal yang remeh. Jadi dia tidak sampai sasarannya.

Debat ini biasanya digunakan :

a.1  dalam pengadilan khususnya oleh pembela.

a.2  untuk menolak permintaan yang belum mau dikabulkan.

a.3 sebagai pembelaan diri untuk melemahkan serangan lawan, jika diketahui        bahwa si lawan sesungguhnya tidak mempunyai bukti bagi tuduhannya.

 

  1. isi ditolak secara tidak lansung.

Metode ini disebut juga dengan “ pisau analisa “ yaitu : menyerang pendapat lawan secara tidak langsung, dengan menariknya dari pokok persoalan kepada segi-segi khusus dan detail-detail yang diketahui lebih baik karena keahlian, pengalaman dan persiapan yang teliti.

Debat ini biasanya digunakan :

b.1  kalau kita menguasai persoalan yang dibicarakan itu, atau kita ahli dalam  bidang itu dan lawan tampaknya mengerti sepotong-sepotong saja.

b.2   jika kita punya waktu yang cukup, karena dalam debat ini butuh waktu yang agak panjang dalam menguaraikan salah satu segi dan dibuat sedemikian rupa, sehingga lawan menjadi lelah serta kehilangan semangat untuk mengejar maksudnya.

 

  1. Menggunakan Argumentasi Lawan Sendiri
    1. Melebih-lebihkan

Maksud metode ini adalah dari gagasan atau maksud atau ucapan lawan masuk akal atau tidak masuk akal ditarik konsekuensi secara berlebih-lebihan sehingga menuju pada suatu kesimpulan yang pasti tidak masuk akal, atau “ absurd “.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :

a.1 jika apa yang dikemukakan lawan itu logis dan beralasan, sehingga  menyerangnya langsung tidak banyak gunanya.

a.2 jika kita tidak bermaksud menanggapi ucapan atau pendapat lawan secara serius, meskipun apa yang dikatakannya itu memang tepat.

a.3 jika maksud atau gagasan lawan itu menimbulkan konsekuesi yang positif dan negatif.

 

  1. Mengubah ucapan lawan sedikit.

Maksud metode ini membuat pandangan atau usul pihak lawan itu sebagai objek yang mudah dapat diserang yaitu dengan cara mengubah arti ucapan atau pandangan lawan dan kemudian arti atau ucapan yang telah diubah itu diserang sampai hancur.

 

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :

b.1 dalam politik bahan debat sering dikaitkan dengan alasan emosionil.

b.2 lawan mengemukakan pendapat atau serangan secara samar-samar (berdwi –arti) sehingga mudah ditafsirkan berbeda-beda dan dipilih segi yang menjatuhkannya.

 

  1. Menunjuk Segi atau Sudut Lain dari Pendapat atau Argumen Lawan.
    1. Tiada gading yang tak retak

Maksud metode ini menjatuhkan pendapat atau gagasan atau tindakan lawan, yang berat sebelah hanya memandang dari satu sudut yang menguntungkan dirinya sendiri dengan mengemukakan segi-segi lain dari pendapat atau maksudnya itu, yang belum ditinjau, agar gambaran yang lebih lengkap memperlihatkan secara jelas kelemahan pendapat atau gagasan lawan itu.

Metode ini digunakan dalam kesempatan :

a.1 jika lawan mengemukakan gagasan atau maksud atau pandangannya yang berat sebelah.

a.2 pada debat-debat politik pernilaian atas sesuatu hal yang sama sering dapat berbeda selaras dengan sudut pandangan masing-masing pihak yang berlawanan.

a.3 dalam propaganda, kampanye atau perang iklan masing-masing pihak berusaha memuji-muji “obatnya” sendiri dan kadang-kadang memburuk-burukan pihak lain.

 

b. Berdialektika

Maksud metode ini melemahkan pendapat atau gagasan atau tindakan lawan dengan mengemukakan pandangan atau gagasan yang bertentangan meskipun dalam kedua-duanya terdapat segi-segi kebenaran.

 

 

Metode ini dapat digunakan dalam :

b.1 debat mengenai soal-soal ilmiah dan poltik, dimana hampir selalu terdapat pandangan yang bertentangan.

b.2 kita berusaha mencari kompromi dengan pihak lawan.

b.3 kita mengadakan pertentangan semu (paradoks)

 

4.   Mengalihkan pokok pembicaraan kepada hal-hal lain

a. melarikan diri pada hal-hal umum

Maksud metode ini mengalihkan perhatian dari persoalan lawan yang khusus kepada persoalan atau pandangan yang umum atau latar belakang atau situasi yang umum yang tidak dimaksudkan oleh lawan itu.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan:

a.1  jika segolongan tidak mau menanggapi kritik yang dilontarkan pihak lawan meskipun ada segi benar dan penting.

a.2 jika kritik atau serangan lawan memang beralasan, tetapi tidak mau membebaskan diri dari kesalahan atau kekurangan kita itu.

 

b.“jikalau” dan “akan tetapi”

Maksud metode ini adalah menolak secara tak langsung pendapat atau usul atau rencana lawan dengan mengemukakan kemungkinan-kemungkinan, yang tidak diinginkan, atau sekurang-kurangnya melemahkan segi baik daripada pendapat, usul atau rencana lawan itu.

Taktik ini digunakan dalam hal :

b.1 menolak secara tak langsung atau secara halus perintah atau permintaan seseorang.

b.2 menguji pendapat atau usul atau rencana lawan dengan mengambil suatu kemungkinan.

c. salah tarik

Maksud metode ini merupakan penarikan kesimpulan yang seolah-olah nampak benar namun sesungguhnya salah, karena menjadikan sesuatu yang khusus menjadi dasar hukum yang seakan-akan berlaku umum.

Metode ini digunakan dalam kesempatan :

c.1 lawan mengemukakan pendapat atau gagasan atau argumennya berdasarkan beberapa kejadian atau pengalaman saja.

c.2 kita ingin memojokkan lawan dengan menjatuhkan pendapat atau gagasan atau argumennya atau yang didasarkan atas suatu penarikan kesimpulan (induksi) yang tepat.

c.3 pendapat atau argumen lawan yang hanya berdasarkan pengetahuan yang tidak dialaminya sendiri tetapi didapatnya dari orang lain atau bacaan-bacaan, dapat dilemahkan dengan mengemukakan pengalaman pribadi tentang hal itu.

 

  1. mencap

Maksud metode ini adalah menyerang pendapat atau ucapan atau argumen lawan dengan mencap pandangan atau pribadi daripada si lawan itu sebagai penganut aliran, golongan, ideologi yang buruk di mata masyarakat.

Taktik mencap ini digunakan dalam debat politik, ideologis, antar golongan yang sering disertai unsur-unsur emosional.

e. mensitir

Maksud metode ini adalah menunjuk pendapat/tulisan/ucapan orang-orang terkemuka atau berkuasa lebih mudah dipercayai dan diakui sesuatu yang benar.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :

e.1 dalam debat-debat ilmiah, politik, dan kebudayaan, dimana ucapan atau pendapat para terkemuka atau orang berkuasa dalam bidang itu memegang peranan penting.

e.2 jika si lawan mengemukakan pandangan atau usul yang baru atau menyimpang dari pendapat atau gagasan kelompok atau lingkungan hidupnya.

e.3 jika lawan itu seorang yang plin-plan ucapan atau pendapatnya mudah berubah-ubah, tidak memiliki pendirian konsekuen.

 

f. main tersinggung

Maksud metode ini adalah :

  1. mengalihkan jalannya debat yang bersifat zakelijk * menjadi suatu pertentangan pribadi, supaya perdebatan dibelokkan keluar dari isi pokok semula.
  2. menyinggung lawan secara tak langsung melalui “sindiran”, yang memang dimaksudkan untuk memancingnya. Kalau lawan terpancing maka tercapailah maksud.

Taktik ini dapat digunakan dalam kesempatan :

f.1 jika sesorang ingin mencari alasan dari ucapan atau argumen lawan yang bersifat zakelijk guna mencapai tujuannya yang bersifat pribadi.

f.2 jika seseorang merasa segan untuk mengemukakan pendapat atau argumen secara terang-terangan karena dia dapat dicap berlaku kasar.

f.3 jika sindiran-sindiran lawan cukup serius dan perlu dilayani, agar tidak merugikan pihak kita sendiri maka taktik lawan tadi dapat ditanggapi.

 

  1. Menghindari tema atau pokok pembicaraan yang di kemukakan lawan
    1. Menolak Tema

Pokok persoalan atau tema yang dikemukakan lawan ditolak atau dihindari,. Penolakan atau penghindaran tema itu berdasarkan dua alasan :

  1. Tema itu tidak berguna didebatkan sekarang hanya akan membuang-buang waktu  saja.
  2. Tema itu melemahkan posisi kita, karena belum siap, belum mempelajarinya secara mendalam, merugikan kepentingan diri atau kelompok kita.

 

 

 

* zakelijk ( Bel ) : sikap/tindakan yang didasarkan atas fakta dan hubungan yang rasional tanpa menonjolkan segi emosional.

Taktik ini sebaiknya digunakan dalam kesempatan :

a.1 kalau sejak semula telah kita lihat, bahwa tema itu tidak membawa hasil yang nyata atau hanya akan membuang-buang waktu saja.

a.2 kalau soal itu sendiri memang penting, tapi kita belum siap atau tidak memiliki pengetahuan, fakta, info, yang cukup tentang tema itu.

a.3 kalau tema yang dikemukakan lawan itu merugikan, sehingga kalah dalam pemungutan suara, tema itu membuka kelemahan intern (pecah belah intern belum di atasi) atau tema itu hanya isu yang sementara itu memberi untung atau angin kepada pihak lawan (suasana psikologis menguntungkan mereka).

b.Menyerang dari belakang

Maksud taktik ini adalah seolah-olah nampak sebagai suatu uraian yang mendalam, tetapi sesungguhnya hanya menyingkirkan pokok tema yang dikemukakan lawan.

Taktik menyerang dari belakang ini dapat dilakukan melalui tiga cara :

b.1   mengemukakan dasar sejarah, kebudayaan, geografis, yang melatar belakangi pandangan atau argumen lawan itu.

b.2  menunjukkan bahwa dasar yang melandasi pendapat atau argumen lawan itu sebenarnya.

    1. Melantur

Maksud dari metode ini adalah berbicara hilir mudik tanpa isi dan tujuan tertentu, sitir sana sitir sini ucapan-ucapan yang tidak berhubungan satu dengan yang lainnya.

Taktik melantur ini dapat digunakan dalam kesempatan dalam mengulur-ulur waktu dan menunda keputusan yang akan diambil, karena berbagai alasan.

    1. Caranya ditolak

Maksud metode ini: dengan menolak cara atau bentuk serangan lawan (A) berusaha menghindari perdebatan tentang isi pendapat atau serangan atau argumen dari lawan itu sendiri. Alasan pihak B untuk menghindari perdebatan dengan pihak A dapat berbeda-beda.

Taktik ini dapat digunakan dalam kesempatan-kesempatan:

d.1. Dipengadilan, pembela dapat menolak caranya tuntutan dikemukakan dan minta kepada hakim untuk mengundurkannya, karena dia belum diberi waktu secukupnya dan kebebasan yang sepenuhnya untuk berbicara dengan orang yang dibelanya.

d.2.  Lawan mengemukakan pendapat atau maksud atau permohonannya tidak sesuai dengan saluran atau prosedur yang resmi.

 

  1. Menyerang dengan semu
    1. Mengambil hati

Metode ini  tidak menyerang pihak lawan seperti metode-metode lainnya, tetapi lebih berusaha “ mengambil hatinya”, supaya dia  akhirnya melepaskan pendapat atau argumen dan menerima pandangan kita.

Taktik ini dapat digunakan pada kesempatan sebagai berikut:

a.1. kita berhapadan dengan orang yang lebih tua atau lebih tinggi jabatannya,begitu pula jika kita berdebat dengan orang yang memiliki nama baik atau ahli dalam bidang itu.

a.2. kita ingin menolak suatu usul atau permohonann orang lain tanpa meninggalkan satu kesan yang buruk pada diri orang itu terhadap diri atau kelompok atau perusahaan kita.

a.3.  kita ingin memohon suatu pertimbangan kembali atas putusan dari atasan, yang tidak diterima.

    1. Dilema semu

Maksud metode ini adalah membawa lawan kepada suatu keadaan, yang membuat dirinya serba salah: pilih ini salah, pilih itupun salah.

Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan:

b.1. kita ingin memojokkan lawan  kesuatu sudut, yang mematahkan sekalian argumennya. Lawan dipaksa untuk menyerah, mengalah atau mengakui kesalahannya.

b.2. kita ingin memaksa lawan mengikuti jalan pikiran kita, dengan mengemukakan dua pilihan, yang dua-duanya  yang akan menjatuhkan argumen lawan itu sendiri.

 

V. PERSIAPAN DEBAT

Menurut Tarigan dalam bukunya berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa (1984: 101-105) para anggota debat harusnya mempersiapan dua jenis pidato yang berbeda, yaitu :

  1. Pidato konstruktif: pidato yang membangun atau berguna.

Setiap anggota debat haruslah merencanakan suatu pidato konstruktif yang diturunkan dari argumen-argumen dan fakta-fakta dalam laporannya serta disesuaikan  atau diadaptasikan baik dengan kebutuhan-kebutuhan para pendengarnya maupun kepada argumen-argumen yang mungkin timbul dari para penyanggahnya.

  1. Pidato sanggahan, pidato tangkisan: pidato sangkalan.

Dalam pidato sanggahan tidak diperkenankan adanya argumen-argumen konstruktif yang baru, tetapi fakta-fakta tambahan demi memperkuat yang telah dikemukakan  dapat diperkenalkan dalam mengiktisarkan kasus tersebut.

 

Menurut Dispodjojo dalam bukunya komunikasi lisan (61-62) ada beberapa persiapan debat diantaranya:

  1. Menganalisis hakikat judul

Hendaknya dianalisis betul hakikat judul yang akan diperdebatkan, betulkan ia menguasainya, adakah preposisi debat itu bersifat politik, fakta ataukah penilaian.

  1. Meneliti.

Persiapan berikutnya ialah mencari dan mengevaluasi bukti-bukti yang akan dipilih sebagai alat pembuktian yang akan memperkuat kedudukannya dalam berdebat.

  1. Menyusun  persiapan

Kegiatan berikutnya mengumpulkan dan menyusun pendapat-pendapat dalam suatu pola tertentu yang disiapkan untuk menjadi bahan pembuktian dan pertahanan.

  1. Menduga-duga pendapat lawan.

Berdebat adalah akan menangkis pendapat lawan dan berusaha menyakinkan pendiriannya kepada lawan.

VI. PATOKAN DALAM BERDEBAT

Dalam berdebat ada enambelas patokan ynag depat digunakan (Dori Wuwur, 1991:123-125):

  1. Kita harus berkonsentrasi dan membataskan diri pada pokok pikiran lawan bicara yang menjadi titik lemah.
  2. Apabila posisi kita lemah maka kita tidak bisa mengemukakan argumentasi yang efektif, oleh karena itu kita harus selalu kemabali kepada titik lemah lawan bicara.
  3. Kita hanya boleh mengemukakan pembuktian apabila kita tahu pasti bahawa alasan lawan bicara tidak lebih kuat dari pada alasan kita.
  4. Apabila lawan menunjukkan argumentasi kita maka kita juga harus menunjukkan hal yang sama pada pihak lawan.
  5. Kita harus membedakan antara kesalahan yang terjadi antara hubungan dengan tata sopan santun dan kesalahan argumentatif yang dapat menjebak lawan bicara.
  6. Kita harus menunjukkan secara jelas kebenaran dan kekuatan kita, sebelum lawan melihat kelemahan kita.
  7. Pikiran atau ide itu tidak menentukan, yang menentukan adalah tindakan.
  8. Mempergunakan suatu perbandingan atau suatu ungkapan, seluruh pikiran nampak tidak berbobot.
  9. Orang menanggapi argumentasi lawan hanya terhadap apa ynag dikatakan pertama atau yang terakhir.
  10. Orang yang ingin menemukan kesalahan pada pikiran lawan bicara, dia harus menyingkap sesuatu yang tidak pernah dimunculakan dalam debat itu.
  11. Apabila lawan bicara mau mengemukakan suatu hal yang khusus, maka kita harus mencoba menggeneralisasikannya.
  12. Apabila ternyata bahwa pembuktian lawan itu kuat, maka kita harus mencoba memaparkannya kembali, tetapi dengan memanipulasikan akibat-akibatnya.
  13. Seringkali seseorang dapat berhasil menang dalam debat,apabila dia menyerang berbagai pendapat yang muncul dengan cara mengejek.
  14. Pengamatan yang tepat, pengertian yang dalam dan logika mengkarakterisasi suatu debat yang baik.
  15. Debat dilatarbelakangi oleh sifat ingat diri dan menuntut satu disiplin rohani-akademis yang tinggi.
  16. Berdebat berarti menundukkan lawan lewat argumentasi atau dengan kata lain menaklukan lawan bicara, tetapi dengan cara yang fair dan sportif sebagai mana pertandingan dalam olah raga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Dipodjojo, Asdi.1982. Komunikasi Lisan. Yogyakarta: PD. Lukman

Dori Wuwur, Henrikus. 1991. Retorika. Yogyakarta : Kanisius

Kamdhi, JS. 1995. Diskusi Yang Efektif. Cirebon : Kanisius

KKK.1970.Taktik Berdebat.Jakarta : K.m./CLC

Tarigan, Henry Guntur.1984. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung : Angkasa

 

manajemen Keuangan Sekolah

Pengertian

Kegiatan administrasi keuangan sekolah adalah suatu proses pencatatan dan pengendalian keuangan milik sekolah yang dilaksanakan secara bertanggungjawab, jujur, terbuka, tertib, cermat, efektif, efisien sehingga terarah pada pencapaian tujan sekolah secara optimal. Manajemen keuangan di sekolah terutama berkenaan dengan kiat sekolah dalam menggali dana, kiat sekolah dalam mengelola dana, pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program tahunan sekolah, cara mengadministrasikan dana sekolah, dan cara melakukan pengawasan, pengendalian serta pemeriksaan.

Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektivitas. Oleh karena itu, disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di sekolah, juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan keuangan baik yang bersumber dari pemerintah, masyarakat dan sumber-sumber lainnya.

Ada beberapa sumber dana yang dapat diperoleh misalnya dari siswa/orang tua, masyarakat, pemerintah/yayasan, para dermawan dsb. Sumber-sumber ini hanya bersedia memberi sumbangan apabila nampak pada mereka adanya program-program yang jelas, penggunaan yang efektif dan pertanggung jawaban yang baik. Orang tua dan masyarakat adalah sumber dana yang sangat penting, oleh karena itu hendaknya sekolah terbuka bagi kontrol masyarakat, agar masyarakat menaruh kepercayaan bahwa uang mereka benar-benar digunakan secara baik sesuai dengan program yang telah ditetapkan. Manajemen yang berhubungan dengan keuangan antara lain :

  • Buku kas
  • Buku tabelaris
  • Daftar gaji
  • Daftar honorium
  • Surat Pertanggungjawaban (SPJ), dsb.

 

Dalam pelaksanaannya, manajemen keuangan menganut asas pemisahan tugas antara fungsi : (1) Otorisator; (2) Ordonator; dan (3) Bendaharawan. Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordonator adalah pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang telah ditetapkan. Bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban.

Kepala Sekolah, sebagai manajer, berfungsi sebagai Otorisator dan dilimpahi fungsi Ordonator untuk memerintahkan pembayaran. Namun, tidak dibenarkan melaksanakan fungsi Bendaharawan karena berkewajiban melakukan pengawasan ke dalam. Sedangkan Bendaharawan, di samping mempunyai fungsi-fungsi Bendaharawan, juga dilimpahi fungsi Ordonator untuk menguji hak atas pembayaran.

1. Macam-Macam Kegiatan Administrasi Keuangan Sekolah

  • Kegiatan pengendalian keuangan sekolah

Kegiatan pengendalian keuangan sekolah merupakan usaha-usaha seorang administrator agar kegiatan pengadaan dan penggunaan keuangan sekolah mengarah secara tepat pada pencapaian tujuan sekolah secara optimal berkat adanya tindakan-tindakan secara bertanggung jawab, terbuka, jujur, tertib, cermat, kreatif, efektif, dan efisien. Pengendalian keuangan sekolah ini terutama pada rencana anggaran pendapatan dan belanja (RAPB) sekolah, yakni suatu pernyataan mengenai uraian pendapatan dari sumber-sumber pendapatan yang digunakan untuk melaksanakan berbagai kegiatan sekolah sebagai belanja sekolah selama satu tahun anggaran. Sumber pendapatan dana sekolah dapat diperoleh dari SPP, BP3, DPP.

  • Kegiatan proses pencatatan keuangan sekolah

Kegiatan ini meliputi kegiatan penerimaan dan penyimpanan, penggunaan dan pertanggungjawabannya. Pencatatan harus dilakukan secara tanggung jawab, terbuka, jujur, tertib, cermat, aman, benar, sah, efektif, dan efisien. Oleh karena itu, dalam kegiatan ini diperlukan rekan kerja ynag profesional atau bendaharawan yang memiliki pribadi yang sesuia dan memiliki pengetahuan dan kecakapan tentang keuangan yang memadai. Setiap penerimaan uang harus dicatat oleh bendaharawan dalam buku kas umum dan buku kas pembantu sesuai dengan jenis penerimannya.

  • Buku kas umum

Buku kas umum yaitu buku yang digunakan untuk pencatatan penerimaan dan pengeluaran dana untuk semua mata anggaran dari satu jenis sumber pendapatan.

  • Buku kas pembantu

Buku kas pembantu adalah buku yang digunakan untuk pencatatan dan penggunaan dari setiap mata anggaran dari satu jenis sumber pendapatan (Buku kas Tabelaris).

2. Penyimpanan dan penggunaan keuangan sekolah

Uang sekolah harus disimpan di tempat yang aman, seperti brankas peti besi. Penyimpanan uang tunai di sekolah sebaiknya secukupnya saja, sesuai dengan batas jumlah yang telah ditentukan, sehingga tidak perlu terjadi sisa penegluaran dana demi keselamatan dana. Dana yang akan dikeluarkan untuk membiayai kegiatan yang tercantum dalam RAPB, maka pengeluaran harus dapat dipertanggungjwabkan oleh bendahara secara sah, benar, dan efisien.

3. Pertanggungjawaban keuangan sekolah

Laporan pertanggungjawaban dibuat secara tertulis oleh bendaharawan. Isi laporan pertanggungjawaban itu mengenai penerimaan dan pengeluaran dana sekolah dalam bentuk surat pertanggungjawaban (SPJ) yang dibuat setiap bulan dan setiap akhir tahun anggaran. Laporan tersebut, kadang-kadang dilengkapi dengan pemerikasaan langsung terhadap pembukuan dan penyimpanan uang tunai serta tanda bukti penerimaan dan pengeluaran dana. Laporan tersebut dimaksudkan agar bendaharawan dapat melaksanakan dengan benar, sah, efisien dalam menerima, menyimpan, dan menggunakan keuangan sekolah demi keselamatan keuangan sekolah.

Bila terjadi pemerikasaan keuangan sekolah, perlu dibuat berita acar mengenai proses pemeriksaan dan hasilnya yang ditandatangani bendaharawan. Pihak berwenang melakukan pemeriksaan berita acara untuk memperbaiki atau menyempurnakan pelaksanaan tugas bendaharawan dan sebagai dasar untuk pemerikasaan selanjutnya.

4. Manfaat kegiatan administrasi keuangan sekolah

  • Meningkatkan kerjasama antara bendaharawan dan kepala sekolah di satu pihak dan di pihak lain antar mereka dan rekan kerja lain.
  • Untuk menjamin keselamatan keuangan sekolah.
  • Untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan administrasi sekolah yang lain.
  • Untuk memperlancar pencapaian tujuan sekolah secara optimal.

5. Tugas administrator dalam kegiatan keuangan sekolah

  • Administrator harus mampu menyusun RAPB sekolah melalui APB secara bertanggungjawab.
  • Administrator harus mampu memperlancar pelaksanaan kegiatan administrasi keuangan sekolah.
  • Administrator harus mampu meningkatkan sifat-sifat tanggung jawab, jujur, cermat, terbuka, tertib, hati-hati, dan penguasaan pengetahuan serta kecakapan bendaharawan dalam kegiatan administrasi keuangan sekolah.
  • Administrator harus mampu meningkatkan kerja sama antara bendaharawan dengan kepala sekolah di satu pihak dan pihak lain antara mereka dengan rekan kerja yang lain.

 

Daftar pustaka

 

Masidjo, Ign. 2006. Manajemen Sekolah. Yogyakarta: Bina Dharma Mulia.

 

 

Search Engine

 

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/a-opini/manajemen-sekolah/

http://www.ditplb.or.id/profile.php?id=54

http://www.geocities.com/pengembangan_sekolah/kumpulan1.html