KONDISI BAGI FIKSI: ”SASTRA MURAH”

 

  1. 1. Pendahuluan

Pada periode 1955-1965 karya-karya fiksi mengalami perbedaan. Hal ini tampak dari beberapa perubahan umum yang terjadi pada saat itu. Salah satu perubahan yang paling mencolok adalah berangsur-angsur hilangnya Balai Pustaka dari pentas sebagai penerbit utama karya fiksi yang berbobot. Berikut akan diuraikan mengenai perubahan fiksi yang terjadi dan pengarang dalam golongan ini, yaitu D. Suradji dan Motinggo Busye.

  1. 2. Ringkasan

Dalam periode 1955-1965 buku-buku karya fiksi memang diterbitkan, akan tetapi sering disebut “sastra murah”. Mengapa disebut “sastra murah” akan diuraikan dibawah ini. Karya sastra fiksi yang sebelum tahun itu bisa dikatakan maju, namun pada tahun itu mengalami perubahan tidak baik. Perubahan pertama adalah Balai Pustaka  barangsur-angsur menghilang dari pentas sebagai penerbit utama karya fiksi berbobot. Kedua, buku-buku fiksi diterbitkan dengan edisi murah. Buku-buku yang diterbitkan buruk, kedodoran, gampang rusak dan dalam format kecil (oktosesimo), serta dalam oplah kecil pula. Ketiga, karena alasan ekonomi. Terdapat banyak buku tipis (80-120 hal) yang sebagian besar berisi kumpulan cerpen, walaupun ada juga yang berisi satu cerita panjang. Novel-novel besar tidak diterbitkan dalam periode ini, meskipun ada novel yang lebih berisi. Keempat, perbedaan antara sastra bermutu dan hiburan semakin kabur. Karena karya fiksi mengalami perubahan yang tidak baik maka sering disebut “sastra murah”.

Sebenarnya ada banyak pengarang fiksi, namun disini hanya akan disaajikan 2 pengarang saja, yaitu D. Suradji dan Motinggo Busye.

  1. D. Suradji

Suradji memiliki pandangan sosial yang marxistis dalam karya fiksi maupun nonfiksinya, namun ia tidak pernah menganut realisme sosialis. Buku-bukunya diterbitkan oleh perusahaan penerbitannya sendiri, Haruman Hidup. Buku-buku itu dicetak bagus pada kertas yang bermutu relatif baik, dipasarkan dengan format yang menarik dan disertai gambar. Alur drama dan cerita Suradji lebih menarik ditinjau dari sudut sosiologi ketimbang sudut sastra. Karyanya terasa khas karena pokok permasalahannya hangat, tentang revolusi, korupsi, ideologi, atau pertentangan cinta pribadi. Tetapi ceritanya juga memperlihatkan kelemahan alur yang tak masuk akal. Suradji berhenti menulis sejak 1965.

  1. Motinggo Busye

Motinggo mengembangkan bakat seni dan sastranya di bawah bimbingan Wakidi (pelukis) dan A. A. Navis. Dari tahun 1956-1960 ia tinggal di Yogyakarta  dan selama itu ia menulis cerita dan sajak. Sejumlah ceritanya menjadi menarik bukan hanya karena suasana yang dilukiskan (Sumatera Selatan, daerah yang tak pernah tampil di permulaan sastra Indonesia modern), tetapi juga karena memukau dan luar biasa oleh sifat keabsurdan tertentu, unsur keganjilan dan kegaiban. Contonya adalah Malam Djahanam (1962), ceritanya berlatar belakang autentik sebuah desa nelayan di Lampung yang memberi kesan tentang emosi primitif dan ancaman tersembunyi. Berbeda dengan Bibi Marsiti (1963), yang merupakan cerita jenaka yang dibangun di tengah suasana artistik Yogyakarta. Dalam karya inilah Busye sadar bahwa pornografi merupakan jalan untuk keberhasilan komersial dalam sastra, sesuai dengan selera pembacanya, saat penerbit pada umumnya sedang jatuh dan gulung tikar. Tetapi keberhasilan komersial dengan melacurkan seninya itu malah menghancurkan bakat sastaranya. Karya-karyanya dari tahun 1970 hampir semua menjijikan.

  1. 3. Tanggapan

Ajib Rosidi (1969:138) mangatakan, ketika terbit majalah Konfrontasi pada pertengahan 1954, dimuat sebuah esai Sudjatmoko berjudul “Mengapa Konfrontasi”. Dalam karangan itu secara tandas dikatakan bahwa sastra Indonesia sedang mengalami krisis yang diakibatkan dari krisis kepemimpinan politik, lebih lanjut ia mengatakan karena  yang ditulis hanya cerpen kecil tentang psikologisme perseorangan semata, roman-roman besar tidak ditulis.

Nugroho Notosusanto, S. M. Ardan, Boejoeng Saleh (Ajip Rosidi, 1969: 138) secara tandas membantah, menolak penamaan krisis sastra. Menurut mereka sastra Indonesia sedang hidup dengan subur.

H. B. Jassin (Ajip Rosidi, 1969: 138) dalam simposion sastra yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia di Jakarta pada Desember 1954 mengemuka-kan sebuah prasaran yang diberi judul “Kesusasteraan Indonesia Modern Tidak Ada Krisis”.

Sitor Situmorang (Ajip Rosidi, 1969: 139) dalam tulisannya yang berjudul “Krisis H. B. Jassin” dalam majalah Mimbar Indonesia (1955) mengemukakan bahwa yang ada bukanlah krisis sastra, melainkan krisis ukuran menilai sastra. Sitor Situmorang berkesimpulan bahwa krisis yang terjadi adalah krisis dalam diri Jassin sendiri karena ukurannya tidak matang.

A. Teeuw (Sastra Baru Indonesia I, 1978:109-110), roman picisan sering diterbitkan dalam seri yang memiliki nama menarik seperti Lukisan Pudjangga, Dunia Pengalaman, dan Roman Indonesia. Buku-buku kecil ini selalu antara 50-100 halaman, diterbitkan dengan harga murah, dan berkulit tipis. Tidak terdapat garis pemisah yang jelas antara buku-buku yang diterbitkan Balai Pustaka dan roman picisan. Bukanlah nilai seni yang menjadi syarat utama supaya diterbitkan oleh Balai Pustaka.

  1. 4. Penutup

Perkembangan atau keadaan suatu karya sastra bersifat relatif, tergantung siapa yang menilai. Dalam Sastra Indonesia Modern II, pada periode 1955-1965 karya sastra fiksi dikatakan mengalami kemerosotan. Hal ini ditunjukkan dari isi dan tampilan fiksi yang kurang baik, maka sering disebut “sastra murah”. Akan tetapi Nugroho Notosusanto, S. M. Ardan, dan Boejoeng Saleh mengatakan bahwa pada tahun itu karya sastra fiksi sedang subur-suburnya.

Di era sekarang ini karya sastra fiksi kembali menjamur. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya teenlit yang bermunculan. Namun, baik tidaknya “kehidupan” karya sastra fiksi tidak dinilai dari jumlah karya yang dihasilkan tetapi dilihat dari mutu atau isi karya tersebut. Saran saya hendaknya penulis karya sastra fiksi lebih banyak belajar untuk menulis sesuatu yang lebih bermutu, jangan hanya asal-asalan menulis dan hanya mengejar materi.

Daftar Pustaka

Rosidi, Ajip. 1969. Ichtisar Sedjarah Sastra Indonesia. Bandung: Bintjipta.

Teeuw, A. 1978. Sastra baru Indonesia I. Ende: Nusa Indah.

________. 1989. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta: Pustaka Jaya.

Poerwadarminta. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Glosarium

absurd                   : tidak masuk akal; mustahil

artistik                   : mempunyai nilai seni; bersifat seni

marxistis                : (marxisme) paham sosialisme yang dikembangkan oleh Karl marx

psikologisme         : bersifat kejiwaan

realisme                 : paham yang selalu bertolak dari kenyataan: aliran kesenian yang berusaha melukiskan kenyataan

sosialis                   : penganut sosialisme

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s