KILL THE RADIO Sebuah Radio, Kumatikan

Data Buku

Judul                     : Kill the Radio

Pengarang             : Dorothea Rosa Herliany

Penerbit                 : Indonesiatera

Kota terbit             : Magelang

Tahun Terbit          : 2001

Tebal buku            : 127 halaman

Gambaran Isi Buku

Sebagian besar puisi Dorothea dalam Kill the Radio bersifat pribadi, dengan kegelisahan yang jelas pada masalah-masalah wanita. Dorothea menolak asumsi “laki-laki berkuasa dan wanita tidak berdaya”. Sebagian lainnya berpijak pada perhatian sekaligus kepedulian pada Indonesia yang mengalami perubahan sosial politik yang sangat cepat selama lima tahun terakhir setelah 1990-an.”Sampah Kata-kata” menyampaikan tema-tema politik dengan bijaksana dan tenang. Dalam “Simphoni Tanpa Warna”, Dorothea berbicara tentang dominasi partai Golkar di Indonesia pada pada masa orde baru dengan indah. Ia mengibaratkan partai terbesar di Indonesia itu sebagai “matahari tua paling buruk di atap rumahku” yang digambarkan dengan “seseorang tua yang rapuh dan renta, tak bosan mencari dan berlari”. Di sana terasa kebencian kegelisahannya terhadap dominasi itu. Ia menggambarkannya dengan tanda seru (!) di akhir kalimat “langit tidaklah biru: namun kuning semata!” dan penggambaran narator akuan yang merasa sebagai siput yang “mengusung rumah kegelisahan dari rawa ke rawa”. Dorothea menyampaikan tema-tema itu dalam keperempuannya dengan bercerita dan membagikan perasaan yang dialaminya dalam sebuah deskripsi rasa. Namun ia tidak tercengang dan berurai air mata dalam puisinya. Bait terakhir dalam “Tentang Dua Orang Tua” menggambarkan kekacauan kepemimpinan Soeharto dan Abdurrahman Wahid yang masih melanggar batas-batas kronis, kolusi, dan nepotisme. Dalam “Sajak Air Mata” yang ditujukan untuk Megawati, Dorothea mengungkapkan sikap Megawati yang tidak banyak omong,”tetapi tak penting lagi berkata-kata udara ini hanya terbuka untuk segala omong kosong”.

Sebait terakhir dalam “Sebuah Radio Kumatikan-fragmen ke 23 kepada XG” juga mampu mengungkapkan permasalahan Timor timur. Sesungguhnya kita hanya ingin berebut tempat dalam sehalaman buku sejarah. Dorothea menggambakan perebutan tanah sebagai “ keinginan-keinginan kosong”. Xanana Gusmao, pemimpin yang akhirnya pipenjarakan dalam perjuangan membebaskan Timor Timur dari pemerintah Indonesia. Bukan hanya masalah politik, Dorothea juga berbagi pemahaman mengenai budaya postmodern televisi dalam puisi “Episode Sebuah Serial Pop”. Dalam puisi itu ia membicarakan tentang eksploitasi tubuh perempuan, selebriti dengan gosip-gosip rumah tangga mereka, dan berita koran tentang rahasia umum segala kebohongan manusia. Ia menyimpulkan semua itu dalam larik penutup untuk menjadikan semua terhibur.

Emosi dalam puisi-puisi Dorothea meninggi bila ia berbicara mengenai pernikahan, relasi laki-laki dengan perempuan, dan cinta. Di sana tergambar jelas kebencian, kemarahan, dan tak adanya kepercayaan terhadap hal-hal tersebut. Ia mengatakan dalam “Surat Cinta” bahwa kesadaran meskipun kadang lebih buruk tapi suci dibandingkan dengan cinta. Ia jelas-jelas mengatakan “ tapi aku menikahimu tidak untuk setia” dalam puisinya “Buku Harian Perkawinan”. Dalam puisi itu pula ia mengejek kaum laki-laki yang senang bersembunyi di antara ketiak ibu dan “telah menjadi budak penurutku”. Ia pun ingin menguasai mereka dengan berkata “sekarang biarlah kudekap engkau, sebelum kulunaskan puncak laparku”. Kesebalannya melihat sikap perempuan yang pasrah dan tidak melawan, serta laki-laki  yang menindih mereka, jelas tertumpah dalam “Hikayat Bulan”. Ia mengatakan dengan lantang pada kaumnya,”Bawa sangkurmu, dan libas lelaki yang menindihmu, dalam satu bisikan mematikan, lalu campakkan umpama sampah.

Tanggapan

Kelebihan buku

–  menggunalan dua bahasa (Indonesia dan Inggris)

–  perwajahan buku sangat bagus (sampul dan jenis kertas)

–  terdapat beberapa drawing karya perupa Agung Kurniawan yang membantu menggambarkan tentang maksud puisi dan menambah kemenarikan buku.

Kekurangan buku

–    Ketika diubah dalam bahasa Inggris tetap terjaga keindahannya, tapi tetap mempunyai nuansa yang berbeda ketika disuguhkan dalam bahasa asli.

–    Ilustrasi yang ditampilkan melalui gambar kadang terkesan dicocokkan.

Isi buku

Tema-tema yang ditampilkan dalam puisi sangat beragam, dari masalah cinta sampai kritik tentang pemerintahan. Semua dikemas dengan cukup lugas, tetapi dalam porsi yang cukup tanpa melampaui batas etis sehingga tidak terkesan arogan terutama dalam menyampaikan kritik.

Relevansi buku dengan zaman sekarang

Isi tentang buku tersebut masih sering terjadi dalam kehidupan sekarang ini. Tema-tema seputar cinta dan kehidupan tidak pernah lekang dimakan waktu. Sedangkan tema seputar pemerintahan dapat digunakan sebagai refleksi tentang politik yang bergejolak dari tahun ke tahun.

Daftar Pustaka

Herliany, Dorothea Rosa. 2001. Kill the Radio: Sebuah Radio Kumatikan. Magelang: Indonesiatera.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s