BONEKA SANG PENGUASA => Oleh: Marcellina Elfiana

I. ASPEK TEKS DRAMA

1. Jenis Drama

  • Bentuk dramatis

Menurut bentuk dramatisnya, drama “Boneka Sang Penguasa” termasuk ke dalam melodrama. Melodrama adalah drama yang mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru pada penonton, namun tidak sedalam tragedi, tidak sampai menimbulkan katarsis (Hariyanto, 2000:9).

Drama ini termasuk melodrama karena mengisahkan tentang cerita kehidupan yang berhubungan dengan kekuasaan. Kekuasaan yang selalu memihak pada kaum atasan.

  • Ragam bahasa cakapan

 

Berdasarkan pada ragam bahasanya, drama dapat dibagi menjadi dua. Ada drama berbahasa Indonesia ragam umum dan ragam dialek (Hariyanto, 2000:9).

Dalam drama “Boneka Sang Penguasa” sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia ragam umum. Akan tetapi, dalam drama tersebut juga sedikit mengunakan ragam dialek, yaitu dengan menggunakan kata sapaan “Pakne”. Kata sapaan tersebut merupakan ragam dialek jawa.

  • Bentuk sastra cakapan

 

Berdasarkan bentuk sastra cakapannya, drama dapat berupa drama prosa dan drama puisi/liris (Hariyanto, 2000:9). Drama ini termasuk ke dalam drama prosa karena cakapannya brbentuk prosa, bukan puisi.

  • Kuantitas cakapan

 

Dari segi kuantitas cakapannya, terdapat drama kata, drama mini kata, dan drama pantomim. Drama “Boneka Sang Penguasa” termasuk drama kata. Drama kata merupakan drama yang menggunakan banyak kata (Hariyanto, 2000:10).

  • Jumlah pelaku

 

Dari aspek jumlah pelaku, dikenal adanya drama dialog dan drama monolog (monodrama). Drama dialog adalah drama yang paling lazim dan umum dipertunjukkan (Hariyanto, 2000:10).

“Boneka Sang Penguasa” termasuk drama dialog. Dalam drama ini terdapat 6 tokoh, yaitu Pak Sarmen, Mbok Sarmen, Maha kuasa, Bu Dukuh, Daliman, dan Upik. Dalam drama tersebut, tokoh-tokoh yang ada saling berdialog.

  • Media pementasan

 

Menurut P. Hariyanto (2000:10), berdasarkan media pementasannya dapat ditemukan 3 jenis drama. Ada drama radio (rekaman radio), drama televisi (rekaman video, sinetron, film), dan drama pentas (panggung).

“Boneka Sang Penguasa” dirancang untuk drama pentas, karena dalam bagian akhir terdapat keterangan pementasan yang menyuruh seluruh pemain untuk maju berjajar dan meneriakkan suatu kalimat. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa drama ini termasuk drama pentas.

  • Tujuan penggunaan

 

Berdasarkan tujuan penggunaannya, drama tersebut ditujukan untuk dipentaskan. Jika dipentaskan drama tersebut terkesan akan lebih hidup dibandingkan dengan hanya dibaca. Dengan pementasan maka penikmat drama akan lebih mudah menangkap maksud dari drama tersebut.

  1. Penonjolan unsur seni

Dari segi penonjolan unsur seninya, dikenal adanya jenis drama tablo, opera, dan sendratari atau drama tari (Hariyanto, 2000:10). Dalam drama ini tidak menonjolkan unsur seni apapun, hanya merupakan drama biasa.

  • Proses penciptaan

 

Berdasarkan proses penciptaanya terdapat drama asli dan drama terjemahan. Drama asli adalah drama karangan si pengarang sendiri, sedangkan drama terjemahan merupakan drama salinan dari bahasa lain adan pengarang lain (Hariyanto, 2000:10).

“Boneka Sang Penguasa” termasuk drama asli. Drama ini asli karangan Marcellina Elfiana yang dipublikasikan dalam Jangkrik dalam Kotak.

  • Kuantitas waktu pementasan

 

Dari segi kuantitas waktu pementasannya dikenal drama pendek dan drama panjang. Drama pendek biasanya terdiri dari satu babak saja, sehingga sering disebut drama sebabak (one act play). Drama jenis ini menuntut pemusatan pada satu tema, jumlah kecil pemeran, dan peringkasan dalam gaya, latar, dan pengaluran (Hariyanto, 2000:10).

Boneka Sang Penguasa termasuk drama pendek karena hanya terdiri atas satu babak. Drama ini terpusat pada satu tema, yaitu tentang kekuasaan. Adegan dalam drama terjadi pada petang hari di kamar tamu.

2. Tokoh

Dalam sebuah drama pastilah ada tokoh. Tokoh adalah pelaku atau aktor dalam sebuah cerita. Tokoh merupakan pelaku dalam deretan peristiwa, ruang dan waktu atau suasana (Hartoko dan Rahmanto, 1986:144).

  • Peranan

 

Dilihat dari peranannya, dalam drama terdapat tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah pelaku yang diutamakan dalam suatu drama. Tokoh tersebut paling banyak muncul atau mungkin paling banyak dibicarakan (Hariyanto, 2000:35). Dalam Boneka Sang Penguasa. Tokoh utamanya adalah Pak Saarmen. Dalam drama tersebut Pak Sarmen adalah tokoh yang paling disoroti, yaitu bagaimana ia menghadapi suatu masalah tentang penggusuran.

Tokoh tambahan adalah pelaku yang kemunculannya dalam drama lebih sedikit, tidak begitu dipentingkan kehadirannya (Hariyanto, 2000:35). Dalam Boneka Sang Penguasa, yang berperan sebagai tokoh tambahan adalah Upik. Dia hanya muncul sebentar dan tidak dibicarakan dalam drama tersebut.

  • Fungsi

 

Berdasarkan fungsi penampilannya terdapat tokoh protagonis, antagonis, dan tritagonis. Protagonis adalah tokoh yang diharapkan berfungsi menarik simpati dan empati pembicara atau penonton. Ia adalah tokoh dalam drama yang memegang pimpinan, tokoh sentral (Hariyanto, 2000: 35). Dalam Boneka Sang Penguasa, tokoh sentralnya adalah Pak Sarmen. Pak Sarmenlah yang paling erat berubungan dengan konflik yang ada.

Antagonis adalah pelaku dalam drama yang berfungsi sebagai penentang utama dari tokoh protagonis. Antagonis disebut juga tokoh lawan (Hariyanto, 2000:35). Yang berperan sebagai tokoh antagonis dalam Boneka Sang Penguasa adalah Maha Kuasa. Dalam drama tersebut Maha Kuasa bertentangan dengan Pak Sarmen.

  • Pengungkapan watak

 

Berdasarkan pengungkapan wataknya terdapat tokoh bulat (kompleks) dan tokoh datar (pipih, sederhana). Tokoh bulat adalah pelaku dalam sastra drama yang diberikan segi-segi wataknya sehingga dapat dibedakan dari tokoh-tokoh lainnya (Hariyanto, 2000:35). Yang termasuk sebagai tokoh bulat dalam Boneka Sang Penguasa adalah Pak Sarmen. Dalam drama tersebut nampak bahwa pak Sarmen berwatak penyayang keluarga, pekerja keras, memperjuangkan hak, namun juga bertemperamen tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari dialognya.

Tokoh datar adalah pelaku dalam sastra drama yang tidak diungkapkan wataknya secara lengkap. Yang dikatakan atau dilakukan oleh tokoh datar biasanya tidak menimbulkan kejutan pada pembaca atau penonton (Hariyanto, 2000:35). Dalam Boneka Sang Penguasa, tokoh datarnya adalah

  • Pengembangan watak

 

Berdasarkan pengembangan wataknya terdapat tokoh statis dan berkembang. Tokoh statsis adalah pelaku dalam sastra drama yang dalam keseluruhan drama tersebut sedikit sekali atau bahkan sama sekali tidak berubah (Hariyanto, 2000:35). Dalam Boneka Sang Penguasa tokoh statisnya adalah Upik dan Mbok Sarmen, Bu Dukuh. Dari awal sampai akhir tidak ada perubahan watak yang menonjol pada mereka.

Tokoh berkembang adalah pelaku dalam drama yang dalam keseluruhan drama mengalami perubahan atau perkembangan. Tokoh berkembang dalam Boneka Sang Penguasa adalah Pak Sarmen, Daliman, dan Maha Kuasa. Pada awalnya Pak Sarmen nampak sebagai seorang yang sabar, namun menuju akhir cerita wataknya berubah menjadi semakin keras.

Daliman pada tengah cerita berubah mengamini perintah Maha Kuasa. Sedangkan Maha Kuasa yang tadinya keras, pada akhirnya semakin berwatak keras dan memaksa bahkan mengancam Pak Sarmen untuk meningglkan tanahnya.

  • Pencermianan kehidupan nyata

 

Berdasarkan kemungkinan pencerminan manusia dalam kehidupan nyata, terdapat tokoh tipikal dan tokoh netral. Tokoh tipikal adalah tokoh drama yang hanya sedikit ditampilkan individualitasnya dan lebih banyak ditampilkan pekerjaan atau perihal lainnya yang lebih bersifat mewakili.  Tokoh tipikal merupakan pencerminan orang atau sekelompok orang dalam suatu lembaga dunia nyata. Tokoh tipikal dalam Boneka Sang Penguasa adalah Pak Sarmen. Dalam drama ini Pak Sarmen kurang ditonjolkan individualitasnya, namun perwakilannya untuk melawan Maha Kuasa lebih disoroti. Dia melawan Maha Kuasa untuk memperjuangkan haknya.

Tokoh netral adalah tokoh dalam drama yang bereksistensi demi drama itu sendiri. Ia hadir semata-mata demi drama tersebut dan tidak berpretensi mewakili sesuatu di luarnya. Dalam Boneka Sang Penguasa, tokoh netralnya adalah

  • Kebadanan tokoh

 

Tokoh dalam sastra drama bukanlah sekedar semacam boneka yang mati. Tokoh tersebut diharapkan berkesan hidup, yaitu memiliki ciri-ciri kebadanan, cirri-ciri kejiwaan, dan ciri-ciri kemasyarakatan (Hariyanto,2000:35).

Yang dimaksud ciri-ciri kebadanan misalnya usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, dan kondisi wajah. Kebadanan tokoh dalam drama tersebut nampak pada jenis kelamin, umur. Sapaan Pakne menujukkan berjenis kelamin laki-laki, Mbok dan Bu menunjukkan perempuan, dan dari percakapannya dapat disimpulkan bahwa Upik masih muda, dia seorang mahasiswa.

  1. Kejiwaan tokoh

Yang dimaksud dengan ciri-ciri kejiwaan misalnya mentalitas, moral, temperamen, kecerdasan, dan kepandaian dalam bidang tertentu (Hariyanto, 2000:35). Salah satu kejiwaan tokoh yang sangat nampak adalah Pak Sarmen. Hal itu nampak pada ucapan-ucapannya yang bertemperamen tinggi saat menghadapi sikap Maha Kuasa kepadanya.

  • Kemasyarakatan tokoh

 

Yang dimaksud ciri-ciri kemasyarakatan misalnya status sosial, pekerjaan atau peranan dalam masyarakat, pendidikan, ideologi, kegemaran, dan kewarganegaraan (Hariyanto, 2000:35). Hal tersebut salah satunya nampak pada diri Pak Sarmen. Pada awal cerita sudah nampak oleh penjelasan yang ada bahwa Pak Sarmen adalah seorang petani.

3. Alur

Alur sama dengan plot. Secara komplementer alur berkaiatan dengan cerita (Hartoko dan Rahmanto, 1986:10). Alur drama adalah rangkaian peristiwa dalam karya sastra drama yang mempunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas (Hariyanto, 2000:38).

  • Unsur alur

 

Karya sastra yang lengkap mengandung cerita, pada umumnya mengandung delapan bagian alur sebagai berikut: eksposisi, rangsangan, konflik, rumitan, klimaks, krisis, leraian, dan penyelesaian (Hariyanto, 2000:38). Dalam Boneka Sang Penguasa tidak lengkap memiliki kedelapan unsur tersebut.

Eksposisi (paparan) adalah bagian karya sastra drama yang berisi keterangan mengenai tokoh serta latar. Dalam drama tersebut eksposisi terdapat pada bagaian awal, yaitu “petang hari setelah Pak Sarmen pulang dari sawah, berbincang dengan istrinya di kamar tamu”. Dari bagian tersebut, penikmat drama dapat mengerti bahwa Pak Sarmen dan Mbok Sarmen sebagai tokoh drama, sedangkan berlatar di sebuah kamar tamu.

Rangsangan adalah tahapan alur ketika muncul kekuatan, kehendak, kemauan, sikap, pandangan yang saling bertentangan dalam drama. Peristiwa ini sering ditimbulkan oleh masuknya seorang tokoh baru yang merusak keadaan yang semula laras (Hariyanto, 2000: 39).Bagian rangsangan dalam Boneka Sang Penguasa terjadi saat Daliman muncul dan mengabarkan bahwa kampungnya akan digusur. Otomotis hal tersebut menimbulkan konflik.

Konflik atau tikaian adalah tahapan ketika suasana emosional memanas karena adanya pertentangan dua atau lebih kekuatan (Hariyanto, 2000:39). Konflik pada drama tersebut terjadi saat Pak Sarmen tidak mendengar kabar dari Daliman dan ia tak mau menerima hal tersebut.

Rumitan atau komplikasi merupakan tahapan ketika suasana semakin panas karena konflik semakin mendekati puncaknya. Dalam Boneka Sang Penguasa bagian tersebut terdapat pada saat kedatangan Bu dukuh dan Maha Kuasa datang ke rumah Pak Sarmen untuk memberitahukan bahwa Maha Kuasa yang akan membeli tanahnya. Menghadapi Maha Kuasa yang sok berkuasa dan bertindak semaunya Pak Sarmen semakin marah.

Klimaks atau titik puncak cerita merupakan tahapan ketika pertentangan yang terjadi mencapai titik optimalnya. Peristiwa dalam tahapan ini merupakan pengubahan nasib tokoh. Dalam drama tersebut klimaks terjadi saat Maha Kuasa dengan sombongnya membujuk Pak Sarmen untuk pindah dari tanah itu namun Pak Sarmen tetap menolaknya. Bahkan Pak Sarmen semakin kuat ada pendiriannya, sedangkan Daliman mulai luntur dan mau menuruti bujukan Maha Kuasa.

Penyelesaian merupakan bagian akhir alur drama. Pada tahap ini ketentuan final dari segala pertentangan yang terjadi terungkapkan. Boneka Sang Penguasa berakhir dengan kemenangan Maha Kuasa. Hal tersebut nampak pada bagian akhir yang berbunyi “HAII…MAHA KUASA LAKUKAN APA YANG KAU SUKA. KAMI MEMANG TAK MAMPU MELAWANMU. KAMI ADALAH BONEKAMU…BONEKA SANG PENGUASA…!

  • Jenis konflik

 

Konflik dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan dirinya sendiri, dan manusia dengan penciptanya. Dalam drama ini hanya terdapat satu jenis konflik, yaitu konflik manusia dengan manusia (Hariyanto, 2000:39). Dalam drama tersebut konflik terjadi antara Maa Kuasa dengan Keluaraga Pak Saremen dan Daliman. Namun konflik yang paling nampak adalah antara Maha Kuasa dengan Pak Sarmen, karena Pak Sarmen merupakan tokoh yang paling menentang dengan kelakuan Maha Kuasa.

  • Jenis selesaian

 

Jenis selesaian drama ada tiga, yaitu denoumen, katastrofe, dan solusi. Pengakhiran cerita dalam drama ini menggunakan jenis katastrofe, yaitu drama tragedy yang berakhir menyedihkan (Hariyanto, 2000:39). Drama ini berakhir dengan kemenangan Maha Kuasa, dan rakyat kecil yang menderita.

  • Urutan waktu peristiwa

 

Alur yang digunakan dalam drama ini adalah alur maju (kronologis, lurus, atau progresif). Peristiwa-peristiwa ditampilkan secara kronologis, maju, secara runtut dari tahap awal, tengah, hingga akhir (Hariyanto, 2000:39). Semua peristiwa dalam Boneka Sang penguasa bergerak maju sesuai dengan urutan waktu, tidak ada yang flashback.

  • Jumlah alur

 

Berdasarkan jumlah alur terdapat alur tunggal dan alur jamak (Hariyanto, 2000:39). Drama Boneka Sang Penguasa menggunakan alur tunggal, sebab dalam drama ini cerita hanya berpusat pada satu tokoh, yaitu Pak Sarmen. Dalam drama ini tidak ada alur lain selain menceritakan Pak Sarmen.

  • Hubungan antarperistiwa

 

Berdasarkan hubungan antarperistiwa terdapat drama beralur erat dan beralur longgar. Drama Boneka Sang Penguasa termasuk beralur ketat. Drama beralur ketat adalah drama yang beralur cepat, susuk menyusul, dan setiap bagian terasa penting dan menentukan (Hariyanto, 2000:39).

  • Pengakhiran

 

Berdasarkan kriteria cara  pengakhirannya dapat ditemukan adanya drama beralur tertutup dan beralur terbuka. Dalam drama yang beralur tertutup penampilan kisahnya diakhiri dengan kepastian atau secara jelas (Hariyanto, 2000:39). Boneka Sang Penguasa beralur tertutup karena diakhiri dengan kejelasan, yaitu kemenangan sang Maha Kuasa.

4. Latar

Latar juga disebut setting atau landasan tumpu. Istilah ini mengacu pada makna tentang segala keteragan mengenai waktu, ruang, serta suasana (Hariyanto, 2000:42).

  • Latar tempat

 

Latar tempat termasuk ke dalam latar fisik. Latar tempat adalah keadaan mengenai tempat tertentu (nama kota, desa, jalan, dan sebagainya). Dalam drama Boneka Sang Penguasa latar tempat terjadi hanya pada satu tempat, yaitu kamar tamu rumah Pak Sarmen. Dalam drama tersebut, semua peristiwa terjadi di ruang tamu.

  • Latar waktu

 

Latar waktu juga termasuk dalam latar fisik. Latar waktu berhubungan dengan tanggal, jam, tahun, siang, maam, dan sebagainya. Latar waktu dalam drama tersebut terjadi pada petang hari.

  • Latar spiritual/sosial

 

Latar spiritual adalah segala keterangan atau keadaan mengenai tata cara, adat istiadat, kepercayaan, nilai-nilai yang melingkupi dan dimiliki oleh latar fisik. Dalam drama tersebut latar spiritualnya adalah kebiasaan orang jawa menggunakan jarik sebagai baju bawahan. Dalam drama tersbut yang menggunakan jarik adalah Mbok Sarmen.

  • Anakronisme

 

Anakronisme maknanya mengarah pada penempatan tokoh, peristiwa, cakapan, kostum, dan sebagainya yang tidak sesuai berdasrkan waktu dalam drama (Hariyanto, 2000:42). Dalam Boneka Sang penguasa tidak terdapat anakronisme. Semua tokoh, peristiwa, cakapan sudah sesuai berdasarkan waktu dalam drama.

5. Tema

Tema adalah gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasai suatu karya sastra, dalam hal ini drama. Tema merupakan sutu gagasan sentral dalam drama (Hariyanto, 2000:43).

  • Premis

 

Menurut premisnya terdapat tema pokok dan tambahan. Tema pokok sering disebut tema mayor, yaitu mana pokok cerita drama yang menjadi dasar atau gagasan umum karya sastra karya tersebut bukan hanya terdapat pada bagian tertentu saja (Hariyanto, 2000:43). Drama ini termasuk bertema mayor, karena bukan hanya bagian tertentu saja yang mndukung tercerminnya tema. Setiap bagian mencerminkan tentang kekuasaan, yaitu kabar penggusuran, kesewenang-wenangan Maha Kuasa, dan sebagainya.

  • Tingkatan tema/premis

 

Tema tingkat fisik mengarah pada keadaan manusia dalam tingkatan kejiwaan molekul. Tema tingkat organik mengarah pada tingkat kejiwaan protolasma, masalah seksualita ditekankan. Tema tingkat sosial mengarah pada keadaan manusia dalam tingkatan kejiwaan makhluk social. Tema tingkat individu mengarah pada keadaan manusia dalam tingkat kejiwaan makhluk individu. Tema tingkat divine mengarah pada keadaan dalam tingkatan kejiwaan makhluk tingkat tinggi (Hariyanto, 2000:43).

Drama ini tidak menggunakan tema tingkatan organik dan divine, karena dalam drama ini tidak menyangkut tentang seksualitas dan hubungan manusia dengan Tuhan.

  • Ketradisian tema

 

Tema tradisional adalah pikiran utama yang itu-itu juga yang telah lama digunakan dalam karya sastra biasanya berkaitan dengan masalah kebenaran dan kejahatan. Tema nontradisional adalah ide utama yang tidak lazim dan bersifat melawan arus (Hariyanto, 2000:43).

Dalam drama tersebut memang mengangkat tema yang biasa, yaitu tentang perlawanan rakyat kecil terhadap penguasa. Namun dalam drama tersebut tokoh utama tidak memperoleh kemenangan pada akhir cerita. Oleh sebab itu, cerita dari drama ini bisa disebut juga kurang lazim karena biasanya kebenaran itu menang, namun kali ini tidak.

  • Tema pokok/mayor/keseluruhan

 

Tema pokok sering disebut tema mayor, yaitu mana pokok cerita drama yang menjadi dasar atau gagasan umum karya sastra karya tersebut bukan hanya terdapat pada bagian tertentu saja. Tema pokok dari drama ini adalah tentang kekuasaan.

  • Tema tambahan/minor/bagiannya

 

Tema tambahan sering disebut juga tema minor atau bagian. Makna ini hanya terdapat pada bagian tertentu saja dalam sebuah drama. Secara tersirat dalam drama ini juga terdapat tema tambahan tentang pendidikan, yaitu digambarkan Upik sebagai seorang mahasiswa.

6. Teknik Penceritaan

  • Sudut pandang penceritaan

Dalam Boneka Sang Penguasa menggunakan sudut pandang orang ketiga. Dalam drama ini narrator menceritakan tentang pelaku-pelaku yang ada dalam cerita drama.

  • Teknik pengungkapan

 

Teknik pengungkapan yang digunakan dalam drama tersebut adalah

  • Bentuk pengungkapan

 

Bentuk pengungkapan drama tersebut adalah

  • Ketidaktepatan penggunaan teknik penceritaan/penulisan

 

Dalam drama tersebut tidak ditemukan ketidaktepatan penggunaan teknik penceritaan. Teknik penceritaan yang digunakan sudah tepat.

  • Keistimewaan teknik penceritaan/penulisan

 

Dalam drama ini tidak ada keistimewaan teknik penceritaan. Teknik yang digunakan sangat wajar, seperti drama-drama yang lain.

7. Bahasa

  • Judul

Judul yang dipakai dalam karya sastra biasanya menggambarkan isi tentang karya tersebut. Dalam drama tersebuat judul sudah sangat tepat dan sesuai dengan isi dan amanat yang ingin disanpaikan.

  • Bahasa bagian keterangan pementasan

 

Dalam naskah drama sering terdapat bagian keterangan pementasan. Bagian tersebut difungsikan untuk mempermudah pelaku maupun penikmat drama untuk memahami jalan ceritanya. Namun hal tersebut juga harus diimbangii dengan bahasa yang jelas dan komunikatif.

Bahasa bagian keterangan pementasan yang digunakan dalam Boneka Sang Penguasa sudah baik. Bagian tersebut membantu penikmat untuk mengikuti cerita yang disajikan.

  • Bahasa cakapan

 

Bahasa cakapan yang digunakan dalam Boneka Sang penguasa cukup jelas dan dapat dimengerti oleh penikmat drama. Walaupun menggunakan sedikit ragam dialek, namun hal itu tidak cukup menganggu karena ragam dialek yang diunakan sangat sedikit, hanya Pakne, Mbok, dan to.

  • Ketidaktepatan penggunaan bahasa

 

Dalam Boneka Sang Penguasa saya tidak menemui ketidaktepatan dalam penggunaan bahasa. Semua bahasa yang digunakan sudah tepat.

  • Keistimewaan penggunaan bahasa

 

Keistimewaan penggunaan bahasa juga tidak ditemukan dalam drama isi. Bahasa yang digunakan sangat wajar.

II. HUBUNGAN KEENAM UNSUR INTRINSIK

1. Unsur yang kurang tergarap

Semua unsur yang ada dalam drama ini sudah tergarap secara harmonis. Namun menurut saya konflik yang ada kurang dipertajam, sehingga cerita yang ada terkesan terlalu singkat. Akan lebih baik jika konflik yang sudah ada lebih diolah agar ceritanya lebih detail. Pada bagian tengah menuju akhir ceritanya terkesan terlalu dipercepat. Setelah Maha Kuasa meninggalkan rumah Pak Sarmen, cerita tak lama kemudian langsung berakhir dengan kemenangan penguasa.

2. Unsur yang tergarap secara menonjol

Unsur yang ada dalam drama tidak ada yang tergarap secara menonjol, semua tergarap secara merata dan minimalis.

3. Keharmonisan unsur

Semua unsur yang ada dalam drama berhubungan secara harmonis. Unsur-unsur yang ada berjalan secara bersama-sama mendukung jalannya cerita.

4. Pengganggu keterpaduan dan keharmonisan hubungan unsur-unsur sebagai suatu kesatuan

Dalam Bonela Sang Penguasa tidak ada pengganggu keterpaduan dan keharonisan  huungan unsur sebagai suatu kesatuan.

5. Aspek keberagaman dalam keseluruhan unsur

Keberagaman unsurnya sudah baik. Sudah memenuhi syarat drama utuk adanya tema, tokoh, alur, latar, watak, dan  bahasa.

III. KESIMPULAN DAN TANGGAPAN

Drama Boneka Sang Penguasa merupakan melodrama yang bertemakan kekuasaan. Dalam drama ini dikisahkan tentang Maha Kuasa yang menggunakan kekuasaan dengan sewenang-wenang untuk menindas rakyat kecil. Walaupun Pak Sarmen seorang rakyat kecil telah melawannya, namun akhirnya yang berkuasalah yang menang.

Drama tersebut sangat baik, mengangkat sebuah cerita hidup yang sering terjadi juga pada saat ini. Drama ini bisa disebut juga segabai sindiran untuk para penguasa yang sering menyalahgunakan kekuasaannya untuk menindas rakyat kecil. Amanat yang ingin disampaikan melalui drama tersebut juga sudah dapat tersampaikan dengan jelas. Namun alangkah lebih baiknya jika usaha Pak Sarmen untuk melawan kehendah Maha Kuasa lebih ditonjolkan. Dengan begitu maka perjuangan rakyat kecil untuk mendapatkan haknya bisa lebih tercerminkan dalam drama tersebut. Dengan ditonjolkannya perjuangan rakyat kecil tersebut, maka akan menambah nilai dramatisasinya pula.

DAFTAR PUSTAKA

Adji, Peni S. E, 1998. Jangkrik dalam Kotak. Yogyakarta: PBSID Universitas       Sanata Dharma.

Hariyanto, P. 2000. Pengantar Belajar Drama. Yogyakarta: PBSID Universitas Sanata Dharma

Hartoko, Dick dan Rahmanto, B. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s