ALur dalam “Calon Arang”

Di sini kita akan menganalisis alur dalam cerita “Calon Arang”. Kutipan-kutipan dalam cerita “Calon Arang” yang menunjukkan alur yang digunakan adalah sebagai berikut:

Unsur-unsur Alur

  • Paparan (eksposisi)

Paparan (eksposisi) dalam novel “Calon Arang” salah satunya terdapat pada bab kedua. Kutipan yang menunjukan paparan tempat dan tokoh adalah: “Menurut riwayat adalah sebuah dusun dalam negara Daha. Girah namanya. Penduduk … janda. Calon Arang seorang perempuan setengah tua. Ia mempunyai anak perawan…bukan main cantiknya.”

Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa cerita terjadi di dusun Girah, Negara Daha. Sedangkan tokoh yang diceritakan adalah Calon Arang.

  • Rangsangan

Bagian rangsangan pada “Calon Arang” nampak dalam kalimat yang berbunyi: “… Ratna Manggali namanya. Bukan main cantik gadis itu. Sekalipun demikian tak seorang pun pemuda yang datang meminang, karena takut pada ibunya.”

Masalah yang terjadi disebabkan oleh kemarahan Calon Arang karena anaknya tak kunjung dipinang. Oleh karena itu, Calon Arang melakukan teluh pada masyarakat.

  • Gawatan

Pada cerita “Calon Arang” unsur gawatan terdapat dalam kutipan: “Calon Arang … . Ia senang menganiaya sesama manusia, membunuh, merampas, dan menyakiti. Calon arang berkuasa.” Dengan kelakuan Calon Arang yang seperti itu, otomatis raja tidak tinggal diam.

  • Tikaian

Dalam cerita ini bagian tikaian dapat dilihat pada bagian: “ Hari itu juga ratusan prajurit berbaris di alun-alun. Mereka ini diperintahkan pergi ke dusun Girah untuk menangkap Calon Arang.

Di sini dapat dilihat tikaian antara pihak kerajaan dan Calon Arang. Raja tidak mau rakyatnya terus dibebani oleh kelakuan Calon Arang, sedangkan Calon Arang juga terus berusaha untuk melampiaskan kemarahannya.

  • Rumitan

Rumitan dalam “Calon Arang” terdapat pada bagian yang menceritakan bahwa pasukan raja terkalahkan oleh Calon Arang. Hal tersebut nampak pada kalimat: “ Dalam perjalanan pulang Pasukan Bala tentara Raja dielu-elukan lagi oleh penduduk. Dan bila mereka mendengar akan kegagalan perutusan itu, lenyaplah harapan.”

  • Klimaks

Bagian klimaks terdapat pada saat amarah Calon Arang terhadap Raja Erlangga memuncak. Calon Arang sangat marah dan ingin sekali membunuh Erlangga. Klimaks dapat dilihat dari kalimat: “Sebentar-bentar ia menyumpah-nyumpah menakutkan. Sang Baginda Erlanggalah yang disumpahi.”

  • Krisis

Krisis pada cerita “Calon Arang” terlihat pada bab kedelapan, “Raja Membutuhkan Bantuan Sang Pertapa”. Bagian yang menunjukkan krisis cerita adalah: “ Kami perintahkan sekarang, semua pendeta yang menghadap pergi memuja ke candi, mohon petunjuk dari Dewa Agung guna mendapat obat mujarab untuk memberantas penyakit ini.”

  • Leraian

Setelah permasalahan mencapai puncak dan diikuti krisis, kemudian berlanjut pada bagian leraian. Bagian leraian ditunjukkan pada kutipan: “ Sangat giranglah hati Empu Bahula menerima kitab bertuah itu”. Setelah rahasia Calon Arang terbongkar maka Empu Baradah dapat mengalahkan kekuatan jahat Calon Arang.

  • Selesaian

Bagian selesaian dari cerita ini nampak pada: “ Sawah dan ladang diolah lagi. Panen yang bagus tidak berkeputusan. Tak seorangpun yang takut akan kelaparan. Demikian keadaan kerajaan Daha setelah Calon Arang mati.”

 

Jenis Alur

  • Alur maju

Secara keseluruhan cerita “Calon Arang” beralur maju. Peristiwa-peristiwa terjadi secara kronologis. Mulai dari kemarahan Calon Arang karena anaknya tidak lekas dipinang oleh seorang pemuda, sampai Calon Arang melakukan teluh pada masyarakar dan akhirnya Calon Arang terkalahkan dan mati.

  • Alur tunggal

`                             Alur tunggal dalan cerita “Calon Arang” dapat dilihat pada bab dua. Bab tersebut hanya menceritakan tentang Calon Arang. Sebagian kutipan yang dapat menunjukkan hal tersebut adalah: “ Calon Arang seorang perempuan setengah tua. … . Calon Arang ini memang buruk kelakuannya. Ia senang menganiaya sesama manusia, membunuh, merampas dan menyakiti. Calon Arang berkuasa. Ia tukang teluh dan punya banyak ilmu ajaib untuk membunuh orang.”

  • Alur jamak

Alur jamak dalam cerita ini salah satunya terdapat dalam bab kelima, “Calon Arang Mengusir Pasukan Raja”. Sebagian paragraf yang menunjukkan alur jamak adalah: “Berita tentang meluasnya teluh Calon Arang telah dilaporkan pada Sri Baginda Erlangga. … . Pada suatu hari dipanggilnya semua menteri menghadap. Selain … juga pendeta-pendeta dan para johan pahlawan … Daha.

  • Alur tertutup

“ Akhirnya Sang Maha Pendeta berkata dengan kepastian: “He, kau, Calon Arang mesti mati!” Waktu itu juga matilah Calon Arang. Kutipan tersebut yang menunjukkan cerita “Calon Arang” menggunakan alur tertutup.

“Calon Arang” dikatakan menggunakan alur tertutup karena ceritanya diakhiri dengan kepastian. Akhirnya Calon Arang mati dan rakyat kembali dalam kehidupan yang makmur dan bahagia.

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s