untuknya

ketika delapan belas Maret dua ribu sebelas,
saat tiga puluh melebihi dua puluh satu,
saat semua tersamar,
dan mungkin . . .

jariku melukai hatinya.

Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa

Di rentang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan
Sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan
Di gigir yang curam dan dunia yang tertinggal, gelap membeku
Sungguh, peta yang melesap dan udara yang terbakar jauh
Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
Seperti tak kan pernah pulang
Kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
Seperti tak kan pernah pulang
ketuk langkahmu
menarilah di jauh permukaan
Direntang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan
Sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan
Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
Seperti tak kan pernah pulang
Kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
Seperti tak kan pernah pulang ketuk langkahmu menarilah jauh berputar
Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
Seperti tak kan pernah pulang
Kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
Seperti tak kan pernah pulang ketuk langkahmu menarilah jauh berputar
Jalan pulang yang menghilang,
Tertulis dan menghilang,
Karena kita telah bercinta di luar angkasa.
Jalan pulang yang menghilang,
Tertulis dan menghilang,
Karena kita, sebab kita telah bercinta di luar angkasa.

(FRAU)