Tata Bahasa Indonesia PENGGOLONGAN KATA

Prof. Drs. M. Ramlan

 

BAB I

PENDAHULUAN

Penggolongan kata menyederhanakan pemerian struktur bahasa dan merupakan tahapan yang tidak boleh dilalui dalam penyusunan tata bahasa suatu bahasa. Setiap pembicaraan mengenai tata bahasa tentu melibatkan pembicaraan tentang penggolongan kata. Ttanpa penggolongan kata, struktur frase, klausa, dan kalimat tidak mungkin dapat dijelaskan. Oleh karena itu, pembicaraan tentang penggolongan kata akan sangat bermanfaat dan akan merupakan sumbangan penting bagi tata bahasa dan juga bagi pengajaran bahasa Indonesia.

 

BAB II

KATA

Salah satu sifat tata bahasa tradisional ialah analisisnya berdasarkan arti. Sifat ini tercermin juga pada penentuan kata. Secara tradisional kata dijelaskan sebagai kumpulan huruf yang mengandung arti. Jadi setiap kata tentu mengandung arti.

 

BAB III

PENGGOLONGAN KATA SECARA TRADISIONAL

  1. Penggolongan Kata oleh C. A. Mees (1957)
  • Kata benda atau nomen substantivum

Kata benda ialah kata yang menyebut nama substansi atau perwujudan. Kata benda dibedakan menjadi kata benda konkret dan kata benda abstrak, yaitu bisa berupa kata dasar atau kata turunan.

  • Kata keadaan atau nomen adjectivum

Fungsi kata keadaan:

  • Fungsi predikat, yaitu apabila menduduki fungsi predikat.
  • Fungsi atributif, yaitu apabila terikat pada kata benda.
  • Fungsi substantif, yaitu apabila kata keadaan disubstantifkan oleh kata sandang dan mengganti substantif yang bersangkutan.

 

  • Kata ganti atau pronominal

Kata ganti adalah kata yang menunjuk, menyatakan, atau menanyakan tentang sebuah substansi. Macam-macam kata golongan:

  • Kata ganti persona, yaitu kata yang mengganti nama persona.

-          kata ganti persona pertama, misalnya aku, saya, kami.

-          kata ganti persona kedua, misalnya engkau, kamu, tuan.

-          kata ganti persona ketiga, misalnya ia, dia, mereka.

  • Kata ganti mendiri ialah kata ganti yang mengganti diri persona itu sendiri, yaitu kata diri dan diri sendiri.
  • Kata ganti penunjuk ialah kata yang menunjuk tempat sesuatu substansi, yaitu kata ini dan itu.
  • Kata ganti relatif ialah kata yang menyatakan perhubungan antara sebuah sustansi dengan kalimat yang menjelaskan, yaitu kata yang.
  • Kata ganti penanya, yaitu yang menyatakan pertanyaan mengenai nama substansi, misalnya kata apa, siapa, dan mana.
  • Kata ganti tak tentu, yaitu kata yang menyatakan suatu substansi yang tak tentu, misalnya kata apa, siapa-siapa, anu, sesuatu.
  • Kata kerja transitif, yaitu kata kerja yang membutuhkan substantif supaya sempurna artinya.
  • Kata kerja intransitif, yaitu kata kerja yang sudah sempurna artinya, maka tidak dapat dibubuhi substantif sebagai pelengkap.
  1. Kata kerja atau verbum

Selain itu ada kata kerja kopula, yaitu kata kerja yang bertindak sebagai kopula, misalnya kata adalah, jadi, menjadi.

  1. Kata Bilangan atau numeri
  • Induk kata bilangan, misalnya kata satu, dua, seratus, lima ribu.
  • Kata bilangan tak tentu, misalnya kata beberapa, segala.
  • Kata bilangan kumpulan, misalnya kata ketiga, berlima.
  • Kata bilangan tingkat, misalnya kata kesatu, kedua, ketiga.
  • Kata bilangan pecahan, misalnya kata dua pertiga, seperdua.
    1. Kata sandang atau articulus

Menurut fungsi dan pemakaiannya dibedakan menjadi: (1) kata sandang tentu, yaitu kata yang; (2) kata sandang persona, yaitu kata si dan sang; (3) kata sandang tak tentu, yaitu kata seorang, sebuah, sesuatu.

    1. Kata depan atau praepositio

Kata depan dipakai untuk menjelaskan pertalian kata-kata. Kata depan yang tulen adalah di, ke, dari. Di samping itu terdapat kata depan yang lain, yaitu pada, akan, dengan, serta, antara, untuk, dan sebagainya.

    1. Kata keterangan atau adverbium

adalah kata yang menerangkan 1. kata kerja dalam segala fungsinya, 2. kata keadaan dalam segala fungsinya, 3. kata keterangan, 4. kata bilangan, 5. predikat kalimat, dan 6. menegaskan subjek dan predikat kalimat.

  • Kata keterangan waktu: dahulu, kemarin, hari ini, selamanya.
  • Kata keterangan modal, dibedakan menjadi:

-          kepastian, misalnya memang, niscaya, pasti, dan lain-lain.

-          Pengakuan, misalnya kata ya, benar, betul, sebenarnya.

-          Kesangsian, misalnya kata agaknya, barangkali.

-          Keinginan, misalnya kata moga-moga, mudah-mudahan.

-          Ajakan, misalnya kata baik, mari, hendaknya.

-          Kewajiban, misalnya kata harus, perlu, wajib.

-          Larangan, ialah kata jangan.

-          Ingkaran, ialah kata bukan, bukannya, tidak.

-          Keheranan, ialah kata mustahil, mana boleh.

  • Kata keterangan tempat dan jurusan, misalnya kata di sini, dari situ, ke sana, dari mana, dan sebagainya.
  • Kata keterangan kaifat atau kualitatif, misalnya perlahan-lahan, dengan gembira, kuat-kuat, selebar-lebarnya, dan sebagainya.
  • Kata keterangan derajat dan permana, misalnya kata amat, hampir.
  • Kata tekanan, ialah kah, gerangan, pula, pun, lah.
    1. Kata sambung atau conjungtio

ialah kata yang menghubungkan kata-kata, bagian-bagian kalimat, dan kalimat. Yang termasuk kata sambung misalnya kata apabila, bilamana, lagi pula, dan, agar, karena, dan sebagainya.

    1. Kata seru atau interjection

Kata seru ialah kata yang menirukan bunyi manusia. Yang termasuk golongan kata seru misalnya ya, wah, ah, hai, o, oh, cis, dan sebagianya.

 

  1. Penggolongan Kata oleh Tardjan Hadidjaja (1959)
    1. Kata benda

Kata benda adalah kata yang menyatakan benda. Menurut keadaannya, dibedakan menjadi (1) kata benda konkret, yaitu menyatakan benda yang benar-benar atau atau benda khayal. Misalnya orang, burung, buku pelajaran, hantu, bidadari, dan sebagainya; dan (2) kata benda abstrak, yaitu menyatakan nama benda yang adanya hanya dapat dipahami oleh pikiran, misalnya ilham, angan-angan, perguruan, perdagangan, perjanjian, perdamaian, pertandingan, kerajinan, dan sebagainya.

Menurut artinya, digolongan menjadi: (1) kata beda nama jenis, misalnya rumah, daun, pohon, dunia, matahari, dan sebagainya; (2). kata benda nama diri, misalnya Mei, Surono, Gunung Merapi, Sungai Barito; (3) kata benda nama zat, misalnya batu, pasir, besi, mas, garam; (4) kata benda nama kumpulan, misalnya berkas, rumpun, onggok, gugusan.

    1. Kata kerja

Berdasarkan hubungan antara pokok dan sebutannya, kata kerja dibedakan menjadi: 1. kata kerja bentuk tindak, yaitu apabila pokok kalimat melakukan perbuatan, misalnya duduk, lari, hilir mudik, berjual bei, mempercepat; dan 2. kata kerja bentuk tanggap, yaitu apabila pokok kalimat menanggapi, diperlakukan, atau dikenai perbuatan, misalnya dipukul, dilalui,  terhampiri, kelihatan, dan sebagainya.

    1. Kata ganti

Kata ganti adalah kata yang menjadi pengganti nama orang atau benda.

  • Kata ganti orang

-          orang pertama, misalnya aku, kami, hamba;

-          orang kedua, misalnya engkau, kamu, tuan;

-          orang ketiga, misalnya ia, dia, mereka.

Masing-masing dapat dibedakan atas tunggal dan jamak.

  • Kata ganti pemilik

-          kesatu, ialah ku, kami, kita; (tunggal dan jamak)

-          kedua, ialah mu, kamu; ( tunggal dan jamak)

-          ketiga, ialah nya, mereka. (tunggal dan jamak)

  • Kata ganti penanya, misalnya apa, siapa, mana, yang mana.
  • Kata ganti tak tentu, misalnya barang sesuatu, barang siapa.
  • Kata ganti penujuk, ialah ini dan itu.
  • Kata penghubung, ialah kata yang.
  • Bilangan pokok, yang dibedakan menjadi: 1. bilangan pokok tertentu, misalnya satu, dua, dan sebaginya; 2. bilangan pokok tak tentu, misalnya semua, segala, sekalian.
  • Bilangan tingkat, dibedakan menjadi: 1. bilangan tingkat tentu, misalnya kesatu, kedua; dan 2. bilangan tak tentu, ialah kesekian.
  • Kata bilangan pecahan, misalnya sepertiga, tiga perlima.
    1. Kata bilangan
    1. Kata sifat

Kata sifat ialah kata yang menyatakan sifat atau keadaan benda. Misalnya kering, kering kerontang, berlumuran darah, menguning, dan sebagainya.

    1. Kata tambahan

Kata tambahan adalah kata yang berfungsi sebagai keterangan pada kata yang bukan kata benda. Kata tambahan dibedakan menjadi:

  • Kata tambahan penunjuk waktu, misalnya pagi-pagi, sedang, kini.
  • Kata tambahan penunjuk tempat, misalnya sini, situ, ke atas.
  • Kata tambahan penunjuk peri keadaan, misalnya sungguh-sungguh, cepat-cepat, baik-baik, begini, pandai-pandai.
  • Kata tambahan penunjuk banyak dan taraf ketandasan, misalnya terlalu, semata-mata, hanya, agak, hampir, sangat.
  • Kata tambahan penunjuk taraf kepastian.

-          kepastian, misalnya sungguh, tentu, pasti, memang.

-          Kemungkinan, misalnya mungkin, barangkali.

-          Pengharapan dan permintaan, misalnya semoga.

-          Ingkar, misalnya tidak, tak, tiada, jangan.

    1. Kata depan

Kata depan adalah kata yang selalu terdapat di depan kata benda atau kata ganti dan hubungannya lebih erat dengan kata yang mengikutinya daripada dengan kata yang ada di depannya. Berdasarkan artinya:

  • Kata depan pengantar tempat, misalnya di, ke, dari, di dalam.
  • Kata depan pengantar pihak yang akan menerima bagian, misalnya untuk, buat, bagi.
  • Pengantar alat, kawan, atau lawan, ialah kata dengan.
  • Pengantar maksud atau tujuan, ialah akan, untuk, dan guna.
  • Pengantar waktu atau tempat, misalnya hingga, sekitar, hampir.
  • Pengantar sebab, misalnya atas, demi, karena, sebab, oleh.
    1. Kata penghubung

Kata penghubung adalah kata yang mnghubungkan kata dengan kata atau kalumat dengan kalimat yang mendahuluinya.

  • Penunjuk gabungan, ialah dan, serta, lagi, lagi pula.
  • Penunjuk waktu, misalnya waktu, ketika, setelah, sementara.
  • Penunjuk maksud atau tujuan, ialah agar, supaya, biar.
  • Penunjuk perlawanan, misalnya tetapi, akan tetapi, melainkan.
  • Penunjuk sebab atau akibat, misalnya sebab, karena, sehingga.
  • Penunjuk syarat atau pengandaian, misalnya jika, kalau, asalkan.
  • Penunjuk sebab yang tak dipedulikan atau pernyataan mengalah, misalnya biarpun, meskipun, walaupun, walau sekalipun.
  • Penunjuk pelaku, pelengkap, atau keterangan, ialah bahwa.
    1. Kata sandang

Kata sandang adalah kata yang berfungsi untuk menegaskan kata berikutnya, kata yang disandanginya, hingga kata itu mempunyai arti yang tentu. Yang termasuk kata sandang adalah yang, nya, si, para, sebuah, ini.

    1. Kata seru

Kata seru ialah kata yang digunakan untuk melepaskan perasaan dan keluarnya pun biasanya tiada dengan sengaja.

  • Berdasarkan sifatnya:

-          kata seru yang sejati, misalnya aduh, oh, amboi, wahai.

-          Kata seru tiruan bunyi, misalnya meong, cit, debar.

-          Kata seru yang terjadi dari kata biasa, misalnya kasihan, sayang, masya allah, astaga, ya rabbi, dan sebagainya.

  • Berdasarkan maksudnya:

-          penyeru biasa, misalnya kata hai.

-          Menyatakan rasa heran, misalnya wah, wahai, astaga.

-          Menyatakan rasa sakit, misalnya aduh, tolong.

-          Menyatakan rasa iba atau sedih, misalnya, kasihan, amboi.

-          Menyatakan kecewa, misalnya sayang dan celaka.

-          Menyatakan kaget bercampur sedih, misalnya inna lillahi.

-          Menyatakan rasa lega, misalnya nah, syukur, alamdu lillah.

-          Menyatakan rasa jijik, misalnya cih dan cis.

  1. Penggolonga Kata oleh Soetarno (1976)
    1. Kata benda
  • Menurut sifatnya:

-          kata benda yang berwujud (kokret) adalah menyatakan nama benda yang dapat dikenal dengan panca indera. Misalnya buku, juru masak, si cebol, bulan.

-          Kata benda yang tak berwujud (abstrak) ialah menyatakan hal yang hanya dapat dikenal dengan pikiran. Misalnya ketertiban, persatuan, ilham, peperangan.

  • Menurut artinya:

-          nama jenis, misalnya buku, kota, orang, anjing, rumah.

-          Nama diri, misalnya Lawu, Semarang, dan sebagainya.

-          Nama zat, misalnya mas, perak, kayu, dan sebagainya.

-          Nama kumpulan, misalnya kelompok, rumpun, pasukan.

    1. Kata kerja

Kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau pengertian dinamis.

  • Menilik pertaliannya dengan objek:

-          kata kerja transitif, ialah kata kerja yang membutukan pelengkap. Misalnya membaca, melihat, menguji, melarang, mempertinggi.

-          Kata kerja intransitif, yakni kata kerja yang tidak dapat dibubui pelengkap. Misalnya berludah, sampai, lalu.

  • Menilik hubungannya dengan subjek:

-          bentuk tindak atau aktif, ialah kata kerja yang menyatakan bahwa subjek melakukan perbuatan. Misalnya lalu, pindah.

-          Bentuk tanggap atau pasif, ialah kata kerja yang menyatakan bahwa subjek menanggapi atau dikenai pekerjaan. Misalnya dipukul, tertunda, kehujanan.

Ada pula kata kerja bantu, yakni kata kerja yang dalam pemakainnya tidak berdiri sendiri, melainkan untuk membantu kata kerja lain. Misalnya ada, mau, hendak. Sedangkan kata kerja kopula ialah kata kerja yang terletak diantara subjek dan predikat dalam kalimat nominal. Misalnya Tuti menjadi guru; Ayahku jadi dokter; Budiman jatuh sakit.

    1. Kata keadaan

Kata keadaan adalah kata menerangkan keadaan, sifat khusus atau watak suatu benda. Misalnya lama, tamat, baru, panjang tangan, berduri.

    1. Kata keterangan

Kata keterangan adalah kata yang berfungsi sebagai keterangan pada kata yang bukan kata benda. Menurut artinya, dibedakan:

  • Penunjuk waktu, misalnya baru, tengah, lagi.
  • Penunjuk tempat, misalnya sini, sana, situ.
  • Penunjuk peri keadaan, misalnya sungguh, beriba hati.
  • Penunjuk banyak atau taraf ketandasan, misalnya terlalu, agak.
  • Penunjuk taraf kepastian, misalnya pasti, mungkin.
  • Penunjuk tekanan, misalnya pula, juga, gerangan.
    1. Kata ganti

adalah kata yang bertugas menggantikan kata benda yang telah disebut.

  • Kata ganti orang (persona), digolongkan menjadi orang ke 1, misalnya aku, kami, kita; orang ke 2, misalnya engkau, kamu, tuan; orang ke 3, misalnya dia, beliau, mereka.
  • Kata ganti pemilik yakni kata ganti yang menjadi pemilik barang apa yang tersebut pada yang disertai. Misalnya ku, mu, nya.
  • Kata ganti penanya adalah kata ganti yang digunakan untuk bertanya. Misalnya apa, siapa, berapa, bagaimana.
  • Kata ganti tak tentu, dibedakan menjadi kata ganti benda tak tentu, misalnya suatupun, yang mana; dan kata ganti orang tak tentu, misalnya siapa, barang siapa.
  • Kata ganti penunjuk, ialah kata yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu dengan langsung atau menggantikannya, ialah itu, ini, begini begitu, yakni, yaitu, kini.
  • Kata ganti penghubung, ialah kata yang berfungsi sebagai pangganti kata benda atau hal yang telah disebut dahulu, dan penghubung kalimat, yaitu yang dan tempat.
    1. Kata bilangan

ialah kata yang menyatakan jumlah benda atau hal, atau menunuk urutannya dalam deretan. Dibedakan menjadi:

  • Kata bilangan tentu, misalnya satu, dua, dan seterusnya.
  • Kata bilangan tak tentu, misalnya beberapa, sejumlah.
  • Kata bilangan tingkat, misalnya kedua, ketiga.
  • Kata bilangan kumpulan, misalnya kedua dalam kedua anak itu.
  • Kata bilangan pecahan, misalnya setengah, tiga perempat.

Di samping kata bilangan, terdapat kata penunjuk jenis, yaitu kata yang menghubungkan kata bilangan dengan kata benda misalnya ekor, buah.

    1. Kata penghubung

Kata sambung adalah kata yang berfungsi menghubungkan sebuah perkataan dengan perkataan atau kalimat dengan kalimat yang mendahu-luinya. Dapat dibedakan menjadi:

  • Penghubung penunjuk gabungan, misalnya dan, dengan, lalu.
  • Pangantara penunjuk waktu, misalnya waktu, ketika, tatkala.
  • Penunjuk maksud atau tujuan, misalnya agar, supaya, biar.
  • Penunjuk perlawanan, misalnya tetapi, melainkan, hanya.
  • Penunjuk sebab atau akibat, misalnya sebab, karena, sehingga.
  • Penunjuk syarat atau pengandaian, misalnya jika, kalau, asal.
  • Penunjuk sebab yang tak dipedulikan tau pernyataan mengalah, misalnya biarpun, meskipun, walaupun.
  • Penunjuk pelaku, pelengkap, atau keterangan, ialah bahwa.
    1. Kata depan

Kata depan adalah kta yang menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lain serta menentukan sekali sifat perhubungan.

  • Berdasarkan asalnya:

-          kata depan asli, ialah kata depan yang semata-mata hanya melakukan jabatan sebagai kata depan, misalnya di, ke.

-          Kata deopan pinjaman, yakni kata depan yang kecuali melakukan tugas sebagai kata depan dalam kalimat, dapat juga melakukan jabatan lain. Misalnya buat, atas, pada.

  • Menurut bentuknya:

-          kata depan tunggal, ialah kata depan yang hanya terdiri dari satu kata, misalnya di, ke, dari, untuk, dan sebagainya.

-          Kata depan mejemuk, ialah kata depan yang terdiri dari dua kata, misalnya di dalam, ke dalam, daripada, di atas.

  • Menurut artinya:

-          kata depan pengantar tempat, misalnya di, ke, dari, dalam.

-          Kata depan pengantar pihak yang akan menerima bagian, misalnya buat, bagi, untuk.

-          Kata depan pengantar pelaku, ialah kata oleh.

-          Pengantar alat, kawan, atau lawan, ialah dengan.

-          Pengantar maksud atau tujuan, misalnya akan, buat, guna.

-          Pengantar waktu atau maksud, misal hingga, dekat, hampir.

-          Pengantar sebab, misalnya berkat, atas, demi, karena.

-          Pengantar hubungan hal, misalnya peri, perihal, tentang.

    1. Kata sandang

Kata sandang ialah kata yang digunakan untuk menegaskan dan menentukan sehingga tersekatnya kata-kata yang mengikutinya atau yang dilekatinya. Misalnya yang, nya, si, sang,  para, ini, itu, suatu,sebuah.

    1. Kata seru

Kata seru ialah kata yang merupakan tiruan bunyi atau seruan secara spontan sebagai pelepas perasaan. Menurut artinya, dibedakan menjadi:

  • Kata seru peniru bunyi, yakni kata seru yang berupa tiruan bunyi-bunyi yang terdengar, misalnya dor, cit, huk, buk, ngeong.
  • Kata seru yang menyatakan rasa hati, misalnya aduh, hai, sayang.

-          penyeru biasa, misalnya hai, e.

-          menyatakan rasa heran, misalnya wah, astaga, aduh.

-          Menyatakan rasa sakit atau terancam bahaya, ialah tolong.

-          Menyatakan rasa iba atau sedih, misalnya ya ampun.

-          Terkejut bercampur sedih, misalnya masya allah.

-          Menyatakan kekecewaan, misalnya ah, celaka.

-          Menyatakan rasa kesal, misalnya tobat.

-          Menyatakan minta perhatian, misalnya halo, hai.

-          Menyatakan tidak percaya, misalnya masa.

-          Menyataka persetujuan, misalnya nah.

 

  1. Penggolongan Kata oleh Soetan Moehammad Zain (1943)
    1. Kata pekerjaan

Kata pekerjaan ialah kata yang menjawab pertanyaan mengapa seseorang atau sesuatu, atau diapakan seseorang atau sesuatu. Misalnya makan, berjalan, tertangkap, melompat, dan sebagainya.

    1. Nama benda
  • Nama benda dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:

-          berwujud, yaitu kata yang menunjuk benda berwujud, misalnya rumah, kambing, gunung, hantu, peri, jin.

-          Tidak  berwujud, misalnya penyakit, kehendak, kesusahan.

  • Nama benda dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu:

-          nama sendiri, misalnya Ahmad, Merapi, Musi, Bandung.

-          Nama bangsa ialah nama jenis benda, misalnya kursi, dll.

-          Nama zat, misalnya air, kapur, garam, emas, intan.

    1. Pengganti atau penunjuk benda
  • Kata pengganti orang atau benda, ada dua: 1. kata pengganti nama yang sebenarnya, misalnya aku, kamu, dia; 2. kata pengganti nama yang tidak sebenarnya, misalnya saya, hamba, adik, tuan.

Di samping itu, ada: 1. pengganti orang pertama, misalnya aku, kami; 2. pengganti orang kedua, misalnya engkau, tuan; 3. pengganti orang ketiga, misalnya ia, dia, mereka.

  • Manunjukkan kepunyaan, ialah ku, mu, kau, dan nya.
  • Kata penunjuk, ialah ini, itu, sini, situ, dan sana.
  • Kata tanya, misalnya apa, mana, siapa, berapa, bagaimana.
  • Kata penunjuk yang.
  • Kata penunjuk yang kurang tentu, misalnya seorang, sesuatu.
  • Menunjukkan banyak, dibedakan: 1. tentu, misalnya satu, dua, dan seterusnya; 2. tidak tentu, misalnya segala, sekalian, beberapa.
  • Menunjukkan pangkat, yang dibentuk dengan menambahkan awalan ke- pada nama bilangan yang menunjukkan banyak yang tentu, misalnya kesatu, keempat, dan seterusnya.
    1. Nama bilangan
    1. Nama sifat atau hal

Ialah kata yang menyatakan sifat, tabiat, atau keadaan suatu benda atau yang dianggap benda, misalnya besar, condong, buruk, miskin.

    1. Kata tambahan

Ialah kata yang menerangkan bukan nama benda, melainkan menerangkan kata golongan lain. Digolongkan menjadi dua: 1. sejati, misalnya sangat, sekali, belum, sungguh; 2. kata yang karena fungsinya termasuk golonga kata tambahan, misalnya Burung itu terbang tinggi.

Di samping itu, digolongkan pula menjadi lima:

  • menyatakan waktu, misalnya sedang, tengah, lagi, masi, kini.
  • Menyatakan tempat, misalnya sini, situ, sana, di sini, di situ.
  • Menyatakan banyak, misalnya lebih, kurang, amat, terlalu.
  • Menyatakan betapa, mislanya keras-keras, pandai-pandai.
  • Menyatakan peri, misalnya tentu, sungguh, niscaya, barangkali.
    • Perangkai sejati, yaitu di, ke, dari.
    • Perangkai yang berasal dari nama benda, misalnya dengan, sebab.
    1. Kata perangkai
    1. Kata penghubung

Ialah kata yang berfungsi menghubungkan kalimat atau bagian kalimat.

  • Menyatakan makna mengumpulkan, misalkan dan, lagi, serta.
  • Menyatakan makna perlawanan, misalnya tetapi, melainkan.
  • Menyatakan makna sebab, misalnya sebab, karena, oleh.
  • Menunjukkan waktu atau tempat, misalkan ketika, hingga.
  • Menyatakan perjanjian atau pembatasan, misalkan jika, kalau.
  • Manyatakan maksud atau akibat, misalkan supaya, sehingga.
  • Menyatakan makna mengalah, misalkan meskipun, biar.
    1. Kata seru

Kata seru digunakan untuk menyatakan:

  • Keheranan, misalnya wah, wahai, amboi, astaga.
  • Kesakitan, misalnya aduh.
  • Turut merasakan kesusahan orang lain, misalnya kasihan.
  • Kekecewaan, misalnya sayang.
  • Kesenangan hati, misalnya syukur, alhamdulillah.
  • Kejijikan atau penghinaan, misalnya cih, cis.
  • Ketidakpercayaan, misalnya masa, masakan, mana boleh.

 

  1. Penggolongan Kata oleh S. Zainuddin Gl. Png. Batuah (1950)
    1. Kata (peng) ganti
  • Pengganti orang, 1. orang yang sebenarnya, yaitu aku (pertama tunggal), kami dan kita (pertama jamak),engkau dan kamu (kedua tunggal), engkau sekalian dan kamu sekalian (kedua jamak), ia dan dia (ketiga tunggal dan jamak); 2. orang yang tidak sebenarnya, (a) orang pertama, ialah saya, hamba, beta; (b) orang kedua, ialah tuan, nyonya, anda, saudara; (c) orang ketiga, misal orang itu.
  • Kata kepunyaan, ialah semua kata ganti orang dan bentuk kependekannya, misalnya buku saya, kursi kami, tokonya.
  • Kata penunjuk, ialah ini, itu,  sini, situ, begini, begitu, yaitu, si.
  • Kata tanya, misalnya apa, mengapa, siapa, berapa, bagaimana.
  • Kata penunjuk dan pertalian yang.
  • Kata (peng)ganti tak tentu, ialah orang, seseorang, barang sesuatu.
  • Kata ganti kena diri, ialah kata diri.
  • Kata benda sakala atau berwujud ialah nama benda yang sesungguhnya. 1. nama barang, ialah nama diri, misalnya Ali, Tegal, Indonesia; 2. nama zat, misalnya mas, perak, timah; 3. nama kumpulan, misalnya laskar gerombolan, keluarga.
  • Kata benda niskala atau tak berwujud.
    1. Kata benda
    1. Kata kerja

Ialah kata yang dalamnya terkandung sesuatu perbuatan. Misalnya jatuh, berlari, menulis, bercakap-cakap, dan sebagainya.

    1. Kata sifat

Kata sifat adalah kata yang menyatakan sifat atau hal sesuatu barang. Misalnya sakit, berat, buruk, pucat, baik hati, manis mulut.

    1. Kata tambahan

Kata tambahan adalah kata yang menjadi keterangan pada kata selain kata benda. Kata golongan ini dibedakan menjadi:

  • Penunjuk sifat, misalnya perlahan-lahan, begini, begitu.
  • Penunjuk taraf, misalnya sama, kurang, agak, hampir.
  • Penunjuk waktu, misalnya sedang, tengah, sekarang, kini.
  • Penunjuk tempat, misalnya di rumah, ke sekolah, dari pasar.
  • Penunjuk modalitas, (a) menyatakan kesungguhan, misalnya ya, bahkan, tentu; (b) menyatakan kemungkinan, misalnya mungkin, dapat, bisa; (c) menyatakan kehendak, misalnya moga-moga.
  • Bilangan pokok, misalnya satu, dua, tiga, dan seterusnya.
  • Bilangan pecahan, misalnya setengah, seperlima.
  • Bilangan penunjuk tingkat, misalnya pertama, kedua.
  • Bilangan pengumpul, yaitu mengungkapkan kumpulan misalnya kedua, kesepuluh, dan sebagainya.
  • Bilangan pengganda, misalnya sekali, tujuh ganga, tujuh lapis.
  • Bilangan penunjuk yang kurang tentu, misalnya segala, banyak.
    1. Kata bilangan
    1. Kata perangkai

Ialah kata yang menyatakan perhubungan sebuah kata lain dalam kalimat itu juga. Misalnya dari, pada, bagi, akan, oleh, dengan, sedikit.

    1. Kata penghubung

Ialah kata yang menghubungkan dua buah kata yang sama fungsinya dalam kalimat. Kata golongan ini dapat digolongkan menjadi:

  • Penunjuk pengumpul, misalnya kata dan, dengan, lagi.
  • Penunjuk pengumpul dan pencerai, misalnya baik … baik, atau … atau, baik … atau.
  • Penunjuk kosokbali, ialah kata atau.
  • Penunjuk perlawanan, misalnya  tetapi, akan tetapi, melainkan.
  • Penunjuk sebab-karena, misalnya oleh, karena, sebab.
  • Penunjuk saarat atau perjanjian, misalnya kalau, jialau, asal.
  • Penunjuk peralahan, misalnya sungguhpun, meskipun, walau.
  • Penunjuk maksud, misalnya supaya, agar.
  • Penunjuk penerangan, misalnya  kata yaitu, yakni.
  • Penunjuk kehendak, ialah kata barang.
  • Sebagai pembuka kata, ialah kata bahwa.
  • Penghubung yang lain-lain, misalnya hingga, sampai, jadi.
  • Kata tiruan bunyi, misalnya kata bak, buk, pang, cas, cis.
  • Kata yang menyatakan perasaan, misalnya ah, wah, o, amboi, nah.
  • Kata yang menyatakan semboyan, misalnya hai, halo, awas.
    1. Kata seru

 

  1. Penggolongan Kata oleh Madong Lubis (1954)
    1. Kata benda
  • Menyatakan benda yang berwujud, 1. nama jenis, misalnya kuda, kursi, buku; 2. nama sendiri, misalnya Kalimantan, Hamid, Semeru; 3. nama zat, misalnya air, timah, kapur; 4. nama himpunan, misalnya hutan, lautam, belukar.
  • Menyatakan benda tidak berwujud, misalnya hukuman, kehendak.
    1. Kata kerja

Ialah kata yang menyatakan perbuatan, misalnya makan, pergi, berlari.

    1. Kata sifat

Ialah kata yang menyatakan sifat atau hal, misalnya murah, tinggi, besar.

    1. Kata pengganti dan penunjuk benda
  • Pengganti badan, 1. badan pertama, misalnya aku, saya; 2. badan kedua, misalnya engkau, kamu; 3. badan ketiga, misalnya ia.
  • Pengganti pertanyaan, misalnya apa, siapa, bagaimana.
  • bulat (biasa), misalnya satu, dua, tiga.
  • pecahan, misalnya dua pertiga, seperdua, dua setengah.
  • penunjuk taraf (tingkat), misalkan kesatu, kedua.
  • Kurang tentu, misalkan semua, sekalian, sedikit, beberara.
  • Kata-kata penyukat, misalnya rupiah, jam, menit, orang.
  • Berdasarkan kata yang diterangkan:
    1. Kata bilangan
    1. Kata tambahan

-          menerangkan kata kerja, misalkan rajin-rajin belajar.

-          Menerangkan kata sifat, misalnya tinggi benar.

-          Menerangkan bilangan, misalnya hampir seribu.

-          Menerangkan kata penyelit, misalnya tepat di muka.

  • Berdasarkan artinya:

-          penunjuk tempat, misalnya di mana, ke sana, di bawah.

-          penunjuk waktu, misalnya tengah, sedang, manakala.

-          Penunjuk keadaan, misalnya demikian, hati-hati.

-          Penunjuk taraf, misalnya kurang, agak, benar.

-          Penunjuk sikap, (a) kepastian, misalnya sungguh, bahkan; (b) menidakkan, misalnya tidak, bukan; (c) kebimbangan, misalnya mungkin, barangkali; (d) pengharapan, misalnya moga-moga, hendaknya, dan sebagainya.

    1. Kata penyelit (perangkai)
  • Kata penyelit yang sebenarnya, misalnya di, ke, dari.
  • Kata penyelit berpadu, misalnya di sekolah, ke kantor.
  • Penujuk himpunan, misalnya dan, lagi, serta, maka.
  • Penunjuk waktu,  misalnya apabila, tatkala, setelah, sehabis.
  • Penunjuk sebab, misalnya sebab, karena, oleh karena.
  • Penunjuk maksud dan akibat, misalnya agar, jadi, supaya.
  • Penunjuk pertentangan, misalnya walaupun, meskipun.
  • Penunjuk syarat, misalnya kalau, jikalau, niscaya.
  • Kata penghubung yang sukar ditentukan jenisnya, misalnya maka, bahwa, syahdan, arkian, adapun, dan sebagainya.
  • Kata tiruan bunyi, misalnya ting, bur, bam, ngeong, embik.
  • Kata ucapan perasaan, misalnya aduh, ai, oi, astaga, ssst.
    1. Kata penghubung
    1. Kata seru

 

  1. Penggolongan Kata oleh I. R. Poedjawijatna dan P. J. Zoetmulder (1955)
    1. Kata sebut
  • Konkret, yaitu manyatakan sesuatu yang sungguh-sungguh ada, misalnya bapak, anjing, pasir.
  • Abstrak, yaitu menyatakan sesuatu yang hanya ada dalam pikiran saja, misalnya pemandangan, kedudukan, kekuatan.
  • Kata keadaan, misalnya baik, beristeri, mambabi buta.
  • Kata kerja, (a) transitif; dan (b) intransitif.
  • Kata ganti orang, (a) orang pertama, misalnya aku, kami; (b) orang kedua, misalnya kamu, engkau; (c) orang ketiga misalnya dia.
  • Kata ganti tanya, misalnya mana, bilamana, mengapa.
  • Kata ganti tunjuk, ialah kata itu dan ini.
  • Menunjuk waktu, misalnya belum, pernah, sekarang.
  • Menunjuk cara, misalnya entah, barangkali, agak.
  • Menunjuk tempat, misalnya ke sana kemari, kian kemari.
  • Menunjuk derajat, misalkan hampir, hanya, makin.
  • Menunjuk keadaan, misalnya sama, seperti, sia-sia.
  • Menunjuk sebab, misalnya karena itu, sebab itu.
  • Kata bilangan tentu, misalnya delapan, sembilan.
  • Tak tentu, misalnya beberapa, semua, banyak, sedikit.
  • Tingkat, misalnya kedua, kelima, dan seterusnya.
  • Pecahan, misalnya sepertiga, lima perempat.
    1. Kata tambah
    1. Kata ganti
    1. Kata keterangan tambah
    1. Kata bilangan

Di samping itu terdapat kata penunjuk enis, misalnya buah, biji, ekor.

    1. Kata depan
  • Menyatakan hubungan alat, misalnya kata dengan.
  • Menyatakan hubungan bersama-sama, misalnya kata serta.
  • Menyatakan hubungan pelaku, misalnya kata oleh.
  • Menyatakan hubungan maksud dan tujuan, misalnya bagi, untuk.
  • Menyatakan hubungan hala, misalnya kata peri, hal, tentang.
  • Menyatakan hubungan sebab, misalnya kata karena, sebab.
    1. Kata seru

Kata seru ialah kata yang menirukan suara yang merupakan seruan, misalnya bum, tik, astaga, wahai, aduhai.

    1. Kata perangkai

Ialah kata yanag merangkaikan kalimat dengan kalimat lainnya, misalnya dan, lalu, bahkan, bahwa agar, akan, dan sebagainya.

 

  1. Penggolongan Kata oleh S. Takdir Alisjahbana (1960)
    1. Kata benda atau substantive

Menurut batasan ini, kata ganti termasuk golongan kata benda.

    1. Kata kerja atau verba

Yang termasuk golongan ini adalah kata yang berawalan me- dan di-.

    1. Kata keadaan atau adjectiva ( kata bilangan termasuk golongan ini)
    2. Kata sambung atau konjungsi (kata depan termasuk golongan ini)
    3. Kata sandang atau artikel.
    4. Kata seru atau interjeksi.

BAB IV

PENGGOLONGAN KATA SECARA NONTRADISIONAL

  1. Penggolongan Kata oleh Slametmuljana

Berdasrkan fungsi kata dalam kalimat, kata digolongkan menjadi:

  1. Kata-kata yang pada hakekatnya hanya melakukan jabatan gatra sebutan
  • Kata keadaan, misalnya kata besar, sukar, bagus, dan sebagainya.
  • Kata kerja, misalnya kata mendayung, menangkap, diangkut.

-          kata kerja bantu ialah kata kerja yang menyatakan perbuatan yang ditunjuk terbatas dalam lingkungannya sendiri, misalnya kata jatuh dan menangis.

-          Kata kerja langsung ialah kata kerja yang dapat berhubungan dengan pelaku kedua (objek) tanpa perantara kata lain, misalnya membaca.

-          Kata kerja sambung ialah kata kerja yang dalam hubungannya dengan pelaku kedua menggunakan perantara kata lain, misalnya cinta kepada ayah.

  1. Kata-kata yang dapat melakukan jabatan gatra pangkal dan gatra sebutan
  • Kata benda

-          kata benda yang menyatakan nama benda yang dapat dicapai dengan panca indera, misalnya kata batu, daun.

-          Kata benda yang tidak nyata, misalnya perbuatan, keka-yaan, perbuatan, dan sebagainya.

  • Kata ganti

-          kata penunjuk, yaitu kata itu dan ini.

-          Kata pemisah, yaitu kata yang dan tempat.

-          Kata ganti diri dan milik. Yaitu aku, kamu, dia.

-          Kata ganti tanya, misalnya apa, berapa, dimana.

-          Kata ganti sesuatu, misalnya seseorang, sesuatu.

  • Kata bilangan

-          bilangan pokok dibagi menjadi bilangan tunggal (satu, dua, dan seterusnya sampai sembilan) dan majemuk (kesatuan bilangan tunggal:11, 12, dan seterusnya).

-          Bilangan bantu, misalnya batang, belah, biji, buah, ekor.

-          Bilangan tak tentu, misalnya banyak, sedikit, beberapa.

-          Bilangan himpunan, keduanya, ketiga orang itu.

  1. Kata-kata pembantu regu II
  • Kata yang menjelaskan tempat kedudukan kata benda, yaitu ini, itu.
  • Kata yng menunjukkan kekianan.
  • Kata keadaan dan kata benda yang memberi penjelasan kata benda tentang keadaannya, pemiliknya, dan sebagainya. Misalnya orang kaya, bapak saya.
  1. Kata-kata pembantu pertalian

Ialah kata yang menjelaskan pertalian kata yang satu, kalimat yang satu dengan yang lain.

  • Kata yang menerangkan kata keadaan dan kata kerja, misalnya sekali, terlalu.
  • Kata yang menghubungkan kata yang satu, kalimat yang satu dengan yang lain, misalnya dari, ke, untuk.
  • Kata yang disisipkan dalam kalimat seakan-akan berdiri sendiri, lepas dari ikatan kalimat. Misalnya nah, hai, sayang, aduh.

  1. Penggolongan Kata oleh Anton M. Moeliono
    1. Rumpun nominal

Yaitu kata yang dapat diingkari oleh kata bukan.

  • Rumpun nominal yang dapat didahului partikel preposisi direktif di. Misalnya di rumah, di mobil, di jalan, di air.
  • Rumpun nominal yang dapat didahului partikel pada. Misalnya pada tanggal, pada ibu, dan sebgainya.
    1. Rumpun verbal

Yaitu kata yang dapat diingkari dengan kata tidak.

  • Rumpun verbal transitif.
  • Rumpun verbal tak transitif.
  • Rumpun verbal ajektif.
  • Preposisi
  • Konjungsi
  • Penunjuk kecaraan
  • Penunjuk segi atau aspek: sedang, telah, lagi.
  • Penunjuk derajat: agak, sangat, kurang.
    1. Rumpun partikel

 

  1. Penggolongan Kata oleh Gorys Keraf
    1. Kata benda

Ialah semua kata yang dapat diterangkan atau diperluas dengan yang + kata sifat. Kata ganti merupakan sub-golongan kata benda.

    1. Kata kerja

Ialah segala macam kata yang dapat diperluas dengan kelompok kata dengan + kata sifat. Misalnya berjalan, nyanyi, mendengar.

    1. Kata sifat

Ialah semua kata yang dapat mengambil bentuk se + reduplikasi kata dasar + nya. Misalnya semahal-mahalnya, secepat-cepatnya.

    1. Kata tugas
  • Kata tugas monovalen, yaitu yang semata-mata bertugas untuk memperluas kalimta, misalnya dan, tetapi, sesudah, di, ke, dari.
  • Kata tugas yang abmivalen, yaitu kata tugas yang juga bertindak sebagai jenis kata lain, baik dalam membentuk suatu kalimat minim maupun mengubah bentuknya. Misalnya sudah dan tidak.

 

  1. Penggolongan Kata oleh S. Wojowasito
    1. Kata benda

Kata benda lazim menduduki subjek dan predikat dan diikuti kata itu, didahului preposisi, kata bilangan, dan diikuti nama pribadi.

    1. Kata kerja

Kata kerja lazim menduduki predikat dan mengikuti subjek dan mendahului objek, dapa diikuti preposisi, dapat digunakan untuk perintah.

    1. Kata sifat

Kata sifat lazim mengikuti kata benda sebagai sifat, dapat digunakan untuk perintah, dan didahului kata hendak, dan sedang.

    1. Kata tambah

Kata tambah hanya bisa menduduki fungsi keterangan sekunder.

    1. Kata penghubung

Kata penghubung berfungsi menghubungkan dua kalimat sejajar atau bertingkat dan dua kata yang sejenis secara sejajar.

    1. Kata seru

Kata seru dignakan sebagai motphrase, yaitu satu kata yang bertindak penuh sebagai kalimat dengan intonasi seruan.

    1. Kata bilangan

Kata bilanagn adalah kata yang menyebut sesuatu yang objektif. Golongan ini debedakan menjadi kata bilangan tentu dan tak tentu.

    1. Kata ganti

Kata ganti adalah kata yang mengganti kata benda, misalnya aku, ini, itu.

    1. Kata depan

Yaitu kata yang dalam kesatuan sintaksis, dalam frase atau kelompok kata, menentukan sifat hubungan dengan kelompok kata yang mendahuluinya.

 

  1. Penggolongan Kata oleh M. Ramlan
    1. Kata verbal

Kata verbal yaitu kata yang dapat diingkari dengan kata tidak, yang termasuk adalah kata kerja dan kata keadaan.

    1. Kata nominal

Yaitu kata yang dalam kalimat dapat menduduki fungsi S, P, O dan dalam frasa dapat diingkari dengan kata bukan.

    1. Kata keterangan

Dalam kalimat kata keterangan cenderung menduduki fungsi keterangan.

    1. Kata tambah

Yaitu kata yang dalam frasa cenderung menduduki fungsi atribut (bukan, belum, akan).

    1. Kata bilangan: dua, tiga, kedua (tingkat, kumpulan)
    2. Kata penyukat: kata bantu bilangan, misalnya tiga ekor, lima buah.
    3. Kata sandang: si, sang, semua, segala, segenap, seluruh.
    4. Kata tanya: apa, mengapa, bagaimana, dan sebagainya.
    5. Kata suruh: mari, jangan.
    6. Kata penghubung: dan, lalu, atau, tetapi, bahkan, dan sebaginya.
    7. Kata depan: di, ke, dari.
    8. Kata seruan: ah, wah, aduh, amboi, dan sebagainya.

 

BAB V

KEANGGOTAAN GANDA DAN TRANSPOSISI

Golongan kata ditentukan berdasarkan perilaku kata dalam frase, klausa, kalimat, dan wacana. Sustu kta mungkin memiliki berbagai perilaku sintaksis.  Misalnya kata sedang dalam kalimat-kalimat berikut.

  • Nilainya sedang.
  • Ibu sedang pergi.
  • Ibu pergi, sedang anak-anaknya tidur.
  • Sedang ia membaca, terdengar suara orang mengetuk pintu.

Dari contoh do atas jelas bahwa kata dalam mungkin termasuk golongan kata verbal, kata tambah, penghubung setara, dan penghubung tidak setara.

Transposisi adalah perpindahan posisi atau fungsi. Transposisi ada yang mengubah golongan kata, ada yang tidak. Fungsi predikat tidak mengubah golongan kata. Sebaliknya fungsi subjek mengubah golongan kata menjadi nominal. Kata membaca dalam Ia membaca buku baru termasuk kata verbal, tetapi dalam kalimat Membaca sangat berfaedah termasuk golongan katanominal karena adanya transposisi.

One thought on “Tata Bahasa Indonesia PENGGOLONGAN KATA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s